
Putri Cinta Harum semakin hari semakin terpuruk sebab tidak ada satupun yang mau bersamanya. Bahkan ikan di sungai, nampak berkumpul di kejauhan saat dirinya datang mengambil air.
Sana sudah memainkan perannya dengan begitu baik. Suara tepuk tangan. Sana menghilang lagi dibalik panggung dan digantikan oleh para penyanyi papan atas.
"Kak Saras, aku tidak melihat dia dari tadi?" Saras yang tengah asyik memeriksa ponselnya itupun mengangkat kepalanya.
"Dia siapa?"
"Di-a ya Dia. Emmh anu." Kenapa dadaku bergetar hanya menyebut namanya.
"Vino?" Sana hanya tersenyum mengangguk malu.
"Aku kira kau sudah tahu dimana dia berada. Bukankah dari tadi kau selalu mengawasi dirinya?"
Ah, malu sekali rasanya. Ternyata kak Saras juga memperhatikan diriku.
"Apakah, tadi kakak juga melihat?"
"Melihat apa?" Malu rasanya Sana mengatakan jika dirinya tengah cemburu, kala Vino duduk begitu dekat dengan mantan tunangannya.
"Wanita itu adalah bagian dari masa lalu Vino, dan setiap ada kesempatan, gadis itu juga selalu mengusik kehidupan Vino. Aku hanya berharap suatu saat Vino mendapatkan gadis baik-baik yang mencintai Vino tanpa syarat." Saras melirik wajah Sana yang terlihat memikirkan sesuatu, tapi mulutnya berkata "Amiin"
"Kira-kira apa yang dilakukan Vino di tempat itu, ya? Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu karena Frustasi, aku ingin sekali menemuinya dan mengajak Vino bicara, mungkin saja dia membutuhkan teman bebagi cerita. Tapi pekerjaan di sini begitu banyak." ucap Saras. Padahal dia hanya cukup memberi perintah dan petunjuk, semua sudah diatur oleh para kru.
"Aku akan menemui Vino!" ujar Sana.
"Ya, temukan dia dan bujuk dirinya kemari. Katakan padanya jika ini kewajibannya," Sana mengangguk setuju.
Saras kembali berselancar dengan ponselnya. Sana kemudian menyingsingkan gaunnya dengan susah payah, lalu setengah berlari menuju tempat yang ada di dalam pikirannya.
Sana berusaha mencari keberadaan Vino searah dengan kemana terakhir kali pria itu melangkahkan kakinya. Sana beberapa kali bertanya pada seseorang. Hingga kini telah sampai di lantai paling atas, yang juga dianggap sebagai lantai gedung. pesona gemerlap lampu kota terlihat indah, bagaikan hamparan bunga di taman. Langit pun nampak cerah dengan banyak bintang bertaburan.
__ADS_1
"Vino!"
Sosok itu diam mematung dengan posisi menatap lurus. Bahkan kehadiran Sana, tidak dia gubris sama sekali. Hanya ekor matanya yang melirik sekilas. Siluet tubuh Sana terlihat sebab sorot cahaya lampu.
"Kenapa kau kemari?" Masih dengan posisi semula.
"Apakah tidak boleh?"Sana semakin mendekat dan berdiri sejajar dengan Vino. Vino masih tidak bergeming, namun tidak dengan detak jantungnya.
Perasaan ini, dan debaran ini, berbeda sekali saat aku dekat dengan gadis lain termasuk Sima. Aku lebih yakin jika mungkin inilah yang dinamakan cinta.
"Semua orang menunggu dirimu, mereka ingin melihat aksi panggungmu. Aku berharap, kali ini kau tidak mengecewakan mereka."
"Apakah hanya karena itu kau kemari?"
"Bukan, sebenarnya, aku juga ingin memastikan jika kau baik-baik saja. Aku tahu bagaimana rasanya mencoba tegar dan melupakan kenangan. Aku juga terlihat biasa saja saat diputuskan oleh Dion. Tapi, tidak ada yang tahu sebenarnya hatiku begitu terluka. batin Sana
"Sana, apa menurutmu arti cinta?"
Cinta merupakan hal yang mendasar dalam hidup ini, kau harus menyematkan sebuah keyakinan di dalamnya. Meski terkadang cinta membawa bahagia bagi manusia, dan dapat pula berubah menjadi prahara. Tapi, jika kita yakin, maka cinta yang sesungguhnya akan datang membawa kebahagian. Karena cinta adalah fitrah yang dianugerahkan Allah kepada para Mahklukya."
"hemmh, menarik sekali! Apakah kau pernah yakin jika kau mencintai akan merasa bahagia?'
"Selalu!"
"Bagaimana dengan perselingkuhan?" pertanyaan Vino terdengar menyanyat hati. Bahkan Sana bisa merasakan kesedihan dan trauma yang tengah Vino lakukan.
"Manusiawi!" satu jawaban yang membuat Vino membalikkan badannya, kini Vino menatap wajah cantik Sana. Bagiamana bisa kata itu keluar dari bibir mungil Sana.
"Kau pikir, menyakiti dan mengkhianati orang lain adalah hal yang wajar?" Vino tersenyum sinis. Bagaimana bisa seseorang berpikir dangkal seperti yang Sana katakan. Benar-benar pemikiran yang bodoh.
"Tentu saja!" tegas Sana. Vino berdecak kesal karenanya. Hingga dia melangkah semakin mendekat dan membuang jarak diantara mereka.
__ADS_1
"Kau ingin aku berbuat itu kepadamu?" Vino meraih dagu Sana, dan menekannya kuat. Sana mengerjapkan matanya berulang kali, sungguh saat ini dia tidak bisa melihat dengan jelas, kemarahan yang terpancar dari wajah Vino, semua terlihat rata. Ah, sepertinya mata Sana bermasalah kembali. Sana menyadarinya seiring hembusan nafas Vino yang menerpa wajah.
"Apa yang kau lakukan Vino?" lirih Sana, namun terdengar jelas ditelinga Vino.
"Katakan kepadaku, bagaimana rasanya ketika orang yang kamu cintai ternyata bermain api di belakangmu?" Vino menatap bibir mungil Sana.
"Sakit!" lirih Sana, seiring sorot mata yang berkaca-kaca. Vino beralih menatap mata berembun itu, tekanan di dagu Sana mendadak melemah, dan akhirnya terbebas. Sana menghirup udara dalam-dalam. Kemudian terasa tangan besar itu menarik tubuhnya ke dalam pelukan.
"Sakit Vino, tapi kita bisa apa?" Sana pun teringat kekasihnya Dion, saat dirinya diputuskan dan bersamaan dengan itu pula, Sana kehilangan pekerjaan dengan tuduhan yang tidak pernah Sana lakukan, bahkan sesuatu yang tidak pernah terlintas di dalam pikirannya.
"Lalu, kenapa kau mengatakan itu tadi." Sana memberontak dan melepas pelukan Vino. Kini Sana menatap dalam-dalam wajah Vino.
"Sangat manusiawi Vino, pada dasarnya memiliki dua pilihan dalam hidupnya, memilih menjadi orang yang baik atau jahat, memilih kebenaran atau kesalahan, memilih pasangan atau selingkuhan.
Sebab, seseorang bisa berselingkuh karena merasa punya pilihan. Tapi ketika ia membuat pilihan yang salah, maka konsekuensi yang harus dihadapinya juga tak mudah. Misalnya, ketika ia malah memutuskan untuk memilih orang ketiga dan meninggalkan pasangan yang selama ini sudah lama setia padanya, maka ia harus siap nama baiknya tercemar. Padahal ketika sudah bersama seseorang, tanggung jawab utama kita padanya adalah setia padanya.
Hati yang diduakan akan terluka. Perasaan yang dipermainkan akan merana. Setiap perselingkuhan hanya akan membawa kepedihan yang mungkin sulit untuk disembuhkan. Di detik saat memutuskan untuk berselingkuh, di detik itu pula awal kehancuran sebuah hubungan bermula. Setia pada seseorang memang butuh komitmen kuat. Tapi hanya hati yang lemah yang bisa dengan mudahnya tergelincir dan tergoda untuk berselingkuh.
Semua itu sangat manusiawi, bahkan Tuhan telah menciptakan sifat itu sendiri. Kita hanya mencoba untuk menghindarinya. Dan berusaha sekuat tenaga untuk setia. Vino, ini adalah pelajaran hidup. Kau pernah diduakan, tapi dari sanalah kau akan belajar dari pengalaman. Kau akan menyadari arti sebuah hubungan dengan lebih baik lagi. Kau akan tahu, bahwa menyakiti orang lain adalah perbuatan yang keji, itu akan membuat seseorang menjadi orang yang lebih menghargai pasangan nantinya."
"Setiap pasangan, lambat laun akan mengalami sebuah goncangan. Memulai sebuah hubungan memang sangat mudah, tapi mempertahankan, itulah hal yang sulit."
"Terkadang, kita memang harus memilih Vino, menguatkan hati dan memilih menetap dengan setia, atau menjadi pecundang dengan memilih pergi."
"Aku sudah lama pergi Sana, aku sudah memutuskan itu sejak lama. Aku tidak takut dibilang pecundang, sebab memang aku sudah memilih. Bahkan sekarang aku sudah menemukan yang baru untuk melabuhkan hatiku."
"Benarkah?" Sana berusaha tersenyum meski dadanya mendadak berdenyut.
"Owh, kami di sana seperti orang gila dan kalian disini memainkan drama romantis." Keduanya terkejut dan saling melepaskan pelukan.
Bersambung ....
__ADS_1