
Sana berdiri mematung di sudut balkon kamarnya. Rindi celingak celinguk sambil membawa bantal guling miliknya.
"Kebiasaan, kamar tidak pernah dikunci, bagaimana nanti kalau kau jadi pengantin baru hai kakakku yang manis? Pasti aku bisa ngintip haha." gumam Rindi bermonolog sendiri.
Rindi Langung masuk dan mengunci pintu kamar Sana. Dia berdiri mematung mencari penghuni kamar, tapi kosong tidak ada siapapun. Rindi langsung melemparkan guling dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Malam ini dia akan tidur bersama sang Kakak kesayangan.
"Kakak! Kamu dimana? Kakakku yang cantik, yang imut, yang lucu, yang menawan membuat para pria tertawan." ucap Rindi sambil terkekeh dan tetap pada posisi tiduran memeluk guling.
Sana masih dalam lamunannya. Pikirannya sedang traveling terhadap rasa di hati yang membuatnya dilema. Dia ingin sekali melupakan perasaannya, tapi semakin dia berusaha, rasa itu semakin nyata.
"Mungkin benar apa kata Rindi dan Vanka, jika rasa itu awalnya dari hati, lalu di benarkan oleh mata dan akal pikiran." gumam Sana kemudian.
"Tentu saja, jika cinta bukan berawal dari hati, lalu bagaimana dengan mereka yang tidak bisa melihat?"
"Kau, ngagetin saja!"
Rindi hanya tersenyum kemudian meneruskan bicaranya. "Cintanya mereka, orang yang buta? Mereka tetap jatuh cinta meski tidak bisa melihat. Tentu saja itu semua bersumber dari hati," Rindi menepuk dadanya pelan. "Juga cinta kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Kita tidak pernah melihat, tapi kita bisa merasakan. Ada rasa nyaman, rasa bahagia dan selalu merasa terlindungi. Allah selalu terasa bersama kita setiap saat, begitupun perasaan kita saat mencintai seseorang."
Sana diam mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh Rindi. Adiknya ini, terkadang memang memiliki pemikiran yang lebih matang daripada usianya.
"Hanya saja, cinta kita kepada sesama manusia kadang diliputi oleh nafsu, sehingga cinta yang suci kadang disalah artikan. Bahkan mereka memeras raga kekasihnya hanya demi memuaskan nafsu birahinya."
"Mereka yang mencintai karna cinta yang murni, akan selalu menjaga dan bertahan dengan sekuat tenaga menjaga kekasihnya tetap suci dan murni. Dia akan memetik harum wangi bunga ayu kekasihnya di saat yang tepat." Rindi menoleh kepada Sana dan mendekati kakaknya itu. Memegang kedua tangan Sana.
"Kakak sepertinya sedang dilema! Kakak sedang jatuh cinta ya?" tanya Rindi.
"Pemikiranmu begitu dewasa Rindi. Aku salut padamu. Seharusnya kau menjadi kakakku saja." ucap Sana. Dia kadang seperti tercubit saat tahu kenyataan bahwa Rindi memiliki pemikiran begitu dewasa, tapi rasa bangga lebih mendominasi hatinya, bangga telah mengenal dan memiliki saudara seperti Rindi.
"Hai, bukan itu jawaban yang ingin aku dengar!"
Sana pura-pura menguap, dan merenggangkan otot-ototnya.
"Kakak katakan kepadaku siapa lelaki yang membuat kakakku ini di landa kegelisahan."
"Ti_tidak ada. Aku hanya sedikit kurang enak badan makannya gelisah dan sekarang aku harus tidur supaya besok aku bisa pergi studio dengan wajah yang fresh," ucap Sana langsung berjalan ke dalam dan kemudian merebahkan tubuhnya di kasur.
"Hai, kau jangan menghindar!" Sana menutup kepalanya dengan bantal.
"Kak, kau akan menyesal jika tidak mau cerita kepadaku."
__ADS_1
"Selamat malam! Mimpi indah!" ucap Sana masih di bawah bantal.
"Kakaaaak!"
"Pluk!"
"Kalau tidak mau diam, balik kekamar kamu sendiri." Sana melempar guling milik Rindi.
"Ogah! aku mau tidur di sini. Sebentar lagi aku akan berada di kost jadi bakal jarang ketemu saka kakak!" Sana membuka bantal yang menutupi kepalanya.
"Kamu akan pindah ke kost kostan?" tanya Sana memiringkan tubuhnya menghadap Rindi."
"Iya, dua bulan lagi kan aku lulus, setelah itu, aku akan kuliah. Nanti aku akan tinggal di kostan dekat kampus."
"Kamu sudah mengatur semua itu?" heran Sana tidak percaya.
"Benar! Teman aku sudah tidak punya orang tua Kak, dia hanya tinggal berdua sama neneknya, jadi ... daripada rumah sepi, aku diajak sama dia ngekost di rumahnya gitu." jelas Rindi.
"Itu namanya bukan ngekost, tapi numpang!" ketus Sana.
"Ya, itung-itung ngirit biaya kak!" cengir Rindi tanpa malu.
"Sekarang kita tidur yuk!" Mereka pun memposisikan diri masing-masing untuk segara berpetualang dalam mimpi.
✓✓✓
Esok paginya.
"Pagi Pa, pagi Ma!" sapa Vino kepada kedua orang tuanya dengan sedikit malas.
"Pagi Sayang!" jawab Mareno dan Raya bersamaan.
"Apakah tidurmu nyenyak, Sayang?" tanya Raya menelisik wajah anaknya yang nampak kurang tidur.
"Lumayan, Mah!" jawab singkat Vino.
"Pasti lagi mikirin Cecan, Ma!" ucap Faza yang datang dari dapur dengan membawa kopi. Mareno dan Raya saling menatap, bertanya dalam hati, siapa Cecan yang di maksud.
"Sayang, jangan minum kopi pagi-pagi gini ah!"
__ADS_1
"Ayolah, Ma! Faza sudah makan roti isi tadi kok!" Raya hanya menghela nafas pelan. Si bontot ini memang radak sulit di bilangin jika mengenai kopi, padahal dia memiliki asam lambung yang bisa saja naik sebab kafein pada kopi.
"Terserah kepadamu! Nanti jangan panggil mama kalau ada apa-apa." tegas Raya.
"Cecan siapa Za!" tanya Mareno.
Faza yang hampir menyeruput kopinya itu melirik sekilas ke arah Vino yang nampak asik menyuap nasi goreng.
"Apa papa nggak tahu, beritanya saja sudah menyebar ke jagat YouTube!" membuat Vino tersedak.
"Pelan-pelan makannya Vino!" Raya menasehati.
"Maksudnya?"
"Papa ketinggalan berita deh! Kak Vino kan terkenal sedang tersandung kasus cinta lokasi sama partner kerjanya!" Semua orang melongo.
"Sana!"
"Iya, Ma! siapa lagi!" Faza dengan santai menyeruput kopinya. Raya memperhatikan semua orang dan berakhir kepada Vino yang cuek dengan pembicaraan mereka.
"Vino, apakah itu benar?" yang ditanya mematung sejenak. Bahkan rasanya begitu sulit menelan nasi yang sudah berada di mulutnya.
"Biarkan dia makan dulu, Ma! Jangan di tanya terus. Kalau dia ingin pasti akan bilang kepada kita." ucap Mareno menasehati.
"Yah, kan dapat lampu hijau, kalau aku seh nggak bakal lama-lama nunggu langsung saja ke penghulu, kayaknya sudah ada restu." seloroh Faza yang langsung mendapat tatapan tajam dari Vino.
"Iya tuh Vin, biar mama punya teman di rumah!" timpal Raya.
"Tapi Ma, tidak semudah itu," Vino menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengambil air minum dan meneguknya hingga tandas.
"Kamunya saja yang kelamaan mikir. Kayaknya malah lebih pintar adik kamu deh," ketus Raya. Sebenarnya Raya begitu senang saat melihat Sana dan Vino datang secara bersamaan kemarin. Ada harapan besar untuk kedua orang yang kabarnya tengah menjalin cinta lokasi itu. Tapi sepertinya Vino perlu memantapkan hatinya.
"Jangan lama-lama Vino, nanti keburu di embat sama orang lain! Aku juga melihat lho, Mike mendekati Sana dan mereka ngobrol dengan hangatnya!"
Prang
Vino menjatuhkan sendoknya kasar.
"Aku pergi dulu ya, Ma! Permisi!"
__ADS_1
Bersambung....