Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Mamak Meresahkan


__ADS_3

☕️☕️


Apapun yang terjadi dalam kehidupan ini manusia hanya dapat berencana saja, dan ketika rencana manusia tak sesuai dengan kehendaknya maka tugas manusia hanya bisa menjalani saja dan terus berdoa pada yang kuasa.


Rencana mak Duma untuk tinggal bersama Raja lebih lama juga harus di urungkan seketika saat pagi setelah sarapan bapak menerima telepon dari Medan bahwa sepupunya meninggal dunia.


Tak ingin buang waktu pak Azis segera meminta Raja memesan tiket untuknya pulang ke Medan pagi itu juga, awalnya pak Azis ingin pulang sendiri saja dan berjanji akan menjemput mak Duma kembali setelah hari ke tujuh meninggal sepupunya itu.


Namun selama pak Azis dan mak Duma menikah sudah hampir empat puluh tahun bersama tak pernah ada sekalipun mereka berpisah terkecuali dulu saat pak Azis masih aktif bekerja itupun mak Duma hanya di tinggalkan saat pak Azis ada dinas di luar kota saja yang benar-benar tidak bisa membawa keluarga.


Hal itu membuat mak Duma tak ingin ditinggalkan oleh pak Azis meski hanya seminggu dan hatinya masih ingin tinggal untuk menemani cucu-cucunya yang besok sudah mulai masuk sekolah lagi.(jadi jelas ya Rakan dari mana sumber bucin bang Raja.)


Mak Duma memutuskan ikut pulang bersama pak Azis hal itu pula yang membuat Lulu sampai menangis karena sebelumnya mak Duma sudah berjanji akan mengantarnya sekolah di hari pertama setelah libur.


“Temua olang di antal mama na cuman yuyu yang di antal ayah.” Ucap Lulu pagi itu dengan wajah cemberut bak jeruk purut yang masih muda.


Ucapan itu sudah sering Raja dengar, pertanyaan kemana mamanya? kenapa ia tak punya mama? kenapa mamanya meninggal? apa itu meninggal? apakan bisa dia punya mama baru? sudah sering pula Raja jelaskan namun Lulu tetap saja masih sering bertanya.


Mak Duma terus saja membujuk cucunya itu memberi pemahaman bahwa atok dan opung harus pulang dan sudah dapat di tebak pak Azis lagi yang jadi korban, mak Duma mengatakan bahwa atok tak berani pulang sendiri jika tak ditemani opung.


Lulu yang begitu sayang pada atoknya merasa tak tega Lulu juga terdidik mandiri dan penurut jadi tak perlu waktu lama Lulu akhirnya luluh menerima dan mengikhlaskan keputusan mak Duma dan pak Azis untuk pulang kampung.


Dengan bermodalkan meminjam mobil tetangga, Raja dan ketiga anaknya mengantar mak Duma dan pak Azis ke bandara pagi itu, sampai di bandara ternyata nasib baik sedang tak berpihak pada mereka pesawat yang akan pak Azis dan nak Duma tumpangi harus delay selama satu jam.


Raja, ketiga anaknya, pak Azis dan juga mak Duma memutuskan untuk menunggu di gerai kopi yang tak jauh dari pintu masuk keberangkatan.


Raja memesan kopi untuk bapak, mamak dan dirinya sedang ketiga anaknya ia pesankan ice coklat, ia juga membeli berbagai roti untuk cemilan yang bisa mereka makan sementara menunggu keberangkatan pesawat yang akan ditumpangi pak Azis dan mak Duma untuk pulang ke kampung mereka.


➰➰➰☕️☕️☕️


Bertemu dengan orang yang tak terduga memang kadang membuat hati juga tak terduga bisa senang seketika bisa juga sedih atau kesal.


Perasaan duka yang sedang mak Duma rasakan ditambah dengan sedih yang tak terbendung karena harus mengingkari janji pada cucunya mendadak bahagia saat melihat Yana ada di depan matanya.


Begitu juga Yana, ia yang sedang berusaha memperbaiki kondisi hatinya yang berantakan mendadak merasa senang saat mendengar mak Duma menyapanya.


Yana memang baru sekali bertemu dengan wanita paruh baya yang sekarang ada di depanya, bahkan mungkin Yana tak mengenali mak Duma andai wanita itu tak berbicara.


Suara dan logat khas milik mak Duma membuat Yana langsung tau siapa ibu-ibu yang menyapanya itu, ditambah beberapa hari lalu bu Nur juga menelponnya mengabari bahwa ada seorang ibu-ibu dengan logat khas kota Medan yang mencarinya.


Bu Nur juga menceritakan bahwa wanita itu membawa oleh-oleh khas medan yang lumayan banyak untuknya. Saat itu hati Yana memang sempat menghangat saat mengetahui mak Duma mencarinya dan begitu baik padanya.


Bagaimana bisa ibu-ibu yang entah dari mana asalnya itu berlaku begitu baik. Yana memang masih waspada dan ragu ada motif apa di balik kebaikan ibu-ibu itu namun Yana selalu berusaha menepis pikiran buruk itu.


“Ingat mak, Yana ingat. Mamak apa kabar.” Jawab Yana sambil menyambut pelukan mak Duma yang tadi sempat ia tahan karena ragu. Bagaimanapun juga di Zaman sekarang tak boleh percaya begitu saja pada orang, begitu biasa ibu mengingatkannya.

__ADS_1


“Baek aku nak ku, baek.”


“Jodoh kali memang kita ini ya jumpa lagi kita kan, sehat kau?”


“Alhamdulillah sehat mak,” Jawab yana.


“Semalam itu mamak kerumahmu, kata ibu mu kau tak ada.”


“Ibu mu juga sempat lah cerita yang apa itu.” Tak tega rasanya mak Duma memperjelas atau mengungkapkan apa maksudnya.


Yana hanya menanggapi dengan tersenyum gadis itu tau arah dan tujuan pembicaraan mak Duma. Ibu sudah memberitahunya bahwa ibu menceritakan soal batalnya pernikahannya dengan Doni pada mak Duma.


Bukan tanpa alasan ibu menceritakan hal itu agar mak Duma tak salah paham karena ibu menolak saat mak Duma mengatakan akan mengirimkan sprei untuk kado pernikahan Yana.


Yana juga paham dan maklum dengan sikap ibu, ia pun sudah berjanji pada diri sendiri akan lebih tegar mengambil sikap saat orang-orang bertanya tentang hal itu kedepannya nanti.


“Sabar kau nak ku ya, sedih juga hati mamak mendengar cerita ibu mu.” Sambung mak Duma lagi.


“Duma.” Bapak memegang bahu mak Duma mencoba mengingatkan wanita itu agar jangan sampai melukai hati Yana.


“Iyah tenang dulu bapak ku kasihkan dulu semangat sama si Yana ini.”


Bukan marah, Yana malah tertawa lepas melihat interaksi sepasang suami istri paruh baya yang ada di depannya itu.


Yana dengan sopan menyalami pak Azis dan memperkenalkan diri.


“Apa kubilang, sopan kali dia kan pak.” Kata-kata mak Duma yang terang-terangan malah membuat Yana menunduk malu.


“Duduk nak, ayo duduk.” Ucap pak Azis lembut.


Hati Yana jadi terhibur, Jodoh memang unik yang satu seperti ulat bulu tak henti-henti bergerak dan berbicara apa saja, yang satu pendengar setia dengan penuh cinta.


Melihat interaksi dua sejoli yang sudah tak muda ini Yana berharap dan berdoa bisa menemukan jodoh yang penuh ketenangan dan damai seperti pak Azis.


“Dari mana memang kau sendiri aja.?” Tanya mak Duma sambil melirik-kiri kanan.


“Dari Kediri mak liburan ke tempat temen.” Jawab Yana dengan senyum manisnya.


“Bagus itu, jan kau pikir kali ya, jodoh ga ada yang tau kayak aku sama bapakmu ini baru tamat SMA aku udah dilamarnya.”


“Aku pun waktu itu entah hapa ku iyakan pulak ya kan, itulah jodoh.” kata mak Duma mengenang masa lalu.


“Duma Hasian.” Pak Azis kembali mengingatkan istri antiknya itu, andai tak cinta mungkin Duma Hasian ini sudah ia masukkan ke museum saja.


”Eh maaf lah pak, niat ku baik sedang ngasih semangat aku ini untuknya.” Mak Duma kembali membela diri.

__ADS_1


“Sendiri kau?” Tanya mak Duma lagi.


“Sama temen mak, temen ku udah di jemput suaminya, mamak mau kemana.” Jawab Yana sekaligus menanya tujuan mak Duma.


“Pulang ke medan kami nak ku, pariban bapak mu ini meninggal, eh apa itu namanya pak.” Tanya mak Duma pada pak Azis maksud dari pariban yang ia sebutkan.


“Sepupu.” Jawab pak Azis lembut.


“Ia aku ngerti mak,” Jawab Yana.


“Eh ngerti rupanya kau, udah bisalah kau ikut mamak kemedan,” Ucap mak Duma sambil tersenyum.


Yana juga ikut tersenyum dan sempat mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya saudara pak Azis.


“Tadi kami diantar sama anak ku kesini, udah pulang pulak dia. Ada ngajar katanya.” Kata mak Duma lagi.


“Baru aja pulangnya selisih berapa menit aja nya sama kau.”


“Cepat kali pun si abang pulang ya pak kalau gak kan bisa jumpa dulu sama Yana ini, bisa sekalian pulang juga.”


“Kenal kau kan anak mamak yang mengantar baju yang ku jahit itu ke sekolah mu itu lo, yang ganteng itu, ha itulah anak mamak! gak putih memang dia, sawo matang lah bisa di bilang ngikut bapaknya ini.”


“Kalau kulitnya putih ngikut mamak udah pasti lah ganteng kali anak ku itu kurasa.”


Pak Azis tak berkomentar apa-apa hanya saja ia merasa aneh pada istrinya, mak Duma memang ramah tapi tidak juga pada semua orang, dan juga tak terbuka pada semua orang.


Meski tak bisa dipungkiri Yana memiliki daya tarik yang sangat memikat hati, senyum dan sopan santun bicaranya juga menarik perhatian mungkin itu yang membuat Duma istrinya terpesona.


“Yang mengantar ke....” Ucapan Yana terhenti saat mendengar suara panggilan kepada penumpang pesawat Perkutut Airlines dengan tujuan penerbangan kota Medan.


“Ayok pak, ayok telat nanti kita.” Ucap mak Duma yang super heboh itu.


“Duluan kami nak ku ya, nanti ada umur panjang mamak ke Jakarta ni lagi datang mamak ke rumahmu ya.”


Yana hanya menjawab iya dan menyalami sepasang sejoli itu, saat Yana menuju ke arah kasir ternyata pak Azis sudah selesai membayar semuanya termasuk minumannya.


Yana benar-benar merasa kagum dengan pasangan itu tak jauh beda dengan ayah dan ibunya di rumah selalu saja ada cekcok manja tapi tak bisa jauh satu sama lain.


☕️☕️to be continue☕️☕️


☕️awak pulangin dulu lah mak Duma ni ya we, ga bisa di amankan opung Duma ini bahaya, meresahkan opung sebijik ini.


☕️jan lupa bahagia ya kelen we jan lupa senyyyyyyyyummm juga☺️


Ehh kenapa pulak logat ku jadi nular mak Duma ini 😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2