Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Bunda


__ADS_3

☕️☕️☕️


Pak Azis yang ditinggalkan begitu saja oleh anaknya sudah berencana akan memberi anak sulungnya itu kuliah materi berpikir 12 SKS saat pulang nanti.


Mak Duma yang biasa aktif mengeluarkan dua ribu kata perhari saat itu juga diam seribu bahasa sejenak, tak ada yang bisa disalahkan kondisinya benar-benar tersudutkan.


“Ngomong lah pak, ulah anak mu itu.” Bisik mak Duma pada sang suami tercinta.


“Selalu saj, kalau gini anak ku.” Gerutu laki-laki pecinta ternak ikan itu kesal.


“Saya benar-benar minta maaf, saya merasa sangat malu atas perbuatan Raja.” Ucap pak Azis lembut dengan penuh penyesalah.


“Kami minta maaf ya pak, bu.” Ucap mak Duma membantu suaminya menjaga nama baik atas ulah anak sulungnya.


Pak Ahmad mencoba senyum dengan wajah masam, kesal di hatinya sudah tak dapat ia sembunyikan lagi.


Lain pak Ahmad lain pala bu Nur wanita itu dengan tenang dan senyum bahagia menjawab “Gapapa pak, bu. InsyaAllah ini yang terbaik.”


☕️☕️☕️


Raja mengendarai mobilnya membalah jalan ibu kota dengan kecepatan tinggi padahal ia sedang berada di jalan raya yang lumayan ramai.


Lili demam pak, saya berencana mengantarnya ke ruang UKS, namun saat kami akan keluar tak menyangka ada temanya membuka pintu dari luar dan mengenai wajah Lili. Bibir bagian atasnya robek dan kemungkinan harus dijahit.


Ucapan ibu wali kelas Lili mengiang di telingganya. Pagi tadi saat ia mengantar anak itu sekolah, Lili memang terlihat lebih diam dari biasa.


Tapi anak itu tidak demam, Raja berani mengatakan itu karena sebelum turun di sekolah ia sudah memastikan keadaan Lili baik-baik saja.


“Abang cepat!, kenapa harus berhenti kenapa ga belok kiri nanti di depan muter.” Suara gadis manis yang duduk di sebelahnya mengganggu atensinya.


Ya, wanita itu adalah Ayyana Ahmad, saat ia hendak pamit dari rumah wanita itu, dengan lantang wanita itu berteriak.


“Siapa yang sakit, aku ikut.”


“Tunggu, awas aja kalau abang ninggalin aku.”


Tak ada jawaban ya atau tidak dari mulut Raja saat itu, tapi wanita itu sudah menghilang menaiki anak tangga dengan kecepatan ninja hatori dan kembali dengan tas selempng jalan mendahuluinya kearah luar rumah.


“Bang, cepat ih.” Bahkan wanita itu sempat berteriak dari depan pintu utama karena Raja masih dalam keadaan bingung dan sekarang wanita itu lah yang berada di sebelahnya.


“Abang lewat kanan aja lebih sepi jalanya”


“Ga bisa Ay, tenang dulu.” Ucapnya menenangkan.


“Sejak kapan Lili demam, abang kenapa ga bilang-bilang ke Aya,” tanya gadis itu lagi dengan tatapan sinis.


“Ga demam, tadi pagi sehat.” Jawab Raja jujur dengan seadanya.


Raja berada dalam dua sisi yang membuatnya bingung, satu sisi hatinya gelisah memikirkan Lili sedang sisi lainya sikap Yana justru membuatnya bahagia.


Wajah cemas Yana membuatnya merasa tak salah mengambil langkah untuk memilih gadis itu, meski gadis itu belum menjawab iya atas keinginannya setidaknya sekarang ia tahu gadis itu menyayangi anak-anaknya.


“Ga demam atau abang ga teliti, Adam malah cerita Lili banyak diam akhir-akhir ini.” Yana masih dengan pertanyan berlapis seperti seorang jaksa penuntut menghakimi tersangka.

__ADS_1


“Bundanya anak-anak cemas?” Tanya Raja sambil melirik Yana sebentar, dan kembali menatap jalanan yang sudah mulai lenggang.


Wajah Yana memerah, hatinya tak karuan. Yana si ahli menyimpan perasaan kali ini terjebak dan seolah kehilangan kemampuannya.


Yana membuang pandangan ke arah kiri menutupi rasa gugupnya, pikiranya kacau, sudah benarkah sikap yang iya ambil atau ia hanya terbawa iba pada anak-anak Raja.


☕️☕️☕️


Mobil Raja memasuki area rumah sakit yang disebutkan guru Lili sebelumnya melalui sambungan telepon.


Yana melesat turun dan berjalan ke arah IGD saat Raja menghentikan mobilnya tanpa menunggu laki-laki itu, “Ini yang sakit anak siapa yang panik siapa” Gumam Raja.


“Sus, saya cari anak saya dari sekolah di bawa kesini.” Ucap Yana pada petugas di meja nurse station rumah sakit tersebut.


“Namanya siapa?” Tanya petugas yang berada di nurse station itu sambil membuka data pasien pada komputernya.


“Lili,..Lili Mahraja” Ucap Yana cepat.


“Liyana Mahraja umur 7 tahun ya bu?” Tanya petugas memastikan.


“Iya itu nama panjangnya Liyana, dimana dia.?”


“Pasein ada di triase anak ya bu di ujung belakang sebelah kiri.” Jawab petugas itu lembut.


“Lili,” Ucap Yana sembari memeluk erat anak usia tujuh tahun itu penuh sayang saat mendapatkan Lili terbaring di tempat tidur pasien, namun si anak hanya diam saja.


Raja yang baru saja bisa mengikuti langkah Yana merasa sedang kelebihan hormon dopamin, hatinya senang tak terhingga melihat pemandangan di depan matanya.


“Kenapa bisa gini mbak.” Tanya Yana tak sabar pada wali kelas Lili yang juga Yana kenal setelah melepas pelukan pada anak itu.


“Ayah.... Sakit yah...” teriak gadis kecil itu.


“Jangan menangis sayang nanti lukanya tambah parah, jangan takut ada kami disini.” Yana mendekat pada Lili yang sedang berada dalam pelukan Raja.


Namun respon Lili tetap sama, anak itu seolah menjaga jarak dengan Yana. Tetapi Yana tak ambil pusing ia yakin itu hanya karena Lili sedang sakit.


Wali kelas Lili pamit setelah meminta maaf berkali-kali, ia juga mengatakan pada Yana bahwa ini benar benar kecelakaan tanpa di sengaja.


Meski wali kelas Lili sangat penasaran apa hubungan Yana dengan Lili, sampai membuat gadis itu terlihat lebih cemas daripada ayah si anak.


☕️☕️☕️


“Aya lapar ga?” Tany Raja yang melirik arloji di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukkan pukul tiga belas lewat empat puluh dua menit.


“Nanti aja.” Jawab Yana datar. pandangannya terus mengarah pada kamar operasi, karena yang sobek adalah bagian bibir maka proses penjahitan di lakukan di kamar operasi oleh dokter bedah plastik estetik.


“Tidak lama pak, bu. Lima belas menit sudah beres.” Ucap seorang dokter bedah umum yang pada dada sebelah kiri jas dokternya tercetak nama dr Mahija Akhza.Sp.B


Penjelasan dokter bedah yag masih snagat muda ibu cukup menenangkan Yana sebelum Lili dimasukkan ke ruang oprasi cito rumah sakit tersebut.


“Kalau Aya lapar, abang belikan makanan sebentar ya.” Ucap Raja lagi.


Tak ada jawaban Yana hanya menatapnya dengan tatapan mengerikan.

__ADS_1


“Ups, ok siap bundanya anak-anak sebentar lagi saja kan.” Ucap Raja sambil mengangkat kedua tanganya seperti tersangka menyerah saat tertangkap tangan.


☕️☕️☕️☕️


Pak Ahmad dalam hatinya mengakui Raja adalah ayah yang bertanggung jawab pada anaknya, pak Ahmad semakin meyakini diri bahwa Ayana akan berada dengan orang yang tepat.


Namun pak Ahmad jelas kesal dengan sikap Yana yang tak terkontrol. Menurut pak Ahmad, Yana tak perlu melakukan hal itu.


Tetapi apalah daya, hati susah dibohongi Yana bahkan terlihat lebih cemas perihal Lili dibandingkan dengan Raja.


“Melihat dari kondisi tadi saya pikir Yana setuju pak.” Ucap pak Azis setelah berkali kali meminta maaf.


Pak Ahmad melihat bu Nur sebentar mencari jawaban dari bu Nur. Dan wanita itu menganggukan kepala ke arah pak Ahmad tanda setuju.


“Saya juga setuju pak, tapi dengan syarat.” Jawab pak Ahmad.


“Saya yang akan menjamin nak Yana tidak dibawa pindah ke medan selama bapak tak mengizinkan.” Jawab pak Azis meyakinkan.


Pak Ahmad tertunduk malu, ia tak menyangka pak Azis tau tentang cerita itu, tantang keegoisannya di masa lalu.


“Bukan itu pak,” jawab pak Ahmad lirih.


“Lalu, ada syarat lain?” Tanya pak Azis memastikan.


Pak Ahmad mengangguk sebagai tanda membenarkan pertanyaan pak Azis.


“Saya hanya minta lamaran dan akad nikah maksimal hanya berselang satu hari.” Ucap pak Ahmad.


Pak Ahmad memang sudah membicarakan ini pada istrinya sebelumya. Itu juga yang membuat bu Nur tak banyak berkomentar.


“Setuju kali aku, apa pulak lama-lama di hari yang sama pun boleh juga.” Ucap mak Duma secepat mercon cape meledak.


“Kita bicarakan dulu sama Raja Duma.” Ucap pak Azis panik dengan keputusan istrinya.


“Udah setujunya dia itu, ga usah di lamar nikah aja terus besok.” Mak Duma mulai kemabali meresahkan bangsa dan negara.


”Mana bisa gitu Dumaaaa.!” Pak Azis bener-benar sedang merasa di jebak oleh anak dan istrinya.


“Setau saya lamaran hukumnya tidak sunah bukan wajib,” Ucap bu Nur memihak pada mak Duma.


“Makanya nikah saja langsung ya bu Nur.” Mak Duma tak sabar.


“Tapi saya berharap ada prosesi lamaran, agar Yana merasakan hal yang sama dengan adik-adiknya.” Ungkap pak Ahmad agar Yana di perlakukan sama dengan orang adik-adiknya.


“Boleh pak, gampang itu. Besok pagi kami datang melamar secara resmi.” Ucap mak Duma mengambil keputusan.


“Duma tunggu lah dulu, persiapan kita harus ada.” Ucap pak Azis super lembut menatap tajam mak Duma, wanita langsung menyadari suaminya sedang kesal.


“Besok sore kami akan datang melamar secara resmi, selanjutkan bisa kita bicarakan besok.” Ucap paka Azis tenang.


☕️☕️to be continue☕️☕️


☕️Alahmdulillah ga gantung, aman.... 😎

__ADS_1


☕️kuy rakan jan lupa senyum jam lupa bahagia.


__ADS_2