Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
DM 106 Ulah Faza


__ADS_3

Rindi selonjoran di atas kasur miliknya dengan menyilang kan kedua kaki. Dia mengotak atik benda pipih miliknya.


"Sebenarnya dia lumayan tampan!" Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum. "Busem! Busem."


Masih ingat kan, busem kepanjangan dari apa?


"Ternyata dia lumayan aktif di sosmed." Rindi semakin penasaran dengan Instagram milik Mike. Foto dengan berbagai gaya bak model terkenal.


"Dia kaku sekali!" Ucap Rindi lagi. Tidak ada satupun caption dari sekian banyaknya foto yang diunggah.


Lalu matanya tertuju pada satu foto ketika Mike bersandar pada dinding dengan salah satu kaki ditekuk.


Aku di sini bukanlah menunggu apa yang telah berlalu pergi, namun menanti apa yang aku yakini. Ada hati yang menunggumu pulang, ada hati yang menunggumu kembali, ada hati yang kosong sejak kamu pergi. Aku menunggumu sampai waktu tuk izinkan kita bersatu."


"Dia bisa puitis juga rupanya." Rindi tanpa sadar melengkungkan bibirnya. Melihat tanggal dan bulan dimana foto Mike diunggah. Satu hari setelah perpisahan itu terjadi.


'Kamu membuatku melangkah ke jalan yang tak pasti. Meski begitu, hatiku tetap kukuh menanti. Sebab cinta ini takkan mati meski kau tak cinta. Lelah ini tak terasa sebab aku terbiasa. Mencintaimu adalah kesempurnaan bagiku.' begitulah yang ditulis Mike dalam bahasa Inggris.


Mata Rindi tiba-tiba berembun. Rindi masih terus membaca. Hingga menemukan satu komentar dari akun yang menurutnya tidak asing.


'Makan cinta takkan kenyang kesiniloh ngopi sama misua.'


Rindi mendengus membaca komentar itu. Siapa lagi pelakunya jika bukan Sana.


Dan yang paling parah adalah, dari ratusan akun followers nya Mike yang komentar. Sana lah yang paling nyeleneh. Nyeleneh nya lagi, Mike bales lho.


Rindi melongo di buatnya. 'Kopi hitam sama telo godok yang kemarin ya. Bilangin sama Vino aku siap datang.'


"Apuah!!!!" Rindi melempar ponselnya sendiri. "Ini ...ini benarkah?"


Bagaimana bisa kamu bayangin coba. Seorang bule tahu apa itu telo godok? Atau mungkin?


Rindi baca lagi ulasan lain yang hanya buat hatinya panas. Rata-rata merayu Mike. Menanyakan kapan ada waktu dan membahas yang hot.


"Pakai panggil Honey lagi." Gerutu Rindi. Dia kesal dan tak sengaja menekan love di beberapa foto Mike.


"Aduh. Jangan sampai dia kegeeran ya!" Rindi mematikan ponsel.


Tok tok tok


"Siapa?"


"Ini mama, Sayang!"


"Masuk, Ma! Nggak dikunci kok."


Risya mengembangkan senyum. Di tangannya ada boneka beruang besar beserta bantal berbentuk daun maple. Rindi mengernyit heran.  Kelakuan ibunya ini ada ada saja.


"Mama nggak jadi tidur denganmu." Rindi menghela nafas lega. "biar dia yang temani kamu."


"Ma, Rindi bukan anak kecil lagi loh." Bukan Rindi banget ya. Tidur sama boneka. Sejak kecil mainannya mobil-mobilan dan motor-motoran. Semua mainannya berbau pria. Lah, besar gini malah sama boneka. Ya nggak etis lah.

__ADS_1


"Tanpa kamu kasih tahu juga mama tahu." Sewot Risya.


"Lah, kenapa masih diletakkan di mari?" Kesal Rindi ketika boneka itu berada di sampingnya.


"Kasihan dia nggak punya teman. Jomblo kayak kamu. Jadi, sesama jomblo yang akur ya." Balas Risya lembut kemudian mencium puncak kepala Rindi.


"Rindi, mama merasa sebentar lagi kamu pergi dari rumah ini." Risya menunjukkan wajah sedih.


"Kenapa Mama bilang begitu?"


"Lupakan! Mungkin perasaan mama saja. Minta peluk dong!" Risya mengulurkan tangan disambut hangat oleh Rindi. Bagi Rindi, Risya tetaplah sosok ibu yang sempurna.


Meski banyak orang menilai jika Risya memiliki kekurangan mental, tapi kadang bagaikan cenayang. Apa yang diucapkannya seringkali kejadian di hari depan.


"Mama juga rindu sama kakakmu, Sana. Mama bermimpi dia memegang dua ekor burung yang berkilauan indah. Kapan-kapan ajak dia kemari ya. Mama akan kasih sesuatu padanya."


"Mbak Sana saja, Aku tidak dikasih nih?"


"Nanti, kalau jodohmu sudah kemari.


"Belum nemu! Masih lama kali Ma!"


"Lha...tadi yang anter kamu pulang? Jodohmu kan?"


"Di-di dia...!" Cengo Rindi.


"Lupakan! Tidurlah sudah malam. Moga mimpi indah." Sambar Risya mencium puncak kepala Rindi.


"Ma...ini bawa keluar!" Pinta Rindi lagi.


"Lama amat, Maaaakkk!"


"Berisik!"


Dering ponsel mengalihkan perhatiannya setelah Risya hilang dibalik pintu kamar yang tertutup.


"Ngapain dia telpon malam-malam begini?"


"Halo...!"


*******


"Jadi...itu dari kamu?"


✓✓✓✓✓


"Sayang, kenapa lama?Faza! Kamu apain dia...Sayang?"


"Sayang! Jangan keluar!" Vino secepat mungkin mendorong tubuh istrinya masuk ke dalam. Bagaimana dia bisa membiarkan orang lain melihat tubuh Sana. Tanpa hijab lagi.


"Kamu ganti baju dulu ya! Habis itu susul kami di kamar sebelah. Oke!"

__ADS_1


Sana sudah Istiqomah berhijab semenjak menjadi istri Vino. Awalnya hanya karena sungkan sebab Vinka dan Raya berhijab. Tapi lama kelamaan dia terbiasa. Dan Vino sebagai suami sangat bahagia ketika Sana melakukan hal tersebut.


"Oke! Maaf! Aku tidak menyadarinya, Sayang! Maaf?"


"Tidak apa! Jangan diulangi lagi ya!" Mencium kening sana.


Vino menghembuskan nafas lega. Untung saja dia gercep.


"Nona Sana dimana Bos?" Tanya Arjun yang tadi sempat melihat wajah Sana dibalik punggung Vino.


"Ada urusan apa kamu tanyain istri saya?" Suara Vino mulai berubah.


"Ah, ndak ada Bos. Kita angkat Faza sekarang? Kasihan dia Bos."


"Hemmh!"


Faza pun di bawa ke kamar samping   yang terpisah oleh ruang serbaguna. Vino menamakan ruang itu dengan ruang serbaguna sebab ruang makan dan keluarga digabung jadi satu.


"Anak ini, selalu saja merepotkan." Gerutu Vino sambil melepas sepatu Faza. Vino dengan telaten juga melepas jaket dan kaos adiknya yang sedikit basah. Bau muntahan bercampur alkohol. "Sungguh menjijikkan." Gerutu Vino


Mencampakkan kaos itu ke lantai. Dia hendak berbalik arah namun tatapannya kembali terpaku oleh sesuatu.


Dia melihat cipratan noda merah cukup kentara di bagian dada serta pundak.


"Arjun!" Vino mengedarkan pandangannya namun tak menjumpai Arjun. Terdengar percikan air di kamar mandi. Vino akhirnya memilih berdiri saja. Meneliti tubuh adiknya.


"Sepertinya tidak ada luka. Lalu, ini darah siapa?"


Vino masih sibuk meneliti tubuh adiknya. Mencari sumber darah itu mengalir. "Tidak ada bekas luka."ucap Vino. Bersamaan dengan kamar mandi terbuka.


"Arjun, bisakah kau jelaskan ini?" Melempar kemeja Faza tepat di bawah kaki.


Arjun nampak tegang untuk beberapa saat. Lalu menghembuskan nafas panjang.


"Jangan bilang kamu mau sembunyikan hal ini dariku."


Sebab beberapa kali Faza dan Arjun ketahuan Kong kalikong dibelakang Vino.


"Tidak, Bos! Kali ini Anda harus tahu masalahnya."


"Katakan!"


Arjun malah yang terlihat bingung.


"Kenapa?" Cerca Vino.


"Mulai darimana ya, saya cerita!"


"Intinya saja!" Arjun mendekati Faza kemudian menarik rambut hitam pria yang tengah tak berdaya. Sesekali mulutnya mengeluarkan kata-kata tak jelas.


"Begini, Bos! Faza ini terlibat kasus tabrak lari."

__ADS_1


"Apa...?"


To be continued


__ADS_2