Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
DM 118


__ADS_3

"Mbak, Kak Vino, apa Kalian melihat Sawitri?"


Rindi datang dengan wajah paniknya. Dia melewatkan sesuatu.


Dia baru saja kembali dan telah menemukan tempat duduk milik Sawitri kosong. Bahkan beberapa pecahan kaca masih di bersihkan oleh pelayan.


"Sawitri dibawa sama Faza!" Vino melirik istrinya dengan senyum tipis. Dia berusaha agar istrinya tidak mengetahui jika Sawitri terluka. Sana bisa panik dan mungkin saja akan berpengaruh pada janinnya. Parno-an amat calon papah muda.


"Kemana? Dia tidak apa-apa kan?"


Sana mengacungkan jempol, dengan arti, bahwa dia juga memiliki pertanyaan yang sama.


"Kan sudah kukatakan tadi, Yang! Faza mengajaknya jalan-jalan."


Jawaban yang juga ditujukan pada Rindi.


"Benarkah? Tapi aku melihat Sawitri di gendong tadi. Apakah ada masalah?" Mike yang tiba-tiba muncul membuat Vino berpikir kembali. Alasan apa yang harus dia katakan kali ini. Tatapan Sana seolah juga tengah mengintrogasi dirinya.


"Mana, aku tahu?"


Lah, kok malah cuek? Ketiga orang itupun saling melempar pertanyaan lewat tatapan mata. Sana menggidikkan bahu acuh.


Rupanya tidak percaya begitu saja. Rindi mendekati pelayan yang tengah bersih-bersih, "apa yang terjadi dengan meja ini tadi?"


Pelayan itupun mendongak, matanya bersitatap dengan Rindi sejenak, kemudian kembali fokus pada pekerjaannya."Tadi, ada seorang perempuan yang jatuh. Namun malah memarahi anak kecil tak bersalah yang duduk di hadapannya. Bahkan memukul kepala bocah itu hingga berdarah."


Dada Rindi bergemuruh, ketika tanpa sengaja netranya menangkap warna merah pada gelas yang pecah ujungnya.


"Ini darah!" gumamnya setelah berjongkok, menyentuh ujung runcing itu dengan telunjuk.


"Faza! Ya! Aku harus menghubunginya." Rindi mencari ponsel di tasnya kemudian menghubungi seseorang. Beberapa kali dia mencoba masih saja gagal.


"Rindi!"


"Ah, Mike. Kita harus temukan Sawitri. Aku dengar dia terluka. Faza pasti membawanya ke rumah sakit."


Rindi setengah menyeret lengan pria itu dengan tergesa-gesa. Tanpa sadar, bibir Mike melengkung penuh. Tangan kanannya  kemudian terangkat ragu, ingin mengusap tangan Rindi yang berpegangan padanya. Tapi dia urungkan.


"Sayang, Tuan Mike! Kalian mau kemana?" Raga dan Risya baru saja tiba. Malam ini mereka berdua menghadiri dua acara sekaligus. Jadi, agak terlambat datang.


Raga menatap lurus pada tangan Rindi yang masih setia memegang erat lengan Mike. Ditatap sedemikian rupa, Rindi segera menjatuhkan tangan.


"Itu, Pa! Kami akan menyusul Faza. Soalnya, tadi ada yang terluka pas acara berlangsung."

__ADS_1


Raga manggut-manggut mengerti. Kesempatan itupun digunakan Rindi untuk bergegas minta izin pergi. Sedangkan Raga dan Risya masuk ke dalam.


Tamu undangan sudah mulai berkurang. Namun masih banyak yang bertahan sambil sekedar berbincang-bincang dan ngemil. Menikmati hiburan yang disuguhkan oleh pemilik acara.


"Sepertinya kita terlambat, Sayang!" Risya memoyongkan bibir.


"Aku punya ide. Bagaimana jika kita kembali saja ke rumah. Dan hari berikutnya, kita adakan pesta juga buat cucu pertama kita nanti."  Raga merasa luar biasa dengan ide dadakannya.


"Waaah, kamu juga menganggap Sana seperti anak sendiri! Terima kasih, Sayang! Tapi...karena kita sudah sampai, sebaiknya kita temui dulu yang punya hajat. Bilang saja kita sekalian pamit pulang." Raga tepuk jidat sendiri. Pikiran Risya sungguh unik. Mana ada orang pergi hajatan datang terlambat lalu pulang duluan.


Dan sesuai dengan apa yang diucapkan, Risya benar-benar menemui anak dan juga mantunya kemudian pamit pulang.


Vino kembali berkeliling untuk menyapa para tamu yang sebagian besar adalah keluarga inti serta pemegang saham Bravo Grup. Hingga datanglah Arjun. "Bisa bicara empat mata dengan Anda, Bos?"


Vino berjalan ke sudut acara. Diikuti oleh Arjun.


"Bos, wanita itu namanya Martha. Dia adalah anak dari pengusaha bar dan diskotik bernama Tuan Sarjien."


Dan satu lagi, Bos! Nona Sana sudah tahu kejadian ini. Tadi dia memintaku untuk segera mengantarnya menyusul Faza."


Vino mendesah berat. Dia berusaha agar Sana tidak tahu situasi saat ini. "Apakah Sana baik-baik saja setelah tahu kebenarannya?"


Meski di hadapannya ada Arjun, namun matanya berkeliling mencari keberadaan sang istri. Ketemu. Istrinya berdiri dengan dikelilingi beberapa tamu.


"Lanjutkan pekerjaanmu. Buat wanita itu membayar perbuatannya." Arjun mengangguk mengerti.


"Sayang!" Vino merangkul pinggang   istrinya. Dengan lembut menariknya lalu, Vino dudukkan istrinya di kursi. Tentunya setelah para tamu itu berpamitan pulang.


"Sayang...! Kenapa akhir-akhir ini sikapmu aneh?" Sana menangkap aura tak nyaman di wajah sang suami. Sesekali Vino menatap dirinya dengan tatapan yang aneh.


"Bukan kenapa-kenapa. Hanya saja...sudahlah. Kamu jangan hiraukan situasi ini. Kamu juga jangan berpikir macam-macam. Aku akan atasi semuanya. Kamu cukup baik-baik dengan baby kita, oke!" 


Vino menekuk lutut di hadapan sang istri. Tangannya terulur lembut, mengelus perut Sana yang masih terlihat rata.


"Sayang, benarkah Sawitri tidak kenapa-kenapa?" Tanya Sana lagi. Dia bukan marah. Hanya saja kecewa sebab sikap Vino terlalu berlebihan.


"Jangan di pikirkan. Faza sudah mengatasi semuanya." Sana belum puas dengan jawaban Vino. Bagaimana dia tidak cemas memikirkan Sawitri.


Keluarga Jizzy telah menganggap Sawitri sebagai bagian dari anggota keluarga.


"Sebaiknya kita susul mereka, ya!"


"Tidak boleh! Kamu harus istirahat. Kita pantau saja perkembangannya dari rumah."

__ADS_1


Jika sudah diputuskan begini, Sana bisa apa coba?


"Sayang...!"


"Sana! Jangan membantahku, Oke! Aku tidak akan membiarkanmu pergi." Menangkup kedua pipi istrinya dengan raut wajah sendu. Sana merasa jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Vino. Entah apa itu. Sana hanya berdoa semoga bukan suatu hal yang serius.


Mike dan Rindi sudah tiba di rumah sakit. Jemari keduanya bertautan. Itu semua tak sengaja Rindi lakukan hanya untuk bisa lebih cepat menemukan keberadaan Faza.


'Semoga hanya jemariku yang kau genggam dalam keadaan apapun.' batin Mike.


"Faza! Bagaimana keadaannya?" Buru-buru Rindi mendekati Faza yang duduk di ruang tunggu dengan kepala menunduk.


Mendengar seseorang menyebut namanya, Faza menengadahkan kepalanya, kemudian segera membuang muka sembarang arah.


'Apakah dia menangis.'


'Dia benar-benar menangis.'


Tampak Faza mengusap segera air mata yang hampir jatuh.


"Dia...!" Faza hanya menunjuk pintu IGD. Lampu merah menyala terang. Tanda yang di dalam masih sibuk.


"Semua akan baik-baik saja, Za!"


lirih Rindi antara rasa sesal yang amat sebab meninggalkan Sawitri sendirian di meja.


Faza mengangguk lemah. Bahkan ketika Mike memegang pundaknya, lelaki muda itu justru semakin menunduk.


Rindi cukup terperangah ketika melihat warna merah menutupi sebagian dada Faza yang sejatinya berwarna putih susu.


'Apakah separah itu?' batin Rindi ikut gelisah. Biar bagaimanapun, dia juga merasa bersalah.


"Faza...maafkan aku. Andai aku tidak meninggalkan dia sendirian."


"Tidak! Rin! Akulah yang membawa perempuan itu datang. Andai saja aku tidak mengundangnya, Witri akan baik-baik saja."


Ceklek


Pintu IGD terbuka sempurna. Seorang pria paruh baya keluar dengan masih mengenakan seragam steril hijau.


"Bagaimana kondisinya, Dok?"


To be continued

__ADS_1


__ADS_2