
Saat makan malam, Vino datang ke restoran milik Riki, dia juga mendatangi Riki yang kini berada di ruang kerjanya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh Kaka ipar." Jangan lupa senyum pepsodent yang ditunjukkan oleh Vino mengandung umpan.
"Ngapain kamu kemari? Tumben pakai salam segala," ketus Riki.
Vino bukannya menjawab malah mengulurkan tangannya, membuat Riki jadi semakin heran.
"Kesambet setan dari mana, Luh!" ejek Riki dengan santainya, tatapan matanya menelisik segala kemungkinan yang bisa saja dia lewatkan. Tapi nihil, sepertinya Vino benar-benar jadi anak yang sholeh hari ini.
"Belajar jadi keponakan yang baik!" Vino menggoyangkan tangannya. Mau tidak mau Riki mengulurkan tangannya juga. Akhirnya Riki pun menjabat tangan iparnya itu.
"Cepat katakan! Mau apa kau kemari?"
"Numpang makan!" ketus Vino pada akhirnya. "Pelit banget Luh jadi ipar, bukannya disuruh duduk dulu diberi suguhan dibaik-baikin malah diketusin." omel Vino yang memutar badannya menuju sofa di ruangan itu, lalu duduk dengan menumpuk paha.
"Iya, kalau iparnya tidak songong macam dirimu ituh." Meski demikian, Riki pun mengirim pesan kepada bawahannya untuk menyiapkan makan malam dan camilan untuk dibawa ke ruangannya.
"Makan malam disini saja, ya! Gua selesaikan ini sebentar nanggung cuma tinggal ini doang kok!" Riki kembali memeriksa berkas yang tinggal hanya satu itu.
"Hemmh, yang paling enak!"
Vino duduk di sofa dengan menumpuk pahanya.
"Beli sendiri!"
"Pelit!"
"Biar cepat naik haji!"
"Haji medit matinya dihimpit bumi!"
"Luh ngatain Gua?" Geram Riki, dengan tatapan yang tentu tidak bersahabat.
"Tidak!" Vino tetap saja santai. "Tapi kalau merasa ya baguslah, mungkin faktanya memang begitu!"
"Sebaiknya kamu keluar!" geram Riki.
"Tamu itu pembawa rezeki, apa kamu mau, rezekimu juga keluar bersamaku?"
Riki mendadak pusing akan tingkah iparnya, dia memijit kepalanya sebentar. "Terserah kamu!"
"Iyalah, kalau terserah orang banyak namanya hasil rapat!" jangan tanya lagi bagaimana dongkolnya Riki. Akhirnya memilih diam saja dan melanjutkan pekerjaannya.
Hening
Vino sudah mulai bosan, Riki menelisik dengan ujung matanya, mau tahu seberapa jauh iparnya itu akan tetap menunggu dirinya.
Vino berdiri dan menatap setiap detail ruangan milik Riki. Hingga matanya tertuju pada sebuah bingkai foto seorang perempuan. Vino pun berdiri danendekati bingkai foto itu, lalu mengambilnya.
"Ini foto siapa Par,"
sebutan Ipar yang disingkat menjadi "Par" kadang Vino dan Riki lakukan itu disaat acara kumpul keluarga. Jika panggilan itu yang Vino lontarkan, artinya Vino tengah bicara serius.
__ADS_1
"Itu ... ibunya Sana!" Melirik sekilas apa yang dipegang oleh Vino.
Riki kembali berkutat dengan kertas ditangannya.
"Kemana dia?" Vino dan Riki saling menatap dalam diam. "Tidak usah dijawab jika tidak berkenan!" ucap Vino meletakkan kembali foto itu di dinding.
"Dia pergi dari kami, dan pulang hanya dengan nama saja. Bahkan jasadnya pun kami tidak sempat melihat!" terang Riki kemudian.
"Siapa namanya?"
"Risya Maharani!"
deg
"Apakah nama itu sama dengan yang ada di makam keluarga kita?" tanya Vino saking penasarannya.
"Iyah, begitulah Eyang yang menyediakan tempat dan juga yang mengurus segala keperluan pemakaman kakak iparku ituh," jelas Riki.
"Apa kau percaya?"
"Maksudmu?" Menatap tajam ke arah Vino.
"Entahlah, aku seperti pernah melihat perempuan ini disuatu tempat beberapa waktu yang lalu."
"Mungkin saja hanya kebetulan sama!"
"Ya, sepertinya begitu, tapi jika dilihat dengan seksama, apakah dua orang yang serupa juga akan memiliki tahi lalat ditempat yang sama?"
Riki menghentikan kegiatannya. Dia mendekati Vino dan ikut memperhatikan foto kakak iparnya yang masih terpampang di dinding.
Belum sempat menjawab, terdengar ketukan di pintu. Ternyata pelayan datang membawa makan malam mereka berdua.
✓✓✓
"Rindi, kau kemana saja seharian ini?" Sana memergoki kedatangan Rindi yang datang dengan jaket yang nampak lusuh dan beberapa luka lebam di pipi. Juga darah yang mulai mengering di sudut bibir.
"Rindi!"
"Maaf Kak, aku jatuh dari motor!" Faza yang baru saja datang di ambang pintu menggelengkan kepalanya. Jika ditanya aktivitas apa saja yang dilakukan oleh Rindi, dialah saksi mata sesungguhnya.
Sana menghirup udara lebih banyak, seakan tidak ada kesempatan esok hari. "Aku ambilkan kotak obat, sebelum itu kau pergilah ke kamarmu dan mandi air hangat!"
"Kakak memang terbaik!" satu ciuman mendarat di pipi mulus Sana yang hanya ditanggapi dengan senyum hangat.
Kini tatapan matanya beralih pada ambang pintu, saat hendak pergi mencari kotak obat. "Kau juga baru datang Za! Kau juga terluka!" Faza mendesis rendah saat Sana menyentuh ujung bibir itu, sama persis dengan apa yang dia lakukan pada Rindi.
"Kau juga jatuh dari motor hemmh?" Jangan dikira Sana tidak curiga. Dia tidak sepenuhnya orang yang bodoh.
"Apa kakak percaya padaku?"
"Tentu! Tapi jujur tidaknya dirimu, hanya kau dan Tuhan yang tau." Sana menepuk lembut bahu Faza yang bergeming di tempat.
"Aku dari berkelahi!"
__ADS_1
Sana tersenyum lalu berbalik kembali. "Aku tahu, lain kali lebih waspada, dan jika ingin menang gemarlah berlatih. Tapi jangan memulai sebuah pertengkaran. Sebab penyelesaian dari sebuah masalah, bukanlah hal yang mudah." Dirasa cukup, akhirnya Sana berniat pergi.
"Terima kasih, Kak!"
"Aku juga berterima kasih, sebab kau menganggap diriku bermakna."
"Kau kakak perempuan yang terbaik!"
"Aku tidak suka pujian!"
"Bukan pujian, hanya sedikit ledekan, tapi kau begitu terpengaruh sepertinya!" ejek Faza.
✓✓✓
Di kamar Rindi. Suara ponsel terdengar begitu nyaring. Seketika wajah Rindi berubah tegang.
"Halo!"
Mendengarkan.
"Nona, data yang anda minta sudah saya kirimkan lewat email. Tapi maaf, setelah ini, saya tidak bisa membantu anda kembali!"
"Tidak apa! Terima kasih sebab sudah mau membantu!" Rindi menutup telepon, benda pipih itu dia remas dengan sedikit lebih kuat.
"Akan ku lupakan batasan jika kau tetap berlaku diluar batas!" tangan Rindi mengepal kuat, dia meninju meja rias hingga menimbulkan getaran pada benda mati itu.
"Rindi Sayang! Ayo sini, Kaka obati dulu lukamu!" Rindi hanya menurut.
"Rindi, lain kali hati-hati ya!"
"Hanya luka kecil Kak!"
"Hanya kamu bilang?"
"Rindi, berjanjilah padaku, untuk selalu menjaga dirimu dengan baik. Luka yang kemarin saja belum sembuh, tapi kau sudah mencari luka yang baru. Rindi, hanya kau saudara yang aku miliki. Selain Om Riki, kaulah satu-satunya orang yang paling kusayang. Jangan lagi seperti ini ya!" mengelus lembut bibir Rindi yang membengkak.
"Kakak kompres air dingin ya!" diangguki oleh Rindi.
Keduanya hening dalam pemikiran masing-masing.
"Rindi!"
"Iya kak!"
"Bisakah kau jujur kepada kakak sekarang!" Rindi menatap dalam wajah teduh Sana. Satu satunya saudara yang membuat hidupnya berwarna.
"Tentang apa?"
Sana hanya tersenyum tipis, tapi hatinya merasakan ada sesuatu hal yang begitu besar, sengaja disembunyikan oleh Rindi.
"Hanya kau yang tahu!" Rindi semakin tidak mengerti.
"Rindi, pasti ada satu hal yang kau sembunyikan dariku. Mungkin saja itu suatu hal yang besar, atau hal kecil yang mungkin akan berdampak pada hubungan kita berdua nanti. Tapi apapun itu, tolonglah jujur kepadaku."
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak