
☕️☕️☕️
Sejak mengetahui ayahnya akan menikah dengan Yana Lili sudah tak bersemangat, Lili tahu jika ayahnya menikah dengan Yana itu artinya Yana akan menjadi ibu tirinya.
Akhir-akhir ini juga ia sudah tak sering bertukar cerita dengan si ompong Cs bestie-nya itu, Lili justru lebih sering bertanya pada Udek temen sekolahnya yang juga memiliki ibu sambung.
Cerita Udek malah lebih mengerikan dari yang Adam dan dirinya pikirkan, jika Adam hanya mengira-ngira maka dari Udek ia mendapatkan fakta nyata.
Begitu juga dengan hari ini hari, hari dimana ayahnya dengan Yana menikah. Lili merasa hidupnya sudah akan berakhir setelah itu.
Hal yang tak sampai ke pikiranya adalah semua orang memuji Yana, Lulu bahkan sudah mulai memanggil Yana dengan debutan ‘Umma’ seperti panggilan tokoh kartun kesayangan Lulu pada ibunya.
Saat Lulu memanggil Umma pada Yana ia memang melihat senyum bahagia di wajah tante Yananya itu tapi cerita cerita Udek teman sekelasnya kembali gentayangan di otaknya.
Hatinya berada di antara dua sisi, harus bahagia kembali memiliki ibu atau harus sedih membayangkan siksaan yang akan didapatkan setelahnya.
Saat acara selesai bu Nur bahkan sempat menawarkan untuk mereka menginap di rumah itu, beruntung Yana menolak ‘takut anak-anak tak nyaman bu’ begitu yang Lili dengar dari pembicaraan Yana dengan nenek si ompong.
Lili tak dapat membayangkan andai ia menginap dirumah nenek si ompong temannya itu, pada saat ayah lalai bisa saja gudang yang sejak awal di tunjukan ompong padanya akan menjadi tempatnya bermalam.
“Tidur yang nyenyak ya sayang bunda.” Samar-samar Lili mendengar Yana mengucapkan itu sambil mengecup pucuk kepalanya setelah pulang dari rumah Yana.
Mata kantuknya tak membuatnya berhenti was-was, tak lama sudah tak ada lagi suara ayahnya dan tante Yana. Barulah Lili benar-benar memejamkan mata untuk tidur.
“Mama, Lili takut.” Lirihnya menutup seluruh badanya hingga kepala dengan selimut bergambar Dora the explore.
Lili terbangun saat sebelum azan subuh pada saat rumah masih dalam keadaan sepi, alangkah terkejutnya gadis kecil itu melihat tak ada Lala, kakaknya disana.
Lili bergegas bangun dan berniat menemui opungnya, ia harus menceritkan kakaknya hilang dan kecurigaannya mengarah pada tante Yana.
☕️☕️☕️
Lala yang tak bisa tidur akhirnya bangun dan duduk di tepi tempat tidur, perutnya bertambah sakit untuk berdiri saja rasanya ia tak kuat.
Karena desakan ingin buang air kecil akhirnya Lala berusaha bangun menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya.
Saat membuang air kecil Lala melihat ada darah mengalir walau hanya sedikit tetapi cukup membuatnya sangat terkejut, matanya beralih pada dalaman yang ia gunakan dan ternyata disana juga ada.
Lala sudah belajar tentang ilmu reproduksi dasar ia paham akan tentang datang bulan tetapi Ia tak tahu harus melakukan apa jika itu terjadi.
Ditambah dengan perutnya yang sakit dan darah yang ia lihat membuatnya tak mampu berpikir jernih.
Lala berniat turun dan membangunkan opung atau namboru Rani yang juga berada di kamar bawah, namun saat melewati kamar Ayahnya perutnya terasa kram sampai ia harus duduk di depan pintu kamar itu dan tak sanggup bangun lagi.
Ia berniat mengetuk pintu kamar ayahnya namun pesan opung agar ia tak mengganggu kebersamaan ayahnya dan tante Yana membuatanya urung untuk mengetuk pintu kamar ayahnya itu.
Andai di dalam kamar ayahnya tak ada tente Yana maka ia sudah masuk dan menangis di pelukan ayahnya itu.
Hatinya terasa sesak, rasa rindu pada mamanya membuncah membuatnya menangis tak terbendung dan bersuara semakin lebih keras.
“Lala kenapa di situ.” Suara Yana yang terdengar panik membuat Lala mengalihkan pandangan pada ibu sambungnya itu.
“A aku sakit perut,”
“A aakuu berdarah,” Namun Ucapanya membuat suara ayahnya meninggi sehingga membuatnya bertambah takut, apakah secepat itu ayahnya berubah.
__ADS_1
“Lala,,, Alhamdulillah anak tante sudah besar, sudah gadis,” Pelukan lembut Yana membuatnya bingung harus melakukan apa sampai akhirnya ia mengikuti Yana kedalam kamar.
Wanita itu mendudukkan Lala di tepi ranjang dan bergegas membuka kopernya mencari sesuatu, Setelah mendapatkan yang di cari Yana mengajak Lala ke kamar mandi.
Tanpa risih dan jijik Yana mengambil dalaman Lala dari tanganya dan meletakkan di keranjang kain kotor, Yana juga mengajarkan menggunakan pembalut dan mengatakan banyak hal tentang datang bulan pada Lala.
Untuk pertama kalinya Lala merasa bersyukur Yana datang di waktu yang tepat. Setelah semua beres Yana mengajaknya tidur.
Lala tidur terlentang, sedang Yana miring menghadap pada Lala sambil mengelus memberi pijatan halus pada perut Lala entah sampai kapan, Lala lupa kapan ia terlelap sambil mendengar semua arahan dari Yana tentang datang bulan.
☕️☕️☕️
Malam pertamanya bersama Yana, Raja seolah mendapat hukum karma atas dosa masa lalunya.
Wanita yang baru berstatus sebagai istri itu tidur memunggunginya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Jika ditanya soal bahagia maka jawabanya Raja sedang merasa menjadi laki-laki paling bahagia sekarang ini, menepis segala keinginannya sebagai laki-laki dewasa yang baru saja menikah.
kecurigaannya selama ini seolah sirna, kali ini ia percaya bahwa Yana menerimanya lengkap beserta anak-anaknya.
“Besok pagi pembalutnya di ganti, sebelum dibuang harus dicuci bersih ya, sayang.” Ujar Yana memberi nasehat pada Lala anak sulungnya.
”iya,”
“Kalau besok perutnya tidak sembuh juga, sepertinya kita harus ke dokter atau ke rumah sakit, nak.” Kembali terdengar suara Yana.
“Aku ga suka rumah sakit.” Bantah Lala.
”Ya sudah kalau tidak sembuh juga nanti tante telpon, tante El biar tante El saja yang memberi obat.”
Ia juga mendengar Yana memberi nasehat soal menutup aurat, dan hal-hal lainya perihal wanita setelah baligh. Andai tak ada Yana, Raja tak tahu apa yang akan terjadi malam ini.
Matanya tak terpejam ia mendengar semuanya, “Makasih sayang.” Ucapnya di telinga Yana sebelum istrinya itu benar-benar terlelap sambil memeluk Lala.
Saat hendak ke masjid untuk subuh berjamaah Raja sempat membangunkan Yana agar wanitanya itu juga melaksanakan kewajibannya.
“Husss jangan ribut anaknya masih tidur.” Ucapan Yana berbisik membuatnya merasa hidupnya menjadi lebih berwarna.
Raja sempat mengecup kening istrinya seraya mengucap terima kasih untuk kesekian kalinya sebelum ia keluar kamar.
Lili yang ia dapati tengah panik membutanya harus berhenti sejenak dan menjelaskan bahwa Lala sakit perut dan pindah tidur bersamanya, meski menampakan wajah tak puas gadis kecil itu akhirnya mau kembali ke kamarnya di antar oleh Raja.
———
Hari kedua pernikahan Yana mulai menikmati perannya sebagai ibu.
“Yah, kita ke bogor ya hari ini.” Ucap Yana setelah meletakkan kopi hangat dan roti bakar di hadapan suaminya di ruang keluarga sepulang Raja joging.
Raja menaikan kedua alisnya mendengar panggilan Yana padanya, sudah seperti bapak beranak empat saja dia.
“Ngapain,”
“WO sama desainer baju yang aku mau ada disana.” Jawab Yana sambil menyisir rambut Lulu.
“Bukanya bisa di booking aja gitu, nanti kita tinggal nunggu disini.” Jawab Raja sambil membuka tabletnya mengecek email-email masuk.
__ADS_1
“Bisa sih, tapi aku udah janji sama anak-anak dan mamak kita sekalian jalan-jalan ke bogor.” Ucap Yana santai.
Kepala Raja mendadak pusing entah ini ujian atau anugrah hidupnya dikelilingi wanita-wanita yang penuh sayang padanya namun sering membuatnya pusing delapan keliling.
“Panggil kak Lili, dek. Biar rambutnya Umma sisir.” Ucap Yana pada Lulu.
Bibir Raja mengulas senyum mendengar interaksi Yana dan Lulu, saat itu juga sambil menunggu Lili turun Yana membuka ponselnya,
“Bang, undangan dikirim siang ini dari bandung, keren banget teh yunghe bisa siap sehari katanya.” Ujar Yana
“Emm.” Hanya itu Yang Raja jawab.
“Gaun anak-anak, Mamak sama ibu dari ketineug by Azla Haninda, pas aku telpon dia nyanggupin buat 5 gaun dalam waktu seminggu.”
“WO nya kita pakai Madera Alka Handaru ya, bang. Itu lho bang yang istrinya dulu artis sexy hihihi.”
“Emm,” Sungguh Raja belum mendapat jawaban ini ujian atau anugrah.
“Souvenir untuk tamu penting sarung by NarArt company, itu sih saran Tita katanya abang kenal sama CEO nya, Ra..Ra apa gitu namanya.”
“Raka,” Jawab Raja membenarkan.
“Nah itu, mereka juga udah ngasih harga miring kata Titah, karena tau untuk acara abang.”
“Tinggal catering nih yang aku bingung, tapi aku suka makanan yang di cafe depan rumah sakit yang tempat aku pertama kali ketemu mamak, mereka mau ga ya.”
“Apa aja terserah Aya, Abang ikot aja.” Jawab Raja saat melihat wajah istrinya senyum bahagia penuh antusias menjelaskan semua.
“Kemarin aja nolak mau ngadain acara, hari ini mau ke Bogor segala. Ga sekalian ke Kalimantan sana nyari WO nya.” Tambah Raja mengusili istrinya.
Bibir Yana sudah manyun kesal rasanya di olok oleh suaminya itu.
“Bang, mandi sana biar cepat kita pergi. jan banyak kali cakap muncung mu itu.”!Mak Duma yang tiba-tiba muncul bersama bapak langsung menyerangnya.
“Pak, bapak ikut kan.?” Tanya Raja penuh harap.
“Ga, kau aja sama orang ini. Ikanku ga bisa ditinggal.” Jawab pak Azis dengan dengan senyum licik.
“Ay, temenin mandi yuk.” Bisiknya pada Yana.
“Ga, males. Aku mau nyisir rambut Lili.”
☕️☕️to be continue☕️☕️
☕️Undangan by Nyai Yunghe
☕️WO by Alka Handaru
☕️sovenir by kang Sarung
__ADS_1