
Prospognosia berasal dari bahasa Yunani yakni prosopon atau wajah dan agnosia penurunan kemampuan untuk mengidentifikasi.
Dikatakan mengalami penurunan kemampuan mengenali wajah, karena sebenarnya penderitanya sempat memiliki memori tentang bentuk wajah-wajah orang di masa lalu. Tapi ketika terjadi kerusakan otak, kemampuan untuk mengenali itu terus menurun dan kadang menjadi parah.
Kerusakan otak yang dialami penderita Prospognosia ini misalnya akibat jatuh dan mengalami trauma di kepala, stroke, serta penyakit degeneratif (penurunan kemampuan).
Hingga kini para ahli masih terus melakukan penelitian bagaimana mencegah dan mengobati orang-orang yang mengalami Prospognosia.
Riki mendesah pelan membaca setiap artikel yang memenuhi layar ponselnya. Kini dia berada di depan ruang seorang psikolog ternama di kota itu.
"Tuan Riki," panggil seorang perawat.
Riki masih tanpa suara masuk kedalam ruangan dan masih diikuti oleh seorang perawat.
"Tuan Riki, mari silahkan! Apakah ada yang bisa saya bantu?" sapa dokter muda itu ramah.
"Tidak usah sok formal Luh!" Dokter itu malah terkekeh mendengar ucapan dokter yang sebenarnya adalah teman lamanya. Keduanya saling berpelukan dengan hangat.
"Pras, kapan profesor Wil kembali ke Indonesia?" tanya Riki.
"Dia sudah bertolak dari Australia kemarin. Mungkin hari ini dia akan sampai di Indonesia. Memangnya kenapa? Adakah masalah pada Sana?" tanya Pras teman Riki. Mereka telah dipertemukan sejak di bangku SMA. Keduanya menjalin hubungan persahabatan yang begitu akrab. Riki baik hati dan berwatak ksatria sering menolong Prasetya saat dibuly oleh teman-temannya. Sejak itulah Pras memilih ingin menjadi seorang dokter.
Mental Prasetya begitu kuat sehingga dibuly seberapa banyak pun dia tidak down. Dan lagi yang membuat Riki heran adalah Pras tidak pernah mengubah penampilannya yang culun walau sering diejek teman-teman mereka. Tapi kali ini nampak berbeda menurut Riki.
"Pras sepertinya kau merubah penampilanmu, terakhir bertemu kau masih seperti waktu SMA." Yang ditanya malah terkekeh.
"Aku sudah berubah dua tahun yang lalu, tapi kau saja yang tidak tahu. Kemana saja dirimu? Reuni saja kau tidak hadir," ucap Pras.
"Biasalah, sedikit sibuk," jawab singkat Riki.
"Apa kau menghindari Mita mantanmu itu?" seloroh Pras yang membuat Riki mendesah.
"Jangan bahas dia. Aku tidak tertarik. Kalau kau mau, ambil saja! Aku sudah memiliki Vanka!" Sungguh wajah Riki begitu berseri ketika mengatakan Vanka.
"Terlihat jelas kau begitu mencintai wanita gendut itu," ejek Pras sambil terkekeh. Riki malah tersenyum lebar entah kenapa dia bisa mencintai Vanka sedalam itu, sulit dijabarkan dengan kata-kata.
"Itulah cinta!"
"Sepertinya kau sudah berubah menjadi pujangga!" ledek Pras diikuti gelak tawa Riki.
"Mau bagaimana lagi, aku bahkan semakin nyaman bersama Vanka, apalagi setelah dia melahirkan seorang anak untukku. Dia begitu sempurna menurutku," jujur Riki.
__ADS_1
"Wah, kau sudah menjadi seorang ayah, hebat. selamat ya, Kawan," Pras berdiri dan menarik sahabatnya, merangkulnya dan menepuk bahu sahabatnya sedikit kasar.
"Kau sendiri, bagaimana bisa kau menjadi dokter? Bukankah kau sekolah ke luar Negeri untuk meneruskan bisnis keluarga?" Kini mereka sudah duduk kembali.
"Awalnya seperti itu, tapi aku berubah haluan saat melihat ada seorang gadis," Riki mengernyit heran.
"Gadis?" Riki menautkan kedua alisnya.
"Lupakan itu, sekarang katakan kepadaku, apa tujuanmu kemari!" Pras mengalahkan topik pembicaraan. Pras tidak mungkin menceritakan pertemuannya dengan gadis yang dia anggap gila.
"Kau tentu sudah tahu masalah Sana."
"Apakah ada masalah lagi?" Sebab seingat Pras penyakit Sana sudah ditangani oleh pamannya yaitu profesor Wil.
"Entahlah, aku hanya khawatir sebab Sana terjun ke dunia modeling," lirih Riki yang sepertinya sedang dalam kekhawatiran.
"Bukannya dia menjadi TU di sebuah sekolah? Kenapa berubah menjadi model?"
"Sana dikeluarkan sebab jebakan dari seseorang. Orang itu menggunakan kelemahan Sana untuk membuat Sana dipecat dari pekerjaannya. Bahkan jika aku tidak mengetahuinya tepat waktu, mungkin Sana sudah mendekam di penjara atas tuduhan penggelapan dana sosial sekolah."
"Apa kau masih selalu mengawasi keponakanmu itu?" tanya Pras. Riki hanya mengangguk.
"Aku begitu menghawatirkan dia. Dia bahkan kadang tidak mengenali orang di sekelilingnya, lalu bagaimana dia akan menghadapi banyak orang?" Pras menghela nafas berat.
"Apa kamu pikir aku sanggup melawan Madam Eyang?" Pras kini menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Riki.
"Mau apa, Luh! Enek gua deket-deket sama Luh!"
"Aissh ... ! Pras menampol kepala Riki.
"Gua apalagi, amit-amit jabang bocah. Itu kenapa Sana bisa sama Madam Eyang?"
"Itu semua sebab Si Vino!" ucap Riki.
"Tolong cerita yang jelas dan tuntut deh jangan sepotong-sepotong gitu, biar otak gua sedikit mendapat pencerahan. Bagaimana Sana bisa mengenal Si Vino."
"Aku sendiri kurang tahu, sebab saat itu aku mempersiapkan kebutuhan Vanka untuk berobat ke luar Negeri. Dan bersamaan itu juga, mata-mata yang aku suruh untuk menguntit Sana mengalami kecelakaan, sehingga Sana luput dari pengawasan."
"Lalu!"
"Dua hari berikutnya bersamaan dengan pemecatan Sana, Vino datang ke rumah."
__ADS_1
"Untuk apa Vino ke sana?"
"Entahlah! Kata Rindi, Vino memeras Sana dengan dalih membayar hutang atas kebaikan Vino." cerita Riki mengalir begitu seperti air. Riki menceritakan tentang pertemuan Sana dan Vino yang Riki ketahui dari Rindi.
Riki juga menceritakan semua apa yang dilakukan Vino, termasuk Sana yang akan menjadi pembantu Maria, tapi oleh Maria dia malah dijadikan ambassador produk baru Maria. Riki menceritakan semuanya hingga perjalanan Vino membawa Sana kemarin.
"Bukankah menurutmu Vino memiliki perasaan terhadap ponakanmu itu?" komentar Pras. Riki pun setuju dengan ucapan Pras.
"Aku tahu, maka dari itu, aku menyuruh Vino untuk menjauhi Sana," mata Pras seketika membulat.
"Apa maksudmu? Sana bukanlah anak kemarin sore yang bisa kau atur dan kau rubah sesuka hatimu." Riki tersentak sesaat.
Bukankah kata-kata itu sama dengan apa yang diucapkan oleh Vino kemarin? Batin Riki.
"Entahlah, aku khawatir dengan kondisinya. Aku tidak mau Sana terluka lagi. Dion yang notabenenya sebagai guru saja membuatku geram. Satu sekolah menghina kekurangan Sana. Bahkan Sana dijebak begitu mudahnya. Aku tahu, Sana kesulitan mengenali wajah-wajah satu persatu orang di sekitarnya.
Lalu, apa jadinya nanti jika Sana berhubungan dengan Vino. Dan semua orang tahu tentang Sana. Apalagi dunia model pasti tidak akan lepas dari sorotan publik. Jadi satu-satunya jalan adalah meminta Vino untuk menjauhi Sana sebelum semuanya terlambat."
Riki mengingat saat itu. Dan menceritakannya kepada Pras.
"Vino, jika aku meminta sesuatu kepadamu, apakah kau mau memberikan?" Riki berterus terang.
"Tentu saja. Ini pertama kalinya kau meminta sesuatu. Katakanlah!"
"Kau seorang laki-laki kau harus memegang ucapanmu."
"Tentu saja. Aku akan memenuhinya, katakanlah."
"Jauhi Sana, aku hanya memintamu untuk berjanji, kau harus menjauhi Sana."
"Apa maksud kamu kakak ipar? Kenapa kau tega meminta hal itu?"
"Kau belum tahu apa yang terjadi kepada Sana. Jadi, aku mohon kepadamu dengan sepenuh hatiku. Lakukanlah apa yang aku minta Vino."
"Apakah aku boleh tahu apa alasannya kau melakukan hal ini. Sana bukanlah anak kemarin sore yang bisa kau atur dan kau rubah sesuka hatimu." geram Vino, tangannya terkepal kuat.
"Karna aku pamannya, tentu aku lebih tahu, mana yang baik dan mana yang buruk untuk keponakanku." Riki kini berubah dingin.
"Kau mengatakan itu kepada Vino?" Pras mengacak rambutnya sendiri.
"Aku tidak ingin Sana mendapat masalah sebab dekat dengan Vino."
__ADS_1
Bersambung....