Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Pipi Chubby


__ADS_3

☕️☕️


Di masa lalu tak perlu ada drama cinta kejar mengejar antara Ayyana Ahmad dan Mahraja karena Raja dan Yana saling suka, mereka berteman dekat dan menjalankan hubungan yang berjalan seadanya.


Bahkan tak perlu ada kata ‘kita jadian’ di antara mereka untuk membuat mereka sepakat saling setia dan menyayangi dengan penuh cinta.


Tapi tidak di masa saat ini, Raja sepertinya benar-benar harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan Yana.


“Ay ab...”


Raja tak jadi melanjutkan Ucapannya saat melihat mata Yana sudah melotot ke arahnya, namun mata bulat itu tetap terlihat cantik walaupun sedang melotot.


Laki-laki itu menarik nafas dalam dan kembali fokus dengan apa yang ada di depanya. Saat ini mereka sedang berada di tengah jalan raya berdua dalam sebuah mobil yang Raja kemudikan.


Jika tidak atas dasar permintaan mak Duma sebagai orang yang sangat Yana hormati, maka Yana tak akan pernah mau diantar pulang oleh laki-laki yang sedang duduk di sampingnya saat ini.


“Abang bis....”


“Satu huruf lagi saja keluar dari mulut kamu aku minta turun.” Jawab Yana memotong kata-kata Raja dengan suara dingin dan menatap laki-laki itu dengan tatapan siap menghabisi nyawa Raja.


Raja kembali diam ia memilih mengalah, saat mobil yang dia kemudikan keluar dari komplek perumahan vila biji semangka Raja melajukan kendaraan ke arah yang tidak menuju rumah Yana.


“Kemana? Turunkan aku disini aku mau pulang!.” Cicit Yana kesal.


“Semua harus diperjelas Ay, setelah itu kamu bebas mau milih gimana.” Jawab Raja sabar persis seperti saat pak Azis menghadapi mak Duma.


Yana memang tak seperti mak Duma yang bisa meledak sewaktu-waktu layaknya mercon cabe yang sering Lili mainkan untuk mengejutkan wak Mar, tapi Raja sangat paham bagaimana wanita yang ia cintai itu harus diperlakukan.


“Ga usah! nanti calon istri kamu marah!” Jawab Yana kesal.


Raja hanya meliriknya sebentar dan kembali melajukan kendaraan sampai laki-laki itu menghentikan mobilnya di depan kampus tempat mereka dulu mengenyam pendidikan.


“Ngapain ke sini!.” Tanya Yana kesal, hari sudah senja kampus sudah terlihat mulai sepi.


“Ngajakin mantan balikan, Ayo turun kita ngomong disana.” Ucap Raja santai sambil menunjuk arah taman dengan rumput hijau di depan fakultas ekonomi tempat dulu mereka sering belajar bersama.


“Aku ga mau” Yana bersikeras tak mau turun dari mobil.


“Ya udah gapapa kita duduk aja disini sampai kamu mau turun.”


“Di belakang banyak cemilan punya Lulu, bisa kita makan untuk ganjal perut.” Ucap Raja sambil mengambil cemilan milik Lulu yang tertinggal di jok belakang mobil itu.


“Ya udah cepat.” Jawab Yana, lalu wanita itu turun dan menutup pintu mobil Raja kasar.


Raja meringis melihat adegan berbahaya itu, jika bukan Yana wanita tercintanya yang melakukannya sudah pasti Raja marah besar.


Belum genap satu bulan mobil yang ia kendarai saat ini dibeli dengan hasil keringat sendiri membanting tulang, bahkan jok kursi paling belakang masih terbungkus plastik.


Gadis itu duduk di tengah hamparan rumput hijau tanpa memperdulikan bajunya akan kotor, itulah Yana yang Raja suka. simple dan apa adanya.

__ADS_1


Raja ikut duduk bersila di hadapan gadis itu, menyerahkan satu botol air mineral yang baru dibuka segelnya. Di dalam mobil Raja memang selalu tersedia air mineral kemasan untuk mengantisipasi jika anak-anak haus.


“Minum dulu, apa yang mau Aya tau.?” Pertanyaan bodoh Raja nyatanya malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


“Apa yang kamu pikir perlu.” Jawab Yana sinis.


Lagi-lagi Raja menarik nafas panjang, menghadapi mak Duma dan Yana memang perlu kesabaran berlipat lipat ganda.


“Ok, mamak. Abang ga jujur tentang mamak karena abang ga mau Aya jauhin mamak.”


“Dari pertama ketemu, mamak selalu cerita tentang kamu dan sudah suka sama kamu sejak awal.”


“Aya tau kan, mamak salah satu kelemahan abang.” Raja menghentikan bicaranya sebentar menunggu jawaban gadis itu, tapi tak ada jawaban apapun dari gadis itu.


“Abang juga ga tau Ay, kenapa mamak sampai begitu sayang sama Kamu. Tas barang di ruang tamu, kalau tadi kamu ada lihat itu oleh-oleh dari medan yang mamak bawa khusu untuk kamu.” Sambung Raja.


“Hati abang juga ga sanggup Ay bohong sama kamu dan mamak, tapi abang juga ga sangup buat mamak kecewa. Walaupun akhirnya mamak harus kecewa seperti saat ini ketika tahu anaknya seburuk ini.


“Bang.” Yana menatap Raja dalam.


“Mamak ga salah, sebelumnya mamak juga ga tau tentang kamu karena abang memang sepengecut itu untuk jujur sama mamak.” sambung Raja lagi.


“Abang salah, abang minta maaf. Setelah ini terserah Aya.”


Bukan maaf yang Raja dapatkan dari gadis itu melainkan kembali tatapan tajam seperti sebelumnya.


“Ay, jawab. abang mohon maafin abang.” Raja kembali memohon pada gadis itu.


“Ok, sudah kan. Ayo antar saya pulang nanti calon istri kamu marah kalau kamu lama-lama sama saya.” Ucap Yana disertai dengan wajah cemberut.


Yana memang berbadan kecil namun pipi gadis itu berisi, saat sedang cemberut mata bulat dan pipi chubby Yana bertambah lucu dan itu membuat gadis itu terlihat menggemaskan di mata Raja.


Raja spontan tertawa terbahak dan membuat gadis itu bertambah merengut tanda tak suka.


“Duh, mau abang cubit ini pipi Ay tapi belum halal” jawab Raja asal sambil menunjuk pipi Yana dengan memperlihatkan senyum termanisnya.


Mendengar kata-kata Raja hati Yana makin memanas, gadis itu malah teringat pada Tita si wanita dengan pipi merah merona. Jika dibandingkan dengannya yang hanya mampu mengaplikasikan lipstik dan bedak sudah pasti dia kalah jauh dari Tita.


“Masyitah? Yang datang jumpai kamu waktu nganter baju yang mamak jahit kan.” Tanya Raja memastikan.


“Entah.” jawab Yana malas.


Lagi-lagi Raja tertawa terbahak-bahak kali ini ia merasa sudah menang selangkah, hatinya menghangat. Setelah ini ia harus mengucapkan terimakasih banyak pada Tita yang ternyata ada gunanya.


Bagaimana tidak, walaupun sedikit rumit setidaknya ulah Tita sudah membuka sisi kecemburuan Yana terbuka dan ia lihat dengan mata kepala sendiri.


“Dia sekertaris abang Ay, dia memang suka iseng ngaku-ngaku.”


“Sebentar,” Ucap Raja lagi sambil mengambil ponsel dari saku celananya, benda pipih itu Raja pencet-pencet kemudian terdengar suara tuttt tuttt karena Raja mengaktifkan mode speaker.

__ADS_1


Raja mengarahkan layar ponsel itu pada Yana, nama yang tertera di disana tertulis ‘Tita sekertaris’, tak ada yang spesial dari nama itu.


Yana tak merespon apa-apa, namun wajah cemberutnya sudah mulai berkurang berganti dengan wajah datar tanpa expresi.


Tak menunggu waktu lama suara seorang wanita di seberang sana terdengar menyapa.


“Haloh pak, adah yang bisah Titah bantuh.”


“Tugas mahasiswa sudah sayah antara dan titipkan padah wak Mar tadih.”



*



“Em.” jawab Raja singkat.


“Adah lagih pakh,” terdegar suara Tita bertanya.


“Kamu, temui Yana jelaskan semua kesalahan kamu karena sudah mengaku sebagai calon istri saya,”


“Waktu kamu 24 jam, kalau dalam waktu itu tidak beres kamu boleh ambil surat pengunduran diri kamu di meja saya lusa.”


“Tapi sa...” ucapan Tita terputus begitu saja karena sambungan telepon itu dimatikan Raja begitu saja.


Yana belum sempat berfikir jernih saat notifikasi ponselnya berbunyi, gadis itu dengan malas membuka pesan dari nomor yang ia tak kenal.


+62 xxx xxxx xxx


[Selamat sore bu, saya masitah sekretaris pak Mahraja boleh saya minta waktu ibu sebentar, boleh saya bertemu ibu atau saya telepon ibu sebentar saja. Saya mohon bu.]


Tanpa Yana sadari ia tersenyum membaca pesan itu, dan Raja melihat itu dengan jelas.


“Gimana, udah bisa abang berharap lebih? udah ga marah lagi kan,?”


Pertanyaan Raja membuat Yana sadar dengan sikapnya dan keadaan yang ada, gadis itu kembali menampakkan wajah marahnya.


“Cemburunya kamu buat abang senang Ay, makasih ya” Ucap Raja dengan percaya diri sambil tersenyum manis.


“Hih ga usah GR! Aya mau pulang!.” Jawab gadis itu kembali dengan wajah kesal sambil berdiri dan berjalan ke arah mobil Raja yang terparkir tak jauh dari tempat mereka duduk.


☕️☕️to be continue☕️☕️


Rakan pembaca :ga gantung nih?


me :gak 😬


Rakan pembaca :kenapa?

__ADS_1


Me : takut di bom bardir😭


☕️jan lupah bahagiah ya, jan lupah senyummmmmmmh


__ADS_2