Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
4. Spesial part (Mak Duma Cemburu)


__ADS_3

🌴🌴🌴


Tua tua keladi semakin tua semakin menjadi-jadi, itulah julukan yang mak Duma berikan pada pak Azis malam tadi setelah mereka pulang dari rumah sakit.


Hal itu terjadi karena saat cek up di rumah sakit seorang dokter muda yang masih sangat cantik mengatakan pak Azis masih terlihat gagah di usianya yang sekarang.


Laki-laki berusia lebih dari enam puluh tahun itu jelas saja merasa bangga, terlebih saat seorang perawat wanita mengatakan tak menyangka usia pak Azis sudah lebih dari enam puluh tahun.


Perang hangat antara pak Azis dan mak Duma tak bisa dielakkan lagi sampai Raja dan Yana menyerah dan tak mau ikut campur.


Lili dan Lulu bahkan mengunci kamarnya rapat-rapat karena tak sudi menerima tamu menginap yang kadang suka datang tengah malam saat negara sedang tak baik-baik saja.


Namun baru saja sore kemari perang dahsyat itu dimulai pagi ini pak Azis dan mak Duma sudah kembali akur seolah tak terjadi apa-apa. Mak Duma bahkan terlihat merona saat pak Azis memuji masakannya tak ada tandingan.


Untuk Yana, ini bukan lagi hal baru, sudah terlalu sering ia melihat derama dua sejoli itu yang tak kalah manis dari drama korea.


“Ay, nanti jam tiga sore jangan lupa kita ke arisan marga,” ucap Raja saat Ayyana meletakkan kopi hitam di atas meja makan di hadapan suaminya itu.


“Sejak kapan lah kelen ikut arisan itu?” tanya mak Duma pada anak dan menantunya. Sejak kelahiran Nua, pak Azis dan mak Duma sudah tak menetap di Jakarta, namun mereka sering datang dan menatap cukup lama.


“Setelah Nua lahir mak, kata abang biar Aya kenal adat dan budaya batak,” ucap Yana menjelaskan.


“Bagus itu,” Jawab pak Azis setuju dengan kegiatan yang Raja dan Yana ikuti.


“Ikutlah mamak bang.” Permintaan Mak Duma membuat Raja terkejut.


“Ga usahlah mak, dirumah aja mamak,” jawab Raja menolak permintaan mak Duma secara halus.


“Biarkan, bawa saja mamak mu itu biar ga suntuk di rumah ini.” Pak Azis yang tak tau apa-apa ikut membela istrinya mencoba menjadi pahlawan di depan wanita yang sudah lebih dari empat puluh tahun menjadi istrinya itu.


“Tapi, pak.”


“Boleh mak, ikut aja siapa tau ada anak-anak teman mamak disana yang bisa jadi teman ku,” jawab Yana senang.


“Tapi, Ay.”


“Udah gapapa mamak siap aja nanti setelah dzuhur kami jemput mamak.” Yana mengambil keputusan sepihak, pagi itu hari minggu ia dan anak-anak akan ke rumah ibu Nur sebentar dan berjanji menjumput mamak setelah dzuhur.


Raja tentu saja senang melihat interaksi antara Yana dan mak Duma yang selalu harmonis. Namun kali ini sudah dapat di pastikan akan kacau jika mamak ikut ke arisan marga.

__ADS_1


Saat Raja sedang menunggu anak dan istrinya di teras rumah, pak Azis menghampiri anak sulungnya itu.


“Kenapa lah berat kali hati mu bawa mamak mu ke arisan itu?” Tanya pak Azis penasaran.


“Demi bapak lah, apa lagi?” jawab Raja tenang.


“Apa pulak kau bawa-bawa aku?” tanya pak Azis heran.


Raja menarik napas panjang dan menatap bapaknya. “Pak, arisannya kali ini di rumah Inda.”


“Inda yang mamaknya_” mata pak Azis membelalak bibirnya tak mampu melanjutkan Ucapannya.


“Iya betul, pande kali bapak awak ini ah, Inda yang mamaknya janda yang tergila gila minta di kawin sama bapak.”


“Dan celakanya bu Hendon itu sekarang di Jakarta ini, Inda udah berkali-kali ngingetin aku biar aku ga bawa mamak atau bapak, cemana menurut bapak kalau mamak jumpa sama bu Hendon itu?” tanya Raja dengan senyum kemenangan pada pak Azis.


“Mampus lah bapak bang, harus kau cari cara biar mamak mu ga kesana.” Pak Azis mulai panik dan ngeri membayangkan apa yang akan terjadi.


Waktu berlaku sampai saat Raja dan Yana datang menjemput mak Duma, pak Azis belum juga sukses merayu wanita itu agar tak usah ikut ke arisan.


“Pamit kami ya pak, banyak-banyak bapak berdoa,” ucap Raja pada bapaknya saat meninggalkan rumah sambil melambai-lambaikan tangan pada pak Azis.


Mak Duma tetaplah wanita yang menjunjung tinggi harga diri, ia hanya tersenyum saat Hendon terus saja mengajaknya bercerita perihal pak Azis.


Namun hal itu hanya tersimpan di depan khalayak ramai, saat sudah di mobil dalam perjalan pulang mak Duma sudah berencana akan memberi peringatan keras pada pak Azis, padahal pak Azis tak perna tau salahnya apa.


Yana yang akhirnya tau cerita itu juga menyesal telah mengajak mak Duma, namun apalah guna menyesal yang tak dapat memperbaiki keadaan.


Saat sampai di rumah, mak Duma mendapatkan pemandangan tak kalah menyakitkan, dengan mata kepalanya mak Duma melihat pak Azis memberikan tisu pada Maryam, ibu Tita yang sedang menangis di teras rumah mereka.


Mak Duma sudah menganggap Maryam seperti anak sendiri, namun bibit cemburu yang sudah ada sejak dari arisan tadi membuat amarah mak Duma memuncak tak dapat di kendalikan lagi.


“Mak, aku harus bagaimana?” Maryam bergegas memeluk mak Duma saat melihat wanita itu. mak Duma dengan bijak membalas pelukan Maryam dan menanyakan apa yang terjadi.


Sedangkan matanya menatap tajam pada pak Azis siap menerkam dan menghabisi pak Azis detik itu juga, mak Duma yakin Maryam tak salah hanya saja ia tak suka saat pak Azis memberi perhatian pada wanita lain.


Hari sudah senja, Maryam sudah pulang di jemput oleh Tita dan suaminya, wak Mar sudah menyiapkan makan malam dan semua sudah berkumpul di meja makan.


“Bang, tanyakan sama bapakmu dia mau ikan goreng atau ikan gulai?” ucap mak Duma pada Raja, dan membuat mata Lili,Lulu dan Nua menatap opung mereka.

__ADS_1


“Bap_” suara Raja tertahan karena pak Azis sudah menjawab lebih dahulu.


“Bilang sama mamak mu, bapak ikan goreng aja.” Jawaban pak Azis membuat mata ketiga cucunya beralih menatap pak Azis.


“Mak, kat_” lagi-lagi Raja tak melanjutkan kata-katanya karena mak Duma sudah meletakkan ikan goreng di piring suaminya. Dan diikuti dengan tiga pasang mata cucunya mengikuti gerak tangan mak Duma.


“Bang, tanyakan sama bapak mu abis ini dia mau kopi atau teh?”


“Pak, kata ma_” kali ini Raja kembali diam saat melihat pak Azis sudah mulai membuka mulut, namun yang terjadi nyatanya Lili yang bersuara lebih dulu, gadis kecil yang sudah duduk di bangku kelas empat SD itu sudah tak sabar melihat ayahnya terzolimi.


“Opung, kalau mau kirim pesan, orangnya harus jauh-jauh. Kalau opung masih mau kirim pesan untuk atok biar ku bawa atok ke depan nanti baru opung bisa kirim pesan.”


“Ga paham kau itu,” jawab mak Duma santai.


“Cemburu lah dia itu,” celetuk pak Azis mebuat mak Duma. Bertambah kesal.


“Mana pulak aku cemburu sama orang tua macam bapak.” bibir mak duma sudah maju dua centi saat berbicara.


“Biasa kau kalau cemburu, hamil lah kau itu Duma.” Pak Azis tak mau kalah.


“Mulutmu ya, ga malu kau depan cucu.” Sepanjang perdebatan itu mata Raja,Yana dan anak-anaknya mengikuti kemana arah sumber suara.


“Tok, pung, makan dulu aku sebentar ya nanti ku jelaskan soal kirim pesan, kalau opung ga percaya nanti ku lihatkan buku pelajaran ku” Lili dengan wajah seriusnya mengajari mak Duma membuat Raja tertawa paling kencang di antara semua.


Namun saat melihat wajah mak Duma, tawa Raja diam seketika membayangkan sang pemilik pintu surganya sedang marah.


“Ya udah, bapak mau minum apa abis ini?” tanya mak Duma langsung pada pak Azis.


“Kalau kau yang buatkan apa aja aku mau, Duma,” jawab pak Azis dengan senyum paling manis.


“Itu baru betul, kalau dekat-dekat ga usah kirim pesan.” Lili kembali berbicara sebelum menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya.


🌴🌴🌴


🌴Haloooo Rakan, apa kabar? Aku mau kasih info nih, aku punya karya baru dengan judul “Terjerat Cinta Barista” Rilis di Apps F I Z Z O yuk mampir kesana ya Rakan.



Jan lupa syenyummmmm jan lupa bahagia Rakan 😘

__ADS_1


__ADS_2