
☕️☕️☕️
Bandara sudah sangat ramai meski waktu belum memasuki subuh, bu Nur bahkan sudah tiba lebih dulu saat Yana, Raja dan anak-anak sampai ke bandara.
“Ibu kenapa.” Tanya Yana heran melihat bu Nur yang wajahnya sudah pucat.
“Ibu mu dari malam juga udah ga tidur, Yana.” Jawab pak Ahmad sambil tertawa.
“Ibu sakit.?” Tanya Raja perhatian pada mertuanya itu.
“Sakit demam panggung.” Jawab Pak Ahmad kembali dengan santai tanpa dosa.
“Nek napa.?” Tanya Lulu heran.
“Nenek kamu takut naik pesawat, Li.” Jawab pak Ahmad membuat semua orang tertawa termasuk Raja.
Namun tidak pada Lulu yang merasa dia ditertawakan karena lagi-lagi kakek barunya ini salah menyebut nama.
“Yuyu ni yuyu ni, huaaaaaa” Lulu malah menangis.
“Eh iya, Lulu. Yang ini Lili kan.” Jawab pak Ahmad sambil menunjuk Lala.
Yana bergegas membujuk anak bungsunya itu menjelaskan bahwa pak Ahmad salah menyebut nama.
“Lala kek,” Jawab Lala lemas.
“Lala Lili Lulu, yah. Dari A I U.” Raja memberi penjelasan sambil menunjuk anak-anaknya agar pak Ahmad lebih mudah mengingat nama anak-anak dan urutanya..
“Ayahmu sudah tua, ga akan inget dia, yang Ayah kamu ingat ya cuma srigunting itu aja.” Jawab bu Nur kesal.
“Gapapa, setidaknya ayah tidak takut naik pesawat.” Ucap pak Ahmad memancing keributan rumah tangga.
“Ayah mentang-mentang udah pernah di bawa ke Makassar sama Ali sombongnya minta ampun. Siap yang taku ibu ga takut.” Jawab bu Nur kesal.
“Nek nan takut ya anti yuyu jaga nek.” Jawab Lulu yang sudah reda menangis setelah di amankan oleh umma tercintanya.
“Anak kecil aja pun kau sombong.” Jawab Lili dengan wajah gak suka.
“Sudah, ayo siapa yang mau temenin ayah sama kakek cari sarapan.” Tanya Raja.
Lala dan Lili memilih ikut Raja dan pak Ahmad membeli roti untuk sarapan. Sedang Lulu malah sudah mulai ngantuk di pelukan Yana.
“Kamu bangunin dia jam berapa kak.” Tanya bu Nur yang melihat Lulu sudah hampir menutup mata sambil memeluk Yana ala kangguru dan menggesekan hidungnya di dada Yana
“Niatnya Yana bangunin dia pas mau berangkat saja, tapi Mendengar suara kami bangun dia ikut bangun bu.”
“Manja banget dia ke kamu kak, kamu nyaman ga.” Tanya bu Nur memastikan.
__ADS_1
Bagaimanapun juga semua orang pasti mengkhawatirkan Yana yang baru menikah sudah langsung mengurus tiga anak. Hal itu pasti tak akan mudah.
“Yana sayang sama mereka semua bu.” Jawab Yana yakin.
“Tiga anak bukan hal mudah Yana, ibu selalu mendoakan kamu dan kalau ada kendala yang boleh diceritakan maka kamu harus cerita ke ibu ya.” Ucap bu Nur hati-hati.
“Empat anak bu.” Jawab Yana serius.
“Empat?” Tanya bu Nur heran.
“Iya, tiga anak kami satu lagi anak mak Duma.” Jawab Yana tak kalah serius dari sebelum nya.
Lama bu Nur diam lalu tertawa terbahak, “kakak ih ada-ada aja.”
“Biar ibu ga tegang perdana mau naik pesawat perkutut,” jawab Yana sambil tersenyum.
“Itu ayah kamu aja yang ngarang cerita ga usah di percaya.” Bantah bu Nur atas tuduhan sang suami.
Setelahnya Yana menceritakan tentang apa yang terjadi antaranya dan anak-anak malam tadi, Yana juga sudah menceritakan apa sebabnya Lili menjadi begitu.
Raja sempat memberitahukan padanya alasan Lili begitu tadi pagi saat mereka berada di mobil menuju bandara diantar oleh wak Ipan suami wak Mar.
Bu Nur sempat terkejut mendengar cerita Yana, ia tak menyangka bahwa anak sekecil Lili bisa termakan oleh omongan teman-temanya.
“Bukan salah teman-temanya bu.” Ucap Yana
“Ia sih tapi meresahkan banget itu Na,” jawab bu Nur serius.
“Kamu juga harus sabar, ibu Yakin banget kamu kuat kamu sanggup karena kamu orang terpilih.” Jawab bu Nur lagi.
“InsyaAllah, bu. Doakan terus ya.”
☕️☕️☕️☕️
Tiba di bandara Kualanamu Medan mereka langsung disambut oleh pak Azis dan mak Duma.
Bu Nur yang keluar dari pintu kedatangan dipapah oleh pak Ahmad dan Lala menarik perhatian mak Duma.
“Bah, kenapa pulak besan ky ini?.” Tanya mak Duma heran.
“Mabok udara mak, jawab Yana sambil menyalami mak Duma dan pak Azis bergantian.
“Bang, ga kau cari kursi roda untuk mertua mu. Cemana lah kau ini.” Tanya mak Duma seperti biasa tak ada saringan saat berbicara.
“Ibu yang tidak mau, mak.” Jawab Yana membela anak mertuanya itu dengan sepenuh hati.
Kini posisi Lala sudah di gantikan oleh mak Duma, “sini pak sini dudukan dulu di kursi ini.” Ucap mak Duma mengarahkan bu Nur duduk di salah satu kursi tunggu yang tersedia.
__ADS_1
“Bang, kau belikan teh hangat, cepat.” Ucap pak Azis memerintah Raja. Dan laki-laki itu melesat dengan cepat menjalankan permintaan bapaknya.
“Maaf merepotkan.” Ucap bu Nur lirih. Ini memang kali pertamanya naik pesawat, selama ini perjalanan paling jauh yang bu Nur lakukan hanya dengan kereta api. Dan saat itu juga kondisinya tak kalah tragis dari kali ini.
“Apa pulak minta maaf besan ini ah, biasanya itu. Awak dulu pertama kali di ajakan bapak si Raja ini naik pesawat harus digendong sama bapak si Raja itu aku dari dalam pesawat sana.” Mak Duma menceritakan aibnya sendiri seenaknya saja.
Pak Azis tak membantah, karena tak ada guna pembantahan untuk laki-laki paruh baya itu. Istrinya juga tak akan mengatakan hal yang tak benar.
Semua yang mak Duma ceritakan tak pernah salah dan semua cerita nyata, hanya saja Duma Hasian si cantik Jelita pujaan hati pak Azis itu kadang kala tak tau cara menyaring mana yang boleh diceritakan mama yang tidak, definisi dari setiap manusia ada kelebihan pasti ada kekurangan.
Raja kembali dengan membawa teh hangat dan memberikan teh hangat itu pada ibu mertuanya, tak lama setelah minum teh hangat itu akhirnya kondisi bu Nur membaik dan mereka memutuskan untuk segera pulang kerumah.
Dan kali ini Yana kembali dibuat tercengang dengan apa yang ia lihat, ia masih belum habis pikir bagaimana kehidupan suamianya yang sebenarnya.
Bagaimna bisa mak Duma memberinya satu hektar kebun sawit siap panen yang kata Raja setiap dua minggu penghasilan kebun sawit itu akan masuk ke rekeningnya
Dan sudah pernah ia terima sekali beberapa hari lalu dengan nominal yang lebih dari cukup. Sedangkan mak Duma terlihat sangat sederhana, bahkan kendaraan yang Pak Azis gunakan saat ini adalah kendaraan yang dijuluki mobil sejuta umat dan keluaran tahun lama bukan yang terbaru.
“Gini lah medan ini pak, macet di mana-mana klakson sama musik angkot udah macam suara orang hajatan.” Ucap pak Azis pada pak Ahmad yang berada di sebelahnya.
Pak Ahmad duduk di depan di samping pak Azis di belakang mereka ada mak Duma bu Nur dan Yana Sedangkan Raja dan anak-anak duduk di paling belakang.
“Saya belum pernah kesini pak.” Jawab pak Ahmad jujur.
“Alakadarnya aja kami ini menyambut bapak sama ibu, minta maaf lah kami ini kalau ada yang kurang-kurang.” Ucap pak Azis tulus.
”Ini sudah lebih dari cukup pak.” Jawab pak Ahmad sambil tersenyum, teduh dan sangat menenangkan saat mendengar pak Azis dan pak Ahmad berbicara.
“Ini lah berkahnya berbesan kita pak, sampe bapak kemedan ini kan, nanti kami bawakan ke Istana maimun.” Ucap mak Duma menyambar cepat merusak konsentrasi.
“Kami ikut.” Kompak suara tiga anak kecil yang dalam diri mereka mengalir darah mak Duma, dari arah belakang.
☕️☕️to be continue☕️☕️
☕️kuyyy mana Rakan-rakan anak medan yang mau ketemuan sama mak Duma tunjuk tangan.(yang ini aku serius)
☕️☕️jannn lupa bahagia jan lupa senyumm Rakann.
“Sekilas info dari mak Duma”
Istana Maimun sendiri merupakan istana dari peninggalan Kerajaan Deli. Istananya didirikan oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah.
Beliau adalah sosok keturunan raja yang ke 9 dari Kesultanan Deli. Istananya dibangun pada tanggal 26 Agustus 1888 dan baru diresmikan pada tahun 1891.
Bangunan kokoh Istana Maimun menghadap ke Timur. Dimana bangunannya memiliki dua lantai yang terbagi menjadi 3 bangunan utama. Bangunan induk, bangunan sayap kiri dan sayap kanan.
__ADS_1
Didepan bangunannya ada sebuah masjid yang berdiri kokoh yang dikenal dengan nama Masjid Al Maksum atau yang sering disebut dengan nama Masjid Raya Medan.
Istana Maimun termasuk kedalam istana terindah yang ada di Indonesia. istananya memiliki gaya atau konsep Melayu yang bergaya Islam, India, Italia dan juga Spanyol. Perpaduan yang ada tentu sangat unik dan menarik. Inilah nilai eksteristik yang ada di istana Maimun ini