Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Bertemu 2


__ADS_3

"Kakak!" diantara cemas dan akal warasnya, suara Rindi terdengar jelas.


Sana tidak menghiraukan panggilan itu, terus berlari dan tanpa sengaja menabrak sebuah mobil yang baru saja memasuki halaman.


"Hai, kau mau cari mati ya?"


Sana mematung di tempatnya, memegang dada yang berdebar lebih kuat sebab terkejut. Matanya otomatis terpejam, menyelami rasa sakit dan kecewa yang datang bersamaan, bukan karena pembawa mobil itu, tapi karena sebuah pertemuan yang tidak pernah dia inginkan bahkan dalam mimpi sekalipun.


"Kak Sana!" suara Rindi semakin jelas terdengar, selang tak berapa lama, sebuah tangan mendarat sempurna di pundak Sana. "Kak, kita kembali ya?" bujuk Rindi yang langsung ditolak oleh Sana.


"Aku ingin pulang Rindi, aku ingin pulang!' Entah mengapa Sana terlihat lebih rapuh dan lemah. Sedangkan pria yang berada dalam kemudi mobil itupun keluar.


"Siapa dia Rindi?" pria berparas tampan keluar dengan gaya coolnya.


"Dia kak Sana!" pria itupun terdiam dan menatap Sana dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria yang wajahnya hampir sama dengan Rindi, dan mungkin umurnya juga hampir seperantara.


"Kenapa tidak diajak masuk?" pria yang semula berwajah datar itupun kini tersenyum tipis. "Hai, kak Sana. Aku Ari," mengulurkan tangannya dengan wajah cerah ceria.


"Kak Sana, ayolah! Kita temui ibu." bujuk Rindi lagi mengabaikan Ari yang masih mengulurkan tangannya. Sana menatap nanar tangan itu, sesekali matanya menyipit dan melebar untuk bisa lebih jauh melihat paras tampan itu, sayangnya mata Sana dalam keadaan tidak baik. Bahkan wajah Rindi pun terlihat samar dia kesulitan mengenali wajah pria di hadapannya.


"Sana!" Akhirnya Rindi yang terabaikan, Sana menjabat tangan itu meski sebenarnya enggan. Dan dalam hitungan berikutnya, ganti kepala Sana yang mendadak pusing dan pandangannya semakin mengabur, setelah itu semuanya terlihat hitam.


"Kak Sana!" pekik Rindi. "Ayo bantu aku "Tanpa permintaan yang kedua kalinya, Ari membopong tubuh Sana ala bridal style. "Kenapa bisa seperti ini?"


"Kita tahukan apa yang terjadi kepada kakak kita ini?" Ari masih diam di tempat meski dengan gagahnya menggendong Sana. Hingga beberapa pelayan yang melihat hal itupun mendekat.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Salah satu pelayan menawarkan bantuan, berharap bisa melihat dari dekat wanita yang sering muncul di TV akhir-akhir ini.


"Hai, kau parkirkan mobilku dengan benar!" ucap Ari sebelum pergi dari tempatnya. Seorang berbaju hitam yang dari tadi sebagai penonton itu mengangguk hormat "Baik Tuan Muda!"


"Sebaiknya cepat kita bawa Kak Sana ke dalam." Ari berjalan tanpa suara meninggalkan halaman.


Bersamaan dengan itu, sebuah mobil mewah yang ditumpangi oleh Vino kini memasuki pekarangan. "Apa kamu yakin, Sana ada di tempat ini?"


"Ya!"


"Semoga semuanya baik-baik saja." gumam Maria yang terdengar jelas oleh telinga Vino. Ingin bertanya apa maksudnya, tapi urung dia lakukan.


"Nampak sepi!"


"Baiklah, kita turun dulu oke." Saras mulai menurunkan kakinya kemudian diikuti oleh yang lain.

__ADS_1


✓✓✓


Di tempat lain Riki tengah sibuk dengan tumpukan berkas yang baru saja diantar oleh karyawannya. Daftar pembukuan yang lumayan menyita waktu dan perhatiannya.


Tok tok tok


"Masuk!" menoleh sejenak guna melihat siapa yang datang. Lalu matanya kembali ke perhatian awal.


"Ada apa kau kemari, Pras. Tumben menemuiku di jam segini."


"Ini mengenai Sana." Riki meletakkan bolpoin yang di pegangnya.


"Aku tidak tahu kenapa, tapi dalam dua pekan ini, daya kemampuannya semakin menurun."


Prosopagnosia atau buta wajah adalah kelainan kognitif yang ditandai oleh ketidakmampuan mengenali wajah, termasuk wajahnya sendiri. Walaupun tidak memengaruhi kecerdasan dan pemrosesan visual umum lain, tapi beberapa orang dengan buta wajah juga mengalami kesulitan mengenali hewan, membedakan antara objek (seperti mobil, motor, dll), dan juga menavigasi. Selain tidak mengenali atau mengingat wajah, seseorang dengan prosopagnosia mungkin juga mengalami kesulitan mengenali ekspresi dan mengidentifikasi usia serta jenis kelamin.


Beberapa orang dengan prosopagnosia menggunakan beberapa strategi dan cara untuk menyiasati buta wajah. Sebenarnya mata mereka berfungsi normal dalam kehidupan sehari-harinya, kecuali untuk hal-hal tertentu. Kebanyakan penderitanya biasanya merasa lebih sulit ketika mengalami kecemasan, depresi, dan ketakutan akan situasi sosial."


"Apa dia bisa sembuh?" Riki menyela penjelasan Pras yang dia anggap bertele-tele. Pras menarik nafas dalam-dalam, tahu benar jika temannya sedang cemas.


"Prosopagnosia sangat jarang yang dapat sembuh seutuhnya. Mungkin hanya bisa di siasati dengan terapi agar penderitanya bisa bersosialisasi dengan nyaman."


"Dukungan keluarga dan orang-orang terdekatnya, adalah obat yang paling ampuh." Riki hanya bisa bernafas kasar.


"Lakukan apapun agar dia bisa sembuh."


"Itu tidak akan terjadi tanpa dukungan dari orang-orang di sekelilingnya. Dan jangan buat dia stres."


"Apa maksudmu."


"Bukankah kau lebih tahu apa mau Sana? Hanya saja, kau menutup mata dari itu semua."


"Aku hanya ingin yang terbaik buat Sana."


"Aku mengerti, tapi jangan terlalu lama. Dia butuh seseorang untuk bersandar. Kau pasti sibuk dengan duniamu sendiri. Jadi, tidak ada salahnya gadis itu memilih rekan hidupnya sendiri agar tidak kesepian.


"Baiklah, akan aku usahakan."


"Baiklah, kau tidak menawariku makan siang bersama?"


"Bilang saja mau gratisan." Ejek Riki.

__ADS_1


"Itu yang nikmat, ramah di kantong lagi hahaha."


✓✓✓


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Sana tersadar. Dia menatap bingung kepada semua orang yang kini mengelilingi dirinya.


"Vino!" saat tatapannya jatuh pada satu-satunya orang yang dia kenali di ruangan itu. Semua sudah berubah, bahkan cara dia mengenali Rindi.


"Kakak!" Berusaha menyentuh Sana, dengan rasa pening yang masih mendera, Sana menepis tangan Rindi.


"Kak!"


"Vino Sayang, bisakah kau membawaku pergi dari tempat ini?" Rindi tercengang sejenak, bagaimana dirinya dilupakan begitu saja oleh kakak yang dia sayangi.


"Kak!" rengek Rindi tidak percaya, spontan menarik lengan Sana.


"Sayang, aku tidak ingin di sini." ucap Sana lagi.


"Tapi kamu baru saja sadar, Nak?" suara itu adalah suara yang paling ingin Sana hindari.


"Vino."


"Nak, ibu mohon jangan pergi!"


Hening


"Ibu mohon, kali ini saja, biarkan ibu memelukmu." mengatupkan kedua tangannya di dada. "Ibu mohon Sana." air mata mengalir tak terbendung lagi, bahkan sampai berlutut di hadapan Sana. Dengan segera, Sana memutar tubuhnya dan menjauh dalam kerapuhan, bahkan hampir terjungkal ke lantai Vino yang melihat hal itu langsung menangkapnya.


"Sayang, aku tidak nyaman di sini, aku mohon, bawa aku pergi." Sana terisak tertahan, merebahkan kepalanya di bahu Vino.


"Baiklah, kita pergi." Vino membantu Sana yang sepertinya masih belum enakan.


"Kak!"


Ari menempelkan telunjuknya di bibir, pertanda bahwa untuk saat ini jangan bicara apapun.


"Kau bisa berjalan sendiri?" Sana hanya mengangguk lemah.


Semua orang tidak mengerti akan kelakuan Sana yang nampak kurang ajar. Bahkan bisa dikatakan menolak kehadiran ibunya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2