Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
DM 120


__ADS_3

Dua penjahat tak berguna itupun lari tunggang langgang setelah mendapat beberapa serangan balik dari Mike.


"Kau tidak apa-apa?" Mike mengusap-usap ringan jas miliknya, seolah menyingkirkan debu yang menempel akibat pertarungan yang baru saja terjadi. Rasa ngilu di sudut bibir, seketika hilang saat Rindi menyongsongnya dengan kekhawatiran. Senyum tipis tersungging di antara bibirnya yang lebam.


"Aku akan kenapa-kenapa jika yang lari tadi adalah dirimu," kata Mike serius. Namun, beda dengan tanggapan Rindi yang mengatainya tengah menggombal. Sambil menyelipkan anak rambut ke telinga, Rindi tersipu malu.


"Ah, ini uangmu, Pak!" Mike menyerahkan uang yang tadi dijatuhkan oleh si perampok.


Uang receh yang mungkin jumlahnya tak seberapa dibandingkan milik Rindi apalagi milik Mike. Lebih miris lagi sebab ada saja orang jahat yang ingin merampasnya. Tidakkah malu penjahat tadi? Secara otot dan tenaganya jauh lebih mampu dibanding pak tua di hadapannya.


"Terima kasih, Nak! Semoga Allah SWT membalas kebaikan Kalian," ucap Pak Tua dengan tulus.


Rindi melihat tangan bergetar milik pak tua membuka gulungan uang di tangannya. Menghunus  beberapa lembar, langsung disodorkan kepada Rindi.


"Ini sedikit rezeki, Nak! Semoga bermanfaat. Sebagai ucapan terima kasih."


"Tidak! Saya rasa, bapak lebih membutuhkan uang itu daripada saya."


Netra Rindi masih mengawasi baju compang-camping yang dikenakan pak tua amat sangat sederhana. Sedangkan pak tua nampak menatap Mike yang mengulum senyum sembari mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Rindi.


"Alhamdulillah, jarang sekali ada orang-orang sebaik dan setulus kalian. Semoga Kalian berdua diberi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Diberi anak-anak yang Sholeh dan Sholihah."


"Amiiin ya robbal alamin." Antusias sekali Mike langsung mengaminkan. Rindi hendak mengkonfirmasi jika dia dan Mike bukanlah suami-istri, namun mulutnya hanya bisa terbuka tanpa bisa mengucapkan sepatah kata. Rasanya tak tega melihat senyum indah terukir jelas di bibir Mike.


'jarang sekali dia tersenyum begini. Dan jantungku. Mengapa detaknya semakin bertambah kencang.' batin Rindi. Meraba dada bagian kiri.


"Bapak mau kemana malam-malam begini?"


Netra tua itu menatap Mike dengan sendu. Bibir pucatnya bergetar.


"Saya hendak pulang." Pak Tua memutar tubuhnya, menunduk seakan mencari sesuatu. Tampak pria tua itu mengambil sebuah benda lusuh berwarna putih kehitam-hitaman. Sebuah karung beras yang ditambal pada beberapa bagian sisi. Bisa dipastikan jika pekerjaan pria tua ini, seorang pemulung.


Air mata Rindi menetes tanpa dia cegah. Entah kenapa hatinya tiba-tiba saja merasa sangat kecil. Pria tua di hadapannya begitu gigih berjuang untuk kehidupan. Dia saja yang muda kadang mengeluh.


"Sekali lagi terima kasih atas bantuannya, Nak? Bapak permisi dulu, Ya!"

__ADS_1


"Rumah bapak dimana? Kami akan antarkan!" Rindi menoleh pada Mike. Pria yang selama ini terkesan arogan dan sombong mau mengantarkan pria tua yang lusuh. Benarkah ini?


"Mike!"


"Sayang, kasihan dia. Bagaimana jika terjadi sesuatu di jalan nanti." Rindi hanya mengangguk setuju.


"Nak, tidak perlu repot. Saya sudah terbiasa jalan kaki."


"Jangan begitu, Pak! Kami lebih tenang jika bapak sampai rumah dengan selamat," bujuk Mike. Pak tua menatap Rindi, seolah bertanya, apakah boleh dia menumpang di mobil kekasihnya.


"Saya merasa tidak pantas masuk ke mobil Anda. Saya kotor dan miskin."


"Sejatinya, saya juga kotor dan miskin. Mobil ini juga sebenarnya bukan milik saya." Maksud dari perkataan Mike adalah merasa kotor sebab sifat Casanova. Miskin sebab semua yang dimilikinya milik orang tuanya. Dan mobil yang dia naiki adalah milik asisten pribadi sang papa karena mobil sport miliknya masih di servis.


"Ayolah, Pak! Kami merasa sangat beruntung jika bapak berkenan kami antar," bujuk Mike lagi.


"Baiklah, Nak,"


Mike membuka pintu bagian belakang.


"Ayo, Sayang!" Mike lagi-lagi memposisikan Rindi layaknya sang ratu. Mike juga meletakkan tangan kanannya pada pintu bagian atas mobil dengan tujuan melindungi kepala Rindi agar tidak terbentur.


Mobil melambat melewati pertigaan gang sempit di perkampungan. "Berhenti di sini saja, Nak!" pinta Pak Tua. Mike menepikan mobilnya tepat di samping warung sederhana berhiaskan dinding bambu.


"Terima kasih sekali lagi, Nak! Jika berkenan, mari turun dan makan malam bersama saya."


"Baiklah!" Di luar perkiraan Rindi. Mike ikut turun dari mobil.


"Dia kan kaya, mengapa mau saja menerima traktiran orang yang jelas-jelas jauh di bawahnya," gumam Rindi


Tiga orang tengah berbincang santai pada dipan sederhana yang juga terbuat dari bambu.


Mike memperhatikan interaksi orang-orang yang terkesan ramah antar sesama. Dilihat olehnya, pak tua yang tadi dipanggil Pak Jamal masuk ke dalam warung. Mike mengikuti tanpa risih. Duduk dengan santai sambil mengamati.


Mike benar-benar menerima tawaran Pak Jamal. Diapun makan tanpa sungkan. Rindi hanya makan gorengan dengan bumbu pecel yang terasa nikmat. Sudah lama sejak meninggalnya ayah Sana, baru kali ini dia kembali merasakan masakan pedagang warung kecil.

__ADS_1


Setelah makan bersama dengan ditraktir Pak Jamal, Mike dan Rindi kini tiba di rumah kecil milik Pak Jamal. Sebuah rumah kuno dengan lebar dua kali tiga meter. Tembok-nya sudah mengelupas di sana-sini. Bahkan beberapa sudah lapuk dan bolong-bolong.


"Kakek-kakek!" Serentak suara dari dalam rumah. Jumlahnya ada tiga orang anak kecil berbaju lusuh. Usianya mungkin sebaya, satu laki-laki dan dua perempuan.


"Kakek! Kakek sudah pulang?" Yang ini datang terlambat. Seorang bocah laki-laki berusia diperkirakan lima belas tahun. Pakaiannya juga tak lebih baik daripada yang lain. Hanya saja wajahnya lebih fresh.


Bocah laki-laki itu sigap menerima bungkusan nasi yang tadi sempat dibeli oleh Pak Jamal. Wajah ceria dari semua anak seakan menghapus segala kehidupan prihatin yang tercetak jelas di sekeliling mereka.


"Saya ambilkan minum, Kek!"


"Tidak usah! Kakek tidak haus. Maafkan kakek juga sudah makan terlebih dahulu."


"Baiklah, apa kami juga harus berbagi dengan mereka?"


"Ah, kakek sampai lupa! Perkenalkan. Beliau Bapak Mike, orang menolong kakek tadi."


Mereka saling berkenalan dan bersalaman. Tak ketinggalan kakek juga menceritakan pertemuannya dengan Mike.


Pak Jamal juga menceritakan kepada Mike, bahwa anak-anak itu bukanlah anak ataupun cucu kandungnya. Pak Jamal menemukan anak-anak itu dalam keadaan yang berbeda dalam keadaan menyedihkan. Bahkan si paling besar ditemukan dalam keadaan hampir mati di dekat pembuangan sampah. Dan yang lainnya juga ditemukan hampir serupa.


"Dahulu, saya merawat mereka bersama istri saya, namun karena penyakit yang dia derita. Dia meninggal tiga tahun yang lalu."


Tanpa sadar Rindi menjatuhkan air mata. Dia begitu terharu melihat kesederhanaan keluarga Pak Jamal.


Mike menghapus sisa air mata yang menetes di pipi Rindi.


"Kenapa?" tanya Mike tanpa suara. Bukannya menjawab,Rindi lebih memilih menangis di pundak Mike.


"Inilah kehidupan, setiap manusia memiliki takaran masing-masing." Bijak sekali ucapan Mike. Masih mengelus Rindi untuk menenangkan.


"Pak Jamal, bagaimana jika saya sedikit berbagi kebahagiaan dengan mereka."


"Bukan saya, tapi kami!" ralat Rindi.


"Iya, Pak Jamal. Kami akan berikan mereka kehidupan yang layak, sekolahkan mereka dan merawat mereka seperti anak sendiri."

__ADS_1


"Saya masih sanggup menghidupi mereka."


To be continued


__ADS_2