
☕️☕️☕️
Waktu seolah berjalan begitu lambat entah sudah berapa lama Raja berdiri di kepala Yana sambil terus membaca surah-surah pendek di telinga wanita itu sesuai permintaan Yana.
Dan juga entah sudah berapa kali Raja bolak balik keluar ruangan itu untuk melihat Lala. Yang menunggu di luar, Yana terus saja meminta agar Lala di izinkan masuk tetapi tidak diizinkan oleh dokter dan bidan.
Sudah lebih lima belas jam waktu mereka lalui dengan kecemasan meski dokter Zakia sudah menjelaskan bahwa kelahiran anak pertama dengan proses yang panjang seperti yang Yana rasakan adalah hal yang wajar.
Saat adzan subuh berkumandang tangisan bayi mungil yang sudah mereka tunggu menggema di kamar bersalin rumah sakit itu, Yana dan Raja berkali kali mengucap hamdalah bersyukur atas kelahiran putri mereka.
Proses panjang yang Yana lalui membuat Raja merasa perjuangan Yana saat ini dan juga Mia dahulu bukanlah hal yang mudah, dua wanita itu bertaruh nyawa untuk melahirkan putri-putri cantiknya.
Raja berkali kali mengecup seluruh wajah Yana sambil mengucapkan terimakasih untuk perjuangan wanita itu.
“Lala mana bang, Aya mau ketemu Lala.” Ucap Yana pertama kali setelah wanita itu merasa lebih baik.
Raja meminta izin pada tim dokter dan bidan untuk membawa Lala masuk bertemu Yana, namun mereka mengatakan Lala boleh masuk setelah Yana selesai dibersihkan.
Tetapi untuk bayinya sudah boleh di temui di ruang bayi yang berada di sebelah kamar bersalin itu, Raja Pun berinisiatif mungkin bisa membawa Lala melihat adiknya terlebih dahulu. Namun hal tak terduga terjadi saat Raja mengajak Lala lebih dahulu melihat adik bayinya.
“Aku maunya umma, yah. Bukan adik bayi.” Ucap Lala dengan suara bergetar menahan tangis dan mata yang mengenang siapa meluruh kapan saja.
“Kakak kenapa.?” Tanya Raja bingung dan mendekap gadis tanggung itu dalam dekapanya.
“Umma masih hidup kan, yah.” Tanya Lala dengan air mata yang sudah tidak bisa terbendung lagi dalam pelukan ayahnya.
“Alhamdulillah, kak. Umma sehat adik bayi sehat tapi umma belum bisa di lihat. Kita lihat dede bayinya dulu gimana.?” Lala mengangguk tanda setuju mengikuti ajakan Raja.
Di depan anak dan ayah itu sekarang ada seorang bayi mungil dengan berat 3300 gram dengan mata masih tertutup tetapi tangisnya sangat menggema.
“Assalamualaikum Nur, ini kak Lala.” Ucap Raja
“Mulutnya kayak Lili.” Bisik Lala ke telinga ayahnya.
“Rambutnya kayak Lulu.” Lala menunjuk rambut ikal bayi itu.
“Wah ini kakaknya cantiknya sama, jangan lama-lama ya, kalau mau di cium boleh tapi sekali aja.” Ucap seorang perawat cantik pada Lala.
Lala mengangguk tanda setuju dan mendekatkan wajahnya pada bayi itu memberi kecupan sekali di pipi kanan bayi mungil itu.
__ADS_1
Panggilan seorang petugas yang mengatakan bahwa Lala sudah boleh melihat ibunya membuat Lala meninggalkan ruang bayi itu menuju ruang tempat pemulihan dimana Yana berada.
Saat Lala datang mata Yana tertutup karena menahan kantuk, tanpa diduga Lala menangis histeris membuat semua petugas ikut panik.
“Umma jangan meninggal.” Teriak gadis itu menggema.
Yana juga terkejut dan reflek membuka mata berusaha memeluk anak gadisnya itu, tangis Lala bukan berhenti namun malah semakin keras sampai Raja harus menenangkan.
Raja baru tau ternyata kehilangan Mia didepan matanya membuat Lala punya luka yang mendalam, hal yang tak pernah Raja tau justru Yana memahami anak sulungnya itu lebih dari yang ia pahami.
☕️☕️☕️
Matahari baru saja naik, dan Yana sudah di pindahkan ke kamar rawatan, Raja baru mengabari semua anggota keluarga setelah subuh dan mengatakan semua baik-baik saja serta mengatakan mereka boleh datang setelah sarapan saja.
Pak Azis dan mak Duma tentu saja yang sampai lebih dulu karena mereka hanya berdua saja.
“Tega kau bang ya, jam tiga sakit Yana gak kau kabari mamak durhaka kau, bang.” Ucap mak Duma sambil menyuapi Yana dan Lala sarapan secara bergantian.
“Cuma gara-gara itu aku durhaka, ada-ada cakap mamak.” Jawab Raja malas menanggapi mamaknya.
“Pikir mu mamak ga susah, semalam suntuk mamak gak tidur, bang.”
“Itu kecapean aku sebentar aja aku tidur itu pak, kalau kurang senang bapak nanti malam jangan tidur sama aku.” Mak Duma membela diri namun tak di tanggapi lagi oleh pak Azis.
“Kuat-kuat iman mu Nur ya, sama opung mu itu.” Ucap pak Azis seolah bayi kecil dalam pangkuannya mengerti.
Tak berselang lama rombongan pak Ahmad tiba dan lengkap dengan para bocah, Lulu, Lili, Adam, Idris dan Aboy. suasana menjadi ramai dari lima anak kecil itu hanya Aboy yang tidak berbicara karena memang belum lancar berbicara sedangkan yang lainya berceloteh mengklaim bagian mana dari bayi itu mirip dengan mereka.
Bu Nur dan pak Ahmad memeluk Yana erat, anaknya yang selalu menjadi buah bibir dulunya hanya karena terlambat menikah, hari ini dengan mata kepala sendiri bu Nur menjadi saksi melihat kebahagiaan yang Yana rasakan.
Begitu juga dengan Elita dan Putra mereka menikmati senyum bahagia sang kakak tersayang dengan penuh haru, kakak yang sangat mereka sayangi saat ini sudah bahagia.
☕️☕️☕️
Waktu berlalu setelah acara syukuran memotong akikah dede Nur yang diberi nama panjang ‘Ayza Nurhasian Mahraja’. Nama itu didapat setelah negosiasi panjang lama ada alot antara Raja dan ketiga anaknya, akhirnya Lala Lili dan Lulu setuju tak ada nama mereka yang melekat pada adik bayinya itu.
“Ay, terimakasih untuk semua.” Ucap Raja saat sedang berdua di kamar sambil mengecup kening Yana.
Anak-anak sedang di dandani dan berganti pakaian dengan gamis biru yang pernah mak Duma jahit untuk seragam foto bersama, mereka berencana melakukan foto keluarga untuk dipajang di ruang keluarga seperti yang pernah Raja khayalkan.
__ADS_1
“Terimakasih juga bang, udah buat hidup Aya hampir sempurna.”
“Kenapa hampir.?” Tanya Raja tak terima dengan ucapan istrinya.
“Karena yang sempurna hanya yang Maha kuasa.” Jawab Yana santai.
Raja mendekat menggenggam tangan Yana erat, “terimakasih sayang, udah kembali datang di kehidupan abang.”
“Abang yang kembali datang di kehidupan Aya.” Jawab Yana lembut dengan mata sudah berembun merasa haru.
“Aya udah mengorbankan semua untuk menerima abang dan anak-anak, terima kasih”
“Aya bahagia bang, bahagia.”
“Abang sayang sama Aya, kita besarkan anak-anak sama-sama ya.” Ucap Raja lembut sambil mengusap air mata di pipi Yana. dan mulai mendekatkan wajahnya pada Yana.
“Ayahhhhhhhhhhhhh.” Teriakan Lili dan Lulu membuat Yana dan Raja terkejut serta Yana segera mendorong Raja menjauh.
“Ayah apakan Umma.” Tany Lili di hadapan Raja dengan tangan di pinggan yang panik melihat Yana Menangis. sedangkan Lulu sudah memeluk dan menghapus air mata umma mereka.
“Ayah apakan memanganya? Gak ada.” Jawab Raja jujur bercampur kesal.
“Opunggg, ayah buat umma menangis.” Teriak dua anak kecil itu bersama.
☕️☕️The end☕️☕️
☕️Terima kasih Miss Eva Yang udah buat foto keluarga di depan kebun sawit,lop lop teteh.
☕️Halo Rakan, terima kasih untuk rakan pembaca yang masih setia menemani sejauh ini, terimakasih untuk komen like dan juga votenya.
☕️Ini karya pertama ku menulis cerita panjang, mohon maaf kalau ada Kekurangan terutama typo. Kata temenku sih aku ini ratu typo yang meresahkan semoga pembaca gak resah pas baca ada typo hihihi.
☕️Kalau aku buat beberapa bonchap Yana dan Raja beserta Lala Lili Lulu Ayza, masih ada yg manu baca ga yaa 🤭apakah akan ada Ucok atau malah butet lagi, (maklum lah kelen ya we bang Raja pande ya buat butet aja.)
☕️Ahh kepanjangan..... pokoknya terimakasih banyak-banyak CS bestie dan rakan-rakan semua.
☕️kalau ada yg mau tanya-tanya boleh insyaAllah aku balas nanti (mak Duma say : gaya kali kau macam ada aja yang mau nanya.) ahh mak Duma ini buat down aja.
__ADS_1
☕️Lopeee lopeee seladang sawit untuk Rakan-rakan semua salam sayang, jan lupa bahagia jan lupa syenyummmmmmmmm😘😘😘