Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Lunas Janji


__ADS_3

☕️☕️


Sore itu Raja sudah berjanji pada tiga gadis kecilnya untuk membawa anak-anak itu mengunjungi pusara ibu mereka.


Bu Nur sudah lelap tertidur di kamar tamu, sedangkan pak Ahmad di ajak berkeliling melihat kolam-kolam ikan yang berada di lahan belakang rumah oleh pak Azis.


Semua sudah siap berangkat namun ponsel Yana hilang entah kemana sehingga membuat mereka memutuskan mencari ponsel itu terlebih dahulu. Karena rencananya setelah dari makam Mia, mereka berlima akan singgah sebentar mencari beberapa keperluan untuk perlengkapan anak-anak.


“Tunggu dulu, umma lagi nyari Hp.” Ucap Raja pada anak-anaknya.


Seketika itu juga Lili dan Lulu berdiri membeku saling menatap.


“Hp umma sama kalian berdua ya.” Tanya Lala berbisik di belakang dua adiknya itu.


Anak dua itu cepat-cepat menggelengkan kepala dengan mulut bungkam.


“Kalian main hp, kan.?” Lagi-lagi Lala berbisik membuat dua anak kecil itu ketakutan.


“Kamu nyimpen dimana tadi.?” Ucap Raja yang sudah keliling rumah mencari benda pipih berkamera bobo milik istrinya itu.


“Ya, di se sekitar sini.” Jawab Yana gugup.


“Ay, rumah ini sedang ramai. Jangan buat abang ngumpulin orang-orang untuk masalah ini.” Ucap Raja lagi.


Melihat banyak sanak saudara yang sudah datang dari kampung mamak dan bapak untuk menghadiri acara syukuran pernikahan yang mak Duma adakan Yana bertambah gugup.


Bukan hanya sanak saudara, ada juga beberapa pekerja kebun sawit dari kampung dan beberapa karyawan pabrik pengolahan sawit yang khusus datang membantu, Yana tak mungkin membuat mereka semua tertuduh hanya karena kesalahannya.


“Maaf.” Ucap Yana.


“Anak-anak lagi.?” Tanya Raja.


Yana mengangguk membenarkan kecurigaan Raja. “Mereka hanya boleh main ponsel di bawah pengawasan kita, Ay. Raja mengingatkan.


“Maaf bang, tadinya begitu.Terus waktu Aya dipanggil mamak Aya ga tega ambil dari tangan mereka yang sedang nonton.” Jawab Yana jujur.


“Ya udah gapapa, anak-anak tangung jawab kita berdua. Kita tanya anak-anak ya.” Raja menarik nafas panjang, dan kembali ke ruang depan. “Lili atau Lulu” Tanya Raja pada dua putrinya itu. Pertanyaan yang mengambang tapi dimengerti oleh dua bocah kecil itu.


“Dua dua, iya kan kak.” Jawab Lulu berani.


“Tante Yana yang ga minta jadi bukan salah kami.” Jawab Lili santai sambil menunjuk Yana yang berada di belakang Raja.


“Lili, ingat yang ayah bilang malam itu kan.!” Raja menegur Lili.


“Abang, bukan salah mereka itu salah Aya. Aku ga suka ya abang marah-marahin anakku.” Jawab Yana ketus.


“Tinggal tanya yah, mereka nyimpen dimana.” Ucap Lala membela adik-adiknya.

__ADS_1


Raja kembali menarik napas panjang, empat wanita lawan satu apalah daya yang ia punya sudah pasti dia kalah telak, belum lagi jika mak Duma ibu tersayangnya ikut campur.


Raja menarik ponsel miliknya dari saku celana dan menghubungi nomor yang disimpan dengan nama my Ayyana.


“Kalian simpan dimana hp-nya? Umma ga marah kok.”


“Cepetan kasih tau biar kita cepat perginya, nanti mama kelian kelamaan nunggu.” Ucap Yana membujuk dua anak kecil yang masih dengan mode silent itu.


Panggilan pertama mati begitu saja, kemudian Raja mengulangi lagi panggilan pada nomor ponsel istrinya itu.


“Yana, kenapa hp kau di bawah bantal mamak. Ini ada yang nelpon hantu blau namanya.” Ucap mak Duma keluar dari kamar menenteng ponsel yang sudah Raja dan Yana cari sejak tadi.


Raja langsung mematikan pangilan telponya saat mendengar ucapan mamak yang mengatakan siapa nama penelepon yang tertera di ponsel Yana.


“Alah udah mati.” Ucap mak Duma.


“Sini mak sama ku aja.” Raja mengambil ponsel itu dari tangan mamaknya dan kembali menelpon nomer itu dan benar saja ponsel Yana kembali berdering. Tertera tulisan ‘hantu belau memanggil’ di layar ponsel Yana lengkap dengan gambar tengkorak kartun.


“Bunyi lagi dia, siapamu itu.” Tanya mak Duma penasaran.


“Temen di sekolah mak.” Jawab Yana setenang mungkin.


“Jahat kalinya dia sampai kau buat namanya hantu blau?” Tanya mamak lagi.


“Em eng nggak mak, baik dia.” Jawab Yana gugup saat melihat tatapan mengerikan mata Raja padanya.


“Iya mak, makasih. Kami berangkat dulu ya mak.” Jawab Yana berikutnya.


Kemudian Yana menadahkan tangan meminta ponselnya di kembalikan oleh Raja namun laki-laki itu tak peduli.


“Anak-anak ayo.” Ucap Raja pada anak-anaknya.


“La, bilang sama umma kamu kita berangkat sekarang.” Ucap Raja yang masih di dengar oleh Yana sambil memasukkan ponsel Yana dalam suku celananya.


☕️☕️☕️


“Bang, Aya minta maaf.” Ucap Yana saat anak-anak sedang memilih kembang untuk dibawa ke makan ibu mereka.


“Selama ini Aya tidur sama hantu blau apa Aya tidak takut?” Tanya Raja.


“Abannggg ihh maaf.” Yana merengek meminta maaf menyadari kesalahnya.


“Kita selesaikan nanti malam.” Jawab Raja santai saat melihat anaknya sudah menuju kasir untuk membayar bunga-bunga segar itu.


Sampai di makam Mia, Raja memimpin membacakan al-fatihah dan doa-doa untuk Mia. Setelah itu ia membiarkan anaknya melepas rindu pada ibu mereka di sana.


“Mia, janji abang lunas abang bawa Yana kesini.” Ucap Raja sambil mengajak Yana mendekat dan Yana bergegas membacakan doa terbaik untuk Mia.

__ADS_1


“Mama, kami bawa umma, mama yang tenang ya disana. Umma baik ma.”


“Oh iya aku sudah gadis kata umma karena sudah datang bulan, kemarin umma yang ajarin aku doa-doa sebelum mandinya ma.” Ucap Lala seolah berbicara dengan Mai secara langsung.


“Mama yuyu tenang gi kolah tama umma, ta umma nti yuyu ga kolah ud agi, pi kolah tema tama Umma.” Lulu menceritakan kesenangannya saat Yana mengantar sekolah dan mengatakan bahwa dia akan berhenti sekolah paud karena Yana akan membawanya saat wanita itu pergi mengajar.


Raja dan Yana memang sepakat agar Lulu berhenti sekolah di PAUD karena anak itu mulai bosan, Raja takut nanti saat masuk sekolah dasar Lulu bosan dan tak mau sekolah.


Namun saat giliran Lili Raja merasa masih punya PR besar di kepalanya.


“Ma, Lili takut Lili mau ikut mama aja.” Gumam Lili.


“Lili, ingat janji kamu sama ayah,” Ucap Raja membuat Lili menunduk.


Yana mendekat hendak memeluk Lili tapi anak itu seperti biasa ia menolak sentuhan Yana.


Raja duduk di memegang batu nisan milik mendiang istrinya itu dengan erat dan kembali membacakan alfatihah sebelum mengajak anak-anaknya pulang.


☕️☕️☕️


Malam itu semua sibuk, Raja sampai tak sempat membahas prihal hantu blau dengan Yana. Acara yang mak Duma katakan hanya sederhana nyatanya diadakan di sebuah hotel mewah di kota medan.


Dan hampir satu bulan Yana menjadi menantu baru kali ini juga ia melihat mak Duma dan pak Azis seolah menjadi orang lain.


Tamu yang datang juga orang-penting dan dari kelas tinggi terlihat jelas dari pakaian mereka kenakan.


“Ininya bini si Raja, eda?,” ucap seorang wanita paruh baya yang datang bersama tiga teman yang lainnya pada mak Duma.


(Eda \= Hanya untuk panggilan sesama perempuan di suku batak dan sumatra utara.


“Iya, cemana kelen tengok cantek menantu ku ini kan.”


“Iya lho pande kali bah si Raja nyari istri.” Jawab ibu-ibu yang lebih muda. Yana hanya tersenyum tipis menanggapi.


“Apa kerjamu nak e.” Tanya wanita bercadar pada Yana.


“Guru, bu.” Jawab Yana lembut.


“Aih mantap kali ah, harus itu banyak kali pun kebun sawit si Raja itu kita perempuan ini harus punya usah sendiri, macam mamak mu ini masih juga dia menerima murid menjahit ah heran kali aku.” Ibu paruh baya tadi menasehati Yana.


“Kelen jaga sikit cakap kelen itu, lembut sedikit terkejut menantu ku ini mendengar kelen.” Mak Duma mengingatkan teman-temanya.


Hati Yana menghangat, mamak memperlakukan seperti anak sendiri meski logat bicara mamak sedikit tinggi namun mamak terlihat sangat tulus menyanginya.


☕️☕️to be continue☕️☕️


☕️Jan lupa bahagia Rakan jan lupa nyenyummmm

__ADS_1


__ADS_2