Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
party 2


__ADS_3

Disini selalu gatal. Disini!" Cup! cup cup Vino kembali mencium Sana bertubi-tubi.


"Hentikan Vino!" bariton suara yang kemudian disusul oleh bogem mentah.


"Berani-beraninya kau menyentuh Sana," nafas Riki memburu, wajahnya yang terbiasa hangat dan menenangkan, kini berubah menjadi sosok yang mengerikan. Vino mengusap bibirnya yang berdarah, bukan itu saja, ulu hatinya juga mendadak sesak sebab hantaman kepalan Riki. Dia mencoba berdiri, namun dalam sekejap kerah jasnya kembali ditarik Riki dengan kuat.


"Om! Jangan Om," Sana terisak memegang lengan Riki. Wajahnya memelas, Sana menangkupkan kedua tangannya memohon. Riki merasa iba dan sedikit menyesali perbuatannya yang diluar kendali dirinya sendiri. Tapi egonya tidak mau kalah.


"Aku sudah memperingatkan dirimu untuk menjauh dari Sana. Tapi kau tidak pernah mendengarnya. Sekali lagi aku melihat kau berbuat sesuatu kepada Sana, aku akan mencabik-cabik seluruh tubuhmu." Riki mendorong tubuh Vino hingga terpental ke lantai.


"Kau hanya bisa berhubungan dengan Sana saat pekerjaan saja." Riki mengulang kata yang pernah dia ucapkan.


"Om!" lirih Sana hampir tidak terdengar.


Vanka yang semula berada tidak jauh dari tempat kejadian, hanya diam mematung di tempat. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari seorang Riki. Suami yang lembut dan penuh pengertian, ternyata sewaktu waktu bisa berubah menjadi monster yang menakutkan.


Vanka membiarkan semuanya terjadi, tapi matanya mengawasi di sekitar. Sepertinya aman, semua orang telah berkerumun di pesta, tentu saja tidak mengetahui insiden ini.


Riki menarik tangan Sana yang sebenarnya enggan meninggalkan Vino dalam keadaan terluka.


"Kakak ip_" suara Vino tercekat di kerongkongan. Ingin hati dia membela rasa di hati yang membelenggunya, tapi dia juga takut jika salah langkah akan semakin membuat emosi Riki menjadi dan dia semakin jauh dari Sana.


"Diam! Jangan mendekat atau aku tidak bisa menahan diri lagi." potong Riki menunjuk wajah Vino. Sana hendak menolong Vino untuk sekadar membantunya berdiri, tapi tangannya di cekal kuat oleh Riki. Hati Sana bergemuruh sakit, melihat Vino terluka.


"Om, kasihan dia om," lirih Sana setengah takut. Tapi bagaimanapun hatinya tidak tega melihat orang yang diam-diam telah singgah di hatinya mencoba bangun dan menekan bibirnya yang sakit.


"Sepertinya aku harus selalu mengawasi dirimu. Sudah aku peringatkan, agar kau berhati-hati dan selalu menjaga diri. Kenapa kau ceroboh Sana. Aku memberi kebebasan kepadamu tapi bukan untuk pergaulan bebas. Sana, pria akan selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka akan berkata manis dan memabukkan karna sebagai umpan agar bisa mendapatkan mangsa. Tapi, apa? Setelah mangsa di dapat, dia akan menunjukkan wajah asli mereka. APA KAU TAHU ITU!" ketus Riki tanpa melihat ponakannya. Kini mereka berdua telah berada di teras yang berlawanan dengan tempat pesta.


"Kau perempuan Sana, dimana harga dirimu? Kau mau saja di perlakukan sesuka hati olehnya. Apakah kau tidak risih hah!" Sana hanya menunduk ketakutan, bahkan tubuhnya bergetar. Sana meremas kedua tangannya kuat.


"Sana ... maafkan Om! Om tidak mau kehilanganmu. Maaf, jika om terlalu kasar dan tegas kepadamu," Suara Riki merendah saat melihat air mata Sana yang berlinang.


"Sana juga meminta maaf, selalu membuat Om khawatir," lirih Sana hampir tidak terdengar.

__ADS_1


"Kemarilah," Riki merentangkan kedua tangannya. Sana langsung memeluk Riki dengan erat.


"Om hanya ingin melindungimu. Om tidak ingin kejadian buruk menimpa dirimu. Sudah cukup om kehilangan semua orang yang om sayang. Hanya kamu keluarga sedarah yang om miliki." Riki merenggangkan pelukannya. Menangkup kedua pipi Sana yang basah oleh air mata. Riki mengelap lembut pipi Sana, lalu mengecup kening ponakannya dengan sayang.


"Om tahu, Kamu sudah besar dan bisa menentukan sendiri langkahmu. Om hanya minta, tegaslah dalam bertindak. Kau harus kuat agar bisa menjaga diri." Sana mengangguk dan mencium telapak tangan Omnya.


"Sana janji Om! Om jangan khawatir. Sana pasti bisa menjaga diri," Riki mengangguk mengerti.


"Sudah jangan menangis lagi, tuh maskara kamu luntur," ejek Riki sambil terkekeh.


"Ini semua gara-gara Om. Om juga marah sama Vino, Sana jadi takut. Kasihan juga Vino om. Pasti bibirnya sakit kena tonjok gitu." Riki terdiam sesaat membuat Sana juga mendadak diam.


"Kamu belum mengerti apa-apa, Om berusaha melakukan yang terbaik untukmu. Om tidak mau kamu terluka lagi," lirih Riki.


Riki dulu pernah membuat Dion sampai babak belur sebab berani membawa Sana masuk ke dalam sebuah klub. Riki yang protektif langsung menyerang dan menghajar Dion. Riki juga memberikan surat perjanjian kepada Dion. Agar berpacaran dengan cara sehat tanpa ada ciuman. Alhasil Dion yang sudah dewasa tentu menginginkan pacaran yang menuntut hal intim. Memilih mendua daripada setia tapi tidak dapat apapun.


"Om, Sana akan cuci muka terlebih dahulu," Riki mengangguk dan mengusap rambut keponakannya.


"Yah!" nyaris tidak terdengar.


"Ssss...!"


"Tiger, kakak minta kamu jangan membuat gara-gara lagi setelah ini."


"Siapa yang membuat gara-gara kak, aku sungguh-sungguh dengan perasaanku," ucap Vino sedikit meninggi.


"Kalau kau sungguh-sungguh kau harus berjuang dong!"


"Cingker, apa kau meremehkan usahaku hemmh. Aku bahkan tidak menduga akan sampai bonyok begini. Aku sudah menahan diri agar tidak menemui Sana di lain jam kerja. Tapi apa? Aku selalu merasa rindu." keluh Vino. Masih sesekali berdesis.


"Harusnya Kakak bantu aku dong! Rayu suaminya biar aku diizinkan untuk menjadi pacar Sana."


"Ogah!" ketus Vanka. Padahal dalam hatinya dia juga merasa iba terhadap sang adik. Tapi dia cukup mengerti dengan alasan suaminya yang sampai tega memukul Vino.

__ADS_1


"Usaha, dan berdoa. Dan niatkan hatimu dengan benar. Jangan pacaran, tapi nikahi."


"Cepat amat!"


"Kalau nggak mau, ya sudah! Bersiaplah mengiklaskan Sana bersama orang lain jika begitu," Vanka beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Vino sendiri.


Sana menekan dadanya yang hampir saja copot setelah mendengar pengakuan Vino. Kata itu masih terngiang jelas di telinga. Dia pergi dengan hasil menguping nya. Berlari ke dalam kamar dan menutupnya rapat. Dia bersandar pada pintu yang tertutup dengan nafas memburu dan dada berdetak kencang.


"Owh, tidak! Aku akan mati muda jika begini terus." pipi Sana merona.


Tak berapa lama terdengar ketukan dari luar. Sana segera mengatur pernafasannya.


"Kak, ini Rindu mau masuk!" Sana segera memutar handel pintu dan belum sempurna pintu terbuka, Rindi menyelonong masuk tanpa permisi.


"Aku sebel sama orang itu! Dasar bule setengah mateng." Rindi langsung melemparkan bokongnya di kasur empuk kamar Sana.


"Hai, gadis! Seenak jidatnya saja kamu ya! Datang tak diundang tak tahu aturan. Pakai asal nyelonong saja."


"Aku lagi sebel ya, please deh! Jangan buat aku semakin murka. Atau kakak juga akan aku kutuk sama seperti SI BUSEM ituh," teriak Rindi.


Sana mendekati Rindi dan duduk di samping adiknya.


"Coba deh, tarik nafas dulu, dan hembuskan!" Habis itu kamu cerita, ada apa?"


Rindi belum bercerita, terdengar suara handel pintu di putar oleh seseorang. "Kan pasti dia mengikuti ku sampai kemari. Aku akan membuat perhitungan dengan dia," Rindi bangun dari duduknya dan menuju pintu dengan tangan terkepal.


"Rasakan ini,"


"Hai ja_"


Hufft hampir saja.


**Bersambung....

__ADS_1


Nah siapa loh yang baru datang**.


__ADS_2