Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Bravo Grup


__ADS_3

Mobil Vino berjalan pelan memasuki studio milik BG singkatan dari Bravo Grup. Perusahaan yang terdiri dari beberapa anggota keluarga. Mereka bersatu di bawah kepemimpinan keluarga Jizzy. Randika Jizzy adalah perintis pertama kali yang berhasil menyatukan keluarga mereka yang hampir bercerai berai.


Bravo adalah nama dari Bradipta dan Vorlita orang tua dari Randika. Atau Eyang buyut dari Vino. Mereka memiliki tujuh anak yang masing-masing memiliki sifat berbeda. Pembagian warisan dan hak kepemilikan membuat beberapa anggota keluarga terjerumus ke dalam kobaran api permusuhan. Bahkan beberapa memilih pindah keluar kota untuk menghindari konflik.


Randika yang menjabat sebagai saudara tertua mengambil alih kepemimpinan ayahnya. Sifat tegas dan bijaksananya mampu mengembalikan kestabilan usaha keluarga yang mereka jalani selama bertahun-tahun. Meski dia harus melewati banyak rintangan dan segala macam ujian. Randika yang memiliki otak brilian mampu menghadapi situasi genting sekalipun. Bahkan dengan kegigihan dan keuletan kerja kerasnya akhirnya mampu menyatukan kembali keluarga yang sempat bercerai berai.


Namun, di saat semua sudah bersatu, ada satu keluarga yang rupanya begitu keras kepala, yaitu kakak angkat Randika. Meski bukan keluarga kandung, tapi namanya tercantum dalam surat wasiat. Sehingga Randika memutar otak untuk bisa merangkul keluarga itu.


Randika menjodohkan anak semata wayangnya yang bernama Ramon dengan cucu saudara angkatnya itu. Jadilah gadis yang bernama Maria Selena menjadi menantu Randika. Gadis yang memiliki sejuta talenta dan otak cerdas melebihi saudaranya yang lain.


Itulah sedikit cerita tentang Bravo Grup. Yang sekarang menguasai separuh kerajaan bisnis di Asia.


"Bagaimana Bos? Kita masuk sekarang?" Arjun baru turun dari mobilnya sedangkan Vino memandang ke arah gedung dengan tatapan yang sulit di artikan.


Vino membuka kacamata hitamnya perlahan. Beberapa karyawan yang tanpa sengaja melihat kedatangan dibuat takjub oleh ciptaan Tuhan yang begitu indah. Beberapa di antara mereka pun mulai berghibah ria. Ada juga yang sibuk melamun dan berangan-angan semisal bersanding dengan Vino.


"Ayo!" Vino sudah melangkahkan kakinya dengan santai menuju gedung bertingkat yang sebetulnya jarang sekali dia singgahi. Aura dingin dan berwibawa tergambar jelas dari keduanya yang kini berjalan beriringan.


Para karyawan yang mengetahui sedikit tentang Bos Muda mereka menyapa dengan hormat. Dan setelahnya berbisik-bisik di belakang sang bos.


" Dewi Fortuna berpihak kepada kita, lagi capek eh dapat asupan energi dengan melihat yang bening-bening kayak tadi," Si Mbul memegang kedua pipinya yang memanas sebab pertama kalinya bagi dia bisa menyapa anak dari pemilik gedung.


"Iya, dia sempat melirikku lho tadi." Yang ini biarpun cantik tapi lebih parah tingkat kehaluannya.


"Andai saja diajak selingkuh sama dia ... !" Wah malah lebih ngawur kih. Kedua temannya saling adu pandang dan sikut.


"Nyebut hei nyebut!"


"But, but, but!" kedua temannya tepok jidat. Meski sudah bersuami masih saja ngarepin yang bening.


"Hai Kalian semua, tahu nggak seh, aku tadi sempat bertemu dengan Bos Muda lho, tampan sekali. Owh, senyumannya, dia memporak porandakan hatiku." Datang lagi si pujangga dadakan yang begitu mengagumi Bos mereka.


"Kami juga lihat tadi. Dia juga tersenyum kepadaku," Dengan pedenya yang merasa dilirik sombong.

__ADS_1


Sedangkan orang yang mereka bicarakan kini sudah berada di lantai paling atas dari gedung.


"Arjun, dimana tempat kita melakukan sesi pemotretan nanti?"


"Di lantai sembilan, Tuan!"


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi!" kesal Vino. Dia harus turun lagi untuk sampai di lantai yang di maksud.


Yah, kan si bos nggak nanya.


"Apa kau sudah mengatur semuanya?"


"Sudah Bos, mereka dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi mereka sampai." Arjun memeriksa layar ponselnya. Tadi sebelum berangkat, Arjun mengirim pesan kepada Saras, bahwa pemotretan diajukan, atau Vino tidak akan lagi mau melakukan pemotretan tidak peduli dengan konsekuensi apapun yang dibebankan kepadanya.


Sedangkan Saras tentu tidak ingin proyek yang sudah berjalan harus berhenti begitu saja hanya karna masalah sepele.


"Vino keterlaluan, harusnya dia yang patuh kepada kita sebagai atasannya untuk saat ini, tapi dia masih saja bertindak sesuka hati," omel Saras memukul stir mobilnya.


"Yang sabar Mbak," ucap Sana yang duduk di sebelah Saras. Kini mereka sampai juga di depan gedung yang sama dimana Vino berada.


"Apa dia lagi belajar mengkopi tulisan?" Sana terkekeh setelah melihat isi chat Arjun yang memenuhi layar ponsel Saras.


CEPAT DATANG ATAU PERJANJIAN BATAl. TERSERAH MAU BAYAR BERAPA TUAN VINO SANGGUP.


Kenapa Sana malah melihat tulisan itu begitu terkesan keren di matanya.


"Dia memang keren," celetuk Sana. Saras sampai tersedak air liur sebab ucapan Sana.


"Apanya yang keren?" Sana gelagapan karena ketahuan mengagumi Vino. Sedangkan orang yang berada di hadapannya terlihat kesal.'


"Ini ponsel kak Saras." Saras mengernyit heran tapi belum sempat bertanya lagi, nampak panggilan telpon dari Maria menggantikan notif chat dari Vino.


"Halo Madam," rupanya Maria tengah menelpon.

__ADS_1


"Saras, mungkin aku akan terlambat sampai di studio, tolong kamu urus semuanya. Aku masih ada urusan di luar," ucap Maria yang hanya didengar oleh Saras.


"Baik, Madam," sambungan pun terputus.


"Ada apa?"


"Madam akan terlambat datang. Sebaiknya kita masuk ke dalam dan memulai persiapan." Sana hanya mengacungkan jempolnya tanda setuju.


Setelah dua jam berlalu akhirnya sesi pemotretan selesai di pandu oleh fotografer advertising. Vino dan Sana terlibat dalam obrolan ringan.


"Hai, apa kabarmu Sana," Sana terdiam beberapa saat. Bukankah Vino sudah menanyakan hal itu sampai diulang tiga kali tadi dan sekarang bertanya lagi.


"Apa kau tidak percaya dengan jawabanku?" Sana tertawa meledek sebab Vino terlihat aneh, tapi lucu apalagi setelah beberapa hari tidak bertemu.


"Maksudmu?"


"Kau sudah menanyakan kabarku empat kali ini, Vino!"


"Iyakah!" Vino menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya, apa kau tidak memiliki pertanyaan lain, misalnya menanyakan pacar atau teman kencan untuk malam ini," ucap Sana ceplas-ceplos yang membuat Vino meringis saja sebab malu telah menanyakan hal yang sama berulang-ulang. Terkesan bodoh nggak seh?


"Jadi kau berharap kita pergi berkencan malam ini?" ujar Vino yang tiba-tiba dipenuhi oleh perasaan gugup. Apalagi Sana, yang tadinya ingin becanda malah mendadak grogi.


"Eh, bukan maksudku, aku hanya bercanda. A- a ku tahu pasti kau akan menghabiskan malam minggu bersama kekasihmu, gitu maksudku."


"Maukah kau pergi bersamaku malam ini?" Vino tiba-tiba menggenggam tangan Sana. Bahkan tanpa sadar Sana mengangguk saja.


"Eh, kalian disini ternyata. Aku mau ambil gambar kalian berdua nih, buat profil di IG."



Bersambung....

__ADS_1


Maaf bila ada kesalahan dari segi penulisan atau apapun itu.


Jangan lupa dukungannya ya, terima kasih 😊


__ADS_2