
Sah
Sah
Sah
Ijab qobul terdengar merdu di telinga Sana, membuat bibirnya melengkung lebih lebar dari sebelumnya. Hembusan nafas lega terdengar halus keluar dari pria yang kini sudah menjadi suaminya. Semua orang menengadahkan tangannya guna memohon kepada Allah SWT agar rumah tangga Sana dan Vino langgeng dan selalu dilindungi oleh Allah SWT.
Tangan Vino terulur membuat dia reflek menciumnya. Vino beralih menarik tengkuk istrinya guna melabuhkan kecupan hangat di kening. Tidak menyangka ternyata Vino dengan gemasnya juga mencium pipi dan bibir.
"Sabar Bos, masih ada banyak waktu untuk melakukan itu." ledek Arjun yang disambut gelak tawa semua orang.
"Ngebet banget kayaknya." ejek Riyan.
"Vino hanya melirik dengan tatapan sinis dan senyum mengejek, seolah mengatakan "Diem Luh, Jomblo."
"Nggak sopan, ada orang tua juga." Riki mencibir, lain di bibir lain kenyataan, Riki juga mendaratkan ciuman di pipi istrinya, yang langsung mendapat pukulan manja dari Vanka.
"Ternyata pengen to." Sindir Vino. Riki pura-pura tidak mendengar. Tetap berulah mesra.
"Selamat ya Kak, semoga pernikahan Kak Sana dan Mas Vino langgeng, SAMAWA dan segera diberi momongan. Rindi yang diam-diam mendekat, kini sudah memeluk Sana.
"Terima kasih Rindi." Sana membalas pelukan Rindi.
"Selamat ya Mas Vino, semoga berhasil untuk nanti malam. Kalau tidak bisa, live streaming saja, aku siap membantumu." bisik Faza yang langsung mendapat tampolan dari Vino.
"Auwww!"
"Kau...!"
"Silahkan tanda tangani dokumen pernikahan ini, Mas, Mbak," pinta pegawai KUA, menyodorkan dua buku kecil berwarna merah dan hijau. Faza segera melepaskan diri dari amukan kakaknya. Tersenyum mengejek sebelum benar-benar pergi.
"Dasar!" desis Vino.
"Selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah." ucap pegawai KUA yang usianya sudah mulai senja. Langsung di aminkan oleh semua orang. "Sabar dan saling memahami, adalah kunci rumah tangga yang paling dasar, pertahankan itu." Menepuk bahu Vino dengan cara yang keren. Dokumen resmi itupun telah jatuh ke tangan dua mempelai. Fotografer sibuk mengabadikan momen tanpa di suruh.
__ADS_1
"Selamat untuk kalian berdua, semoga rumah tangga kalian langgeng." Maria mendekati mempelai, serta memberikan doa.
"Selamat Tuan Mareno, sepertinya Anda akan semakin tambah tua saja." seloroh pria paruh baya itu, yang sepertinya akrab dengan Mereno. Seakan mendoakan agar pengantin baru itu segera mendapat momongan.
"Itulah yang aku nantikan, saat dimana kita di ganggu oleh cucu-cucu yang lincah dan menggemaskan." Mareno menanggapi tahu akan maksud temannya.
"Amin!" mereka berpelukan dengan saling menepuk punggung dengan gaya yang jantan.
"Baiklah, terima kasih untuk semuanya."
"Sama-sama Mareno, putramu masih ada satu lagi, jadi kapan dia menikah?" Melirik ke arah Faza yang sejak tadi diam saja.
"Hai, biarkan dia mengelap ingusnya dulu." pernyataan Mareno membuat Faza membelalakkan mata. Tapi tidak dengan semua orang yang langsung tertawa.
"Dengarkan itu! lap ingusmu!" bisik Rindi dengan nada mengejek, cekikikan tanpa suara.
"Kau!" menuding Rindi dengan telunjuknya. Rindi hanya menjulurkan lidahnya sambil menggeser posisi ke belakang Madam Maria.
"Kalian ini, kayak anak kecil saja." tegur Maria.
βββ
Seorang wanita nampak geram saat menutup telponnya. "Keterlaluan! Bahkan tidak ada yang memberi tahu aku tentang kabar penting ini." melempar ponselnya ke meja.
"Kenapa Ma?" seorang pemuda yang melihat gelagat ibunya yang nampak kesal itupun mendekat. Sebenarnya dia tahu apa yang terjadi, tapi dia enggan untuk menunjukkan nya.
"Mama nggak ngerti dengan jalan pikiran kakakmu itu. Bisa-bisanya dia menikah tanpa memberi tahu mama! Mama ini ibu kandungnya. Kenapa saat dia menikah, tidak ada yang memberitahu sama sekali. Bahkan Si Madam sialan itu."
"Ma, Kak Sana pasti butuh waktu untuk menerima kehadiran mama. Cara mama untuk mendekatinya juga salah, mama seakan-akan merasa begitu penting. Padahal kakak selama ini tersiksa dengan sikap mama yang tidak pernah menunjukkan kasih sayang sama sekali. Aku saja tidak berani mendekati dirinya, sebab ulah Mama."
"Kenapa malah mama yang di salahin?"
"Mama nggak sadar, selama ini kami sebagai anak tidak pernah mendapat perhatian Ma. Mama hanya sibuk shopping dan hura-hura dengan teman Mama itu. Bahkan karena Mama, Rindi sampai lebih milih tinggal bersama Eyang Flora." Pria yang selama ini nampak dingin itu telah bicara banyak untuk pertama kalinya.
"Kau juga menyudutkan Mama. Kau sama saja seperti Rindi si Anak tidak tahu diuntung itu. Disuruh pulang malah ngilang. Dan saat ketemu sama saudaranya malah tidak bilang. Terus sekarang, dia sok tidak peduli sama Mama. Dan kamu, kamu juga mulai bertingkah seperti saudaramu itu."
__ADS_1
"Ma, kami semua bisa merasakan sifat mama yang tidak keibuan itu. Kami butuh kasih sayang, tapi apa? Mama sibuk dengan urusan Mama yang tidak penting itu. Dan Papa, hanya papa yang Mama urus."
"Karena itu kewajiban Mama sebagai istri. Lha ngapain mama capek-capek bayar Babysitter kalau nggak punya kerjaan?" Ari yang nampak frustasi itupun menyugar rambutnya kasar.
"Percuma ngomong sama Mama yang tidak punya hati keibuan. Mungkin surga di kakinya Mama juga sudah geser kayak kelakuan mama." Ari bersungut-sungut.
"Hai, kamu berani ya, mengatakan seperti itu? Mama sudah capek mengandung dan melahirkan juga menyusui, Mama juga mengasuh kalian."
"Iya, tapi tidak setiap hari. Mama kan sibuk ngegosip sama kaum sosialita mama yang tidak penting itu."
"Ariiiiiii ... Lama lama kamu saya kutuk jadi anak Sholeh ya. Pedes banget ngomongnya. Semoga nanti kamu jadi mantu Ustad, biar lidah kamu itu bisa ngaji, jadi kalau ngomong nggak nyelekit." melempar bantal sofa ke arah Ari.
"Ada apa ini Ma! Papa dengar lho dari bawah."
"Ini pa, Mama kesel sama semua anak-anak mereka melawan mama semua. Sana nikah nggak mengundang mama. Lha yang Rindi juga, tidak mengabari mama. Terus dia." menunjuk Ari dengan dagu. "Dia sengaja mengatai mama, dia bilang surga di bawah telapak kaki mama tuh sudah geser. Dasar anak kurang asem nggak tuh!" Bukannya menjawab, malah mencium kening istrinya dengan sayang.
"Males ah!" Ari berdiri dan pergi dari sana.
"Tuhkan pa, dia malah pergi!"
"Sudahlah Ma, biarkan saja, dia mungkin butuh mendinginkan kepala setelah bicara sama mama."
"Menurut papa, Mama ini bikin orang lain kepanasan gitu?" pria itu duduk sambil merangkul pundak istrinya.
"Lha buktinya, Mama mampu mencairkan hati papa yang lama membeku" Risya bingung mau menanggapi ucapan suaminya. Hingga beberapa menit kemudian suara tawa Ari terdengar.
"Pikir ma, itu gombalan apa ledekan!"
"Ariiiiiii... !"
**Bersambung....
Bang Ari, bang Ari, kayaknya Ari juga bakal hadir deh di Novel lain, tapi kapan ya.... entahlah, setelah sajen Author terpenuhi pokok e
Ayo dong tumbalkan dukungannya, biar tambah semangat Author.
__ADS_1
terima kasih untuk pendukung setia author yang tidak bisa author sebutkan satu persatu. love you allππ**