
Mike melepas genggamannya kemudian meloncat disapu oleh deburan ombak.
"Tidak Mike!"
"Mike!"
Gedubrakkk..."auwhhhhh!"
Rindi terbengong sendiri. Nyatanya kini dia berada di sebuah kamar dengan warna monokrom. Kamar dengan gaya eropa elegan nan mewah. Rindi pun tak terkejut. Sebab dia sudah sering melihat yang seperti ini. Tapi Rindi akui kamar ini sedikit lebih besar daripada miliknya di mansion.
Ceklek
"Ngapain kamu disitu?"
Mike baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk melilit di pinggang. Rambutnya dia usap-usap kasar dengan tangan.
Rindi menelan kasar salivanya. Sungguh ini di luar dugaan.
"Bagaimana bisa kamu berada di sana!" Dengan santainya pria itu mengulurkan tangannya.
"Ah, itu...aku!" Mike melirik selimut yang juga berserakan di lantai.
"Lain kali hati-hati." Berpikir jika Rindi mungkin tersangkut.
"Sekarang duduklah. Aku sudah siapkan makanan juga untukmu." Menarik troli makanan hingga mencapai tempat Rindi duduk.
Rindi menatap takjub pada pahatan sempurna tubuh Mike. Namun segera tersadar dan membuang wajah. "Aku temani kamu setelah ganti baju."
Semoga saja dia tidak marah aku bawa kemari batin Mike sambil berlalu.
Aku telah melihatnya beberapa kali, kenapa masih saja menggiurkan hati. Tidak Rindi. Jangan tergoda olehnya. Dia tidak hanya berhubungan dengan satu wanita saja. Kamu bisa makan hati bila bersamanya. Batin Rindi.
Teringat bagaimana pertemuan dirinya dengan Mike disaat malam itu. Malam dimana dirinya membantu Mike meloloskan diri dari kejar-kejaran orang orang jahat.
Baca bab berjudul Rindi Sakit
Mike sebenarnya memiliki sisi baik yang tak terduga. Dia seringkali berkencan dengan banyak gadis bayaran lalu berakhir di ranjang. Ya! Itu sisi terburuk yang sulit untuk diubah. Namun sisi baiknya adalah, Mike begitu mendedikasikan hidupnya untuk sang ibu.
Mike akan berubah menjadi anak yang manis jika sudah berhadapan dengan Fiona. Lalu berubah protektif serta perhatian bila bersama Zea.
"Belum makan juga?" Mike mengambil nasi kemudian melayani Rindi.
"Ayo lah! Buka mulutmu!" Mike mengangkat sendok penuh makanan sejajar mulut Rindi.
"Aku bisa sendiri, Busem!"
Mike tersenyum tipis. "panggilan kesayanganmu itu yang selalu ku rindu." Rindi mencebik.
"Bagaimana kabar Zea?"
"Dia kembali pada pria itu." lirih Mike. Wajahnya menunjukkan rasa tidak suka. "Aku disini juga karena dia. Ternyata benar. Cinta memang buta." Cerita Mike sambil menuangkan jus untuk Rindi.
"Kau sudah menjaganya dengan baik." Rindi tahu bagaimana Mike berjuang untuk kesembuhan Zea karena ulah Maya. Dan setelahnya, Aditya kembali membawa Zea. Tentu saja mereka kan suami istri.
"Sana pasti cerita padamu, kan?" Mike menebak dan itu dibenarkan oleh anggukan Rindi.
"Seluruh kerabat tahu itu."
"Keluarga Anderson selalu menjadi bahan pembicaraan." Keluh Mike.
__ADS_1
"Sebab tak mampu menandingi jadi cukup dengan membicarakannya." Mike dan Rindi sama-sama tersenyum.
"Maaf! Tadi kau ketiduran. Jadi, aku bawa saja kemari."
"Aku tahu!"
"Kamu mau pulang kemana?"
"Kak Sana?"
Mike menatap datar bola mata Rindi. "Bukan apa-apa, aku hanya ingin memberikannya kejutan seperti permintaan kakak ipar."
Mike menghembuskan nafas. Setidaknya Rindi tidak lagi mengharapkan Faza. Iya, lelaki baik itu selalu saja jadi saingan berat baginya.
~
~
"Kita mau kemana, Sayang!"
Seakan familiar dengan arah jalan yang mereka lalui. Semakin melaju mobil yang Sana kendarai, dia semakin yakin jika tempat ini adalah tanah kelahirannya. Mungkin sudah hampir empat tahun lamanya. Terakhir kali Sana berkunjung adalah sebelum kematian sang ayah.
"Ini...!" Sana menunjuk rumah yang telah direnovasi. Masih meninggalkan kesan sederhana namun lebih luas dari sebelumnya.
"Selamat datang di rumah sendiri." Bisik Vino. Sana mengernyit namun senyum manisnya tak luput dari bibir Sana.
Wanita itu mengedarkan pandangan. Kolam kecil berubah bersusun dengan banyak ikan kohi berkejaran kesana kemari. Taman kecil miliknya juga sekarang lebih banyak bunga-bunga segar bermekaran.
"Sayangnya, kita sampai di waktu kurang tepat!" Keluh Vino menatap langit mulai gelap.
"Tidak, Sayang! Ini lebih indah dari yang kamu kira!" Cahaya jingga berwarna kekuningan di ujung barat menjadi wallpaper alam yang membuat taman bunga semakin indah di pandang.
"Ya...sangat indah!" Vino menatap intens pada wajah Sana yang tersenyum manis. Pria itu sudah lega sekarang.
"Di sini lebih indah daripada senja."
"Jangan merayuku." Sana memukul manja bahu Vino. Vino semakin mengembangkan senyum. Menggenggam jemari Vino lalu mencium punggung tangan itu.
"Senja mengajarkan kita bahwa segala hal indah sifatnya hanya sementara. Senja mengajarkan pada kita, bahwa kehidupan tak selalu berjalan dengan cemerlang dan bersinar. Ada masanya gelap datang menyapa agar kau melihat indahnya mentari esok hari."
Sana mengerti apa maksud ucapan Vino. Ya...akhir akhir ini dia selalu merasa bersedih. Merasa rendah hati dan juga takut kehilangan Vino sebab belum juga dikaruniai keturunan. Dia kadang lupa bahwa semua itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
"Vino...!"
"Jangan sedih lagi."
Vino mengubah posisi keduanya. Menangkup kedua wajah Sana lalu mencium kening istrinya. "Bagaimanapun dirimu, tak akan mengubah perasaanku. Sejak aku memutuskan untuk menikahimu sejak itulah aku berjanji untuk selalu berada disisimu, menjagamu, menemanimu hingga ajal menjemput."
"Gombal!"
"Aku jujur!"
"Bohong!"
"Sungguh!"
Hening. Keduanya berpelukan.
"Kita masuk?" Bukan pertanyaan sih,lebih tepatnya ajakan. Sebab tanpa menunggu jawaban Vino membimbing istrinya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Subhana Alloh!"
"Bagaimana? Kamu suka?"
"Sangat! Ini lebih indah dari yang kubayangkan."
Rumah yang semula sederhana dengan banyak sekat. Menjelma jadi hunian istimewa bak kamar putri raja. Satu buah ranjang king size, yang di depannya ada kolam dengan lilin lilin serta kelopak bunga bertebaran.
"Sengaja aku buat seperti ini agar nampak seperti kamar sewa!"
"Pasti memakan banyak biaya!" Lirih Sana terdengar sungkan. Tapi sebenarnya dalam hati bahagia.
"Sebab itulah kamu harus membayar nya."
Belum sempat Sana menjawab tubuhnya telah melayang. Vino mengangkatnya ala bridal style melewati pijakan tengah kolam kemudian berakhir di ranjang.
"Bayaran macam apa ini Vino?" Sana tersenyum dibawah kungkungan suaminya.
"Macam ini."
Vino ******* bibir istrinya dengan lembut. Namun detik berikutnya semakin liar. Sana pun membalas permainan sang suami hingga dirinya larut bersama kenikmatan yang membuncah.
~
~
~
Mike dan Rindi kini sampai di rumah yang ditempati Vino dan Sana. Keduanya langsung menanyakan keberadaan Vino kepada penjaga rumah.
"Yah! Sudah bela-belain kudatangi duluan malah orangnya pergi. Tahu gini aku pulang ke rumah saja" Keluh Rindi sambil memaki sabuk pengaman.
"Sekarang saja kita ke rumahmu!"
Mike antusias sekali. Rindi mendengus.
"Jangan macam-macam Mike."
Terakhir kali pria itu datang berkunjung, esoknya Rindi tidak diperbolehkan kembali ke Australia.
"Hanya satu macam kok. Macam mencintaimu yang tak mengenal lelah."
Issshhhh
"Mike, aku pulang sendiri saja."
"Rindi! Aku mohon. Berikan kesempatan."
"Banyak kesempatan Mike, tapi...!"
"Tapi hatimu tidak pernah sedikitpun coba buka untukku. Kamu terlalu berharap pada cinta yang bertepuk sebelah tangan."
Rindi merasa tertampar. Nyatanya setelah sekian tahun Faza tetap saja tak bisa melihat cinta di mata Rindi.
Rindi keluar mobil dengan tergesa-gesa. Ingin hati dia lari untuk menyendiri tapi akibat pikirannya yang kusut. Tak sadar jika ada mobil dari lawan arah ketika dirinya menyebrang.
"Rindii...!"
Brakkk
__ADS_1
To be continue
......