
☕️☕️
“Yang paling penting dalam suatu pernikahan itu adalah satu visi dan misi, jika tujuannya sudah sama maka semua akan terasa mudah dijalani.”
Ucap bu Nur pembuat Yana menimbang nimbang benarkanh tujuan, visi dan misinya sudah sama dengan Raja atau tidak.
“Lagian bang Raja hanya pulang ke medan bukan pergi perang, biasa aja lagi.” Kali ini suara Elita si mulut cabai yang mengusik hatinya.
Sejak setelah salat magrib mereka bertiga berada di atas tempat tidur milik Yana, bu Nur dan Yana duduk bersila berhadapan sedang Eliat tiduran dengan ponsel di tangan.
“Ya tapi kan...!” Yana tak melanjutkan kata-katanya dan memilih diam.
“Bentaran doang kak, besok juga sudah balik kan kesini. Manja ih ditinggal bentar aja ngambek.”
“Em..” hanya itu yang keluar dari mulut Yana.
Sore tadi Raja menelponnya berpamitan untuk pulang ke Medan dan berjanji sebelum besok siang sudah kembali ke Jakarta.
Raja tak memberi penjelasan mengapa ia terburu buru pulang ke Medan.
Tetapi saat Yana bertanya apakan alasan pulang untuk menziarahi makam ibu dari ketiga anaknya Raja hanya menjawab bahwa ia harus pulang.
Itu yang membuat Yana kesal setengah mati, gadis itu memikirkan hal-hal buruk yang di luar jangkauan manusia.
“Jangan bilang lo cemburu ya kak, karena dia mau ke makam istrinya.” Si mulut pedas mulai lagi menyulut api keributan.
“Astagfirullah dek! ga gitu.” Ucap Yana kesal pada adik perempuan satu-satunya itu.
“Terus apa dong.” Cicit Elita lagi.
“Aku takut kalau...” Yana lagi-lagi tak melanjutkan kata katanya.
“Kalau dia ga balik gitu? Dibilangin juga cuman pulang kampung bukan pergi perang.”
“Bang Ali tuh, pernah ke Papua enam bulan aku biasa aja.” Elita mulai kesal.
“El, ngomongnya.” Tegur bu Nur pada putri keduanya itu.
“Aku cuman mau bilang hidup bahagia itu bermula dari pikiran yang baik.”
“Over thinking lama-lama bisa buat gila kak, mau?” Ucap Elita lagi.
“Keluar sana, malas aku liat muka kamu.” Jawab Yana kesal.
“Udah, udah. Doa yang baik-baik.” Ucap bu Nur mengelus pundak Yana.
“Kamu juga El, sama kakaknya bukanya nenangin malah gitu.”
“Dia tu ya bu, sejak ditinggal sama Doni semua ditakuti kesel aku.” Ujar Elita jujur.
__ADS_1
Yana menunduk dalam hati membenarkan ucapan Elita, sejak kejadian gagal menikah dengan Doni ia memang lebih sensitif dan gampang cemas.
Suara panggilan masuk di ponselnya membuat gadis itu segera mengambil benda pipih miliknya itu dari atas nakas.
Tertera nama ‘Hantu blau’ disana kesal di hatinya membuat Yana tak berniat menerima panggilan itu.
“Siapa? Kenapa ga diangkat.” Tanya bu Nur saat melihat Yana mengabaikan ponselnya.
“Siswa bu,” jawab Yana datar.
“Siswa atau bang Raja, kayak abegeh aja ngambek-ngambek.” Ucap Elita menggoda.
”Berisik ih pulang sana ke rumah kamu.” Jawab Yana kesal.
Tak lama suara tanda pesan masuk mengusiknya kembali.
Hantu blau
[Aya lagi apa?]
[Abang udah di rumah]
[Masih marah ya?]
Tak ada niat hatinya membalas pesan itu,Yana tak ingin ketika membalas pesan itu rasa khawatirnya malah membuatnya lepas kendali.
Ting, suara pesan masuk kembali ke ponselnya.
Lala
Ia memang sempat menanyakan kondisi Lili pada Lala beberapa menit lalu, ia mendapatkan nomor ponsel Lala beberapa waktu Lalu saat mereka berjanji berteman.
“Bapaknya di kacangin kasian banget.” Ucap Elita yang ternyata mengintip isi pesannya sejak tadi.
“El, keluar!.” Ucap Yana kesal dan kali ini sukses membuat bu Nur menyeret putri keduanya itu keluar dari kamar Yana.
Tinggalah Yana sendiri, gadis itu memilih menunaikan kewajibannya sebagai muslim sebelum tidur, baru saja ia selesai memanjatkan doa dengan bersimbah air mata pada sang Khalik. Lagi-lagi ada pesan masuk di ponselnya dengan malas ia membuka pesan itu.
Hantu blau
[jan lama-lama ya Ay merajuknya.]
[ya udah abang ke bandara sekarang balik ke jakarta biar Aya senang.]
“Apa sih bang kayak anak kecil aja.” Balas Yana kesal.
Pesan dari Yana langsung di baca oleh Raja tapi tak ada balasan dari laki-laki itu.
Hatinya mulai gelisah, akhirnya ia mengirim pesan lagi untuk Raja.
__ADS_1
“Aya ga marah.” Tapi tetap saja pesannya hanya dibaca tak ada jawaban.
“ABANG” Yana mengirim pesan lagi dan mulai kesal.
Bukan balasan yang gadis itu dapatkan namun panggilan telepon masuk, Yana bergegas mengusap gambar tombol hijau di ponselnya ke kanan.
“Em apa.” Kata Yana saat setelah menempelkan ponselnya ke telinga.
“Istirahat ya bunda anak-anak sampai ketemu besok sore sayang, assalamualaikum.”
Hanya itu yang Yana dengar lalu sambungan telepon mati setelah ia menjawab salam. Jantung Yana terasa berdetak tak normal wajahnya bersemu merah. Definisi Raja main kata Yana menanggapinya main Hati.
Paginya Yana terbangun lebih cepat dari biasa, si penelepon yang bernama hantu belau itu menelponnya jauh sebelum waktu subuh.
Sesaat setelah subuh masih ada pesan yang Raja kirimkan untuknya.
Pesan terakhir yang Raja kirim pukul sebelas lewat lima saat laki-laki itu mengatakan sudah berada di bandara.
Setelah itu ponselnya mati dan tak dapat dihubungi.
————-
Mak Duma dan bapak ditemani adik Raja, Rani dan adik ipar Raja sudah bersiap mendatangi rumah Yana.
Rani baru saja tiba dari Medan malam tadi dengan suami dan dua orang anaknya, walaupun sempat kesal pada sang abang yang berencana menikah seperti beli kacang goreng tapi Rani tetap menyempatkan diri hadir.
Waktu sudah menunjukan pukul lima belas waktu indonesia barat. Semua sudah beres hanya tinggal menunggu Raja saja.
Raja memang sempat mengirim pesan bahwa pesawatnya delay tetapi jika mengikuti jadwal meski delay seharusnya Raja sudah sampai.
Ponselnya mati dan tak dapat dihubungi, bukan hanya Yana yang cemas melainkan seluruh keluarga.
Pak Azis dan mak Duma beserta anak cucu tetap mendatangi rumah Yana meski tanpa Raja.
Pak Azis memulai basa basinya dengan wajah tak kalah tegang dari pak Ahmad, sedang Yana, air matanya tak dapat dibendung ponsel di tanganya terus saja mencoba menelpon Raja tapi tetap saja nihil tak ada kejelasan ponsel laki-laki itu mati total.
Lala Lili dan Lulu yang ikut bersama juga terus bertanya tanya, Rani sudah menghubungi pihak penerbangan namun menurut pihak penerbangan pesawat yang Raja tumpangi sudah sampai sejam 30 menit lalu.
Semua berkumpul di ruang tamu rumah pak Ahmad dengan perasaan gundah, Yana juga menolak acaranya dilanjutkan jika tak ada kabar dari Raja.
Satu jam berlalu, bukan hanya Yana namun sekarang Lili dan Lulu juga mulai menangis.
“Assalamualaikum” suara seseorang mengucap salam di pintu depan membuat semua orang melihat ke arah suara.
☕️☕️to be continue☕️☕️
👧🏻gantung woi.
👱🏻♀️upsss 🤭 sembunyi ah.
__ADS_1
👧🏻 doble up lagi ga?
👱🏻♀️ emmm anuu emmmm apa yaa emmmm....