
Untuk sejenak Rindi merasakan dekapan hangat dari Mike. Nyaman dan terlindungi menguasai hati.
"Rindi, kamu boleh marah padaku, boleh pergi dariku tapi setidaknya pikirkan keselamatanmu. Apa kamu ingin melihatku mati binasa karena sesuatu yang terjadi padamu? Hah! Apa kamu tidak berpikir separuh hidupku ada bersamamu?" Dengan sedikit kasar Mike menyentak tangan Rindi.
"Mike!"
"Diam! Cukup Rindi. Tahukah kamu bagaimana perasaanku ketika melihatmu tadi? Aku hampir tak bernafas Rindi jantungku hampir saja berhenti berdetak."
Mike menarik tangan Rindi menuju mobil.
"Duduk diam di sini." Mike menutup kasar pintu mobil. Rindi hanya diam menerima apa saja yang Mike lakukan. Bahkan sabuk pengaman rupanya telah terpasang sempurna di tubuh rampingnya.
"Mike!" lirih Rindi ingin mengatakan sesuatu. Namun melihat Mike yang hanya diam dengan nafas memburu Rindi memilih bungkam. Membuang pandangan keluar jendela.
Perasaan campur aduk merayap ke sanubari. Sejauh yang dia lakoni, Mike selalu perhatian padanya. Selalu menunjukkan rasa cinta padanya meski Rindi enggan menanggapi. Haruskah dia mencoba mencintai Mike dan melupakan Faza?
Keduanya sama-sama bungkam. Mike melajukan mobil tak tentu arah namun ketika melewati pantai di depan kuil, Mike menghentikan mobil.
Akankah dia melompat seperti yang ada dalam mimpiku tadi? Ah, tak mungkin. Bukankah disini tak ada jurang. Pikir Rindi.
Keduanya sama-sama tak keluar dari mobil meski telah berhenti beberapa menit yang lalu. Mike juga nampak enggan buka suara.
"Mike!" Akhirnya Rindi mengalah. Dia cukup merasa bersalah akan tindakannya yang kekanakan. Tapi mengapa? Bukankah dia tak menyukai Mike?
Mike mengangkat telapak tangannya. Pertanda agar Rindi diam. Ingin hati Rindi membuka pintu mobil, tapi urung sebab si pemiliknya tengah marah. Dia takut kejadian tadi terulang kembali.
Tiba-tiba dering ponsel memecah keheningan. Mike si penerima memakai handsfree kemudian menyambungkannya ke ponsel.
"Hallo...!"
.....
"Dijalan. Bersama Rindi!" Masih tak menoleh sedikitpun.
....
"Oke, akan ku tanyai dulu orangnya. Ya!"
"Zea mengajakku ketemuan. Kamu mau ikut atau...?" Ucapnya tanpa menoleh.
"Aku ikut saja."sambung Rindi setidaknya dia bisa mengucapkan terima kasih melalui ini.
.....
"I'm coming!"
"Bye...!"
"Kita mampir ke restoran Bintang." Rindi mengangguk setuju.
"Mike! Terima kasih untuk yang tadi." Mike tak bergeming. Jalanan cukup lengang namun tak merubah kefokusannya dalam menyetir.
"Mike!"
"Jangan ulangi." Pinta Mike. Rindi melihat sekilas perubahan mimik muka Mike memerah.
'Apakah dia menangis?' batin Rindi.
__ADS_1
~
~
~
Rindi dan Mike melambaikan tangan ketika melihat Zea.
"Kamu sendirian sister?" Mengedarkan pandangan karena tak melihat bodyguard untuk Zea dimanapun.
"Tuh!" Tunjuk Zea pada pria berjaket yang duduk di sebelah meja mereka. Kedua pria itupun hendak berdiri menyambut kedatangan Mike. Jelas sekali wajah keduanya nampak pias. Mike memberi kode pada mereka untuk diam ditempat.
"Brother ku, tersayang." Zea merangkul Mike kemudian beralih merangkul Rindi. "Rindi lama kita tak berjumpa. Aku merindukanmu." Zea tersenyum hangat. Matanya berbinar.
"Tumben pria itu melepaskanmu?"
"Hai...aku bukan tahanan, Mike!" Zea tahu jika saudaranya ini tengah cemburu pada Aditya yang sering mendominasi padanya. "Rindi jika kau nanti jadi istrinya, ingatkan dia pada kata-katanya hari ini."
Rindi hanya nyengir kuda. Hatinya saja dia tidak mengerti bagaimana bisa berdampingan dengan Mike.
"Aku harus mengangkat telepon penting. Kalian pesanlah dulu." Mike berdiri lalu meninggalkan mereka.
Rindi dan Zea pesan makanan. Juga memesankan makanan untuk Mike.
"Rindi...aku tahu kamu masih ragu akan kesungguhan kakakku. Dia badboy, Cassanova. Pergaulan di negeri kami sangat bebas. Tentu berbeda sekali dengan di Indonesia. Tapi ...satu hal yang kamu tahu. Dia sangat keras kepala. Jika sudah memutuskan sesuatu, akan pantang baginya menyerah."
Rindi mulai tidak nyaman. Pembahasan mengenai Mike sungguh menyita separuh hati miliknya. Dia sering merasa tak enak, tak tega lalu kesal sendiri. Sulit baginya menerima pria yang tidak hanya berhubungan dengan satu wanita. Apakah itu salah? Ditubuhnya mengalir darah wanita sejati yang tidak ingin berbagi.
"Rindi... Mike sudah berubah tiga tahun terakhir ini."
"Dalam cinta dia pria yang jujur. Rindi...bila suatu saat nanti aku pergi, tolong jaga Mike untukku. Temani dia saat kehancuran itu tiba." Kata Zea dengan wajah sendu. Tangannya menarik jemari Rindi menggenggamnya seakan meminta persetujuan. Dia membuat Rindi berjanji.
"Zeaaa...!" Rindi tercengang. Bagaimana bisa Zea berkata seolah-olah akan pergi jauh.
"Aku mohon Rindi." Mengguncang tangan Rindi. "Beri kesempatan pada Mike untuk berubah."
"Tapi Zea...!" Masih janggal dengan ucapan Zea.
"Aku mohon!"
Terpaksa Rindi mengangguk canggung.
"Kalian belum makan?" Mike memicingkan mata melihat Zea menggenggam tangan Rindi.
"Kenapa? Cemburu aku bisa menggenggam tangan calon kakak iparku?"
Mike mendengus sebal. Adiknya mulai lagi bertingkah seperti menyebalkan.
~
~
~
"Sayang, aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba turun hujan?" Sana menengadahkan tangan lewat jendela. Rintik hujan menitik perlahan.
Keduanya telah menghabiskan pergulatan panas di ranjang tadi. Rambut basah Sana belum sepenuhnya mengering sebab tidak ada hairdryer di sana.
__ADS_1
Meja kaca nampak penuh dengan piring kotor. Tentu saja mereka kelaparan. Sebab kenikmatan yang menguras tenaga.
"Baguslah!"
Ucap Vino membelai rambut Sana.
"Bagus?" Ulang Sana. Vino tengah menggulung lembut dengan jemari menciumnya kemudian mencium lagi hingga leher si empu.
"Vinooo..!"
Bathrobe bagian pundak telah terbuka oleh ulah Vino. Perlahan bibir kenyal itu mencium ceruk leher Sana.
"Vinooo...!"
"Hemmmm!" Suara berat Vino bercampur serak. Sana berada di bawah kekuasaannya. Sana kembali menarik tangannya. Menyiratkan air hujan ke wajah Vino.
"Kamu nakal ya!" Semakin mengeratkan kedua tangannya di pinggang Sana.
"Vino...hujannya mulai deras lho...!"
"Itu semakin baik!"
"Maksudmu?" Mencoba menatap wajah tampan suaminya namun kesulitan sebab Vino telah menguasai tubuh miliknya. Gelora hasrat semakin membumbung kala Vino memasukkan tangan ke dalam perut kemudian berpindah ke pusat inti.
"Vinoo!"
"Aku ingin lagi!" Suara berat bercampur serak basah. Kabut gairah telah mendominasi. Vino membalikkan badan Sana hingga menghadap pada dirinya.
Vino memposisikan diri lalu mendudukkan Sana di atas pangkuan. Meremas bokong seksi Sana pelan namun menuntut.
"Eummhhh!"
"Vinooo...! Kita harus pulang."
Sana ingat benar jika suaminya ada janji dengan kolega bisnisnya malam ini.
"Ini sudah dirumah!"
"Vino...! Eummhhhh"
Keduanya tenggelam bersama gelora cinta semakin membara. Hingga ketukan pintu membuat Sana memberontak.
"Ada orang, Vino!"
"Nggak ada tuh!"
Tok tok tok
"Vino...!" Sana mencekal pergelangan tangan Vino. "lihatlah dulu, mungkin itu sangat penting."
Vino mendengus kesal sebelum akhirnya menurut. Membuka pintu dengan malas.
"Hai...bro!"
"Kamu...ngapain kemari?"
To be continued
__ADS_1