Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Ada Apa Dengan Lili


__ADS_3

☕️☕️


Untuk anak perempuan, ayahnya adalah laki-laki pertama yang ia cintai sepenuh hati.


Ayah juga menjadi role model untuk anak perempuanya, tempat bersandar berkeluh kesah dan juga tumpuan berdiri untuk anak membuatnya menjadi lebih berani.


“Takut apa?” Tanya Pak Ahmad pada Yana sambil mengelus punggung anak perempuan pertamanya dengan penuh sayang.


Pak Ahmad merasakan tubuh Yana gemetaran dan dengan suara tangisan yang tertahan.


“Jangan takut, ada ayah.” Ucap pak Ahmad yang terus mengeratkan pelukannya pada Yana.


“A aa aaaku ta taakut yahh.” Yana menyembunyikan wajahnya di dada sang ayah mencari kedamaian disana meluapkan keresahan dan mencari perlindunan.


“Yana,” Pak Ahmad melepas pelukannya pada Yana, dan mengusap kepala gadis itu penuh sayang.


“Bilang sama ayah, kakak takut apa,?”


“Kaka percaya ayah kan? Kalau harus, maka Ayah akan menukar nyawa ayah untuk kebahagiaan kamu.”


“Bilang sama ayah.” Ucap pak Ahmad lai menenangkan. Namun ucapan pak Ahmad bukan membuat Yana berhenti menangis namun malah membuat suara tangis Yana lebih keras lagi.


“Hussst diem kak diam, malu sama Aboy.” Ucap pak Ahmad sambil tersenyum dan menghapus air mata yang mengalir di pipi Yana dengan ibu jarinya.


“Ayah...” Cicit Yana manja.


“Iyaa, kenapa? takut apa anak ayah.”


“Aku Takut,,,,”


“Aku takut, nanti kalau ayah nolak bang Raja lagi gimana?“


“Kata Uta ayah ga suka sama bang Raja.” Ucap Yana ragu-ragu takut pak Ahmad marah.


“Oh... jadi anak ayah udah siap nih, beli satu dapat empat?” Tanya pak Ahmad menaik turunkan alisnya menggoda.


“Kata ibu kamu takut nanti si duda itu ninggalin kamu.” Tanya pak Ahmad memastikan.


Yana menganggukan kepala, “Itu juga, jelek banget ya nasip ku.” Ucap Yana pasrah.


“Wah, wah berani sekali anak ayah menilai kinerja yang Maha Kuasa.” Ucap pak Ahmad sambil menatap tajam Anak gadisnya.


“Ayah akan pastikan bahwa dia tidak akan meninggalkan kamu, ayah juga akan pastikan kalau ayah akan menerima lamaran nya, asal dia penuhi syarat yang ayah berikan.”


Hati pak Ahmad terasa menyesak, sesal yang dirasakan karena dulu pernah menolak Raja juga sudah tiada guna.


Saat ini ia hanya meyakini bahwa jalan hidup Yana adalah Raja, dan kesempatan tak akan datang berulang kali.


“Syaratnya apa?” Tanya Yana manja, tangisnya mulai reda beban yang ia pendam selama ini sudah ia lepaskan.

__ADS_1


“Rahasia,”


“Sekarang kamu jawab yang ayah tanya.”


“Kamu sudah Yakin bisa menjadi ibu untuk anak-anak si duda itu.?”


Yana diam, dia belum memikirkan sampai kesana. sejauh ini yang ia yakini bisa menerimanya hanyalah Lulu.


Lala terlalu diam dan sudah di tebak, sedangkan Lili sikapnya berubah akhir-akhir ini seperti menampakan bahwa gadis kecil itu tak suka pada Yana.


“Ayah ih mulutnya duda, duda. Raja yah namanya si ganteng itu.” Bu Nur yang sejak tadi mengamati interaksi ayah dan anak itu akhirnya memberi komentar. “Kalau senyum manis gitu ya dia Yana.” tambah bu Nur.


“Terserah siapa lah namanya, berani banget kamu muji laki-laki lain di depan aku.” Jawab Pak Ahmad ketus membuat Yana da bu Nur tertawa.


“Terus gimana kak? Udah yakin belum?” Pak Ahmad menagih jawaban dari sang putri tercinta.


Untuk seorang ayah anak perempuannya akan tetap menjadi gadis kecil berapapun usianya.


Seorang ayah juga akan mengorbankan segala yang ada untuk membuat anak perempuanya berada dalam keadaan aman, itu juga yang pak Ahmad rasakan saat ini.


Meski berat melepas Yana untuk menikah dengan duda anak tiga namun ia tak akan berlaku egois untuk kedua kalinya.


“Entahlah yah, aku ragu. Rasanya aku butuh waktu lebih lama mengenal anak-anak itu.” Ucap Yana jujur.


Obrolan mereka terhenti saat suara deru mobil SUV sport terbaru bermesin diesel memasuki pekarangan rumah pak Ahmad.


“Naik kak, cuci muka make up sedikit biar ga keliatan baru selesai nangis .” Ucap bu Nur memberi arahan.


Sepanjang jalan menuju rumah sang calon menantu hanya mak Duma Hasian istri tercinta pak Azis yang mendominasi pembicaraan dalam mobil yang dikemudikan Raja.


Pak Azis hanya menjawab iya dan tidak, sedangkan Raja sesekali tersenyum melihat interaksi kedua orang tuanya.


Pikiranya tentu saja pada Ayyan Ahmad, angannya melayang berharap bisa merasakan hal yang sama suatu saat dengan yang bapaknya rasakan.


Meski bapak hanya menanggapi ocehan mak Duma dengan datar Raja sangat yakin jika bapaknya bahagia.


Saat memasuki pekarangan rumah wanita pujaan hatinya, Raja menghirup nafas banyak-banyak menenangkan pikiran.


Setelah mobil yang ia kemudian berhenti, Raja bergegas turun membuka pintu penumpang belakang mobilnya agar memudahkan mamaknya ikut turun.


“Udah mak bilang jan kau beli mobil tinggi-tinggi.” Kesal mak Duma yang merasa susah saat naik dan turun karena mobil baru Raja terlalu tinggi menurutnya.


Raja tak menjawab, karena menurut pak Azis tak semua repetan mamaknya perlu di beri penjelasan.


Keluarga pak Ahmad menyambut kedatangan Raja dan orang tuanya dengan hangat.


Pak Ahmad mengatakan bahwa mereka sudah bersiap menjamu tamu untuk makan siang bersama.


Ruang tamu rumah pak Ahmad membuat sesi saling kenal antara kedua pasangan orang tua mereka menjadi lebih nyaman.

__ADS_1


Pak Ahmad dan pak Azis yang ternyata sama-sama hobi memelihara hewan ternak meski yang satunya di air dan yang satunya di udara.


Sedang para ibu-ibu dan membahas hobi membuat kue dan hobi menjahit yang mereka jadikan ladang cuan.


Yana datang membawa tiga gelas kopi dan segelas teh dingin.


Mata Raja menatap lurus ke arah Yana seolah sudah tak bertemu seribu tahun.


“Duduk sini,” ucap bu Nur pada Yana yang hendak kembali ke dapur setelah menyalami pak Azis dan mak Duma.


Gadis itu mengangguk, meski ia sudah mengenal mak Duma Yana berusaha bersikap sedatar mungkin.


“Mata mu bang lepas nanti mata itu.” Ucap mak Duma berbisik pada Raja saat mendapati Raja menatap Yana tajam.


Raja reflek menunduk, wajahnya memerah. Mamaknya kadang suka bertindak di luar kendali ia hanya berdoa dan berharap hari ini mamaknya tidak sedang mode meresahkan.


“Yana , sini kau duduk sebelah mama. Duduk di depan si Raja lama-lama copot nanti mata anak ku ini.” Doa Raja tak terkabul harapannya sirna begitu saja. Mamaknya benar-benar pelu di daftarkan ke musim untuk mendapat rekor MURI.


Yana tersenyum, dan menunduk serta mengikuti arahan mak Duma.


“Jadi begini, karena nak Yana pun sudah disini. Kami kesini berniat silaturahmi sambil menanyakan kapan Yana ini bisa kami lamar secara resmi.” Pak Azis membuka percakapan yang membuat semua diam.


“Untuk kami orang tua semua terserah Yana pak.” Jawab pak Ahmad sopan.


“Cemana, nak.” Tanya mak Duma langsung pada gadis yang sudah berpindah duduk disebelahnya.


“Saya ba...”


Ucapanya terhenti saat mendengar dering ponsel raja bersuara, Raja menatap semua orang yang ada di ruangan itu bingung.


“Angka saja dulu.” Perintah Pak Ahmad pada laki-laki itu.


“Halo… Iya bu… Robek? Bagaimana bisa?...baik...Rumah sakit mana...saya segera kesana...baik.”


Raja menutup teleponnya dan kembali melihat semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


“Saya benar-benar minta maaf, apa boleh bapak dan mamak yang melanjutkan pertemuan ini.” kata Raja tak enak.


“Lili jatuh, bibirnya sedikit robek saya harus kerumah sakit saya minta maaf.”


“Saya benar-benar serius untuk hal ini tapi saat ini saya bener-bener mohon pengertianya.”


Tatapan tajam mata Yana tak membuat Raja mundur, anaknya adalah segalanya.


☕️☕️to be continue☕️☕️


☕️cuman mau bilang like sama komen rakan rakan semua adalah moodbooster untuk aku, mamacihh semua.


☕️Jan lupa senyum jan lupa bahagia.

__ADS_1


☕️ehh kenapa? ohh gantung ok ok sebentar aku ambil karung untuk ngarungin Lili, salah dia itu.


__ADS_2