
☕️☕️
Anak tetaplah anak sudah punya anak pun tetap saja masih menjadi anak, untuk ibunya.
“Pak, macam ga sabar awak nunggu bulan depan.” Mak Duma memulai pembicaraannya malam itu saat sepasang lansia itu sedang makan malam.
”Emmm.” Jawab pak Azis lalu melanjutkan makanya.
“Teringat terus lah awak sama cakap si Lala kemaren pas dia nelepon itu pak.”
Pak Azis yang sedang menikmati jengkol rendang hasil olahan buatan tangan mak Duma dengan penuh kasih sayang terlihat tak terusik sedikitpun dengan ucapan sang istri tercinta.
“Apa ku berhentikan aja ngajar jahit ya pak, ku pulangkan aja lah uang anak-anak murid menjahit itu biar bisa langsung kita ke Jakarta.” Ucap mak Duma yang berniat mengembalikan semua biaya menjahit yang sudah murid-muridnya bayar.
Pak Azis menghentikan makanya dan menatap istri tercinta yang terlihat masih sangat cantik di usianya yang sudah tak muda lagi.
“Makan dulu, nanti kita bicarakan lagi.” Jawab pak Azis serius dan laki-laki itu kembali melanjutkan makan malamnya dengan bahagia.
Dan itulah mak Duma ketika bertemu dengan pawangnya, wanita itu diam tanpa kata lalu melanjutkan makan malam meski sempat memajukan bibirnya sejenak sebelum kembali menyuapkan nasi dengan rendang jengkol itu ke mulutnya.
Baru saja pak Azis mencuci tangannya dan mengambil tisu untuk mengeringkan tangan dari air yang tersisa ma Duma sudah mulai buka suara lagi.
“Pak, jadi cemana?” Cicit wanita paruh baya itu lagi dengan wajah sesedih mungkin berharap belas kasih dari sang suami.
“Apa Duma.” Jawab pak Azis gemas sambil kembali menatap mata indah mak Duma.
Malam itu mak Duma tak pakai kerudung, rambut putih sudah mulai bertebaran di mana-mana meski demikian dimata pak Azis mak Duma tetap satu-satunya dan tak tergantikan.
“Yang kubilang tadi itu pak.”
“Yang mana? Raja sama Rani minta punya adik lagi rupanya?” Tanya pak Azis bercanda.
“Amang oi, gak sadar diri pulak pak tua ini.” Jawab mak Duma kesal, yang disambut dengan tawa bahagia oleh suaminya.
“Maksud ku pak, biar kita balikkan aj...”
“Iya, ga usah kau jelaskan lagi udah tau aku.” Jawab pak Azis santai.
“Dengar juga nya bapak tadi!, terus cemana menurut bapak.” Tanya mak Duma tak sabar.
“Terus ya gitu.” Pak Azis diam sebentar menarik napas.
“Cak lah kau pikirkan Duma cemana perasaan hati orang itu kalau kau balikkan biaya belajar menjahit orang itu nanti, ada yang datang dari jauh khusus untuk belajar sama kau.”
__ADS_1
“Tega kau.” Tanya pak Azis lagi saat melihat istrinya hanya diam saja.
“Terus si Raja itu cemana.” Jawab mak Duma tak puas.
“Udah tua dia Duma, udah pande dia berpikir mana yang betul mana yang nggak.”
“Kalaupun nanti aku udah ga ada, entah pun besok aku meninggal ya kan. kau pun udah sanggup dijaganya.” Jawab pak Azis santai.
“Halah entah hapa-hapa lah cakap bapak ni.” Jawab mak Duma dengan wajah manyun.
“Kan betul cakap ku.”
“Gak lah, gak mau aku bapak tinggalkan, cakap yang betul doa yang baik-baik.” Jawab mak Duma spontan dengan suara sedikit kesal bercampur sedih.
“Kenapa? Gak sanggup kau hidup ga ada aku.” Pancing pak Azis.
“Ah mana pulak,” Jawab mak Duma sambil bangun beranjak ke arah dapur membawa piring sisa makan mereka.
Pancingan mak Duma kali ini tak berhasil, justru malah dia sendiri yang terkena serangan balik oleh lawan tanpa ampun.
Mak Duma kalah telak dari pak Azis kali ini. Itulah pak Azis, tak pernah sekalipun ia bersikap keras pada wanitanya itu sejak awal menikah sampai saat ini.
Pak Azis lebih sering mengalihkan pembicaraan dari pada harus melarang mak Duma secara langsung.
Bila malam tadi cinta mak Duma yang diuji pak Azis, siang ini cinta Raja yang sedang diuji oleh sang Pencipta.
Laki-laki itu dengan percaya diri mengendarai sepeda motor matic 250 cc warna abu-abu itu menuju sekolah tempat Yana mengajar.
Sebelumnya ia sudah mengirimkan pesan pada miss Eva guru Lulu, bahwa ia akan sedikit terlambat menjemput Lulu siang ini.
Sekolah Lulu memang dimulai dari jam delapan pagi sampai jam dua belas tetapi orang tua boleh menjemput anak paling telat jam lima sore.
Sejauh ini Raja tak pernah menjemput Lulu lebih dari pukul dua, andai ia banyak pekerjaan pun ia tetap meminta wak Ipan suami wak Mar untuk menjemput Lulu sebelum jam dua siang.
Bahkan jika ada mamak atau bapak dirumah Lulu lebih sering tak diantar ke sekolah, karena sebenarnya Raja tak ingin anaknya sekolah di usia masih sedini itu.
Tepat didepan pintu gerbang sekolah SMA Binaan satu, ia melihat Yana, gadis pujaannya sedang bicara serius dengan seorang ibu-ibu yang memakai pakaian senada dari kepala hingga kaki.
Raja menghentikan sepeda motornya tak jauh dari Yana berada, ia tak enak jika sampai mengganggu Yana yang sedang berbicara serius dengan ibu-ibu yang dandannya mirip dengan artis yang akan show itu. Raja pikir ibu itu adalah salah seorang wali murid di sekolah ini.
“Bang.” Panggil Yana sambil senyum.
Dada Raja berdebar hebat, senyum wanita itu begitu manis. Senyum Yana hampir saja membuatnya pingsan karena lupa menghirup udara cuma-cuma yang diberikan oleh sang Maha pencipta.
__ADS_1
“Helmnya.” Minta Yana serius.
Lagi-lagi raja merasa di atas awan, Raja yakin dan percaya satu juta persen bahwa Yana-nya sudah kembali.
Janjinya pada Lulu akan segera ia realisasikan, setelah ini ia juga kan menelpon mamak dan mengatakan bahwa Yana akan menjadi menantu mamak. Sudah dapat di pastikan juga mamaknya yang ajaib itu akan ikut bahagia.
Raja menyerahkan helm pada gadis itu tanpa turun dari motornya, senyum mengembang di wajahnya membayangkan Yana akan naik di boncengan sepeda motornya.
“Maaf tante aku duluan ojeknya udah sampai.” Ucap Yana pada ibu-ibu yang tadi bicara padanya dengan suara jelas dan jelas juga kata-kata itu masuk sempurna ke telinga Raja.
“Tante bisa antar kamu sayang.” Jawab ibu itu namun Yana sudah naik ke boncengan Raja yang masih syok karena mendengar ucapan Yana tadi.
Ojek, jadi Raja dianggap tukang ojek oleh gadis itu.
“Gapapa tante aku naik ojek aja,” Jawab Yana lagi pada ibu itu dan kali ini bahkan suara Yana terdengar lebih jelas masuk ke telinga Raja karena wanita itu sekarang berada tepat di balakangnya.
“Jalan bang,” cicit Yana pada Raja.
“Hah..” Raja masih belum sadar penuh dengan yang sedang ia alami.
“Jalan cepetan,” Bisik Yana sambil mencubit perut Raja dari samping kanan.
“Duhh, aw iya...” Jawab Raja sambil merigis.
“Aku duluan tan,” Ucap Yana sopan sambil menganggukan sedikit kepala pada ibu-ibu yang pernah hampir menjadi mertuanya itu saat sepeda motor yang Yana ditumpangi lewat di depan wanita itu.
Raja yang masih terkejut dengan keadaan yang ada melajukan sepeda motornya dengan hati-hati dan kecepatan lambat.
“Cepetan bawanya, turunin aku di pangkalan ojek depan sana.” Ucap Yana sambil mundur menjauh dari Raja.
“Hah, turunin, apa pulak.! gak bisa lah.” Jawab Raja sambil melajukan motornya sedikit lebih cepat.
“Jangan jauh-jauh nanti jatoh.” Tambah Raja lagi.
Ini sudah kedua kalinya ia di kerjai oleh Yana kali ini tak akan ia lepaskan wanita itu begitu saja. Meski ia tak serta merta diterima oleh Yana setidaknya makan siangnya kali ini ditemani gadis itu.
Enak saja wanita itu mengatakannya tukang ojek padahal penampilannya super rapi, bahkan sebelum sampai ke sekolah Yana ia sempat berhenti sebentar untuk menyemprotkan sedikit parfum ke badan.
☕️☕️to be continue☕️☕️
☕️Cinta itu sederhana, yang rumit itu mak Duma.
☕️Jan lupa bahagia Rakan jan lupa syenyummmmmmmm
__ADS_1