Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Wanita


__ADS_3

"Mau kemana kamu?" Vino mencekal pergelangan tangan Sana. Dia sudah mengerti apa yang akan dilakukan Sana.


"Wanita adalah makhluk yang sensitif, dia akan membela wanita lain yang dalam kesusahan." Sana mengibaskan tangan Vino. Andai saja tidak ada begitu banyak barang di tangan Vino, pasti cekalan itu tidak mudah untuk dilepaskan.


"Berhati-hatilah, aku harus meletakkan barang-barang ini terlebih dahulu." Sana hanya mengangguk.


Sekilas Vino merasa pernah mengenal pria itu, tapi dimana dan namanya siapa? Vino sedikit lupa. "Mungkin hanya perasaanku saja. Bukankah di dunia ini banyak orang yang memiliki wajah hampir sama?" gumam Vino.


"Tapi sepertinya aku juga mengenal postur tubuh wanita itu," gumam Vino lagi. Perhatiannnya kini beralih dan menerka kira-kira siapa mereka. Sebab wanita itu membelakangi Vino, makannya dia tidak bisa melihat wajahnya.


Sana berjalan cepat ke arah seorang pria yang baru saja menampar wajah seorang wanita yang tengah hamil. Itu terlihat jelas dari perut wanita yang terlihat membuncit. Sana segera berlari dan menengahi dua orang yang tengah bertengkar itu dengan tujuan membantu si wanita.


"Kenapa sekarang kau begitu kejam kepadaku," lirih wanita yang ditampar. Sana yang semakin mendekat dibuat iba karenanya. Sedangkan Vino memilih menyimpan belanjaannya terlebih dahulu. Kebetulan tempatnya juga tidak terlalu jauh, jadi dia masih bisa memantau keberadaan Sana.


"Apa kau tidak melihat bahwa dia tengah bersusah payah mengandung anakmu, tapi kau dengan tidak berperasaan melakukan kekerasan terhadapnya," teriak Sana. Wajahnya terlihat memerah sebab menahan gejolak dihatinya untuk memukul pria yang berada di hadapannya.


"Kami tidak mengenalmu, jadi sebaiknya kau tidak usah ikut campur dengan urusan kami. Jadi, kau menyingkir saja dari hadapanku."


"Hai, kau jangan mentang-mentang pria, seenaknya saja main kasar terhadap kaum perempuan, ya! Apakah kau terlahir dari batu? Sehingga begitu tega menyakiti perempuan." ucap Sana dengan berkacak pinggang, Sana juga melipat lengan bajunya hingga sampai ke bahu, membuat Vino terkekeh untuk beberapa saat. Kemudian siaga melindungi Sana.


"Minggir kau, atau kau akan tahu apa akibatnya karna berani ikut campur," ucap pria itu lebih marah dari sebelumnya.


"Apa kau pikir aku takut dengan gertakanmu itu?" Sana menatap sinis dan terkesan meremehkan pria yang berada di hadapannya.


"Berani sekali kamu hah!" Tamparan dari pria itu hampir saja mengenai wajah Sana jika tidak dihalangi oleh sebuah tangan yang kokoh.


"Kalau kamu memang jentelman jangan main kasar sama perempuan. Kau bisa adu kekuatan denganku. Itu baru adil," ucap Vino sambil mengibaskan tangan pria itu.


"Vino," ucap Sana dan wanita hamil itu bersamaan. Mereka saling menatap dengan ekspresi yang berbeda.


"Kurang ajar!" Pria itu melayangkan tinjunya namun dipatahkan oleh Vino. Untung Vino masih siaga. Vino memutar gerakannya lalu menjatuhkan lawannya dengan menyepak tulang kering kawan. Pria itupun jatuh tersungkur. Namun dengan segera bangkit lagi melayangkan tinjunya. Vino menghindar dan dengan cekatan meninju ulu hati hingga membuat lawannya meringis, tidak sampai disitu, Vino juga menghadiahi pria itu dengan satu kali bogem mentah di bagian rahang. Keluarlah darah segar dari sudut bibir pria itu.


"Sudah hentikan! Jangan pukul dia lagi Vino, aku mohon!" Wanita yang ditampar tadi tiba-tiba menghalangi gerakan Vino. Membuat tangan itu menggantung di udara. Sana hanya melongo menatap tak percaya akan kelakuan wanita hamil itu. Bagaimana bisa dia menolong orang telah melukai dirinya.

__ADS_1


"Puas kau! Aku telah dipermalukan di hadapan semua orang," bentak pria itu kepada ibu hamil.


"Ron!" Wanita itu mengeluarkan air matanya. Tapi, pria yang dipanggil Ron tidak peduli. Malah pergi meninggalkan tempat kejadian. Disusul oleh wanita yang tengah hamil itu. Bahkan wanita itu tidak mengucapkan sepatah kata, setelah dibela.


Para penonton mundur teratur. Mereka juga bubar. Vino mematung di tempat setelah melihat wajah wanita yang tanpa sengaja dia bela.


"Siska!" lirih Vino namun terdengar jelas oleh Sana. Sana yang sadar akan situasi memegang bahu Vino. Sana melihat dengan jelas ada sesuatu antara wanita itu dan Vino. Dan entah kenapa hatinya mendadak sesak.


"Vino, apa kau baik-baik saja?" Setelah menempuh beberapa lama di perjalanan Vino nampak murung.


Kenapa aku tidak tega melihatmu murung seperti itu? Apakah ini ada hubungannya dengan wanita bernama Siska tadi, ya? batin Sana


"Vino!"


"Vino, jangan meleng. Kau membahayakan keselamatan kita," Sana mencoba memperingati Vino yang membawa mobilnya ugal-ugalan.


Kini mereka berada di lampu merah. Vino tidak juga berhenti, untung lampunya segera berpindah ke kuning kemudian hijau. Jadi Vino aman. Vino juga mendahului seorang pengendara motor yang menyalakan lampu sen-nya, tapi dengan kecepatan yang sama Vino tetap melakukan mobil hingga orang yang menyebar tadi mengumpat sebab kesal.


"Vino." Sana menepuk bahu Vino dengan lembut. Sepertinya Vino tidak sepenuhnya fokus pada jalanan.


"Berhenti!" titah Sana.


"Kenapa memangnya?" ucap Vino.


"Berhenti!" tegas Sana lagi.


"Untuk ... !"


"Berhenti kataku," ucap Sana lebih menekankan kata-katanya. Vino menepikan mobilnya.


"Kau turun!" Kali ini lebih tegas dari yang tadi, sehingga tanpa perintah kedua, Vino sudah turun dari mobil.


"Kau masuk, kali ini biar aku yang menyetir. Sepertinya pikiranmu itu sedang kacau. Makannya kau tidak memperhatikan rambu-rambu lalulintas dengan baik." Sana mengambil alih kemudi dan berteriak menyuruh Vino masuk.

__ADS_1


"Cepetan! Atau aku akan meninggalkan kau sendiri di sini."


Walau dengan perasaan heran, Vino akhirnya masuk ke dalam mobil."


"Sudah," ucap Vino.


"Anak manis," Sana tersenyum manis kepada Vino, tapi hatinya sibuk merutuki kata yang baru saja keluar dari mulutnya.


"Ya, kau benar. Selain manis aku juga sangat tampan."


"Narsis!" Cibir Sana, matanya masih fokus pada jalanan yang entah kenapa berubah menjadi lebih padat oleh kendaraan yang berlalu-lalang.


"Bukan! Tapi kenyataannya!" Vino tidak mau kalah. Entah kenapa perasaannya menjadi damai setelah bicara dengan Sana.


"Sepertinya kau sudah kembali," Vino mengernyit heran akan ucapan Sana. Bahkan dia sampai memutar posisi tubuhnya hingga menghadap ke arah Sana.


"Kau tadi terlihat melamun. Kenapa? Apakah wanita yang tadi pernah mengisi hatimu?" tebak Sana berterus-terang.


"Ya, kau benar!" jujur Vino. Entah kenapa dia seperti tidak bisa merahasiakan apapun kepada gadis yang kini bersamanya.


"Kau belum bisa move on ya?" Vino mengangguk lemah, saat Sana melirik dengan ujung matanya. Sana merasakan sedikit nyeri di ulu hati. Entah karena apa dia tidak tahu. Tapi dia segera menampiknya.


"Entahlah, mungkin iya."


Kenapa aku merasa cemburu mendengar kejujuran Vino? Apakah aku mulai memiliki rasa terhadapnya? Tidak. Jangan biarkan perasaan ini tumbuh Sana. Batin Sana.


"Tapi juga mungkin tidak, aku tidak tahu." Sana hanya tersenyum menanggapinya.


"Kalaupun iya, jangan sampai kau menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka."


"Kalau sampai itu terjadi, kau harus berjuang untuk menyadarkan diriku."


"Kok aku!"

__ADS_1


**Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak**.


__ADS_2