
☕️☕️
Mata gadis itu terbelalak saat mendapati sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh bos nya yang sedang terserang virus berbahaya, virus cinta gila.
Masyitah, gadis itu sudah bekerja sebagai sekretaris Raja lebih dari tiga tahun namun di satu tahun terakhir Raja benar-benar menguji tingkat kesabaran dan ketabahan hati yang gadis itu punya.
Secepat kilat ia membuka tas kerjanya dan mengambil buku agenda pekerjaanya disana, gadis itu dengan mudah mendapatkan nomor ponsel yang pernah ia catat beberapa bulan lalu di buku itu.
Kemudian secepat kecepatan pesawat jet milik negara adidaya Tita mengetik pesan untuk wanita bernama Yana dan segera mengirimnya, gadis itu beruntung jaringan internet sedang berpihak padanya pesan itu segera terkirim dan sampai pada si penerima dengan selamat tanpa hambatan.
Tak menunggu lama terlihat keterangan pesan itu terbaca. Hati Tita lega tetapi setelah lima menit pesan itu terkirim tak juga ada tanda tanda pesan itu dibalas oleh si penerima.
“Laki bini sama aja, dikira pesan ku surat kabar gitu. Setelah di baca tutup lagi.” Gumam Tita kesal.
Gadis itu membuka lilitan handuk di kepalanya, sepulang dari kampus tadi ia merasa gerah dan lelah sehingga Tita memilih mandi berkeramas untuk mendinginkan kepala yang sudah panas seharian.
Namun baru saja ia selesai mandi dan masuk kamar Tita mendapat telpon dari bos nya, rasa segar dan dingin yang Tita rasakan berubah kembali menjadi panas.
Setelah menunggu lima belas menit akhirnya Tita mendapatkan balasan pesan dari gadis bernama Yana itu.
‘Calbubos’ begitu tertera di ponsel Tita, nama itu baru saja ia buat beberapa menit lalu setelah mengirim pesan pada calon ibu bosnya itu.
“Tidak usah bertemu telpon saja, nanti satu jam lagi ya.” Balasan pesan dari calon ibu bos nya itu akhirnya membuat Tita sedikit tenang.
“Kenapa Itoh.” Tanya sang ibu pada Tita saat gadis itu keluar kamar dengan wajah tak bersemangat.
Tita yang di pangil Itoh oleh ibunya itu dengan jujur menceritakan kesalahan yang ia perbuat kepada sang ibu.
“Tempatkan candaan mu pada waktu dan keadaan yang tepat, sebab apa yang menurutmu sepele bisa jadi bumerang untuk orang lain. Tidak semua bisa dibuat bahan bercandaan, Itoh.” Ujar ibu Tita mengingatkan.
“Betul kak, ingat negara sedang kacau.” Tambah adik Tita yang sedang menonton acara berita cuaca di televisi.
Tita mencibir pada adiknya dan berterima kasih pada ibunya untuk nasehat yang ibunya sampaikan, kemudian ia kembali kekamar menunggu waktu satu jam yang Yana janjikan.
Setelah tepat satu jam Titta memberanikan diri menelpon wanita bernama Yana itu, Tita bersyukur saat Yana merespon teleponnya dengan sangat baik.
Hanya saja gadis yang berada di seberang sambungan teleponnya itu hanya menjawab dengan jawaban. “Em, oh, iya dan gapapa.” Itu saja yang di ulang-ulang gadis itu padahal Tita sudah bercerita panjang lebar menjelaskan semua kesalahpahaman yang ada.
“Cocok banget sama pak Raja, sama-sama kaku kayak es batu. Hambar ga ada rasa.” Monolog Tita setelan sambungan telepon dengan Yana mati.
Namun setidaknya Tita sudah lega, bebannya terasa hilang dan yang paling penting pekerjaanya aman.
☕️☕️☕️☕️☕️
__ADS_1
Di Sudut lain kota ini, seorang ibu-ibu paruh baya mengenakan daster bermotif bunga-bunga setelah mandi sore sedang mondar-mandir menunggu anak sulungnya pulang.
“Pening kali pun pala ku tengok kau mondar mandir Duma.” Kata pak Azis pada sang istri yang menurut pak Azis tetap saja tak berubah mandi tak mandi sama saja dan tetap saja cantik.
Tak ada jawaban dari wanita itu, ia hanya berhenti mondar mandir dan duduk di samping pak Azis yang sedang membaca buku berjudul cara benar berternak ikan lele.
Namun tak berlangsung lama wanita itu bangun dan kembali mondar-mandir di hadapan sang suami sudah seperti model yang berjalan di catwalk.
“Jangan kau mondar mandir ga konsen awak baca buku ini gara-gara kau.” Ucap pak Azis kesal pada tingkah sang istri.
“Andai dulu anakmu itu jujur pak, ga macam gini jadinya.” Ungkap mak Duma sambil kembali duduk di kursi sebelah pak Azis.
Pak Azis meletakkan bukunya diatas meja bundar yang ada di antara mereka, dan menarik nafas panjang menatap mak Duma dalam-dalam.
“Andai dulu di bilangnya aja, ada perempuan yang dia suka ga akan ku suruh dia nikah sama si Mia pak,”
“Ku tengok ga ada pulak nampak kawanya perempuan, takut pulak aku dia ga suka perempuan.”
“Andai bisa di ulang ya pak, ga merasa bersalah aku sama Yana dan Mia pak.”
“Udah sholat ashar kau,?” Tanya pak Azis serius.
“Udah, ga lupa aku kalau itu.” Jawab mak Duma kesal pada pak Azis yang menurutnya tak menanggapi keluh kesahnya.
“Ku kira kau sudah lupa, karena ku tengok udah lupa kau sama nikmat dan takdir Allah.” Ucap pak Azis datar.
“Andai dulu Raja jujur, andai dulu begini andai dulu begitu.”
“Apa itu namanya kalau bukan lupa sama takdir Allah Duma?” Tanya pak Azis pada sang istri tercinta dengan suara sangat lembut dan sambil tersenyum begitu sangat manis.
“Gak nya kau syukuri Lala Lili sama Lulu itu?”
“Tidak ada yang namanya andai begini andai begitu dalam kehidupan ini Duma, semua sudah tercatat dalam takdir kehidupan. Terkecuali kau ragu sama ketetapan yang maha kuasa.”
“Sekarang yang perlu kita lakukan berdoa berusaha, yang terbaik untuk anak kita.”
Ucapan pak Azis membuat mak Duma beristighfar berkali kali, begitulah pak Azis tak pernah bersikap keras saat mengingatkan wanita yang telah memberinya dua anak.
“Mana lah aku ragu pak, aku cuman kecewa sama diri sendiri kenapa anak-anak ini patuh kali sama kita.
“Kenapa anak-anak ini ga pernah keras membantah apa yang kita mau.” Ucap mak Duma menyesali diri.
“Pernah kau rasakan Raja atau Rani membentak memarahi mu? atau Mia?” Tanya pak Azis pada istrinya itu.
__ADS_1
Mak Duma menggeleng dengan kuat, kedua anaknya dan juga Mia tak pernah sekalipun berlaku kasar padanya.
“Itu tandanya kau berhasil mendidik orang itu, ga ada yang salah semua udah gitu jalanya.” Jawab pak Azis menangkan.
“InsyaAllah anak-anak kita dapat surga.” Jawab pak Azis mengalihkan kekecewaan istrinya.
Mak Duma memang keras dalam hal mendidik anak, namun bukan berarti dia tak mau menerima pendapat dari anak-anaknya.
☕️☕️☕️☕️
“Masuk bu,” Jawab Yana saat mendengar ibu mengetuk pintu setelah ia menerima telepon dari wanita yang mengaku sekretaris Raja.
Bu Nur masuk dan duduk di tepi tempat tidur milik Yana, “ibu ganggu ga kak.?” Tanya bu Nur pada Yana.
“Nggak dong bu, ada apa?.”
“Kamu dari mana aja tadi.” Tanya bun Nur hati-hati padanya, sebelumnya bu Nur tak pernah mendapati Yana pergi dari pagi dan pulang sampai hampir magrib di hari libur.
“Dari,,,” Yana menggantungkan ucapanya, gadis itu ragu untuk cerita pada ibu kemana saja ia hari ini.
“Gapapa ga usah cerita sekarang besok-besok saja,” Jawan bu Nur lagi. Yana tersenyum, ibunya adalah orang yang paling memahami dirinya.
“Em.. kak tadi pagi, eh hampir siang sih kak.” Ucap bu Nur juga ragu-ragu.
“Ada apa.?” Tanya Yana.
Bu Nur diam sejenak memilah kata yang tepat untuk dikatakan pada anak sulungnya itu.
“Raja, Mahraja teman kamu itu datang kesini ketemu ayah.” Ucap bu Nur lancar.
“Bang Raja? Ngapain dia?”
“husstt jangan teriak-teriak buat ibu terkejut aja kamu.” Jawab bu Nur sambil memegang dadanya.
“Awalnya datang nyari kamu, terus ngomong sama ayah.”
“Ngomongin apa?” Gadis itu tambah gusar.
“Mau lamar kamu lagi kak, gimana?” Tanya bu Nur yang tak tau kejadian yang terjadi siang tadi.
“Lamar! Aku ga mau!”
☕️☕️to be continue☕️☕️
__ADS_1
☕️☕️holaaa rakan, sedikit pemberitahuan besok sabtu 4 juni 22 Bang Raja sama Yana libur Up ya, karena realita minta di belai hihihi insya ketemu lagi minggu ya 🙏 😬😬gayanya kayak ada yang nyariin aja 😂
Rakan pembaca jan lupa bahagia jan lupa syemyummm☺️