
💚💚
Hidup itu seperti roda terus berputar jika satu menit yang lalu kau masih tertawa bisa saja di menit berikutnya bercucuran air mata.
Jika satu menit lalu kau masih jumawa dengan kekuasaan yang kau punya di menit berikutnya bisa saja Tuhan mencabut semua tanpa sisa sedikitpun.
Begitu juga pada Mama Jelita yang merasa bisa membeli segalanya dengan kekayaan dan kuasanya beberapa waktu lalu namun sekarang tertunduk sambil menangis tersedu.
Namun manusia tetaplah manusia punya ego yang kadang malah tak terjangkau oleh pikiranya sendri, sikap keras kepala kadang tak bisa hilang begitu saja sebelum ia benar-benar merasa jatuh ke dasar sumur hingga tak bisa bernafas lagi.
“Mas tega pukul aku.” Suara mama Jelita lihir terdengar saat suaminya kembali mendekat.
“Aku hanya mendidik istriku agar tak salah langkah.” Ucap pak Anggara dingin dan duduk di samping istrinya.
Selama menikah tak pernah sekalipun pak Anggara berlaku kasar pada istrinya, wanita yang ia cintai itu selalu diperlakukan bak ratu sesuai dengan namanya.
Dan itu juga sebabnya kenapa Doni selalu memperlakukan wanita dengan baik, dan juga memperlakukan Yana dengan begitu manis.
Yang berbeda hanya pak Anggara tak bersifat posesif sedang Doni sangat cemburuan dan posesif, untuk sifat yang ini Doni mengadopsi dari sang mama.
“Aku hanya ingin yang terbaik untuk Doni anak kita, kamu ga ngerti itu mas.” Suara mama Jelita kembali sedikit meninggi.
“Bukan begitu caranya, jelita.” Kata pak Anggara dengan penuh sabar.
“Lalu caranya bagaimana? Menerima wanita tua itu.” Suara mama Jelita kembali meninggi.
“Lalu mau mu?”
“Mauku Doni tidak menikahi Yana atau Doni harus mau menikah lagi jika perempuan itu tidak bisa punya anak.” Jelita kembali mengungkapkan kemauan dengan menggebu.
“Baik, benar mau kamu begitu? Aku setuju dan aku punya sarat yang harus kamu setujui.” Pak Anggara menjawab dengan tenang.
“Apapun syaratnya aku setuju.” Ucap Jelita dengan wajah berbinar tangisnya mulai reda.
“Aku ingin punya anak lagi, karena kamu sudah tidak bisa memberiku anak. Maka aku akan menikah lagi dengan wanita yang lebih muda dan mampu memberiku anak.” Pak Anggara mengucapkan hal itu dengan wajah serius.
“Mas ga punya hati, Sudah gila kamu mas. Kamu pikir aku ini apa.” Jelita meninggikan suara berteriak pada suaminya dengan penuh amarah dan tangis mulai pecah kembali.
__ADS_1
“Diam, dengarkan dan resapi ke hatimu Jelita aku ga mengulang kata-kataku dua kali.” Ucap pak Anggara masih dengan nada dingin.
“Ibu ku paksa kamu punya anak karena kamu bisa, buktinya kamu tidak meninggal saat melahirkan Doni, takut melahirakn bukan alasan untuk tidak mau punya anak, tapi jika memang tidak bisa apa ibu akan memaksa? Tentu saja tidak.”
“Ibu wanita mulia ibu juga punya menantu yg tidak bisa punya anak apakah dia mencarikan menantu baru untuk prawira adik ku? Tidak.”
Prawira Negara adalah adik laki-laki dari pak Anggara Negara yang hingga usianya sudah senja belum juga dikaruniai anak.
“Apa Romo dan Ibu menyuruh Prawira menikah lagi? Bahkan tak pernah sekalipun mereka mengucilkan menantunya itu, benar begitu?” Tanya pak Anggara pada mama Jelita. Wanita itu menganggukan kepala membenarkan.
“Apa kakimu harus patah, wajah mu harus hancur lebur seperti Ayesha teman arisan mu yang menyiksa menantu ya itu baru kamu mau sadar?”
“Mas...”
“Diam dan dengarkan kamu tidak punya hak untuk bicara.” Pak Anggara masih dengan wajah dingin dan seriusnya.
“Suami teman mu itu masih mau menerima istrinya setelah semua yang terjadi pada istrinya, benar begitu?” Tanya pak Anggra pada Jelita dan lagi-lagi di angguki oleh wanita itu.
“Tetapi kalau hal itu terjadi pada ku Jelita, tidak akan begitu ceritanya. Cinta ku tidak buta seperti cinta suami teman mu itu.”
Selama lebih tiga puluh tahun tak pernah sekalipun ia diperlakukan tidak baik oleh suaminya.
“Jangan mengotori nama baik eyang dan romo ku dengan sikap bodoh mu dan memaksa Doni menikah lagi.” Tambah pak Anggara lagi.
“Pakk... eh maaf pak.” Ucap satpam kantor itu saat membuka pintu ruangan kerja pak Anggara dan melihat ada mama Jelita yang menangis sambil memegang kaki suaminya.
“Ada apa.” Tanya laki-laki itu.
“Anu pakk itu, Pak Doni pak sama pak Putra berkelahi.” Ucap satpam itu ragu-ragu.
“Kamu lihat ulahmu? temui Doni dan bersikaplah seperti tidak terjadi apa-apa,” Ucap pak Anggara pada istrinya sambil bangun dari duduknya untuk menuju ke ruang kerja Doni.
Pak Anggara sempat melihat Putra yang keluarga dari ruangan Doni dengan wajah babak belur.
Saat sampai di ruangan Doni kondisi anaknya hampir sama tak jauh beda dengan Putra, babak belur namun tak separah yang Anggara pikirkan, Putra tidak memukuli anaknya itu dengan seluruh tenaganya.
“Temui Ayana, minta maaf. Papa mendukung kamu sepenuhnya.” Ucap Pak Anggara sambil menepuk bahu putranya yang sudah dudukan di sofa di bantu oleh petugas keamanan kantor itu.
__ADS_1
“Dan Mama tetap mamamu Don, minta maaf pada mama Juga.” Ucap pak Anggara sambil melihat kearah pintu tempat dimana istrinya berdiri.
➰➰➰➰➰♥️♥️
Putra pulang dengan rasa bersalah yang teramat sangat, anak laki satu-satunya pak Ahmad itu turun dari mobilnya dengan wajah babak belur membuat Bu nur dan dan Putri berteriak histeris.
Dua wanita kesayangan Putra itu duduk di teras bersama ayah dan babe Zuki orang tua Putri, Ayah dan babe zuki yang sedang bermain catur menghentikan permainan mereka saat mendengar Bu Nur dan Putri menjerit.
“Abang kenapa,” Suara Putri sambil menangis dan memegang pipi suaminya yang sudah mulai lembam.
Putra hanya diam saja, laki-laki itu tak tahu harus menjawab apa. Ia juga belum berani jujur dengan apa yang sedang terjadi namun ia juga tak mau kakaknya melanjutkan pernikahan dengan Doni.
“Utha kenapa nak, sayang,” Bu Nur tak kalah cemas melihat kondisi anaknya itu.
Tangis Putri membuat Putra tambah merasa bersalah, bagaimana ia mengatakan bahwa ia sekarang sudah tidak ada pekerjaan lagi, bagaimana reaksi wanita itu nanti saat tau ketika akan melahirkan malah suaminya sekarang pengangguran.
Putra memang punya tabungan yang cukup untuk mempersiapkan kelahiran anak pertama mereka namun, bagaimana setelah itu. sekarang ini mencari pekerjaan bukan hal yang mudah.
“Banyak tanya lu Put ambil air minum untuk laki lu gih, sama air hangat ye untuk lukanye,” Babe Zuki menyuruh anaknya mengambilkan air minum untuk Putra sang menantu dan membuat Putri bergegas masuk kedalam rumahnya.
“Kenapa nak, kenapa,” Bu Nur masih tak mau diam.
“Jawab Ayah Utha, kamu kenapa,” Suara pak Ahmad membuat Putra yang sedang menunduk segera mengangkat kepala.
“A.. Aku,,,” Laki-laki itu bingung harus jujur tentang perkelahiannya dan sebab perkelahian itu atau tidak, dan lagi soal pekerjaan bagaimana ia harus mengungkapkan hal itu di depan ayah mertuanya.
“Et dah ni mantu satu ye, cepetan jawab lu kenape? dirampok orang?” Babe Zuki mulai tak sabar.
“A,,,Aku.” Suaranya kembali terhenti saat melihat istrinya datang dengan segelas teh dan baskom kecil berisi air es dan handuk kecil.
“Abang kenapa? abang selingkuh ya? terus di gebukin masa?” Kini suara putri menambah berat masalah hidupnya.
➰➰To be continue➰➰
♥️Hidup itu sepeti Roda terus berputar Jika satu menit lalu kau masih jumawa dengan kekuasaan yang kau punya di menit berikutnya bisa saja Allah mencabut semua tanpa sisa sedikitpun.
〰️jangan lupa bahagia rakan, jan lupa senyummmmmmmmm ☺️
__ADS_1