
☕️☕️☕️
Senyum di wajah mak Duma mengembang sempurna setelah melakukan panggilan telepon langsung dengan Yana, hatinya yang gundah gulana sepanjang malam terobati sudah.
Sejak awal bertemu dengan Yana hati mak Duma sudah terpaut pada wanita itu, meskipun saat itu mak Duma belum tau siapa Yana sebenarnya. Ia bahkan sempat kecewa saat mengetahui Yana kala itu sudah memiliki tunangan.
Saat ini setelah Yana menjadi menantunya tentu saja nak Duma merasa cemas jika terjadi hal buruk pada wanita itu, terlebih lagi bersama Yana ada tiga cucunya yang sangat ia sayangi.
“Kembang kali ku tengok idung mu pagi ini.” Ucap pak Azis yang baru pulang melihat-lihat sekitar perkebunan.
“Nampak aja bapak idung ku kembang cinta kali lah bapak sama aku ya,” Jawab mak Duma bangga. “Baru siap di telpon Yana aku pak, baik-baik aja orang itu semua.” sambung mak Duma sambil mengaduk kopi dalam gelas untuk suaminya tercinta.
“Dari malam pun ku bilang orang itu baik-baik aja, kau aja nya yang nyusahin diri sendiri.” Jawab pak Azis asal dan duduk di kursi meja makan menunggu hidangan kopi dari istrinya tercinta.
“Bapak memang ga pernah ngerti perasaan hati ku.” Ucap mak Duma ketus dengan bibir sudah manyun.
“Bah, aku pulak yang salah,”
“Iyalah semua-semua bapak yang salah.” Jawab mak Duma sambil meletakkan segelas kopi dan pisang goreng di hadapan pak Azis.
“Terserah mu lah Duma, terserah. Penting masih kau urus kopi ku, makan ku, baju ku, kau salah-salahin tiap hari pun boleh asal senang hati mu.” Ucap pak Azis lalu menyesap kopi buatan mak Duma dan kemudian memakan pisang goreng yang dibuat sendiri oleh mak Duma.
“Enak kali memang kopi sama pisang goreng buatanmu Duma ga ada tandinganya.” Puji pak Azis yang membuat mak Duma senyum malu-malu.
“Senyum gitu lagi kau, ah sempurna kali hidup ku ini.” Tambah pak Azis kemudian.
“Eh tumben kali baik kau sama aku, ada mau mu ini.” Ucap mak Duma curiga.
“Udah lagi, baik aku salah tak baik pun salah.” Pak Azis terlihat pasrah dengan tuduhan yang istrinya ucapkan.
☕️☕️☕️
Ungkapan kata harta yang paling berharga adalah keluarga saat ini sedang sangat tepat untuk keluarga kecil pasangan Mahraja dan Ayyana Ahmad.
Ketakutan anak-anak karena terjebak macet sirna sudah saat mereka tiba di Parapat kota kecil di pinggir danau toba yang masih sangat asri dan menenangkan.
Raja sudah memesan dua buah kamar penginapan dan mempersiapkan segala keperluan berlibur mereka selama dua malam di kota kecil nan indah itu, penginapan yang sudah Raja pesan juga sangat menarik perhatian anak-anak karena dilengkapi dengan fasilitas bermain anak.
Untuk menikmati pemandangan danau toba dengan udara segar itu juga mereka tak harus pergi jauh dari area penginapan. Keindahan danau toba yang menjadi salah satu kebanggan provinsi Sumatera utara itu bisa mereka nikmati langsung dari kamar yang mereka tempati.
__ADS_1
Cukup membuka pintu balkon kamar superior terbaik di penginapan itu maka hamparan danau toba yang indah dan udara yang segar sudah bisa mereka rasakan setiap saat kapanpun mereka mau.
Namun masih ada hal yang mengganjal di hati Raja, Yaitu kemauan Yana yang mengharuskan kamarnya dan anak-anak minimal memiliki connecting door, untuk memudahkan mereka memantau anak-anak begitu kata sang istri tercinta.
Hati Raja tentu saja senang karena Yana begitu memperhatikan anak-anak, namun sebagai laki-lagi dewasa yang baru saja menikah ia juga membutuhkan waktu berdua saja bersama dengan Yana.
“Aya ga tenang bang kalau ga mastiin mereka bener-bener aman.” Ucapan Yana akhirnya membuat Raja mengalah dan setuju mengambil satu kamar untuk berlima.
☕️☕️
“Abang memang terbaik.” Ucap Yana sambil memeluk Raja dan memberikan kecupan sayang pada pipi laki-laki itu. Saat mereka duduk di pinggiran danau toba sambil memantau anak-anak yang bermain air yang berjarak tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada.
“Sejauh ini Aya bahagia ga?” Tanya Raja.
“Bahagia, Aya bahagia.” Jawab Yana cepat tanpa perlu berfikir karena memang itu kenyataan yang sedang Yana rasakan.
“Anak-anak.” Tanya Raja lagi.
“Kenapa dengan mereka?”
“Mereka nyusahin kamu ga?”
“Abang kenapa nanya gitu.?”
“Mereka anak-anak Aya bang, perlu pembuktian seperti apa lagi.”
“Abang bahagia ga.?” Kali ini Yana yang bertanya sambil menatap lekat wajah Raja yang mulai terlihat lebih berisi.
“Sangat Ay, abang sangat sangat sangat bahagia.” Jujur Raja katakan dengan senyum yang sangat manis, membuat Yana ikut tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dada Raja.
“Lalu sejak kapan Lili panggil kamu umma?” Tanya Raja penasaran.
“Sejak kapan ya?,” Yana berbicara sambil memainkan jari telunjuknya ke dagu seolah sedang berpikir keras.
Raja berencana mengusili Yana, baru saja Raja akan menyentuh pinggang ramping wanita.
“Ayah.” Teriakan Lulu dengan mata tajam membuat Yana terkejut dan bergegas mendorong Raja menjauh dari dirinya.
“Repot sendiri kan. Jawab tu kalau anaknya nanya.” Ucap Yana menggusili Raja.
__ADS_1
“Anak umma kedinginan.” Yana bergegas membuka baju basah Lulu dan melilitkan handuk pada tubuh kecil itu dan memeluknya erat sambil mencium seluruh wajah Lulu.
“I i iyaaaa dingin,” bibir gadis kecil itu sudah bergetar saat berbicara. “Ayah napa jaat tama Umma.” Tanya Lulu sesuai tebakan Yana.
“Emm kamu anak siapa.” Tanya Raja pada gadis kecil itu berharap mendapat pembelaan.
“Aa anakk um ummaaa.” Jawabnya masih menggigil.
“Mak jang, betol-betol udah ga dianggap lah aku ini,” ungkap Raja dengan logat khas medan yang membuat mereka bertiga tertawa.
Malam terakhir mereka menginap di Parapat setelah makan malam keluarga kecil itu hanya menghabiskan waktu di kamar bercengkrama bertukar cerita, sebelum besok pagi harus pulang ke Medan dan melanjutkan perjalanan kembali ke ibu kota.
☕️☕️☕️
Waktu berlalu begitu cepat libur sekolah sudah usai, Yana sudah mulai kembali mengajar, kali ini Yana bertanggung jawab sebagai wali kelas dua belas IPS satu dengan siswa yang masih sama yaitu Ozan dan Cindy Ayunin CS.
Lala sudah mulai memakai seragam putih biru dan meminta kamar tidur yang terpisah dari Lili dan Lulu, sedangkan Lili sudah naik ke kelas dua dengan kelas yang terpisah dengan Amora dan Udek.
Hanya Lulu yang naik kelasnya sangat jauh, dari sekolah PAUD Lulu sudah langsung naik kelas ke SMA bersama ummanya.
Lulu yang selalu ikut ke sekolah bersama Yana tentu saja merasa bahagia, namun baru saja sekolah satu minggu Yana sudah dibuat pusing oleh ulah Lulu yang merajuk karena termakan omongan mbak Muti.
“Nanti ya Lu, duitnya belum cukup.” Ucap Yana membujuk anak bungsunya itu agar mau disuapi makan sore.
“Minta duit tama opung aja.” Jawab Lulu gampang.
“Perlu uang banyak, nanti ya sayang kalau uangnya sudah cukup kita beli sekarang Lulu makan dulu.”
Lulu membuang muka menolak suapan nasi dengan sop daging kesukaannya.
“Kenapa pulak ini marah-marah.” Mak Duma yang melihat sikap Lulu tak biasa pada Yana mencoba menengahi.
Lulu tak menjawab sepatah katapun, bibirnya bertambah manyun dengan tangan dilipat ke dada.
Yana menarik napas panjang, ulah mbak Muti kali ini sudah kelewatan batas menurutnya. Ia bergegas menelpon mbak Muti ingin meluapkan kekesalannya pada sahabatnya itu.
“Mbak gimana sih, mbak bilang apa aja sama Lulu. Ulah mbak baut Lulu sekarang mogok makan mbak.” Ucap Yana kesal saat baru saja sambungan telepon itu terhubung namun lawan bicaranya di seberang sana hanya tertawa terbahak-bahak.
Yana menutup sambungan telepon itu masih dengan hati kesal dan merebahkan kepalanya ke sandaran sofa, beberapa hari ini kondisinya memang kurang baik ia sering pusing dan cepat lelah. Sehingga tingkah Lulu kali ini benar-benar menjadi cobaan untuknya.
__ADS_1
☕️☕️To be continue☕️☕️
☕️Jan lupa bahagia Rakan jan lupa syenyummmmmmmmmm😘