Dia Yang Kembali Datang

Dia Yang Kembali Datang
Lampu gantung


__ADS_3

💚💚


"Aya? Aya apa,?" Tanya Raja pada ketiga putrinya dengan setenang mungkin seolah tak pernah terjadi salah ucap dari mulutnya yang tak bisa di ajak kerja sama dengan baik itu.


"Tadi ayah manggil Aya." Ucap Lala yang ternyata sudah selesai mengerjakan tugas sekolahnya dan mendekat ke arah ayah dan adik-adiknya.


"Ohhh ini cahaya lampunya rasa ayah redup, ayah lagi mikir kekmana kalau lampunya kita ganti sama lampu gantung aja." Jawab Raja sambil menujuk lampu tanam yang terpasang rapi dan sangat terang di langit-langit ruang keluarga mereka.


"Rasaku ga redup biasa aja," Jawab Lala.


"Tapi kalau lampu gantung nanti rumah kita jadi kek istana cinderella kak, betul kan yah?" Suara Lili terdengar bersemangat.


"Adek mau yah adek mau jadi pinces." Lulu terlihat lebih semangat.


"Jangan lah yah lampu ini aja ga redup lho yah mata ayah aja salah itu." Lala tak setuju.


"Ganti aja yah." Lili sudah membayangkan ada lampu gantung seperti istana di ruang keluarga mereka.


"Adek mau, adek mau." Ucap Lulu sambil lompat-lopat kegiragan.


"Jangan ah aku ga setuju." Lala kembali bersuara.


"Udah, diam dulu kan masih rencana belum tentunya jadi, ayah piki-pikir dulu." Ucap Raja menenangkan anak-anaknya yang mulai ribut karena Aya yang di pelesetkan oleh pak dosen jadi cahaya.


Setelah anak-anaknya tenang Raja memerintahkan Lala membawa adik bungsunya ke toilet untuk buang air kecil agar tidak ngompol saat tudur nanti, sepeninggalan Lala Raja langsung saya memberi peringgatan pada Lili.


"Jangan bilang apa-apa sama Adam ya Li."


"Kenapa memangnya." Tanya putri kecilnya yang super keritis itu.


"Ga boleh aja, itu urusan orang dewasa anak kecil ga boleh tau." Jawab Raja.


"Kenapa ayah bilang sama Lili? Aku kan belum dewasa."


"Nanti kalau tiba-tiba bundanya pergi si ompong tu sedih yah." Jawab gadis itu lagi.


"Ga pergi bundanya nanti ayah yang bilang sama bundanya jangan pergi." Jawab Raja asal dan kata yang keluar dari mulutnya kembali menjadi bumerang untuk duda tiga anak itu.


"Kenalnya ayah sama bundnya?." Tanya Lili dengan mata berbinar.


Petuah orang tua jangan menutupi kebohongan dengan kebohongan sedang di alami Raja saat ini, efek dari tak mendengar petuah orang tua membuatnya pusing sendiri.

__ADS_1


"Ayah pernah ketemu waktu kamu berantem sama Adam kemaren itu lho." Raja mulai berfikir harus benar-benar membenahi diri.


"Ohh iyaa iyaa." Jawab Lili sambil menganggukan kepalanya.


"Jan bilang apa-apa pokonya, ada dengar?" Tambah Raja lagi mengamankan mulut anaknya itu.


"Iya iya tapi ayah janji bilang sama bunda si ompong jan pergi ya."


"Nanti tingal ku bilang sama si ompong biar ayah yang bereskan." Jawab gadis itu lagi.


"Ya Allah Lili, ga gitu kau lama-lama persis opung mu pusing ayah kau buat."


Raja terus memberi pemahaman-pemahaman pada Lili dengan berbagai macam alasan agar gadis kecilnya itu tutup mulut soal kasus ini.


➰➰➰♥️♥️♥️


Bermenantukan Yana adalah hal yang juga sempat mama Jelita idam-idamkan dahulunya saat baru pertama kali Doni mengenalkan gadis itu padanya.


Namun saat Jelita mengetahui umur Yana yang bertaut begitu jauh dari Doni sikapnya mulai berubah, ditambah dengan Yana yang selalu saja tetap pada pendiriannya membuat Jelita merasa bahwa Yana tak bisa diatur tak seperti kemauan jelita.


Hal lain yang membuatnya berat menerima Yana adalah saat berkumpul dengan teman-teman arisanya Jelita selalu saja merasa paling dipojokkan hampir semua menantu dari teman-temanya berasal dari kalangan yang sama dengan ibu-ibu sosialita itu.


Sedangkan Yana hanya seorang guru SMA meskipun tempat Yana mengajar adalah salah satu SMA terbaik yang ada di kota ini, namun tetap saja tak bisa di banggakan menurut Jelita.


Yana juga tak pernah mau saat Jelita memaksanya merubah penampilan, menurut Yana tak ada hal yang perlu Yana rubah selain ia sudah nyaman dengan penampilannya yang sekarang Yana juga harus menjadi contoh terbaik untuk anak didiknya.


Hal lain lagi yang membuat mama Jelita juga resah tentu saja soal cucu, ketika teman-teman arisanya memamerkan cucu mereka Jelita selalu memikirkan tentang nasib Doni anak tersayangnya.


Umur Yana yang sudah tiga puluh tujuh tahun saat ini membuatnya cemas jika nanti Yana tak bisa hamil dan punya anak.


Tersisa dua minggu sebelum hari pernikahan Doni dan Yana berlangsung, sudah tak ada cara lagi untuk Jelita membatalkan pernikahan itu. Hubunganya dengan Doni yang mulai baik juga membuatnya tak tega jika harus menggagalkan pernikahan anaknya itu dengan Yana.


Yana juga sudah menyetujui bahwa nanti setelah menikah ia akan tinggal di rumah yang sama dengan Jelita. Bukan hanya itu Yana juga sudah berjanji akan mengurangi jam mengajarnya dan berhenti mengajar les serta tak akan menjadi wali kelas lagi.


Namun Jelita tetaplah Jelita ia masih belum merasa puas dengan keputusan Yana yang mulai mau mengalah, ia harus memastikan kesehatan Yana dan memastikan Doni harus bisa punya anak nantinya.


➰➰➰➰♥️♥️♥️


Waktu terus berlalu dengan rasa bimbang yang terus saja menghantui Yana tentang masa depannya dengan Yana.


Menikah Dengan Doni adalah impian sebagian besar wanita, Doni yang berparas tampan sempurna dengan kekayaan yang tak terhingga membuat semua wanita terkesima.

__ADS_1


Untuk Yana, yang menjadi daya tarik dari Doni justru bukan itu melainkan sikap manis dan baik hatinya memperlakukan Yana bak seorang putri raja, perempuan mana yang tak luluh jika diperlakukan dengan manis dan sangat di istimewakan.


Namun sikap mama Jelita yang semakin hari semakin membuatnya sakit kepala tentu saja menjadi pertimbangan lagi untuk Yana.


Meskipun demikian saat hari pernikahannya sudah semakin dekat Yana tentu saja merasa bahagia seperti wanita pada pada umumnya yang akan menikah dengan orang yang dicintai, Yana mengetepikan sikap mama Jelita sesaat.


Hati Yana benar-benar sudah menetap pada Doni seluruhnya tanpa ada celah lagi untuk orang lain, dan juga masa lalunya. Buktinya saat beberapa waktu lalu bertemu dengan Raja tanpa sengaja di sebuah pusat perbelanjaan perasaan Yana biasa saja.


Yana juga sudah mulai cuti dari mengajar dan juga anak-anak sedang libur semester membuat Yana mendapatkan libur lebih panjang.


"Pagi-pagi udah cantik mau kemana nak, bukanya udah mulai cuti." Tanya pak Ahmad saat melihat Yana turun dari kamarnya yang berada di lantai dua.


"Mau pergi sama mama Jelita yah." Jawab Yana sambil mencium pipi bu Nur kuat-kuat.


"Kakak ih hidung kamu bisa buat pipi ibu bolong," Ucap bu Nur yang pura-pura marah diperlakukan begitu oleh Yana.


"Dih calon bu bos masih cium-cium ibu tiap pagi ga minta ASI sekalian kak?" Putra berbicara asal saja.


"Mulutnya Utha." Pak Ahmad melotot pada Putra.


"Iya maaf-maaf." Ucap calon ayah muda itu.


"Eh kak aku serius nanti setelah nikah sama mas Doni kakak nyium pipi tante Jelita dong pagi-pagi ya hahahaha." Ucap Putra lagi sambil membayangkan kakaknya mencium wajah tante Jelita yang selalu full make up dan rambut tertata rapi.


"Ngomong aja terus yang enggak-enggak nanti anak kamu lahir mirip si juminten jelimet itu baru tau rasa." Kata bu Nur pada anak laki satu-satunya itu.


"ihh Jangan ah bu Uthi ga mau, serem lihat alis sama kondenya aja Uthi seram." Jawab Uthi menantu bu Nur sambil mengusap perutnya yang sudah sangat besar dan menunggu hari kelahiran anak pertamanya.


"Terus aja, suami istri kompak banget." Yana membela calon mertuanya walaupun yang Uthi deskripsikan tentang mam jelita benar adanya namun tetap saja Jelita adalah ibu dari calon suaminya.


"Tuh kan dia belain." Jawab pak Ahmad yang disambut tawa oleh seluruh keluarga.


"Udah-udah ga baik ngomongin orang." Ucap bu Nur menengahi.


Suara mang Didi supir keluarga Anggara yang sudah sampai untuk menjempunya membuat Yana bergegas pamit dan menyalami ayah dan ibunya sebelum ia pergi.


➰➰To Be Continue➰➰


Emmm Yana sama mama Jelita tercinta mau kemana yaa kira-kira??


♥️jangan menutupi kebohongan dengan kebohongan lain

__ADS_1


〰️jangan lupa bahagia rakan dan jangan lupa syeyummmmmmmmmmmm 😊〰️


__ADS_2