
Hari demi hari telah berlalu, semua orang telah begitu sibuk mempersiapkan pre-launching parfum terbaik milik Pembesar dan Komisaris BG siapa lagi jika bukan Madam Maria. Hampir semua orang dibuat geger oleh produk terbarunya itu. Desas desus yang beredar membuat harga parfum itu lebih mahal dari pada harga sebuah berlian.
Agenda demi agenda telah tersusun dengan rapi, begitupun saat launching produk nanti. Berharap semuanya berjalan dengan sempurna. Semua media baik offline maupun online penuh dengan promo produk milik orang nomor satu di BG.
"Saras, bukankah ini pemotretan terakhir kita selama pre-launching? Setelah ini akan kita adakan konferensi pers dan Product Launching atau Launching untuk memastikan produk kita bisa ada di pasar dan tepat sasaran dan dikenal luas oleh target market Asia. Aku yakin, strategi pemasaran produk kita kali ini bukan hanya di Asia tapi juga akan merambah ke Eropa."
"Lalu bagaimana dengan produk terbatas kita Madam?" Saras cukup ragu akan produk limited edition mereka yang hanya berjumlah lima puluh lima biji itu. Apakah dia mampu menemukan pembeli yang tepat sesuai apa yang diinginkan oleh Maria.
"Aku akan menjualnya dengan cara yang unik. Aku hanya akan menjual kepada mereka yang mampu memaknai apa arti pengabdian dan cinta. Lima puluh lima adalah jumlah dari rasa cinta yang diberikan oleh suamiku kepadaku. Dan produk yang berlabel X berjumlah 99 adalah umur dari mendiang papa Randika Jizzy dan Ramon Jizzy. Mereka berdua telah meninggal dengan jumlah umur yang sama."
"Jadi, Madam dan Tuan Besar terpaut cukup jauh," ucap Saras sambil menerawang mengira-ngira. Lupa sudah dengan pembahasan awal mereka membahas Launching Parfum.
Madam hanya mengulum senyum, geli akan tingkah Saras yang nampak mengerutkan keningnya. Mungkin Saras tidak percaya akan hitungannya sendiri. Maria bahkan semakin gemas akan perubahan wajah Saras.
"Sudah, jangan heran begitu. Hitungan yang kau gunakan sudah benar," ucap Madam semakin terkekeh.
What? Apa benar Madam dan Tuan Ramon terpaut 25 tahun. Batin Saras.
"Dua puluh lima tahun, Madam." Maria semakin melebarkan bibirnya. Melupakan sejenak pekerjaan mereka yang menguras otak dan pikiran.
"Tentu saja! Tapi cintanya kepadaku tidak membuat perbedaan itu terlihat. Dia adalah sosok yang sempurna bagiku." Maria berjalan anggun meninggalkan Saras yang masih dipenuhi rasa penasaran.
Dia ingin tahu tentang perjalanan cinta Maria dan Ramon. Hingga dia tidak menyadari jika Maria sudah menghilang dari hadapannya.
"Yah, Madam Maria pergi, sepertinya aku punya ide cemerlang untuk launching produk kedua nanti," gumam Saras semakin melebarkan bibirnya.
,🌿🌿🌿
Vino sudah berusaha sebisa mungkin untuk bersikap profesional dan terlihat biasa saja ketika berbicara dengan Sana. Beberapa kali Vino berusaha menghindar. Walau setiap mereka foto bersama, Vino masih mencuri kesempatan untuk sekedar mengobrol santai dengan Sana dan memiliki waktu bersama, sehingga rasa rindu yang membelenggu hatinya sedikit unfettered.
__ADS_1
Tapi Vino belum berani lagi untuk mengajak Sana jalan berdua sebab teringat akan janji yang dia buat kepada Riki. Kemarin saja dia tidak jadi mengajak Sana jalan berdua sebab Riki datang menjemput Sana.
Andai aku tidak berjanji saat itu, pasti hatiku tidak akan serapuh ini. Kenapa aku selalu merindukan momen-momen saat bersama dengan Sana. Batin Vino.
Seperti hari ini, Vino sengaja melakukan kesalahan berulang kali agar bisa berlama-lama dengan Sana. Beberapa hari mencoba untuk menjaga jarak, membuat hatinya semakin tidak menentu. Ada rindu dan kadang cemburu saat melihat Sana bersama orang lain.
Setelah pemotretan outdoor. Vino melihat Sana berjalan santai ke arah taman belakang Villa. Ya, kali ini pemotretan dilakukan di puncak. Tepatnya sebuah Villa yang berada di puncak.
"Apa yang dia lakukan," gumam Vino menikmati cara Sana menikmati udara sejuk pegunungan. Sana merentangkan kedua tangannya beberapa kali. Lalu sesekali berjingkrak lari-lari kecil menuju danau yang tak jauh dari taman.
"Hufft ternyata capek juga, padahal aku hanya mengikuti arahan fotografer doang!" Sana duduk sambil meluruskan kakinya di hamparan rerumputan hijau. Udara sejuk membuat surai rambutnya melambai-lambai ditiup angin.
"Iya, capek banget bahkan lebih capek dari pekerjaanku di kantor. Dan kepalaku ini, oh rasanya begitu pusing, aku bahkan merasa hampir saja terjatuh." Vino tiba-tiba saja datang dengan gaya sakit kepala yang dibuat-buat.
Sana nampak khawatir dengan keadaan Vino. Natural sekali akting Vino sampai Sana tidak tahu jika dia tengah dibodohi.
"Apa begitu sakit, apa perlu aku panggilkan dokter?"cemas Sana sambil mengusap kepala Vino. Vino merasakan nyaman yang selama ini tidak dia dapatkan dari wanita manapun entah kenapa saat berada di dekat Sana, dia begitu mudah melupakan janjinya kepada Riki.
"Bolehkah aku rebahan sejenak di pangkuanmu?" pinta Vino dengan wajah memelas.
"Tapi, Vino ... !"
"Tidak apa-apa aku tahu kok. Aku akan menahan rasa sakit ini sendiri. Maafkan ak_" belum sempat Vino menyelesaikan ucapannya, Sana menarik lengan baju Vino, meski lembut tapi berpengaruh keras bagi jantung Vino yang semakin berdetak kencang.
Vino, entah kenapa aku selalu merasa bahagia berada di dekatmu. Perasaan ini semakin hari semakin menjadi. batin Sana.
Vino menurut saja saat Sana menepuk pahanya sebagai bantal untuk Vino. "Aku akan memijit kepalamu agar sakitnya berkurang," ucap Sana mulai menekan-nekan pelipis Vino dengan jemarinya. Senyum Vino seketika mengembang.
__ADS_1
"Iya, di sebelah sini dan di sini. Rasanya berat sekali Sana," Vino merasakan pusing jika ingat akan janjinya kepada Riki. Tapi Sana, telah menjadi obat bagi rasa itu sendiri. Apakah dia boleh menjadi ingkar?
"Vino, jika kamu sakit kenapa tidak bilang dari tadi? Kau pasti banyak melakukan kesalahan sebab menahan rasa sakitmu ini ya? Kenapa tidak bilang? Bagaimana jika terjadi sesuatu kepadamu?"
Apakah kau begitu khawatir kepadaku Sana?
Vino menatap wajah Sana sejenak, tapi kemudian mengalihkan pandangannya ke danau.
"Vino, kenapa diam saja?" heran akan tingkah Vino yang sekarang berubah lebih dingin. Sana ingat betul, Vino dulu begitu hangat dan menyenangkan. Tapi sekarang sedikit berubah menurutnya.
"Ah, aku sedang menikmati pijatan mu, rasanya enak. Rasa sakit di kepalaku sudah mulai berkurang." Vino melingkarkan tangannya ke pinggang Sana.
"Vino, tolong jangan seperti ini. Bagaimana kalau ada yang melihat kita nanti?" Sana sebenarnya begitu nyaman dengan kedekatan itu. Tapi dia juga sadar jika tidak ada hubungan apapun di antara mereka berdua.
"Aku mohon Sana, biarkan seperti ini untuk sementara." Vino semakin mengeratkan pegangannya. Jangan ditanya seperti apa jantung Sana sekarang yang berdetak begitu hebat.
Beberapa waktu lamanya membuat dua insan itu larut dengan pemikiran masing-masing. Mengerti akan kedekatan mereka walau tanpa status yang mengikat keduanya. Di saat seperti itu, datanglah Arjun yang dari tadi mencari keberadaan Vino.
"Bos!"
Sana menatap ke arah sumber suara. Sedangkan Vino masih enggan berpindah posisi.
"Maaf, anda mencari siapa ya?"
"Sana, apa maksudmu?" Vino seketika mendongak membuat Sana gelagapan karenanya.
**Bersambung....
Terima kasih sudah membaca karya receh author. Semoga suka. Dan jangan lupa tinggalkan jejak**.
__ADS_1