
Sempit banget pikiran Faza ini. Untung saja saat insiden itu terjadi ada Arjun di sana. Jika tidak, tentu Faza sudah di massa oleh orang-orang sekitar yang melihat kejadian itu.
Sana pikir jika Faza adalah sosok yang sama di tahun tiga tahun lalu. Rupanya pemuda itu telah berubah menjadi sosok yang egois seenak jidat bertindak. Mungkin juga karena kesalahan Vino yang selalu menutupi keburukan adiknya.
"Faza!"
Geram Sana mengangkat kedua tangan hendak mencakar Faza. Bagaimana ada seorang penabrak tak merasakan kesalahan apapun. Matikah hatinya? "Baiklah. Kau ikut aku!" Ucap Sana memberi kode agar Faza mengikuti dirinya.
"Ayoook...!" Menarik lengan Faza sebab tak kunjung berdiri. Ingin rasanya Sana menarik perban di kepala Faza agar amnesia dan berubah jadi pria yang baik.
"Kita kemana Cecan?" Tanya Faza ketika melihat Sana mengeluarkan motor matic lamanya. Motor matic yang masih terawat sebab digunakan transportasi oleh suami Bik Warti.
"Akan aku tunjukkan padamu sesuatu yang mungkin saja bisa kau buat sebagai pelajaran."
"Apa itu...?"
"Naiklah! Kau akan tahu nanti."
"Cecan, Bang Vino bisa menggantungku jika terjadi sesuatu padamu. Turunlah aku tidak mau! Aku tidak akan kemanapun." Bantah Faza. Dia enggan dibonceng apalagi yang bonceng kakak iparnya. Ingin didepan takut nanti dimarahi Vino. Apalagi masalah yang semalam belum kelar.
Terlebih jika Vino nantinya lepas tangan dan membiarkan Sang Papa tahu kenakalannya kali ini.
"Faza...naik!" Titah Sana tegas. Bahkan motor itu sudah menyala.
"Tapi, Cecan! Bang Vino...!"
"Naik!"
Ucap Sana bersamaan dengan datangnya Rindi.
"Kalian mau kemana?"
"Cecan ingin naik motor. Katakan padanya jangan aneh-aneh deh. Bang Vino bisa marah, Rin!" Sela Gaza sebelum Sana menjawab.
Rindi melihat sekilas wajah Faza yang nampak kurang baik. Tapi kondisinya belum pas untuk menanyakan hal itu. Terpaksa dia mengalihkan tatapan pada Sana. "Mbak Sana mau kemana memangnya?"
"Kamu bawa mobil apa motor?" Malah nanya balik. Rindi sempat bingung sebab Faza memberi kode untuk tutup mulut.
"Rindi...!"
"A..aku naik...!"
"Mobil!" Tebak Sana yang diangguki lemah Rindu. "Oke! Kita naik mobil Rindi kalau begitu."
Ketiganya kini berjalan keluar halaman lalu masuk ke dalam mobil Rindi yang kebetulan terparkir tepat di pinggir jalan depan rumah.
__ADS_1
✓✓✓
Vino berada di kantor tengah menyelesaikan meeting.
"Vino!"
Mareno memanggil anaknya kemudian mengajaknya ngobrol.
"Akhir-akhir ini mamamu sering mimpikan hal buruk mengenai Faza. Apakah dia sedang ada masalah? Beberapa kali juga kuhubungi tapi anak itu tidak menjawab."
"Ah, Faza berada di rumah Sana, Pa!" Jujur Vino. Mareno mengernyit heran.
Akhirnya Vino menjelaskan kepada Mereno jika kemarin anak itu memang mendapatkan musibah. Vino juga menjelaskan jika Faza dalam keadaan baik-baik saja. Tapi korban kecelakaan itu yang kurang beruntung sebab mengalami cedera di bagian lutut sehingga bisa berakibat pada kelumpuhan total.
"Maafkan Vino, Pa! Karena terlalu sayang Vino...!"
"Aku tahu perasaanmu."
Mareno melihat sifat Sang kakak dalam diri Vino. Kakak yang selalu menutupi kesalahan Mareno ketika masih hidup. Dan Mareno sungguh sangat kehilangan ketika kakaknya tiada.
"Vino. Aku akan menemui Faza nanti. Tentunya tanpa Mamamu." Ucap Mareno hendak berlalu.
"Pa...!" Vino sedikit memegang tangan Mareno. Dia sedikit khawatir jika adiknya nanti mendapat amukan dari sang papa.
Pernah di waktu kecil, Faza mendapat cambukan dari Mareno lalu berakhir di rumah sakit selama satu bulan. Sejak itulah Vino tidak lagi mengadukan kesalahan Faza pada sang papa. Apapun itu.
✓✓✓✓
"Kita memang mau kemana, Mbak?" Tanya Rindi yang tak mengerti kemana akan membawa mobil ini pergi. Sebab Sana hanya memberinya intruksi belok kanan, kiri, atau lurus.
"Cecan...!"
"Diam! Kamu diam, Faza. Cecan akan tunjukkan kamu sesuatu! Ingat! Kamu harus bisa belajar dari apa yang kamu lihat nanti!" Tegas Sana kembali berwujud seperti seorang guru yang menyuruh anak muridnya mengerjakan tugas.
Rindi menaikkan satu alisnya meminta penjelasan pada Faza, tapi rupanya hanya dibalas gidikan bahu acuh.
"Mbak, bisa jelaskan padaku ada ini sebenarnya?" Rindi semakin penasaran. Sana malah memelototi dirinya sehingga ketiganya kembali diam saja.
"Mbak!"
"Rindi awas!" Seorang anak kecil tiba-tiba muncul tepat di depan mobil Rindi.
"Hufft! Hampir saja."
Seorang anak kecil dengan seragam SMP. "Nah...mau lari kemana kamu? Hahhh! Sini kembalikan makanan saya!" Seorang pria kurus kering merebut paksa kresek yang dipegang gadis itu. Tangannya mendorong kasar gadis kecil itu hingga hampir saja terjatuh.
__ADS_1
Nampak sekali wajah gadis itu berubah suram. Terlihat takut dan sedih bersamaan tapi tak bisa berbuat apapun. Rindi melihat pria itu kembali ke rumah makan. Sedang si gadis kecil menyingkir dengan lesu dan menangis di tepi jalan dengan posisi jongkok.
"Rindi...!" Ucapan Sana terhenti kala melihat Rindi sudah turun dari mobil.
"Cecan mau turun juga?" Sana ikut turun tanpa menggubris ucapan Faza.
"Dek!" Rindi memegang pundak gadis kecil yang menyembunyikan wajahnya pada kedua tangan.
"Mana mobilnya diparkir sembarangan lagi." Omel Faza yang masih setia di dalam mobil. Kemudian dia beralih ke kemudi.
Tin tin tin.
Mobil dibelakang sudah tak sabar.
"Iya ya! Nggak sabaran banget sih?" Gerutu Faza mulai menyalakan mobil lalu menepikan mobil.
"Dek, kenapa nangis? Ada apa?" Tanya Rindi lembut. Sedangkan Sana bertindak sesuai dengan apa yang dia pikirkan.
Faza juga turun dari mobil guna melihat ada apa sebenarnya. Sedangkan Sana baru saja keluar dari rumah makan dengan kresek yang sama dipegang oleh si gadis pertama kali jumpa tadi.
"Dek, adek ingin inikan? Kakak sudah bayarkan untukmu. Ini! Ambillah!" Sana mengguncang kresek putih di tangannya.
Perlahan gadis kecil itu mendongak. "Benarkah!" Ucapnya sambil mengelap kasar air mata. Wajahnya yang suram berubah berbinar.
Faza mengamati itu semua dengan perasaan campur aduk. "Hanya sebuah makanan dan dia begitu bahagia?" Gumamnya tanpa sadar. "gadis yang imut!"
"Dek, rumah adek dimana?" Rindi bertanya.
"Jangan katakan Kalian ingin mengantarkannya pulang? Aku tidak mau" Potong Faza. Sana berdecak sebal. Andai saja dia bukan adik kesayangan suaminya. Ingin rasanya dia cakar saat itu juga.
"Baiklah! Jika kamu tidak mau silahkan jalan kaki!" Sarkas Sana berlalu melewati Faza begitu saja.
"Kenapa dengan Cecan ya? Marah marah Mulu!" Faza garuk garuk kepala.
Sampai di mobil Rindi mengarahkan gadis itu duduk di kursi belakang. Tepat di samping Faza. Faza yang baru saja masuk mendengkus.
"Jangan protes! Atau kamu turun sekarang juga!" Sana memberi kode keras ketika Faza baru saja mau bicara.
Sialnya lagi Faza pergi tanpa membawa dompet. Apalagi uang sebab semuanya di sita sama Vino.
"Oke! Gadis cantik siapa namamu?" Tanya Sana. Memutar kepala menoleh pada si gadis.
"Sawitri!"
"Hahaha...sawi makanan kelinci!"
__ADS_1
"Fazaaaa..!"
To be continued