Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
DM 113


__ADS_3

"Siapa yang hamil?" Sebuah suara familiar di telinga Sana membuat Sana reflek berdiri.


"Sayang!"


Sana menyambut tangan suaminya dengan lembut. Sebaliknya Vino mencium kening istrinya.


"Vino...katakan mengapa kamu sembunyikan semuanya dariku. Apakah selama ini kamu menganggap kami ini tidak penting hah!" Vanka berdiri lalu menampol kepala adiknya.


"Cingkir, apa apaan sih, adiknya baru tiba bukannya di sambut, ditanyain kabar malah diamuk kayak preman ketahuan maling."


"Memang kamu, maling!"


"Jahat banget!" Gerutu Vino hendak duduk. Tapi ditahan oleh Vanka.


"Katakan. Sudah berapa bulan Sana hamil." Vino menatap Sana yang mukanya kusut kemudian menatap semua orang yang juga menatapnya penuh selidik.


"Hamil. Emang, kamu hamilkah, Sayang?"


Sana memejamkan mata. Dia sudah ingin menjelaskan bahwa ini kesalahpahaman akibat ucapan Mama Risya tapi semua orang telah beranggapan serius.


"Vino. Apakah begini caramu menjaga anakku. Dia sedang mengandung tapi kamu malah seolah-olah tidak tahu."


"Ma ...!"


"Tapi...sa..!"


Tapi saya benar-benar tidak tahu. Itulah kata yang ingin diucapkan Vino.


"Menyesal aku membiarkan Sana memilihmu." Kata Riki ikut memojokkan Vino.


Sana semakin frustasi. Ingin teriak bahwa dia tidak hamil namun suaranya seakan tak bisa dia keluarkan. Semua orang saling bicara sesui keinginan masing-masing. Hingga rasa pusing memenuhi kepala. Tubuhnya mulai oleng dan kemudian.


"Sana ...!" Teriak semua orang.


✓✓✓


Di tempat lain. Dua manusia berbeda genre tengah asyik menikmati kebersamaan. Dialah Sawitri dan Faza. Terpaut sembilan tahun membuat Faza seakan berasa tengah menemani adik belanja.


"Bagaimana mau main lagi?" Tanya Faza setelah dia menemani Sawitri bermain setengah hari penuh.


Tadinya berangkat jam satu siang namun Sawitri yang keasyikan lupa waktu hingga menjelang magrib.


Sawitri sungguh sangat bahagia. Terlihat jelas dari raut wajah yang selalu ceria. Tertawa terbahak-bahak sambil bermain. Memilih apapun permainan yang dia sukai. Sesekali Faza juga ikut main sekalian mengajarinya.


"Ayah tidak pernah mengajakku kemari. Biarpun sering lewat ketika mengantarku ke sekolah." Faza tertegun mendengar penuturan Witri.

__ADS_1


"Kenapa?" Meski tahu jawabannya.


"Kata ayah, nggak baik buat kesehatan!" Faza kali ini tersenyum lebar.


Tentu saja buat kesehatan dompet. Secarakan ayahnya Witri seorang supir biasa. Jadi, daripada uangnya dihamburkan untuk hal tidak penting pasti akan memilih untuk kebutuhan pokok.


"Tapi aku baik-baik saja bermain di sini!" Witri menjilat kembali eskrim rasa coklat vanilla miliknya. Warna putih bercampur coklat memenuhi bagian luar bibir. Faza beberapa kali mengelapnya dengan tangan. Masih saja gadis itu melakukan hal yang sama.


"Jorok banget sih makannya!" Gemes Faza mengelap terakhir kali mencubit gemas Witri. Witri hanya mengembangkan bibir. Bahagia? Tentu saja. Dari semua hari yang dia miliki, hari ini adalah paling bahagia di hidupnya.


Witri bisa memilih baju kesukaannya, memilih sepatu sesuai seleranya, tak ketinggalan tas dan ikat rambut yang indah. Witri sangat suka itu. Faza benar-benar menepati janji untuk bertanggung jawab penuh.


Setelah memutuskan, dia menemui Vino dan mengatakan maksud hatinya. Meminta salah satu kartu kreditnya untuk memenuhi kebutuhan Witri serta ayahnya. Tentu saja di sambut gembira oleh Vino.


Tapi Mareno tetap akan menghukum anaknya dengan mengirim Faza ke pesantren nanti.


Faza membimbing Witri ke tempat cuci tangan. Dengan telaten dia membasuh tangan Witri kemudian mengelapnya dengan tisu.


"Bagaimana? Sudah puas mainnya?" Witri mengangguk antusias. "Kita pulang sekarang, Oke!" Mengangguk lagi tapi detik berikutnya, wajah Witri suram.


"Kenapa?" Tanya Faza heran. Witri melambaikan tangan mungilnya isyarat agar Faza menunduk. Tapi Faza memilih menekuk lutut hingga tubuhnya sejajar dengan Witri.


Cup


Cup


"Jangan cium pria sembarangan, Witri!" Faza mengusap lembut puncak kepala Sawitri.


"Kenapa?"


"Pokoknya jangan! Ingat walau sampai kamu dewasa nanti. Jangan sampai cium pria sembarangan. Kecuali...!" Faza melirik Witri yang menatapnya intens. Sinar mata bocah itu bagaikan embun. Jernih dan menyejukkan.


"Kecuali apa, Kak!" Gadis kecil itu mengguncang lengan kokoh Faza. "Kakak melamun ya!"


"Tidak!" elak Faza. Dia sungguh merasa aneh dengan dirinya sendiri. Mengapa bersama Witri hatinya terasa nyaman.


"Kita pulang sekarang!" Faza lebih memilih berdiri kemudian menggandeng lengan witri.


"Kemana tas tas kita kak?" Tanya Witri ketika melihat Faza tak membawa apapun.


"Di mobil."


"Kapan kakak taruh di sana?"


"Nyuruh orang tadi." Witri melengok kesana kemari. Tapi tak ada orang yang bersamanya.

__ADS_1


"Jangan bingung. Kakak bayar orang buat ngantar tas kita ke mobil."


"Uang Kakak banyak banget! Sampai bisa bayar orang. Ayah nggak pernah mampu bayar orang kak."


"Itu karena sudah bayarin uang jajan kamu." Keduanya kini berada di eskalator. Faza memegang erat lengan Witri sembari merangkul pundaknya. Ah! Dia terlihat sangat melindungi Witri. 


"Tapi uang jajan Witri nggak banyak kok. Lebih banyakan jajannya teman-teman Witri." Sedikit mendongak untuk melihat wajah tampan Faza.


"Itu karena ayahmu mengajarimu untuk berhemat." Faza mencoba untuk bijak. Mencoba mengerti bagaimana kondisi keuangan ayah witri.


"Kakak benar. Ayah juga bilang begitu. Berhemat, menabung dan bersedekah." Faza kini yang tersentak. "Selain berhemat dan menabung, sedekah juga penting. Agar kita bisa berbagi kebahagiaan terhadap sesama."


Faza diam saja. Gadis kecil itu masih terus bicara.


"Faza! Kamu juga disini?"


Rindi yang sempat melihat sekelebat bayangan Faza segera mengejar.


Sana bersama Vino sudah pergi terlebih dahulu ke rumah sakit. Sedangkan Risya yang kebelet menuntaskan hajatnya dulu. Rindi sempat mengomel bahkan ingin sekali memarahi mamanya itu. Risya kerap kali sengaja merepotkan juga membuat kesal orang lain.


"Ma, nanti terlambat kejar Mbak Sana." Rindi ketika Risya memintanya menemani ke toilet.


"Biarkan saja. Lagian juga pingsan karena kabar baik. Mereka akan bahagia." Risya tersenyum tanpa rasa bersalah. Coba bayangkan, bagaimana bisa seorang ibu tersenyum saat anaknya pingsan. Tidak ada tanda cemas sama sekali. Rindi mengeram kesal. Andai saja ada tempat penukaran posisi ibu terbaik. Huft sayangnya Rindi hanya harus menerima kekurangan serta kelebihan ibunya.


Risya bahkan meminta lewat eskalator daripada lewat lift. "apa sih maunya mama?" Rindi makin kesal.


"Mau mama ya lewat eskalator. Mama takut lewat situ!" jawabnya santai.


Dan kini keduanya bertemu dengan Faza.


"Saya mengajak Witri jalan-jalan! Lihatlah, dia sangat bahagia!" Ujar Faza.


"Kamu juga kelihatan tak kalah bahagianya, Za!" kata Risya yang terdengar buruk di telinga Rindi.


"Tentu saja. Bidadari kecil ini selalu bisa membuatku tersenyum." Mencubit lembut pipi Witri serta mencium tangan gadis mungil itu.


Rindi melihatnya dengan hati teriris. Entah mengapa dia merasa tersaingi oleh gadis kecil itu.


"Sepertinya, kamu sangat mencintainya ya!" Risya bicara lagi. Tak adakah rasa kasihan pada anaknya yang menahan gemuruh di dada?


"Ma, kita harus segera pergi. Za!  Witri. Maaf, ya! Kami sedang buru-buru!"


Menarik setengah paksa tangan Risya.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2