Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
ingat bidadari


__ADS_3

"Hebat, ya, kalian! tidak ada yang menghargai kedatanganku," sebuah suara mampu menghentikan tawa semua orang.


"Eyang Madam," Vanka menubruk tubuh eyangnya memeluk erat seperti berpuluh-puluh tahun lamanya tidak berjumpa.


"Hai, hati-hati jalannya, lukamu masih basah, Sayang," Vanka melonggarkan pelukannya.


"Habisnya, aku bahagia banget lihat Eyang sudah berada di sini. Terakhir ketemu satu bulan lalu," Vanka pura-pura cemberut. Dialah cucu perempuan yang paling disayang.


"Cucu eyang yang paling cantik. Sekarang sudah menjadi seorang ibu. Jangan suka cemberut, dan jangan suka ngambek. Tapi Eyang salut kepadamu. Kamu bisa melewati semua ini dengan sabar," Maria mengelus kepala cucunya dengan sayang.


"Kak Saras dimana, Eyang?" Vanka jadi teringat kepada teman masa kecilnya yang masih nyaman dengan status jomlo-nya.


"Tadi di bawah sama yang lain, aku kemari juga sama ponakannya si Riki tadi," Vanka mengernyitkan dahi.


"Bagaimana bisa Sana bareng sama Eyang?" tanya Vanka heran.


"Iya, kenapa bisa, Ma?" Raya juga kepo. Setahu mereka semua, Maria tidak mengenal Sana. Tapi kenapa sekarang bisa pergi bersama. Padahal rumah mereka juga lumayan sangat-sangat jauh.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Hai, ayolah! aku hanya perlu seorang model untuk produk parfum terbaru. Jadi aku membutuhkan seorang gadis Indonesia tulen yang memiliki pesona luar biasa. Sebab parfum yang aku luncurkan kali ini, adalah hasil karya Tuan Jizzy," Mareno kini yang mendekat ke arah mamanya.


"Ma ... ! apa Mama benar-benar sudah meluncurkan parfum itu," ucap Mareno lebih menyakinkan pendengarannya.


"Itu artinya, Mama menemukan seseorang yang Mama cari selama ini?" tanya Mareno lagi. Maria hanya menggeleng.


"Entahlah, aku tidak tahu, apakah keputusan ini benar atau salah. Tapi, aku masih ingat apa yang diucapkan Eyangmu waktu itu. Jika gadis itu akan datang sendiri ke rumah. Aku langsung menyangka, jika dia adalah Sana." sinar tatapan Maria menyorotkan suatu kebanggaan tersendiri.


"Ma, aku ingin menjaga diri Mama, jangan sampai terlalu letih. Aku tahu, parfum adalah usaha turun temurun dari keluarga papa. Tapi, Kami tidak mau jika sampai Mama kelelahan. Karna mengurusnya. Kalaupun sudah tidak bisa dibenahi, baiknya kita jual saja pabrik itu." ucap Mareno.


Maria tersenyum mendengar penuturan anaknya. Maria tahu benar, apa yang pernah dialami pabrik itu, sehingga membuat keluarga mereka terpuruk. Pabrik itu bahkan menghabiskan banyak dana agar bisa bangkit kembali. Mareno dan Vino bahkan angkat tangan untuk mengelola pabrik itu.


"Sudahlah, lupakan yang telah berlalu aku seh, tetap optimis, bahwa pabrik peninggalan suamiku masih bisa berjaya seperti pada masanya. Selama seminggu kita meluncurkan produk baru, nyatanya omset kita naik dua puluh persen. Aku yakin bulan depan kita akan bisa mencapai target. Sehingga nanti kita bisa menutup hutang pabrik itu." ucap Maria.


"Ma, bagaimana kalau Mareno bayar saja hutang itu. Lalu kita tutup pabriknya. Biar Mama bisa istirahat dan bisa duduk tenang bermain dengan cucu-cucu Mama di hari tua," Mareno memberikan solusi.


"Mareno, Sayang! jangan bicara seperti itu lagi. Mama akan tetap memperjuangkan pabrik itu. Ada banyak orang yang mencari nafkah di sana. Jadi, biar bagaimanapun mama akan tetap berjuang untuk menstabilkan keuangan pabrik. Aku sudah memiliki firasat, jika kehadiran Sana, akan membuat daya beli masyarakat lebih tinggi," Maria melangkahkan kakinya mendekati Raya.

__ADS_1


"Lupakan mengenai pabrik. Aku ingin menghabiskan waktu bersama cicitku," mengambil anak Vanka dari gendongan Raya. Maria menimang cucunya dengan sayang. Dia beberapa kali mencium pipi dan seluruh wajah cucu barunya itu.


🌷


🌷


🌷


Malam menjelang acara.


Riki nampak mondar-mandir di depan istrinya "Bagaimana, Yang? katakan apa yang harus kita lakukan. Orang yang kita panggil untuk membaca ayat suci Al-Qur'an tidak bisa hadir."


Vanka tersenyum simpul menanggapi kehebohan suaminya. "Kenapa kau tidak minta ponakanmu itu yang membacanya?" jawab Vanka enteng. Riki mendadak berhenti. Tertegun sejenak lalu tersenyum penuh.


"Terima kasih, Sayang," mencium bibir dan pipi istrinya dengan gembira.


"Hai ... !"


"Kenapa tidak ngomong dari tadi?" tegur Riki.


"Sekarang, kasih aku ciuman. Biar semangat," Riki menyodorkan pipinya.


"Nggak, nggak ada, tadi sudah tuh."


"Itu aku yang kasih, sekarang gantian gih. Atau aku akan buat kamu nggak bisa keluar dari kamar ini," ancam Riki.


"Hai, puasa, Yang! puasa!" Vanka mengingatkan.


"Nggak usah menghindar. Pahala lho!" Riki menggenggam tangan istrinya.


"Iya, iya," Vanka hendak mencium pipi Riki. Tapi bersamaan itu, Riki memutar kepalanya, hingga bibir mereka bertemu. Riki menekan tengkuk Vanka agar dengan leluasa Riki bisa memperdalam ciuman kecil yang berubah menjadi *******.


"Sayang, Kamu jahat banget seh," Vanka memukul dada bidang suaminya.


"Tapi seneng kan? lagi yuk," mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Nggak, nggak! tamu kita sudah pada nungguin," tolak Vanka. Padahal aslinya dia memang menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya.


"Ya, sudah ayo, biar aku yang membantumu berjalan. Atau mau aku gendong," seringai nakal muncul dari mimik muka Riki.


"Jangan aneh-aneh deh," Riki semakin tergelak melihat semburat merah di pipi istrinya.


💐


💐


💐


"Acara sudah dimulai, tapi kenapa Vino belum datang juga, ya, Za," Raya nampak gelisah menunggu. Dia berulang kali menengok ke halaman rumah, berharap anaknya datang.


"Ma, kita masuk saja, yuk! lagian tamunya sudah hadir semua. Nungguin siapa lagi? Vino? kan memang sudah jadi kebiasaan tuh bocah telat melulu jika ada acara keluarga," ucap Mareno. Lalu dia masuk ke dalam sendiri membiarkan Raya tetap setia menanti kedatangan Vino.


Acara sudah dimulai, sepertinya tamu undangan juga sudah hadir semua. Raya memeriksa jam di pergelangan tangannya.


"Benar-benar ini anak. Lihat saja nanti, aku akan buat perhitungan dengannya. Aku kutuk saja dia nikah sama orang yang tepat waktu biar kebiasaannya itu berubah," sungut Raya kalau masuk ke dalam rumah.


Tak berapa lama mobil Vino masuk ke halaman rumah Vanka. Sebab kendaraan sudah penuh, akhirnya dia parkir di luar gerbang.


"Ini semua gara-gara kamu Jun. Setir mobil pakai nabrak orang segala," kesal Vino.


Mereka terlambat, sebab di jalan Arjun tanpa sengaja menabrak gerobak penjual bakso. Alhasil Arjun harus tanggung jawab. Mana ada keributan segala sebab penjual bakso ingin ganti rugi dengan jumlah melampaui kerugian sebenarnya. Sedangkan uang di dompet Arjun tidak mencukupi. Akhirnya, Arjun pergi ke ATM untuk mencairkan uang.


"Jun, suara ini," Vino menghentikan langkahnya saat suara merdu terdengar dari dalam rumah Vinka.


"Adem banget ya, Bos. Rasanya berada di masjid Nabawi," celetuk Arjun yang membuntuti si Bos.


"Sok tahu, Kamu." Vino melanjutkan perjalanannya.


"Bos misal nih, Bos punya istri suara bagus gini enak, ya, Bos. Pasti rumah terasa adem."


"Jadi inget sama gadis di taman waktu itu, Jun. Bidadari surga yang selalu menghantui hatiku."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2