Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Saingan Cinta bu Nur


__ADS_3

“Kemana aja sih kak, ibu baru aja mau telpon kamu.”


Itu kata-kata pertama yang Yana dengar saat ia baru saja mengucap salam dan masuk kedalam rumah.


Bukan menjawab Yana malah mendekat dan langsung mencium pipi sang ibu kuat-kuat sampai bu Nur meronta melepaskan diri.


“Kebiasaan deh kalau telat pulang ga ngabarin ibu.” Cicit bu Nur dengan bibir manyun.


“Anaknya bukan balita lagi Nur, heboh baget kamu buat pusing aja.” Ucap pak Ahmad santai sambil berlalu ke halaman belakang memberi pakan burung srigunting yang memiliki ekor unik dan cantik peliharaannya.


“Ayah ga tau aja perasaan ibu, udah urus aja tuh si bunting kesayangan ayah.” Jawab bu Nur kesal pada sang suami.


“Gunting bu, bukan bunting.” Ucap Yana membenarkan.


”Apa aja deh yang jelas ayahmu sekarang lebih sayang sama dia daripada sama ibu.” Bu Nur mengungkapkan isi hatinya namun pak Ahmad tak berniat menanggapi sedikit pun.


“Tadi Yana nganterin teman Adam dulu kerumah sakit ayahnya sakit kasihan anak itu ga ada yang jemput.” Jawab Yana jujur.


“Duh kasian ya kak,”


“Terus gimana ayah teman Adam itu?” Tanya bu Nur belum puas.


“Udah sehat, udah bisa pulang juga tadi.” Jawab Yana lagi.


“Jadi ibu sekarang saingan srigunting hahahah.” Tambah Yana sambil tertawa mengalihkan pembicaraan agar ibu tak membahas ayah dari teman Adam lagi.


“Siapa yang cemburu, nggak lah.” Jawab bu Nur dengan nada kesal.


“Yang bilang ibu cemburu siapa? aku bilang ibu saingan sama srigunting.” Jawab Yana sambil menaik turunkan alisnya mengganggu bu Nur.


“Berisik aja, mandi sana. Tuh Adam aja udah selesai mandi.” Jawab ibu sambil menunjuk Adam yang baru keluar dari kamarnya setelah mandi dan menuju kamar atas dimana Aboy berada.


“Itu sih modus biar di kasih main sama Aboy dan Idris.” Jawab Yana menanggapi perkataan ibu.


“Laki-laki memang harus begitu, modus penting sesekali. demi dapat apa yang dimau.” Jawab Ayah yang baru masuk dari pintu belakang dan berjalan menuju ke depan rumah sambil tangan kirinya memeluk burung srigunting dan tangan kanan nya mengusap kepala burung itu dengan penuh sayang.


“Tuh, ayah kamu. Sekalian aja tidur sama burung.” Cicit bu Nur lagi.


Dan masih seperti sebelumnya tak ada niat baik pak Ahmad secuilpun untuk menjawab ucapan sang istri tercinta


Namun untuk Yana ucapan Pak Ahmad malah menjadi bumerang untuk Yana sendiri, pikiranya melayang pada laki-laki yang ia temui di UGD beberapa waktu yang lalu.


Perasaannya mulai tak enak, jika sudah begini maka setan yang akan menjadi korban untuk di fitnah. Bisikan setan menyatakan bahwa Raja sengaja modus sakit agar Yana datang menjenguknya.

__ADS_1


Namun pikiran baik datang membela laki-laki itu, bagaimana mungkin dia sengaja sedangkan Lili tak tau ayahnya sakit dan Lala malah terlihat sangat terkejut mendengar berita itu.


Tapi bukankah bisa saja Lala dan Lili diajak kerja sama oleh ayah mereka, buktinya Adam seolah sudah tak terpisahkan dengan Lili. Setan jahat kembali menari-nari di kepala Yana.


Dan lagi-lagi pikiran baik datang membisikkan bahwa Raja tak akan berbuat serendah itu. Dan juga dokter menjelas bawah Raja pingsan saat datang karena kurang glukosa.


Pingsang bisa di buat-buat ga sih. Batin Yana bertanya pada diri sendiri.


“Ayah siapa yang sakit kak.” Tanya Elita yang baru pulang dan langsung menemui ada ibu dan kakaknya di ruang tamu.


Sebelumnya Yana memang sempat mengirim pesan pada Elita bahwa dia akan mengantar salah satu teman sekelas Adam kerumah sakit karena ayah anak itu sakit.


“Bang Raja.” Jawab Yana polos keluar dari lamunannya tentang Raja karena diganggu oleh pertanyaan Elita, tanpa mempertimbangkan apa reaksi ibu dan adiknya.


“Raja yang itu!”


“Bang Raja ayah Lili!”


Jawab bu Nur dan Elita bersamaan dengan suara agak tinggi.


“Ya Allah, apa sih bu, El buat aku terkejut aja.” Ucap Yana sambil mengusap dadanya pelan.


“Ibu juga.”


Lagi-lagi bu Nur dan Elita menjawab kompak bersamaan.


“Eh emmm aku cuman itu aja aku kasian ke anaknya aja ga ada yang jemput.” Jawab Yana sedikit gugup.


“Terus gimana? Dia ngajak kamu balik lagi ga?” Tanya bu Nur antusias.


“Apaan sih bu anaknya sudah tiga,” jawab Elita


“Kasian ke anaknya dulu sih terus ke ayahnya.” Cicit Elita lagi.


“Ga kok, aku murni cuman nganterin anak itu aja.” Jawab Yana jujur.


“Ibu sih ga masalah, selama laki-laki itu baik, selama anak-anaknya bisa terima kamu dan kamu juga bisa terima anaknya.” Ucap Bu Nur memberi masukan pada Yana sebagai pertimbangan.


“Mending sama anaknya bu Duma yang nganterin teri itu kak, duda juga kan masih muda juga kayaknya.” Kata Elita pada ibu dan kakaknya memberi solusi lain.


“Tapi kan kita belum kenal El tau dari mana dia baik.” Yana tak setuju.


“Ya makanya ketemu dulu kak,”

__ADS_1


“Males ah, aku udah ga mikir kesana.” Jawab Yana yang masih kecewa dan trauma ditinggalkan dua minggu menjelang hari pernikahan tanpa penjelasan sepatah katapun.


Saat ia sedang mati-matian mencoba bertahan, kenapa malah Doni begitu tega meninggalkanya begitu saja.


Dulu memang ia pernah ditinggalkan oleh Raja, namun saat itu statusnya dan Raja juga hanya sebatas teman dekat, karena Yana dan Raja tak pernah mendeklarasikan bahwa mereka berpacaran atau sepasang kekasih.


Hanya saja memang semua orang saat itu menganggap mereka adalah sepasang kekasih. Yana dan Raja juga tak pernah membantah kata-kata orang di sekelilingnya saat itu.


Hal lain yang membuat Yana pernah begitu berharap pada saat itu adalah karena Raja pernah datang menemui pak Ahmad untuk melamar Yana namun pak Ahmad menolak dengan alasan yang sampai saat ini tak Yana ketahui persis kebenaranya.


Dan jika pun Raja meninggalkanya, laki-laki itu memilih cara yang baik, sebelum menikah ia menelpon Yana meminta maaf karena tak dapat menepati janji.


Dari keduanya tak ada yang bisa dikatakan benar hanya saja untuk Doni jika saat itu Doni datang padanya berbicara secara terbuka maka apapun hasilnya mungkin tak akan meninggalkan luka yang begitu menyakitkan untuk Yana.


“Aku mandi dulu deh, gerah baget.” Ucap Yana sambil berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.


☕️☕️☕️


Selesai makan malam Yana langsung naik lagi ke kamarnya dengan alasan ingin istirahat, saat di kamar Yana tak langsung tidur, ia duduk di pinggir tempat tidur. Pikiranya melayang pada tiga anak kecil ya ia temui akhir-akhir ini.


Lulu, gadis kecil cantik dengan rambut keriting sebahu, yang sangat ingin merasakan bagaimana rasanya punya ibu. Padahal dari cerita anak itu ayahnya sudah berperan layaknya ibu mulai memasak dan menyiapkan bekal nya ke sekolah namun kenapa ia masih sangat mengharapkan punya ibu.


Selanjutnya Lala, ada apa dengan anak perempuan beranjak dewasa itu, dari semua anak Raja memang Lala yang paling diam. Namun wajah pucat Lala saat di rumah sakit membuat Yana penasaran ada apa dengan anak itu.


Dan yang terakhir adalah si biang ribut Lili, dari cerita Adam anak itu tak punya banyak teman di sekolah. Awalnya karena anak itu menggunakan logat bahasa khas medan yang membuatnya berbeda dengan yang lain, sehingga banyak yang mengejek anak itu di awal ia pindah ke Jakarta.


Lamunan gadis itu terhenti saat mendengar ada panggilan masuk pada ponselnya, dan tertera nama si pemanggil di sana ‘Hantu blau’.


Panggilan itu Yana abaikan sampai dua kali, selanjutnya masuk notifikasi pesan. Yana sudah berniat untuk tidak membaca pesan itu namun hatinya tak tenang sehingga pada akhirnya ia buka juga aplikasi pesan itu.


‘Hantu blau.’


[Ay, terimakasih untuk hari ini, abang hutang banyak sama Aya yang udah repot-repot anterin anak-anak. Sekalian ngabarin, abang udah jauh lebih baik dari sore tadi dan maaf juga cuman bisa antar Aya naik taxi.]


Pesan panjang lebar dari Raja, Yana abaikan begitu saja sampai masuk pesan berikutnya.


[Lala juga ucapkan banyak terima kasih sama Aya katanya,]


Membaca nama Lala Yana seolah seperti ditarik untuk membalas pesan itu, dengan cepat ia mengetik balasan pesan untuk Raja.


☕️☕️to be continue☕️☕️


“Hai Rakan apa kabar kelen we? Sehat-sehat yaa kita semua, jan lupa bahagia jan lupa syenyummmm juga ☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2