Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Dilema


__ADS_3

Alunan suara merdu memenuhi isi kamar sejak sehabis isya'. Mungkin sudah menjadi kebiasaan Sana untuk membaca sebuah kitab yang begitu menenangkan setiap harinya, tapi tidak sepanjang dan begitu khusuk seperti hari ini. Sana bahkan melewatkan makan malam untuk itu. Hatinya kalut dan bingung.


"Kau selalu memendam rasa di hatimu sendiri Kak! Bahkan kau lebih memilih Tuhan untuk menjadi tempat curhatmu." Rindi yang bersandar pada pintu kamar Sana mengusap air matanya yang menetes, namun bibirnya tersenyum.


Beberapa menit yang lalu dia keluar kamar untuk makan malam, dan saat menghampiri Sana di kamar, Rindi mendapat penolakan. Dan saat Rindi kembali ternyata posisi Sana tetap sama. Sana masih mengaji.


"Apa kakakku yang cantik ini dalam masalah?" setelah melihat Sana melipat kain yang menutup kepala.


Hanya suara nafas berat yang terdengar. Sana meletakkan kain itu pada sofa, lalu melipat alas tempatnya duduk. Rindi masuk dan berjalan santai menuju ranjang.


"Aku tahu kakak sedang bimbang bukan?" Rindi sudah mendapatkan bokongnya pada pinggiran ranjang.


"Entahlah, aku tidak tahu." Gamang, tentu saja, satu sisi dia bahagia akan rasa di hati yang sebentar lagi akan dia dapatkan sepenuhnya. Tapi sisi lain dia harus melawan seseorang untuk hal itu. Dan tidak mungkin dia memilih diantara keduanya.


"Jangan pikirkan Om Riki, dia sudah setuju kau menikah." Rindi yang memang selalu bisa membaca karakter Om nya dari pada Sana.


"Tidak usah menghiburku." Sana menduga pasti hanya sebuah kalimat bualan untuk menenangkan hatinya.


"Terserah. Tapi apa yang aku katakan adalah apa yang aku lihat." Sana mencampakkan lipatan kain yang dia pegang, lalu duduk di samping Rindi.


"Kau serius?" Rindi hanya mengangguk. "Tapi dia terang-terangan menolak hubungan ini."


"Alasannya mungkin karena dia sangat menyanyangi dirimu." Rindi tahu benar bagaimana jika Sana sampai hancur untuk yang kedua kalinya. Dan jika benar dugaan Rindi, maka Riki bukan menolak hubungan itu, tapi justru berusaha mempererat ikatan keduanya.


"Semoga saja seperti itu." Ucap Sana seolah tidak yakin.


"Sudahlah, persiapkan diri dan mantapkan hati, semoga ini jalan terbaik untuk kakak." Keduanya pun berpelukan.


✓✓✓


Vino nampak diam sambil memainkan bolpoin, sesekali dia menyandarkan kepalanya pada kursi, lalu memejamkan mata. Arjun datang seperti biasa dengan map yang tidak cukup satu.


"Masih mikirin tentang ipar Luh? Sudahlah ajak saja Sana kawin lari." celetuk Arjun yang masih tidak ditanggapi oleh Vino. Bahkan kini pria itu memijat pangkal hidung. Arjun sudah tahu apa yang menimpa Vino. "Bagaimana kalau kau cari yang lain saja, mungkin memang kalian memang tidak berjodoh."


peletak

__ADS_1


Bolpoin itupun jatuh ke lantai, setelah mendarat sempurna di jidat Arjun. "Gila Luh, mau buat Gua gagar otak biar lupa sama semua tugas yang Luh berikan ha" memijat pelan tempat rasa sakit yang dia dapatkan.


"Makannya jangan sembarangan kalau ngomong." Vino ganti menjauhkan punggungnya dari kursi, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan.


"Habis, Luh dari tadi nggak fokus kerja. Banyak tanda tangan yang salah tempat. Dan akibatnya Gua yang harus membuat laporan.


"Apakah Riyan sudah datang?" bukan pertanyaan, tapi lebih tepatnya sebuah perintah untuk memanggil seseorang yang bernama Riyan untuk datang ke kantor.


"Masih dalam perjalanan." Aditya mendengus kembali.


"Berapa lama lagi?" Cerca Aditya tanpa menoleh.


"Mungkin hanya setengah jam lagi."


✓✓✓


Suasana yang begitu cerah. Namun hati Sana sepertinya mendung. Dia kini duduk di sebuah bangku taman dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kak!" Sebuah suara membuat Sana reflek mengusap kedua matanya. Rindi melihat kemana arah mata kakaknya tertuju. Sebuah pemandangan yang begitu menarik.


"Kak!"


"Aku tidak apa-apa Rindi." mengusap lagi air mata yang terjatuh. Rindi menyodorkan satu cup minuman yang dia pegang. Sana langsung meneguknya hingga habis.


"Jangan merindukan mereka yang telah tiada. Bukankah ayah pernah berkata, jika rindu berdoa saja, mungkin Tuhan akan pertemukan kita walau hanya dalam mimpi." Rindi menatap anak yang asyik mengambil bola yang menggelinding.


"Bahagianya mereka masih bersama orang tuanya."


"Bahagia adalah bagaimana cara kita menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Lihatlah anak itu, dia pun menangis meski kau menilai bahwa bersama orang tua pasti bahagia." Rindi menunjuk arah lain, dimana ada seorang anak menangis di gendongan orang tuanya.


"Tapi sebab orang tuanya juga dia tersenyum Rindi." Sana menepuk bahu adiknya. Dan kemudian mereka sama-sama tertawa.


"Ternyata bahagia ataupun tidak, keduanya sama saja." Sana tampak berpikir dalam kekalutan dan rasa pening yang mulai menyerang.


"Yah, kau benar. Apalagi dia dengan sengaja meninggalkan kita hanya untuk kemewahan." Tandas Sana. Rindi reflek memutar kepalanya dan mulai berpikir.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Rindi, kenapa aku tidak pernah percaya bahwa ibuku meninggal, karena aku pernah melihatnya. Dia tidak pergi ke surga yang sebenarnya, tapi ke surga yang berbeda dengan meninggalkan surga yang sesungguhnya."


"Bagaimana kau bicara seperti itu?" Dari nada bicara Rindi ada kekesalan.


"Aku tahu semuanya Rindi. Tahu tentang orang tuaku. Mereka anggap aku ini kecil dan bodoh. Tapi sebenarnya. Bukan!"


"Ya, ya kau memang pintar. Bahkan kau bicara yang aneh menurutku. Seolah kau menyimpan rahasia besar dan hanya kau yang tahu."


Rindi meletakkan kedua tangannya di pipi.


"Rindi ... bisakah aku bertemu ibu suatu saat nanti?" Rindi tersentak kemudian menjajarkan tubuhnya dengan Sana. Netra mereka bertemu, Rindi dengan sejuta pertanyaan dan Sana seperti seorang anak yang menginginkan permen.


"Kenapa kau ucapkan kata itu?"


"Kau sendiri pasti tahu jawabannya." raut wajah itu datar dan penuh amarah. Namun kemudian bibirnya melengkung disertai tatapan mata yang menurun dan terbuang. "Hai, kenapa mukamu tegang begitu?" Rindi menghembuskan nafasnya kasar. Mengelus sesuatu yang terpompa lebih cepat daripada seharusnya.


"Aku berpikir yang bukan-bukan tentangmu." tawa konyol Rindi.


"Kau pikir apa?"


"Sesuatu yang pernah aku lihat, dan itu membuatku takut setengah mati. Kak, apapun yang terjadi nanti, hadapi dengan berani dan jangan mengambil jalan pintas." Sana seperti anak kecil yang dimarahi bahkan dia hanya bisa mengangguk tanpa suara.


Dari arah yang tak jauh di belakang, datanglah dua orang berjaket hitam semakin mendekati mereka berdua.


"Siapa kau?" Dengan cekatan Rindi menghindar dari serangan itu. Tapi tidak dengan Sana yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.


"Apa yang kau lakukan? Kau apakan kakakku?"


Rindi pasang kuda-kuda dan berusaha melindungi Sana dengan sekuat tenaga. Satu orang telah tumbang, namun satu orang lagi masih tegap berdiri, bahkan seakan tidak merasakan kekuatan Rindi yang menggebu.


"Sebaiknya Anda menurut Nona, atau kau akan menyesal nanti." Rindi melihat satu orang lagi membawa tubuh Sana dan memasukkan ke dalam mobil.


"Hai, kalian!" Sayang sekali mobil itu sudah pergi meninggalkan Rindi bersama satu pria yang tengah menatap sinis ke arah Rindi.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2