Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Gugup


__ADS_3

Faza akhirnya keluar lagi untuk mencari Sana. "Dari mana saja, Luh, bikin repot orang saja," sungut Vino saat melihat Faza kembali dengan membawa Sana.


"Tadi aku kebelet, ya sudah aku ke toilet sebentar di anterin sama Babang Ganteng, tuh," menunjuk Arjun yang sedikit jauh di belakangnya.


What, dia bilang Arjun ganteng. Apa matanya sudah katarak? batin Vino.


"Besok kamu periksa mata gih," sungut Vino kesal. Ucapannya di tujukan untuk Sana.


"Lha, memang kenapa Mas?" pertanyaan yang di tujukan pada Vino. "Sini aku periksa dulu coba," Faza menangkupkan kedua tangannya di wajah Sana. Dia mengamati bola mata Sana, mirip sekali dengan adegan film Korea saat hendak berciuman. Bahkan Sana bisa menghirup nafas Faza.


Ini anak kecil kenapa demen banget pegang pegang seh. Heran gua.


"Eh anak kecil mau ngapain, Luh?" ucap Sana gelagapan menerima perlakuan Faza yang tanpa permisi. Beda dengan reaksi Vino yang langsung menarik paksa tubuh adiknya.


"Mau ngapain, Luh. Main nyosor saja. Jaga image ini kantor bukan tempat bordil," Vino benar benar kesal sore itu. Entah kenapa dia mendadak badmood saat Sana memuji orang lain di hadapan dirinya. Lalu merasa kesal saat Faza bertingkah sok perhatian.


"Tadi kaka bilang Sana harus periksa mata besok, aku hanya ingin memastikan apakah dia memang sakit mata atau tidak," Faza membela diri di angguki oleh Sana.


"Iya, benar mataku masih sehat saja tuh," bela Sana.


"Terserah kalian." Vino tidak bisa memberi jawaban yang masuk akal. Membuat dirinya bertambah kesal.


Kekesalan Vino masih berlanjut sampai saat pemilihan gaun di sebuah butik. Faza yang supel dan lincah itu selalu bisa menempel pada Sana. Saat Sana minta berhenti untuk jajan di pinggir jalan, hingga sekarang berada di salon kecantikan ternama di kota itu.


"Kanapa Bos mukanya di tekuk gitu kusut banget," Arjun sudah memperhatikan gerak gerik bosnya sejak Sana dan Vino bertemu di kantor. Arjun mengikuti arah tatapan Vino yang menuju kepada ruang tempat Sana di make over.


Vino menghela nafas panjang, "Tuh gadis kenapa murahan banget mau saja di pegang pegang sama Faza," Arjun mengulum senyumnya agar tidak meledak tapi, Vino sudah bisa membaca gerak tubuh bawahannya itu.


"Luh, ngetawain gua?" Vino semakin berdecak kesal melempar majalah yang hanya dia pegang sedari tadi.


"Sabar, Bos, sabar. ekhemm oke, menurut saya begini. Pandangan Faza terhadap Sana tuh kelihatan banget sebatas rasa kagum saja."


"Semua juga berawal dari kagum lalu berubah sayang dan menjelma menjadi cinta apa kau tidak tahu itu?" Vino tanpa sadar membeberkan rasa di hatinya. Arjun semakin yakin jika Vino kali ini sedang di landa cemburu.


"Cemburu, bilang Bos," Arjun tertawa lepas.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sudah bosan bekerja denganku," sinis Vino.


"Santai Bos santai," salam dua jari.


💜💝💖


Kini di rumah Madam.


Saras mondar-mandir seperti setrikaan. "Si Faza kemana saja seh, kenapa jam segini belum juga balik. Mana Sana di bawa sama dia lagi," Saras mengoceh sendiri.


"Saras, dimana Sana? kenapa dia tidak ada di kamarnya?"


"Maaf, Madam. Dia di culik sama cucu kesayangan Madam," adu Saras dengan kesal. Pasalnya dia sudah bahagia banget, karna punya teman saat di pesta nanti. Dirinya merasa cocok dengan sosok Sana yang polos dan apa adanya. Terbukti kemarin saat dia memberikan kontrak. Sana lebih memilih motor daripada mobil sungguh jawaban yang membuat Saras punya alasan untuk menyukai gadis itu.


"Owh, coba aku hubungi Si Manja itu. Belum tahu dia bagaimana rasanya di cubit online," Maria mengambil ponsel di dalam tasnya. Selang beberapa lama dia menempelkan benda pipih itu di telinga.


"Bagaimana, Madam," Saras sudah nampak gelisah.


"Nanti kita hubungi lagi. Sebaiknya kita pergi sekarang keburu telat nantinya," ucap Maria. Seperti biasa dia berjalan dengan anggun menuju mobil.


"Ayo, buruan!"


"Sudah jangan cemberut gitu, Sana pasti kembali. Kamu lama nggak punya teman tapi, kenapa sama Sana jadi mendadak ramah," Maria menelisik wajah Saras. Madam tahu benar jika Saras adalah tipe pemilih dalam berteman.


"Sana orangnya baik Madam," ucapnya antusias.


"Gadis bodoh itu, baik," Maria menaikkan kedua alisnya.


"Madam, jangan menyuruhku mencari alasan. Sebab aku juga tidak tahan untuk menanyakan alasan apa yang Madam miliki untuk menjadikan gadis itu sebagai brand ambassador produk kita," selidik Saras.


"Simpel saja, aku sedang membutuhkan tenaga gadis muda untuk melancarkan jalannya bisnis yang aku kelola. Dan apakah kau tahu, aku sangat yakin jika produk yang kita luncurkan kali ini akan meledak di pasaran."


Maria memang memiliki insting jual yang baik. Dia selalu bisa menemukan cara jitu untuk memasarkan produknya. Hanya saja memakai model dadakan seperti sekarang ini bukanlah hal yang biasa menurut Saras.


"Terserah Madam. Aku hanya merasa Madam memiliki tujuan lain," melirik sekilas raut wajah Maria.

__ADS_1


"Sepertinya, aku harus menciptakan lapangan pekerjaan baru untukmu," sindir Maria.


"Terserah Madam. Tapi aku tahu benar apa yang Madam fikirkan saat ini." tersenyum manis menatap bos dan juga tantenya itu.


"Iya, ya! aku akui aku memang ingin melihat sejauh mana aura yang dimiliki oleh gadis bodoh itu. Aku yakin kebodohannya itu akan membuat banyak orang menyukainya." Maria tersenyum tipis membuat Saras juga ikut tersenyum.


Kini, malam pesta perayaan hari ulang tahun perusahaan PT Shall itu terkesan mewah. Bunga dan pernak pernik menghiasi setiap sudut ruangan.


"Hai, Cecan! kau tidak ingin makan sesuatu?" Faza selalu mendekati Sana dimanapun dia berada. Padahal Vino sudah mewanti dirinya agar menjaga jarak aman.


"Tidak, aku sangat gugup," ucap Sana yang apa adanya. Dia juga tidak tahu, kenapa bisa sesantai ini jika bersama dengan Faza. Dia merasa memiliki saudara yang selalu siaga bersamanya.


"Pertama kali datang ke pesta, ya," Sana mengangguk membenarkan.


"Sini, pegang tanganku seperti ini," Faza menumpuk tangan Sana dan tangannya menjadi satu "Tarik nafas dan hembuskan perlahan," Sana mengikuti instruksi Faza dan benar saja, setelah melakukan itu, dia merasa baikan.


"Kalian bisa tidak bertingkah biasa saja," Vino sedari tadi memperhatikan mereka berdua jadi geram sendiri.


"Mas, aku hanya membantu dia menghilangkan rasa gugupnya," ujar Faza masih tetap memegang tangan Sana.


"Apa tanganmu ada lemnya?"


"Tidak?" Faza segera melepas tangan Sana.


"Kau, ikut aku dan jangan protes jika aku mengatakan sesuatu kepada orang lain nanti," Sana hanya mengangguk saja walau sebenarnya dia enggan harus berdua dengan Vino.


"Kita mau kemana?" Sana merasa enggan melewati beberapa orang yang menatap dirinya menggandeng lengan Vino.


"Kau akan tahu nanti." Vino juga berbisik.


"Vino sayang kau...?"


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak ya...love you all

__ADS_1


__ADS_2