
...Dan pada akhirnya, aku harus memutuskan jalan takdirku. Menggenggam masa lalu dalam kenanganku. Membiarkan semuanya berjalan bersama angin lalu....
...~Sana~...
Dua orang pria terdiam setelah mendengar kalimat yang terlontar dari mulut seorang gadis di hadapan mereka. Kedua pria itu hanya saling melemparkan tatapan tidak percaya.
"Apakah kau sungguh-sungguh mengatakannya Sayang?" Vino sulit untuk menjelaskan rasa di hatinya kali ini. Ingin teriak, menjerit bahagia atau harus jingkrak-jingkrak kesenangan. Berbeda dengan ekspresi Riki yang terlihat datar saja menanggapinya.
"Iya, jika bisa aku ingin menikah minggu depan. Bukankah kita sudah daftarkan diri ke KUA?" Sana memberanikan diri untuk mengatakan semuanya. Lega rasanya. Sana akan memutuskan menikah dengan Vino satu minggu lagi.
"Vino, tapi ingat ya, dengan satu syarat. Aku ingin pernikahan kita sederhana saja."
"Tapi ...!" cukup tercengang dengan keputusan Sana, apalagi Vino telah merencanakan sebuah pernikahan luar biasa untuk Sana.
"Vino ... aku mohon." Mata sendu Sana membuat Vino menurunkan egonya. Meski dalam hati dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran perempuan itu. Biasanya perempuan senang akan kemewahan dan memamerkannya, tapi kenapa Sana berbeda?
"Sana, apa kau sudah melupakan keinginan kau? Bukankah kau ingin sebuah pesta pernikahan yang dihiasi oleh mawar?" Vino sampai di sini mulai bisa menerka, jika Riki sepertinya telah memberikan izin atas pernikahan ini.
"Sana, tidak apa kau melakukan pesta meriah, biar Om yang mengatur semuanya. Bibimu pasti sangat senang mendengar kabar ini. Dia bahkan selalu mendesak Om untuk menikahkan kalian." Mata Vino melotot sempurna saat Riki tanpa sengaja membeberkan sebuah fakta.
Jadi selama ini Kakakku juga sudah berusaha, aku akan memberikannya hadiah nanti. batin Vino.
"Itu hanya mimpi masa kecil Om, dan sekarang aku hanya ingin bahagia bersama pasanganku." Matanya beralih menatap Vino. "Maukah kau menikahiku segera Vino."
"Hai, kau ini anak gadis, kenapa malah kau yang melamar?" ejek Riki.
"Habisnya dia diam saja dari tadi!" keluh Sana. Bagaikan tamparan keras untuk Vino.
"Ah, iya! A_aku hanya tidak menyangka bahwa ..." Tangannya menunjuk Riki tapi bibirnya sulit untuk mengatakan sesuatu.
"Terimakasih, karena kau sudah merestui hubungan ini." Vino berdiri dan merangkul Riki yang masih terduduk. Hanya sebentar.
"Aku tidak mungkin menolak keinginan keponakanku tersayang." Riki mengelus puncak rambutnya Sana. "Jaga dan buat dia bahagia."
"Itu pasti?" ucap Vino antusias. Bunga-bunga terlihat bermekaran di sekeliling Vino. Wajah tampannya kini semakin bersinar sebab senyuman yang selalu mengembang.
"Ingat! Jika sampai Sana menangis ketika bersamamu, maka jangan harap aku akan mengampuni dirimu." tatapan tajam Riki, cukup membuat nyali Vino sedikit menciut, meski Riki mengatakannya dengan santai.
__ADS_1
"Ooooom! Jangan mulai deh." Memutar bola matanya jengah.
"Aku serius, ingat itu Vino. Dan satu lagi, aku ingin kau buat pesta yang meriah untuk keponakanku."
"Tidak Om!"
"Sana! Pilih pesta atau pernikahan ini tidak akan terjadi. Om yang akan membiayai semuanya." Riki teringat akan janjinya kepada Rama bahwa dia akan membuat Sana bahagia.
"Tapi_"
"Aku tidak setuju. Ini pernikahanku. Maka aku yang akan membiayai semuanya, tanpa terkecuali. Kau pikir aku ini miskin apa?" Vino tidak terima, memotong ucapan Sana, yang terbuka rahangnya karena kalah cepat. Sepertinya mereka lupa dengan syarat yang telah Sana ajukan.
"Hai, aku sedang bicara kepada keponakan yang juga kuanggap sebagai putriku sendiri." Riki tidak ingin dibantah.
"Om, sudah Sana katakan, Sana ingin pernikahan yang sederhana."
"Baiklah, akad yang sederhana dan setelah itu, kita gelar pesta pernikahan di gedung Bravo Grup Start." Sana terbelalak
"Setuju! Dan aku akan memerintahkan kepada para koki terbaik untuk membuat sajian lezat di pesta pernikahan kalian."
"Om, Vino ka_"
"Itu hanya pelengkap saja, aku akan mengedepankan menu Nusantara dengan seratus menu yang berbeda." Riki mulai mengeluarkan ide gilanya. Mentang-mentang bisnis restorannya lagi jaya.
"Kau ini Dosen apa koki?" gurau Vino.
"Terserah apa katamu, yang pasti, katakan saja pada pihak WO bahwa hidangannya dariku. Kita rapatkan ini nanti malam. Aku akan datang ke rumah Madam." Riki mengambil ponselnya di meja dan kemudian berdiri. "Jangan lupa kabari Papa dan Mama tentang hal ini. Aku akan segera pulang dan menyampaikan semuanya kepada Vanka." ucapnya lagi, bahkan Sana yang membuka rahangnya hanya bisa melongo.
"Dia sudah pergi." Vino pindah tempat duduk dalam sekejap, membuat Sana terkejut. Seketika mulutnya rapat kembali.
"Jadi bagaimana?"
"Bagaimana apanya?" Sama berdesis sebal.
"Bukankah aku sudah me_"
"Kita adakan akad dengan sederhana saja, sesuai dengan permintaan mempelai wanita." Ucap Vino sambil memandang wajah Sana tanpa kedip.
__ADS_1
"Benar dengan sederhana? Tapi kamu dan Om tadi tidak bilang begitu." Vino tersenyum penuh arti dan Sana mulai menaruh curiga.
"Yah, kita baru saja berdamai, dia merestui hubungan kita, jadi tidak baik kalau berselisih lagi, dan sebagai calon ponakan yang baik, tentu saja aku akan mendengarkan nasehat dan saran orang yang lebih tua seperti Om Riki." ungkap Vino dengan senyum devil nya.
Benarkah seperti itu?" selidik Sana. Vino mengangguk saja, padahal di pikirannya telah tersusun banyak rencana dengan begitu matang.
✓✓✓✓
Rindi mulai menginjakkan kakinya di rumah Maria. "Kau pulang kemari?" sebuah suara membuat langkahnya terhenti. Rindi tahu benar siapa dia.
"Aku rasa, aku masih memiliki kamar di sini." ucap Rindi dengan senyum tipis.
"Kenapa kau sembunyikan semuanya dari kami?" Rindi memutar badannya, terlihat dengan jelas wajah lawan bicaranya yang dengan nama yang muncul di otaknya.
"Apa maksud Kak Saras?"
"Jangan pura-pura bodoh. Aku sudah tahu siapa kamu sebenarnya. Jadi percuma saja kau mengelak. Dan ternyata kau adalah adiknya Sana. Pantas saja kalian mirip."
"Aku tidak bermaksud, aku_ ah maksudku, aku hanya tidak mau membuat masalah ini banyak di ketahui oleh orang lain."
"Apa kau menganggap ku orang lain?"
"Kak Saras, ayolah Kak." Rindi kini mulai mendekat dan memeluknya. "Aku hanya belum siap saja mengatakan semuanya."
"Jangan diambil hati, aku hanya becanda. Kau pasti memiliki sebuah alasan untuk melakukan itu semua." Saras tersenyum manis.
"Yah, begitulah!"
"Hai, Madam bilang kau adalah putri dari Tuan Adhitama? Apakah itu benar? Tapi aku tidak pernah melihatmu?" Rindi menundukkan wajahnya sebelum menjawab.
"Mungkin saja memang aku bukan orang yang hebat seperti papa." Rindi tersenyum kecut. Bukan itu masalahnya, tapi sebenarnya, saya lebih suka berpetualang dan menghindar dari sorotan publik, juga dari relasi bisnis ayah. Dari kecil, saya telah diasuh oleh nenek yaitu Madam Flora."
"Madam Flora?" Saras mengernyitkan dahi. Rindi hanya mengangguk pelan. "Tapi bagaimana bisa kau bertemu dengan Sana?"
"Ceritanya panjang!"
Bersambung....
__ADS_1
Author kayaknya butuh sajen deh biar tambah semangat. Hehe
Terima kasih untuk para readers tercinta. Terima kasih untuk segala support dan dukungannya.