Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Kau


__ADS_3

Saat ini dia berada di ruang kerja Faza. Faza memiliki bengkel ini atas bantuan kakaknya untuk menyalurkan hobi. Vino mau saja membantunya agar sang adik sibuk dan tidak ugal-ugalan di jalan. Tapi yah namanya Faza, hari ini saja dia baru dapat surat peringatan kedua dari sekolah.


"Mas, tumben kemari!" ucap Faza langsung duduk di hadapan kakaknya. Dia belum tahu jika saat ini kakaknya sedang marah kepadanya.


"Apa ini, bisakah kau jelaskan kepadaku?" melemparkan surat peringatan kedua dari sekolah Faza. Baru saja tiga bulan di sekolah, Faza sudah dua kali mendapatkan surat peringatan.


"Mas, aku bisa jelaskan jika kali ini bukan semata-mata karna kesalahanku," elak Faza membela diri.


"Sebelum kau di keluarkan, sebaiknya kau pindah sekolah saja di kampung. Bisanya menyusahkan kau ini," umpat Vino melempar surat dari sekolahan yang di terimanya tadi pagi.


Faza juga tidak mengerti, kenapa surat itu sampai ke tangan kakaknya tanpa melalui dirinya. Apakah orang yang sama telah melakukan itu kepadanya.


"Maafkan Faza, Mas," menundukkan wajahnya. Dia sudah dua kali ini di keluarkan dari sekolah atas kenakalannya. Tapi kali ini sebenarnya dia tidak bersalah, dia hanya ingin membela diri.


"Sekarang jelaskan! kenapa bisa ini terjadi?" tegas Vino. "Apa kau ingin aku mengulangi pertanyaan yang sama," Vino semakin geram.


"Aku tidak terima dia menghina mama! akhirnya aku pun memukulnya hingga babak belur?" jawab Faza.


"Good job! tidak sekalian saja kau patahkan lehernya!" Vino juga tidak akan terima jika ada yang menghina anggota keluarganya terlebih sang ibu yang sudah melahirkan dirinya.


"Nah, belum sempat aku lakukan guru BP sudah datang melerai kami, dia memfitnahku. Mereka mengatakan jika aku yang menantang mereka, karna menjajal ilmu baru, kan kurang ajar itu namanya, Mas!" Faza bersungut-sungut.


"Lalu kenapa bisa kau di keluarkan? selidik Vino.


"Ini semua karna aku berurusan dengan anak kepala sekolah, dia tidak terima ceweknya lebih memilihku daripada dirinya, aku kan tampan mas makannya banyak yang suka.


"Jangan sok jadi orang!" menampol kepala adiknya.


"Apakah tidak ada saksi mata?"


"Mereka sekongkol, menghadangku pas lagi aku sendiri. Main keroyokan lagi, guru BP nya juga belain anak kepala sekolah," terang Faza.


Dia juga menjelaskan jika dia tidak mau menjalin hubungan dengan siapapun saat ini. Tapi wanita itulah yang selalu mencari kesempatan untuk berdekatan dengannya. Padahal wanita itu sudah memiliki kekasih. Hingga dia di jebak dan kini mendapatkan surat peringatan kedua.

__ADS_1


"Semua wanita sama saja," Vino jadi teringat Riki yang jalan berdua dengan seorang wanita pagi ini. Diapun mendesah.


"Faza, kau pindah sekolah lagi saja. Aku akan mengurus semuanya. Bilang saja, jika kau ingin sekolah di tempat Eyang," Vino memutuskan.


"Tapi, Mas! aku tidak bersalah," tolak Faza yang tidak mengerti arah pemikiran kakaknya.


"Aku tahu, tapi kau tentu tahu sifat papa! aku tidak mau kau sampai di hukum papa! kau tahu apa konsekuensinya kan?" Vino menyakinkan


"Ya! aku tahu." Faza patuh saja.


"Persiapkan dirimu, aku akan meminta Eyang untuk menelpon papa," menepuk pundak adiknya.


"Mengapa secepat itu seh, Mas. Seenggaknya sampai aku bisa membuktikan. Jika aku tidak bersalah atas kejadian itu!" Faza membujuk kakaknya. Dia juga sebenarnya enggan pindah sekolah. Pastinya tidak enak berada di lingkungan baru dan mulai menyesuaikan diri dari nol lagi.


"Kau pilih pindah atau aku tutup bengkel kamu," tepatnya itu bukan sebuah pilihan menurut Faza, tapi paksaan agar Faza mau menerima keputusan Vino.


"Iya, iya!"


"Nah, itu lebih bagus!" Vino tersenyum, dia tahu betul jika Eyangnya akan lebih pandai mengatur Faza dari pada dirinya.


"Pulang!"


🍂🍁🍁🍁


Sore hari di sebuah rumah makan gazebo tempatnya yang terkesan sederhana, namun menyajikan pemandangannya sangat memanjakan mata, dengan suasana senja yang menawan, matahari seakan tenggelam kedalam air laut. Rumah makan itu berada di tepi pantai, diatas kolam ikan. Di kelilingi oleh tumbuhan tembakau yang di tata sedemikian rupa, hingga terkesan asri dan adem.


Afsana duduk sambil memainkan air kolam, dia sedang menunggu pesanannya. Rencananya sore ini dia akan makan bersama Riki, sebagai hari perpisahan sebelum esoknya Riki berangkat ke Singapura.


"Mbak, ini pesanan anda!" seorang pelayan meletakkan semua yang di pesannya yang mendapatkan senyuman dari Sana.


"Mbak, jika nanti ada seorang pria, datang memakai baju warna biru seperti warna baju yang saya kenakan ini, langsung suruh kemari, ya!"


"Baik, Mbak!"

__ADS_1


Vino yang kebetulan juga mampir untuk mengisi perutnya, mengedarkan pandangannya. "Tuan apakah anda kekasih gadis yang duduk di sana? dia menanti anda sedari tadi," kata seorang pelayan yang menyangka jika Vino adalah yang di maksud Sana.


Bukankah itu gadis yang bersama mas Riki kemarin? wah, kebetulan sekali. Vino cengar-cengir sendiri sambil berjalan ke arah gadis itu.


"Hai, nona! apakah aku boleh duduk di sini? sepertinya tempatnya sudah penuh hanya di sini yang kosong!"


Aku harus mendekati gadis ini agar terpisah dari Riki. Seperti yang Arjun ucapkan.batin Vino


"Maaf! apakah kita saling mengenal?" Sana berusaha mengingat, tapi tidak menemukan satu nama ataupun bayangan wajah pria yang kini berada di hadapannya.


"Aku, Vino!" mengulurkan tangannya. Tapi Sana tidak menyambutnya.


"Sudah tahukan, siapa saya!" Vino mengambil sebuah piring lalu menuangkan nasi di atasnya.


"Kau ini, ya! tidak sopan sekali makan milik orang tanpa permisi," Sana menuding wajah Vino. Vino hanya menatap telunjuk Sana. Yang ditatap seperti itu pun menyadari dan buru-buru menurunkan telunjuknya.


"Yang punya makanan pelit, buat apa izin sama orang pelit," melanjutkan aksi makannya walaupun tidak mendapatkan izin.


Sedangkan Afsana mendongkol luar biasa, pasalnya Riki dan Vinka tidak juga kunjung datang, malah di pertemukan dengan orang rese seperti yang ada di hadapannya sekarang.


"Mari, silahkan di makan Nona!" Vino tersenyum manis sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


Lihatlah dia, tidak merasa bersalah sama sekali.


"Apa kau tidak pernah di ajari untuk meminta izin saat mengambil hak milik orang lain?" Sana masih gedek dengan perilaku Vino.


"Apa kau bicara kepadaku?" Vino menunjuk wajahnya.


"Kau!" teriak Sana, sampai pengunjung yang berada di sana menoleh karenanya. Sana di buat malu sendiri.


"Hai, nona! silahkan makan jika lapar. Jangan melihatku seperti itu." Vino mencondongkan badannya ke telinga Sana. "Kau mengagumi ketampananku." Vino mengedipkan matanya sebelah, menjauh dari tubuh Sana kembali.


"Kau, ya!"

__ADS_1


Sana belum melanjutkan omongan, handphone miliknya berdering. Vino melirik sekilas, dia paham sekali jika itu adalah profil milik iparnya.


Bersambung....


__ADS_2