Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Kado bayi


__ADS_3

"Ngapain kita ke toko ini?" ucap Vino sambil menatap nanar toko yang didatangi-nya.


"Hai, kau sudah berjanji akan diam saja saat aku memilih barang-barang yang akan kau hadiahkan untuk keponakanmu itukan?" Vino hanya mengangguk, sebab hal itu benar adanya.


"Hai, bayi itu belum ngerti senam atau yoga. Kenapa malah beli matras. Itu akan bayi itu gunakan berpuluh-puluh tahun lagi." Kesal Vino sebab merasa, bahwa Sana tidak pandai memilih kado untuk keponakannya.


"Memberi kado tidak harus yang dapat digunakan saat itu juga. Salah satu alternatif kado yang bisa diberikan pada bayi adalah matras mainan bayi ini yang dapat digunakannya saat mulai belajar berguling atau merangkak."


Sana memilih matras dengan warna yang cerah dan terbuat dari bahan lembut, serta bertema ceria dengan gambar  tokoh kartun yang lucu.


"Mbak, tolong bungkus yang ini, ya!" Sana memberikan barang pilihannya kepada pelayan.


"Bungkus untuk kado ya, Mbak!" ucap Sana lagi agar tidak keliru dengan yang lain. Sedangkan Vino dengan setia mengikuti kemana perginya langkah kaki Sana.


"Bali apa lagi, ya kita?" ucap Sana lagi.


"Terserah yang penting haru dapat kado sebanyak mungkin." ucap Vino singkat. Pasalnya dia tidak akan mau mendengar ejekan Vanka.


Pasti dia akan habis-habisan mengejekku jika aku memberinya sedikit kado. Tapi tidak masalah aku membeli kado segitu banyak hanya untuk keponanakanku tercinta. batin Vino.


"Oke, sudah selesai dengan kado pertama. Kemana, kita nyari kado lagi," tanya Vino masih setia membuntuti Sana.


"Kita kemana lagi, ya?" Sana nampak berpikir sambil terus menggandeng lengan Vino.


"Itu, tepat sekali kita berada di sebuah toko sepatu anak," Sana menarik lengan Vino penuh semangat.


Sana memilih beberapa model Sepatu yang tepat untuk dijadikan kado. Dia memilih sepatu dari bahan yang lentur dan empuk dengan kualitas yang baik sehingga tidak akan membuat kulit bayi iritasi.


"Ini warnanya menggoda sekali, penuh kasih sayang." Sana mencium sepatu kecil yang berada di tangannya.


"Jangan lebay, deh. Cepetan dibungkus. Kita harus membeli kado yang lain," ujar Vino. Meski bicaranya terdengar lebih dingin tapi tetap saja dia yang membayar.


"Iya, aku tahu. Tapi, lihatlah! Betapa lucu-lucu ini!" Mengambil dan menimang sepatu-sepatu bayi itu, ada yang bertali, adapula model sneakers yang lucu dan unik.


"Apakah kau sudah memilih?" Vino nampak heran melihat tingkah Sana yang sibuk menyentuh dan meneliti barang yang berjajar rapi di hadapannya.

__ADS_1


"Sudahlah, ambil saja apa yang kamu inginkan. Jangan ragu-ragu," ucap Vino sambil mengacak rambut Sana.


"Vino, ya! Berantakan nih rambut aku." Sana menyisir dengan jari helaian rambut yang berantakan sebab tadi sempat diacak oleh Vino.


"Gapapa masih terlihat cantik, kok!" Vino mengedipkan sebelah matanya.


"Sudah lama kalau itu mah?" Dengan pedenya Sana berucap sambil mengibaskan ujung rambutnya.


"Awas dilarang melirik orang cantik, nanti bisa-bisa malah tertarik," ucap Sana sambil tersenyum manis. Lalu kemudian Sana membawa beberapa pasang sepatu ke meja kasir. Untuk dibungkus dan membayar tagihannya.


"Vino, berapa budget yang harus aku habiskan untuk membantumu membeli kado lagi?" Sana sudah merasa seperti bepergian dengan Riki. Dia akan berbelanja sesuka hati, tapi juga tidak melampaui batas isi kantong orang yang membayarnya.


"Sesuka hatimu," ucap Vino sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Dia membalas beberapa chat dari Arjun. Dan juga memeriksa email dari kliennya.


"Aku nanya serius." Vino menghentikan aktivitasnya memandang Sana yang juga menatapnya.


"Aku juga serius." Vino tersenyum. "Kau juga bisa berbelanja untuk dirimu kalau kau mau." Sana menghela nafas panjang andai yang bersamanya ini adalah omnya Riki. Tentu dengan senang hati dia akan memilih baju dan juga sepatu. Tapi Sana tahu diri, dia merasa tidak berhak.


"Kenapa? Kok malah diam?" Mana Vino paham jika wanita yang kini berada di hadapannya sangat berbeda dengan mantan-mantan kekasihnya.


Vino memberikan kartunya kepada pelayan. Setelah itu mereka pergi ke toko buku.


"Kita ke toko buku? Ngapain?"


"Kau tahu, membacakan buku cerita sejak dini memberikan banyak manfaat bagi bayi, salah satunya untuk memperkaya kosakata bayi. Momen membacakan buku cerita juga bisa menjadi sarana bonding untuk orangtua dan si Kecil."


"Benarkah!" Sana mengangguk saja.


"Tapi, bagaimana kalau bayi itu merobeknya." Vino jadi teringat dengan anak kliennya yang saat itu merobek berkas penting milik papanya.


"Kamu dapat memberikan buku cerita dari kain atau yang memiliki halaman tebal yang tidak mudah rusak." Sana menarik lengan Vino yang hampir penuh dengan belanjaan itu. Tanpa sadar Vino merasakan damai dan nyaman.


Dari sekian banyak wanita yang pernah aku jumpai, kenapa tidak pernah aku merasakan perasaan yang seperti ini? Batin Vino.


"Nah, kita sudah sampai." Sana mendahului langkah Vino. Dia langsung menuju sebuah rak yang berwarna pink. Ada beberapa buku tentang kancil dan para hewan-hewan lainnya. Ada pula buku tentang kisah para Nabi dan Rosul, juga ada kisah keteladanan para Ulama yang dikemas dalam bentuk yang lucu dan unik.

__ADS_1


"Kayaknya ini bagus." Sana membuka sebuah buku bergambar musang dan singa. Vino mendekat ke arah Sana, ikut juga membolak-balik buku yang dia pegang. Mungkin bagi Vino tidak ada yang lebih menarik daripada buku bisnis dan ekonomi.


"Iya, bagus!" Vino hanya menjawab sekenanya. Dia ingat terakhir kalinya pergi dengan Vanka saat berbelanja, digetok dengan alat makeup sebab Vino yang cuek saja akan apa yang diucapkan oleh Vanka. Dari situ dia berpikir, mungkin saja Sana akan melakukan hal yang sama. Eh, tapi para kekasihku tidak seperti itu Vino segera membuang pikiran negatifnya.


"Vino, kamu pilih yang mana." Mengangkat dua sejajar dada dua buah buku di tangannya.


"Beli saja keduanya." Tanpa sengaja Vino melihat Sana memainkan bibirnya. Sana membasahi bibir itu dengan lidah, lalu mempermainkannya ke kiri dan kanan.


"Emmh baiklah, aku suruh mereka untuk membungkus ya!"


"Apa dia tidak marah? Biasanya Sima akan marah jika aku tidak memilih salah satu. Tapi dia...."gadis yang unik," batin Vino.


"Jangan cuma dua, tambahin lagi gih. Biar kakak gua punya banyak inspirasi untuk mendidik anaknya," celetuk Vino.


"Baiklah, kita pilih lagi." Lagi-lagi Sana menunjuk bibir merahnya, yang membuat Vino gagal fokus.


"Kamu bisa lebih cepat." Vino sepertinya harus segera pergi dari sana agar bisa terhindar dari rasa yang menyiksa itu. Vino tidak bisa mengerti kenapa perasaan itu semakin menjadi saat dia berada di dekat Sana.


"Sebentar lagi, ya!" Sana mengerlingkan matanya. Membuat Vino gelagapan dan melihat ke arah yang berbeda dari sebelumnya.


"Apakah setelah ini kita langsung pulang?" tanya Sana. Mencairkan suasana. Kini mereka sudah berjalan menuju parkiran.


"Ya, atau kau ingin pergi ke suatu tempat?" tanya balik dari Vino.


"Tidak ada!" ucap Sana sambil terus berjalan. Tapi tiba-tiba langkah Sana terhenti saat melihat seseorang yang pernah sangat dikenalnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Vino. Hampir saja menabrak tubuh Sana jika tidak menyadari situasi.


Plakkk


Seorang pria melayangkan pukulan kepada seorang perempuan yang tengah mengandung.


**Bersambung....


Siapakah dia**....

__ADS_1


__ADS_2