
Pintu lift terbuka. Mike menguraikan pelukan seraya mengusap air mata Rindi yang tersisa. Untung tidak ada karyawan lain yang memergoki aksi mereka. Di jam kerja semua orang sibuk di meja masing-masing.
"Kenapa bersusah payah mengejar orang yang mengabaikanmu, jika di belakang ada orang yang mengharapkanmu." Lirih Mike
'Mungkin, karena aku sudah terbiasa diabaikan, jadi, mulai berpikir bahwa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan?' pikir Rindi yang sayangnya hanya terucap dalam hati.
"Beri aku ruang Mike!" Pinta Rindi dengan pasti. Mike hendak melangkah pergi, tertegun di antara pintu lift, kemudian berbalik kembali ke posisi semula.
"Oke! Satu minggu. Aku akan menunggu satu minggu lagi. Jika waktu itu masih kurang untukmu, kamu bisa menambahkannya. Tapi jangan salahkan aku jika seiring berjalannya waktu aku pun bisa menyerah." Bisik Mike seraya mencuri cium di pipi Rindi kemudian beralih ke bibir.
Rindi bisa merasakan sensasi berbeda kali ini. Dia merasakan getaran lembut yang menghangatkan jiwa.
"Maaf!" Ucap Mike mengelap sisa air liur di bibir Rindi.
Ada perasaan kecewa ketika Mike menghentikan aksinya. Ini bukan perasaan semestinya. Rindi kerap kali berontak jika Mike mencoba berbuat intim. Bahkan bisa berakhir dengan tendangan. Tapi entah apa yang terjadi, semakin dia kecewa dengan ketidakpekaan Faza, semakin besar pula keinginannya untuk mencoba menerima Mike.
"Apapun keputusanmu nanti akan aku hargai itu sebagai hasil dari perjuanganku selama ini."
Deg.
"Apa kamu sudah menyerah?" Tanya Rindi entah kenapa kalimat itu terlontar begitu saja.
"Bukan. Tapi seseorang telah berkata kepadaku . Biarkan hati kecilmu mengambil sebuah keputusan, tapi jangan lupa logika juga ikut disertakan. Ikuti kata hati, tapi bawa juga logika. Hati kecilku sangat menginginkan kamu. Tapi logikaku mengartikan bahwa sekuat apapun aku berusaha, jika kamu keraskan hati untuk mencintai yang lain. Apa yang bisa aku lakukan?"
Mike mengembangkan bibirnya. Sebuah senyum yang dipaksakan.
Rindi mengerti akan kesakitan Mike. Selama tiga tahun menunggu bukanlah waktu yang mudah. Rindi telah melewati itu semua dengan susah payah. Mungkin begitu juga dengan Mike.
"Mungkin memang saatnya aku menyerah." Gumam Rindi menatap punggung Mike yang kian menjauh.
✓✓✓✓
Rindi kini berada di rumah Faza. Pria itu rupanya juga tidak ada di sana.
"Kemana dia pergi?" Rindi mengingat sesuatu. Menelpon ke mansion Eyang Madam, juga tidak ada Faza di sana.
"Faza, kamu dimana? Kenapa sulit sekali menemuimu? Aku harus memastikan sesuatu."
Derrrtttt dertttt
"Mbak Sana?" Rindi tersenyum sumringah. Dia segera menggeser tombol hijau.
.......
__ADS_1
"Mbak Sana di rumah kita? Ngapain?"
"Baiklah, tunggu aku. Aku akan meluncur ke sana!"
Rindi mematikan ponsel dengan wajah berbinar. Tak perlu repot -repot mencari dimana kakaknya berada. Sebab untuk semenjak Sana menikah dengan Vino yang super sibuk itu, Rindi juga kesulitan menemui Sana. Apalagi setelah Eyang Madam meninggal. Sana yang juga ikut terlibat dalam mengembangkan BG entertainment.
"Tapi...kenapa Mas Vino kasih tahu Mbak Sana lebih dulu ya...katanya mau kasih surprise. Ah, tau ah!"
"Sekalian juga aku tanyakan keberadaan Faza." Rindi kembali mendapatkan mood booster nya. Seakan lupa apa yang dia janjikan pada Mike beberapa menit lalu.
✓✓✓✓
Sana sedang berbaring malas diatas ranjang. Dia enggan untuk beraktivitas. Apalagi badannya terasa remuk redam akibat gempuran Vino yang bertubi-tubi.
Sana sampai ngambek gara-gara Vino tidak membiarkannya bebas sedikit saja. Sampai akhirnya Vino membocorkan kepulangan Rindi kemarin.
"Bagaimana dia bisa segagah itu bila sedang lelah ya?" Kenyataan yang tak pernah dia mengerti selama menjadi istri seorang Vino.
Ketika sang suami terlihat kelelahan atau bilang kurang enak badan yang ada malah tenaganya bercinta naik seratus kali lipat.
"Enaknya ngapain ya...!ah, pamer sama Rindi aja. Kata Vino dia kan sudah pulang ke Indonesia."
Sambungan terhubung.
"Halo, Rindi Sayang! Kamu tahu, aku berada di rumah ayah lho...? Rumah ternyaman kita."
"Tentu saja menikmati waktu. Aku jadi pengangguran nih. Sini dong temenin aku . Sekalian nanti kita bikin rujak atau sekedar minum kopi."
Sana menutup panggilan setelah Rindi mengatakan setuju di ujung telepon.
"Tunggu! Di sini kan masih ada Faza." Gumam Sana kemudian turun dari ranjang. Sana mengambil ikat rambut kemudian memakainya asal.
"Bik, Bik" Panggil Sana pada art yang sengaja Vino tugaskan untuk membersihkan rumah serta mengurus segala keperluan para pekerja.
Rumah Sana ini sebelum direnovasi hanyalah bangunan rumah minimalis sederhana dengan ukuran lima kali tujuh meter persegi dengan halaman sempit disekelilingnya. Tapi Vino kemudian membeli lahan kosong di samping rumah agar bisa melebarkan bangunan. Serta bisa membuat lahan parkir sendiri.
"Ya! Ada yang bisa saya bantu, Non!" Ucap Bik Warti. Menghadap Sana.
Bik Warti merantau bersama suaminya karena tuntutan ekonomi. Bertemu dengan Vino ketika keduanya mengambil botol bekas di taman kota.
"Ini pasti untuk Faza ya, Bik!" Menunjuk nampan berisi camilan berupa buah segar dan jus.
"Iya Non. Kata Den Arjun disuruh kasih ini buat Den Faza."
__ADS_1
"Owh, Arjun masih disini Bik?" Heran Sana mengedarkan pandangan. Tapi rupanya tak menemukan apa yang dia cari.
"Baru saja keluar Non. Katanya dia ada kesibukan lain." Jawab Bibi bisa membaca gelagat Sana.
"Oke! Kalau gitu biar saya saja yang antar ini ke Faza, bibi lanjutkan pekerjaan bibi yang lain. Oke!"
Sana bergegas ke kamar dimana Faza berada. "Faza...!" Sana mengetuk pintu.
"Siapa?" Jawab Faza dari dalam.
"Faza...ini aku, Sana!"
"Cecan masuk saja. Pintunya nggak dikunci." Ucap Faza masih duduk di atas ranjang.
Pakaian yang dikenakan sudah berubah. Berganti kaos oblong dan celana rumahan. Beberapa bagian wajahnya lebam-lebam akibat tamparan Vino semalam.
"Kamu sudah baikan?" Tanya Sana ketika mendekat. Sana melihat semua yang dilakukan suaminya. Tapi kali ini dia memilih diam.
"Cecan juga marah padaku?"
"Pertanyaan jangan dibalas pertanyaan, Za!"
"Maaf, Cecan. Tapi sungguh! Bukan niatku menabraknya." Lirih Faza sambil menunduk.
Sana melongo dibuatnya, "kalau diniatkan namanya pembunuhan terencana, Za!" sungut Sana. Meski bukan dirimu, tapi itu mobilmu. Ada juga dirimu duduk di sana. Apa itu bukan bukti nyata?"
Pria itu membuang muka.
"Korbannya masih hidup. Tapi kenapa aku dihukum?"
Sana menutup matanya. Bagaimana bisa seorang yang bersalah tidak mengakui kesalahannya. Berulang kali Faza melakukan kesalahan dan semua orang memaafkan nya. Bahkan Vino tak sedikit menggunakan uangnya agar masalah Faza tidak sampai mencuat ke media.
"Cecan gak percaya padaku, Kah?"
Faza menatap netra iparnya mencoba menyakinkan.
"Faza...jangan mengelak dari tuduhan. Bersyukurlah karena mereka tidak memenjarakan dirimu."
"Itu karena Bang Vino kasih mereka uang kan?"
"Ini bukan masalah uang. Tapi masalah bagaimana kamu belajar bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan." Sana menuding Faza.
"Jangan salahkan aku dong. Salahkan juga bapak itu yang teledor. Jalan selebar itu masih saja tak mau minggir."
__ADS_1
"Fazaa...!"
To be continued