
"Pagi!" Sapa Vino yang kini sudah rapi dengan pakaian casual. Menarik kursi untuk dirinya sendiri lalu membalikkan piring yang sudah tersedia di meja.
"Pagi Sayang! Bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak?" Yang ditanya hanya mengangguk pelan. Mulai mengoles roti dengan selai kacang yang dia sukai, lalu dia memakannya langsung menggunakan tangan.
"Jadi kapan kita akan pergi?" Vino sudah tidak sabar lagi menunggu.
Sejak semalam Vino tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tujuannya datang ke mansion Maria, adalah bertemu Sana dan membicarakan rencana pernikahan yang akan dia gelar dengan cara besar-besaran, tapi dia malah dibuat shock. Sana dan Rindi tidak ada di tempatnya. Pantas saja ponselnya begitu sulit untuk dihubungi. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, Maria yang dengan santainya mengatakan bahwa dia tahu dimana Sana berada.
"Habiskan dulu sarapanmu. Kau harus memiliki tenaga ekstra untuk menghadapi orang itu. Nanti akan aku ceritakan semuanya kepadamu. Vino patuh tanpa suara.
"Mas Vino, kamu ada di sini?" Faza nampak santai menduduki kursi di sebelah Maria. Tatapannya menelisik mulai dari Eyangnya sampai ke Vino. "Apakah sebab hilangnya kak Sana?" Selidik Faza.
"Tidak perlu sok tahu!"
"Memang tahu! Bahkan aku lebih tahu di mana mereka berada sekarang." Berbeda dengan Vino, Faza lebih memilih roti dengan telur dadar dan sedikit saos di dalamnya.
"Kau tahu semuanya?" Vino memastikan. Adiknya ini memang terkadang satu langkah lebih unggul dalam melacak keberadaan seseorang. Vino melirik Maria yang tampak elegan menikmati sarapannya tanpa terusik.
"Tentu saja! Aku harus menjaga calon kakak iparku, bukan?"
"Sampai sejauh mana?"
"Tidak!"
"Faza! Katakan!"
Meletakkan garpu dan pisau dengan tersenyum kecut, Faza mengambil air minum dan meneguknya hingga tandas.
"Katakan!" Dengan tidak sabarnya Vino meninggikan suara.
"Vin!" Maria
"Maaf Eyang Madam!" tapi hanya sebentar saja tatapannya beralih kepada Faza.
"Kak Sana adalah gadis bunga gading." Vino membelalakkan matanya. Sungguh kata itu terlalu sensitif baginya. Meski Vino mulai merasakan rasa yang pernah ada di hati beberapa tahun yang lalu saat bersama Sana, tapi kali ini dia cukup terkejut sebab Faza mengetahui semuanya.
"Gadis yang ... "
"Mas Vino pasti ingat semuanya kan? Dialah gadisnya."
Vino ingat semuanya sejak malam pertunjukan waktu itu, tapi dia tidak mengerti akan arah pembicaraan Faza.
__ADS_1
"Gadis itu sekarang berada di tempat yang tidak seharusnya. Bisa jadi kelopaknya akan gugur."
" Apa maksudmu?" Vino tanpa sadar mengingat sesuatu. Kejadian masa lalu yang membuatnya diam mematung. "Eyang, sebaiknya kita segera pergi."
Flashback
Saat itu, udara terasa basah oleh rintikan hujan yang lembut mengguyur bumi. Seorang anak laki-laki kecil duduk menyendiri sambil menekuk lututnya.
"Mengapa Daddy harus pergi? Vino tidak mau sendiri Dady." menangis lagi sambil terus menelungkup kan wajahnya ke dalam dua lutut. Cukup lama dia di posisi seperti itu, bahkan seperti tidak ada yang peduli lagi, dia sendiri dalam kesedihannya.
"Hai!" sebuah suara tidak membuat Vino kecil berubah dari posisinya. "Kau sedang bersedih ya?" ucap suara yang dia yakini sebagai suara seorang gadis. Perlahan wajah Vino terangkat.
"Kau!" gadis itu yang semula kasihan berubah cemberut. "Ternyata kau anak kaya yang sombong itu." ketus Sana, namun juga tidak pergi meninggalkan Vino yang tengah bersedih.
"Sandarkan kepalamu di sini, kau pasti akan merasa baikan." Vino menurut dan keduanya lupa akan kejadian sebelumnya, pertemuan mereka yang awalnya kurang baik.
"Maafkan aku kemarin!" (Buka bab 53 pertemuan pertama keduanya)
"Tidak apa! Meski kau sombong tapi aku tidak tega melihatmu sedih. Kata ayah, orang baik akan membantu orang lain, terutama saat mereka bersedih."
"Sok tahu kamu." malah merangkul Sana.
"Kau kurus sekali." meringsek dan semakin memeluk tubuh Sana.
"Kenapa kau menangis?"
"Papaku baru saja meninggal. Dan aku sangat marah juga sedih akan hal itu. Mereka membiarkan Papa tidur di dalam tanah."
"Itu namanya dikuburkan." Vino kecil tidak lagi menjawab, malah sibuk mengusap ingusnya.
"Kau pasti sangat sedih, tapi jangan terlalu lama, sebab dunia akan marah dan mengambil senyum kita jika terus saja bersedih. Dunia akan sempit dan terasa sesak." Vino malah tertawa dan duduk tegak.
"Darimana kau belajar merangkai kalimat seperti itu?"
"Hai, kau meledekku? Aku bicara apa adanya. Coba kau rasakan saat kau menangis pasti dadamu akan sesak. Dan setelah itu, kau tertawa seperti ini, pasti kau kini dalam keadaan baik dan dadamu terasa bebas."
Vino merenung sesaat dan mulai akting menangis lagi, kemudian tertawa.
Sekarang
"Hai Mas, kau senyum senyum sendiri seperti orang gila." Faza menepuk bahu Vino yang duduk di samping dirinya. Kini Faza tengah mengemudi untuk semua orang.
__ADS_1
"Kesambet kali Za." celetuk Saras dengan mata yang tidak lepas dari benda pilih di tangannya. Di sampingnya Maria nampak tenang dan duduk dengan anggun sambil membaca sebuah majalah.
"Diamlah, mengganggu saja." desis Vino yang merasa terganggu sebab kenangan manis tentang Sana memudar bersama tepukan Faza.
"Apa kau mengingat kebersamaan mu bersama Kakak ipar?"
"Sok tahu!"
"Memang tahu! Aku tahu semuanya. Bahkan aku tahu masa kecil kalian yang romantis. Kalian sebelumnya pernah bertemu dan saling menguatkan. Owh masa yang penuh kenangan indah." Puji Faza.
"Ya, kami dipertemukan saat Dady baru saja dimakamkan. Aku pergi dari semua orang dan menangis sendirian. Aku bahkan menyembunyikan diri dari semuanya."
"Andai aku sudah lahir, pasti kau akan aku hibur."
pletak
"Kenapa di sentil." Faza mengelus rambutnya.
"Kalau kau sudah lahir, mungkin kita bukan saudara." Iyalah, adanya Faza kan setelah Raya dan Mareno menikah, itupun tiga tahun setelah kematian ayah kandung Vino.
"Benar juga ya! Tapi sepertinya aku lebih pantas jadi anakmu ya Mas!" Dengan lancangnya Faza mengejek umur Vino secara tidak langsung.
"Hanya orang buta yang akan bilang begitu."
"Sudah-sudah. Teruskan saja ceritamu tadi Vin, biarkan si boros rupa itu sesumbar." Ternyata Saras yang sok sibuk itu kepo juga.
"Hah!"
"Teruskan yang tadi, setelah kamu ketemu Sana."
"Kami pun saling menghibur, Sana saat itu mungkin baru berusia empat tahun, gadis lucu yang energik dan pemaaf. Sebelumnya saya menghina dirinya, tapi esoknya, dia malah menjadi penghibur yang sangat manis. Dia juga bercerita, bahwa ibunya juga meninggalkan dirinya. Dan dia terlihat biasa saja saat menceritakan kepergian ibunya. Masih lugu dan belum mengerti apapun." Semua orang manggut-manggut kecuali Maria.
"Lalu, kami berteman cukup lama, sebab saat itu, aku langsung tinggal bersama Eyang di rumah yang lama. Rumah sederhana yang sekarang berubah menjadi Vila. Pertemanan beda usia yang menarik, kami saling mengejek dan sesudahnya tertawa bersama. Dia pandai bermain layang-layang. Ayahnya yang mengajarkan itu."
Bibir Vino tidak pernah berhenti tersenyum. "Eyang Kakung juga sangat bahagia, sebab Sana pandai mencampur minyak wangi. Banyak perpaduan bunga yang dibuat oleh Sana, sehingga usaha Eyang semakin meningkat." Tapi kemudian senyum itu memudar.
"Tapi ... semuanya berubah saat seorang wanita mendatangi kami. Saat itu, aku dan Sana bermain di lapangan, seorang wanita mendatangi kami, dia langsung memeluk tubuh Sana. Sana tiba-tiba menangis dipelukan wanita itu, dan memanggilnya ibu. Tapi wanita itu malah melepaskan Sana dan pergi, meninggalkan Sana yang jatuh dan terluka."
"Lalu!"
"Dia dan ayahnya pergi dan tidak pernah lagi kutemukan."
__ADS_1
Semua diam dalam perjalanan yang mereka lalui. Namun Maria, entah apa yang terjadi tiba-tiba matanya berair.
Bersambung....