Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Cinta


__ADS_3

Perlahan Sana memejamkan matanya, sapuan lembut nan menggetarkan segala apa yang ada pada tubuhnya, kini dia telah terbuai oleh rasa yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Darahnya berdesir tak menentu, geli dan nikmat yang membuat siapa saja melupakan segala kegundahan di hati. Rasa yang membuat siapa saja menjadi candu karenanya.


"Sa_sayang!"


"Aku mencintaimu!" bisikan lembut bagaikan simfoni surga yang memabukkan. Rasa sakit dan ngilu yang tadi dia rasakan, kini berubah rasa manis yang nikmat.


"Vi_Vino!"


"Ya! Sebutlah namaku."


pacuan lembut nan gagah membuat keduanya larut dalam gelora asmara yang mereka ciptakan. Nikmat dan penuh penghayatan. Ritme yang indah bukan? Bahkan Vino merasa terbang di awan, menjelajahi langit bersama bintang. Sungguh nikmat yang tidak ada tandingannya.


"A_Aku aku!"


"Kita bersamaan ya!" Vino yang berperan lebih agresif daripada Sana memposisikan dirinya pada tempat strategis yang menguntungkan pihak keduanya.


Dengan bodohnya Sana dibuat tidak berdaya. Hanya mengikuti apa yang dia rasa "Enak."


"Ahhhh!" tumbang sudah keduanya dengan posisi masih sama. Sana memeluk erat Vino yang masih setia berada di atasnya.


"Terima kasih Sayang," ciuman lembut pertanda bahwa datanglah kepuasan. Akhirnya, pagi pertama telah terlewati. Masih di posisi yang sama.


"Bisakah kau jangan diatasku terus? Aku merasa sesak." Sana sudah merasa tidak nyaman. Vino terkekeh karenanya.


Cup


Cup


Cup


"Habisnya enak di sini. Hangat! Nanti lagi ya!"


menggulingkan tubuhnya ke samping Sana.


"Vinoooo."


✓✓✓


"Bagaimana? Apakah diangkat?" tanya seseorang yang kini berada di sebuah ruangan rapat.


"Maaf! Tapi sepertinya Tuan sedang sibuk. "Tentu saja sibuk, mereka lagi buat kue molen." batin Arjun dengan senyum penuh misteri.


"Lalu bagaimana dengan berkas ini?" Dialah Mike yang sudah membuat janji jauh-jauh hari dengan Vino. Tapi nyatanya janji itu dilalaikan oleh Vino.


"Bos baru saja menikah. Jadi, kemungkinan Bos menghabiskan waktu bersama dengan istrinya."


"Kenapa tidak bilang dari tadi?" kesal Mike.


"Kamu nggak nanya."


"Siapa yang jadi istrinya?"


"Nona Sana!"

__ADS_1


"Apa! Kenapa tidak bilang?" Mike berteriak, membuat Arjun heran. "Kapan mereka menikah?"


"Kemarin! Kenapa? Cemburu? Si bos punya pasangan lebih dahulu daripada kamu?"


"Dasar Vino. Kenapa dia tidak mengabari kami para sahabatnya?" Geram Mike. Sebenarnya dia juga menyimpan sesuatu terhadap wanita yang bernama Sana itu. Entah bagaimana ceritanya, tapi setiap Vino menyukai seseorang, dia pun akan menyukai orang itu juga.


"Jangan bilang Kamu akan merebut Nona Sana seperti yang Kamu lakukan kepada Sima dahulu." tebak Arjun. Mike diam dan membenarkan tuduhan itu.


"Tapi Sima yang menggodaku waktu itu. Lagian, Sima bukanlah gadis yang baik. Bahkan dia mau naik ke ranjangku dengan senang hati."


"Coba saja kau lakukan itu pada Nona Sana, Aku yakin sekali, kematian pasti akan langsung menghampiri dirimu."


"Aku tidak tertarik dengan istri orang!" sungut Mike. Biar bagaimanapun kagumnya terhadap Sana, dia tidak mungkin menyukai istri orang. Gengsi dong, para gadis saja antri melemparkan tubuhnya pada Mike. Lalu untuk apa mengejar istri orang.


"Terserah!" Arjun menggidikkan bahu acuh.


"Hai, mau kemana? Tanda tangani ini?" Mike menyodorkan berkas itu lagi.


"Aku tidak berani kalau mengambil keputusan tentang proyek yang itu." ucap Arjun.


"Telpon bosmu itu. Aku harus terbang ke Kanada malam ini, aku tidak bisa menunggu lagi."


"Tidak bisa, ponselnya mati."


"Dimana posisi Bosmu?"


"Ada di hotel Maharani."


Mike mengambil berkas miliknya kemudian bergegas menuju alamat yang dia dapatkan. "Tahu begini, aku tidak menyetujui perjanjian kontrak itu." gerutu Mike.


Dengan sudah payah, akhirnya Mike sampai di sebuah hotel tempat Vino dan Sana berada. Dengan terburu-buru, Mike memasuki lift. Beberapa saat menunggu lift tak kunjung sampai. Bahkan saat di tengah, Lift itu mendadak mati.


"Kenapa bisa mati?" Mike memencet tombol itu berulang kali.


"Hai, nanti malah rusak akibat ulahmu itu." teriak gadis yang dari tadi fokus pada ponselnya.


"Rindi!"


"Kau! Hai Mike. Kau kenapa bisa ada disini?"


"Ini! Gara-gara berkas ini!" menunjuk benda biru di tangannya.


Lama sekali Lift itu tidak kunjung berjalan "Kenapa harus mati segala. Shiiiiit" umpat Mike. Dia merasa kegerahan dan tidak bisa mengendalikan diri. Ponselnya pun hampir dia banting sebab tidak ada signal. "Sial Sial!"


"Hai apa yang kamu lakukan?" Rindi menutup mata, melihat Mike yang membuka dasi, dan kemudian kemejanya, bahkan mulai melonggarkan celana panjangnya. "Jangan macam-macam kamu ya." Rindi mulai bersiaga dan pasang kuda-kuda.


"Kau pikir apa? Aku kepanasan! Cepat hubungi seseorang untuk meminta bantuan." teriak Mike, tidak tahan hawa panas. Mengibaskan kemeja miliknya dan membuang jas mahal miliknya. Rindi menelan ludah dengan susah payah karena disuguhkan oleh roti sobek yang membuat otaknya berkelana.


"Kau! Hai Rindi!"


"Hah! Kau ingat namaku?" tanya Rindi dengan bodohnya. Bukankah mereka memang pernah bertemu di jalan, malam saat Mike dikejar olah para preman.


"Tentu saja! Kau yang menyelamatkan aku saat dikejar para preman, terima kasih ya!" ucap Mike masih dengan tampilan seksinya.

__ADS_1


"Cepat panggil seseorang untuk menolong kita." Mike semakin kepanasan, keringat Sebasar biji jagung membanjiri tubuhnya.


"Apakah kau memang tidak tahan panas?"


"Kau pikir aku pura-pura? Atau kau pikir aku Sudi memperlihatkan tubuh seksiku ini padamu dengan gratis hah?"


"Gratis pun aku tidak sudi!"


"Tidak sudi, tapi sampai ngilêr begitu lihatnya!" ejek Mike dengan tersenyum devil.


"Mana ada!" spontan mengusap bibirnya. Rindi sebenarnya memang terpesona oleh badan kekar nan menggoda itu.


"Beneran tidak tertarik?"


"Hai, kau mau apa?" melihat Mike semakin melangkahkan kakinya mendekat. "Menjauh dariku" Rindi yang jago bela diri itu, mendadak amnesia. Bukankah dia bisa melawan?


Brakkk


"Kalian tidak apa-apa?" dalam posisi yang salah begini kenapa pintu lift bisa terbuka? Ternyata teknisi sudah selesai menjalankan tugasnya. Pintu lift itupun kembali berfungsi. Mike segera memungut kemejanya. Lalu memakainya dengan cara yang keren. Berjalan dengan tegap dan gagah sambil mengancingkan kemejanya.


"Hai, kau!"


"Apa!"


"Ini, berkasnya tertinggal." Rindi berteriak


"Bawa dan ikuti aku!"


"Wooooi!"


"Tahu begini sialnya diriku hari ini, aku akan suruh Mon saja yang datang kemari. Sepertinya aku memang harus mencari asisten secepatnya." gerutu Mike yang masih berusaha mengancingkan kemejanya.


"Hai, kau juga mau kemari?" menunjuk kamar tempat Mike berdiri, bahkan Mike sudah mengetuk pintu, setalah itu dia mengibaskan dasinya dan mulai memakai.


"Sial!" Rindi memicing matanya, melihat Mike yang kesusahan memakai dasi.


"Kenapa?"


"Tidak ada! Ketuk lagi pintunya!" gengsi juga tuh Mike.


"Sabar kali, namanya juga pengantin baru, pasti mereka lagi asyik-asyiknya berduaan." ketus Rindi.


"Wooi keluar wooi." Mike yang kesal itupun menggedor pintu.


"Kau ini, seperti rentenir saja."


Mike yang kesal membuang dasinya. "Hariku benar-benar sial hari ini." Rindi memungut dasi itu dan menarik mengalungkannya ke leher Mike dan menariknya dengan sedikit kasar.


kreeeeekkk


"Apa yang kalian lakukan?"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2