
"Kami sudah melakukan yang terbaik. Lukanya cukup dalam, sehingga membutuhkan waktu untuk pulih. Berdoalah semoga pasien segera melewati masa kritis."
Bagaikan dihujam ribuan anak panah. Mendadak tubuh Faza seakan lemas tak bertenaga. Dari sekian orang yang dia tungguin ketika sakit, kenapa perasaannya kali ini lebih dramatis?
"Dia akan baik-baik saja kan Dok?" Rindi yang bertanya. Namun lirikan matanya menangkap gelagat tak biasa dari seorang Faza.
"Semestinya begitu. Pasien hanya butuh cukup istirahat. Jadi sebaiknya, jangan diganggu hingga masa kritisnya berlalu. Saya permisi terlebih dahulu."
"Faza!"
Rindi menatap lurus pada Mike, kemudian beralih kembali pada Faza. Temannya seperti orang linglung yang kehilangan arah. Berbagai praduga muncul memenuhi otak pintar Rindi. Segala kemungkinan yang belum tentu benar membuat gadis cantik itu mengulang kembali panggilan nya.
"Faza!" Kali ini dengan tepukan lembut di bahu. Faza cukup tersentak.
"Ada apa denganmu, Za. Ini bukan kamu yang biasanya?"
Faza juga tidak mengerti akan isi hatinya. Dia hanya sedih dengan apa yang dialami Sawitri. Gadis kecil yang telah menjadi tanggung jawabnya sejak sang ayah cacat.
"Za...!"
"Aku telah membuat hidup anak itu dalam keadaan menyedihkan. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Bagaimana aku bisa menebus segala dosaku padanya?"
Rindi dan Mike saling melempar pandangan. Keduanya seolah memiliki pemikiran yang sama.
"Dia akan baik-baik saja," hibur Rindi.
Tap
Tap
Tap
"Faza! Bagaimana keadaan Sawitri?" Riyan sahabat Faza dan Rindi datang dengan membawa satu paperbag dan juga sekantong kresek transparan berisi makanan.
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku disini?"
"Bang Arjun yang menelpon. Katanya disuruh kemari bawa baju ganti dan makanan." Meletakkan semua yang dibawanya ke bangku sebelah Faza.
"Kusut banget muka, Lo! Nggak biasanya rapuh begini. Kayak cewek saja." Memukul sedikit keras bahu Faza, kemudian mengguncang pelan.
"Bacot, Luh! Pulang saja sana."
__ADS_1
"Enak saja. Gua capek-capek kemari sampai lari-lari karena khawatir. Lha...sampai sini disuruh pulang. Kagak! Itu nggak benar."
Rindi menoleh pada Mike, memberi tanda untuk pamit pulang. Rindi merasa tak berguna lagi sejak kedatangan Riyan.
"Bagaimana kalau Kalian pulang saja? Biar saya yang temani Faza di sini?" Kalimat ini ditunjukkan untuk Rindi dan Mike.
"Riyan, kamu benar-benar ya. Baru datang langsung mengusirku begini?" gerutu Rindi. Seolah dia memang benar-benar ingin disana. Nyatanya, memang dia ingin pulang saja. Semakin lama, Faza semakin terlihat jelas memikirkan Sawitri. Kenyataan itu tentu saja membuat hati Rindi tidak tenang.
"Rindi, sebaiknya kita pulang saja. Besok kita kemari lagi," bujuk Mike sambil tersenyum.
Ada rasa cemburu yang menggelegak ketika melihat bagaimana Rindi khawatir pada Faza. Mike sebisanya menahan itu semua agar hubungannya dengan Rindi tetap utuh. Lagian, keduanya memang sudah berteman sebelum Mike hadir di antara keduanya. Bahkan Faza dengan antusias mendukung perjuangan Mike untuk mendapatkan hati Rindi.
"Pulanglah, Rin," lirih Faza. Sejujurnya, dia ingin Rindi tinggal. Menemani dirinya seperti yang sudah-sudah. Tapi semua berubah. Kedekatan mereka dahulu dengan yang sekarang tak lagi sama.
Faza telah berjanji kepada Mike untuk memberikan kesempatan kepada pria itu agar mengejar cintanya. Berpikir bahwa Mike telah bersungguh-sungguh dalam cinta. Sejauh yang Faza kenal, seorang Cassanova seperti Mike tidak akan mampu menunggu lama. Namun nyatanya, hingga tiga tahun pria itu teguh pada pendiriannya.
"Pulanglah, Rin. Aku baik-baik saja di sini. Kamu tidak cukup kuat dengan bau rumah sakit. Jadi, pulanglah."
Faza ingat ketika Rindi sakit sebab tertembak. Faza harus berbohong pada Madam Eyang agar bisa menemaninya. Perasaan Faza amat senang waktu itu. Namun kenyataan yang Faza dapatkan adalah Rindi berkorban buat Mike. Iya, untuk menyelamatkan Mike.
"Hati-hati." Mike membukakan pintu mobil untuk Rindi. Meletakkan jemarinya di bagian atas pintu agar kepala Rindi tidak terbentur. Perlakuan yang sangat manis. Tanpa sadar gadis itu mengulum senyum.
"Terima kasih," ucap Rindi.
"Iya!" jawab Rindi.
"Tidak! Kita perlu rayakan kebersamaan kita ini." Rindi memiringkan kepala tak mengerti maksud Mike.
"Rindi, dari sekian tahun penantian ku. Baru kali ini aku bisa sedekat ini denganmu. Aku tak ingin malam ini cepat berlalu."
"Mike, bisakah kita pulang saja? Aku ingin segera istirahat."
Mungkin Rindi masih perlu waktu lagi untuk menyelami isi hatinya.
"Baiklah."
Mobil melaju pelan menyusuri jalanan. Ketika sampai di pertigaan yang cukup temaram sebab pohon-pohon menghalau sinar lampu kota. Seorang pria paruh baya tampak duduk bersimpuh di hadapan dua pria berbadan kekar. Salah satu pria yang lebih gemuk dari satunya, memegang pria tersebut dengan posisi jongkok.
Dari gerak tubuh yang ditangkap netra Mike, pria itu seperti tengah dirundung kemalangan.
"Pak Tua...ternyata uangmu banyak juga, ya!"
__ADS_1
Dengan tidak tahu malu, mereka merogoh paksa saku pak tua. Meski dengan sekuat tenaga mencoba mempertahankan hak miliknya, tetap saja pak tua itu kalah tenaga. Tersungkur di aspal sambil meratapi uangnya yang telah berpindah tangan.
"Janggaaaaan. Jangan ambil uang saya." Meraung ditengah ketidakberdayaan. Tubuh rapuh lebih menyedihkan ketika salah satu dari mereka menendangnya secara tak manusiawi.
"Hahahaha." Tak hentinya kedua pria jahat itu tertawa. "Lumayan banyak juga uangmu, Pak Tua!"
"Kita bisa bersenang-senang sepuasnya, Kang!" Timpal yang satunya.
"Jangaaannnn! Itu buat beli obat anak saya." Hendak merebut kembali beberapa lembar uang yang dipegang oleh salah satu pria bertubuh bongsor.
"Hai...Pak Tua. Kamu itu sudah bau tanah. Ngapain simpan uang segala. Hahhhh! Mending kasih ke kita biar banyak guna." Keduanya tertawa terbahak-bahak.
Bugghhhh
"Pecundang! Pengecut, Kalian," umpat Mike seraya melayangkan satu tinju penuh kekesalan.
Satu orang dipukul tepat bagian rahang samping, oleng hingga menubruk tubuh pria satunya lagi.
"Siapa kamu hahhh? Berani sekali ikut campur masalah kami. Mau cari mati, Luh?"
"O...Kalian ingin mati? Dengan senang hati akan aku layani."
Adu jotos tak terelakkan lagi. Dua pria melawan satu orang dengan kekuatan penuh. Mike awalnya hanya menangkis, mengelak serta mengejek musuhnya dengan kata-kata. Tapi ketika tanpa sengaja melihat Rindi menepuk lengannya sendiri berulang kali, Mike segera mengambil keputusan lebih berani.
"Mike!"
~
~
Sana duduk bersandar pada dasboard, sedangkan Vino baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sayang, kenapa belum tidur? Hemmh?" Mengusap puncak kepala sang istri yang kemudian merebahkan kepala di dada bidang milik sang suami.
"Sawitri...apakah dia baik-baik saja?" Sana merajuk sebab hpnya disita sama Vino.
"Iya, Sawitri baik-baik saja. Faza merawatnya dengan benar."
"Aku ingin lihat kondisinya," bujuk Sana lagi.
"Besok saja. Untuk sekarang, kita istirahat dulu. Jangan sampai bayi kita kelelahan di dalam sana."
__ADS_1
Meski cemberut, bumil itu tetap nurut. Vino akhir-akhir ini terkesan posesif. Sana sampai heran dibuatnya. Apakah sebab ada bayi di dalam perutnya, ataukah ada hal lain yang membuat Vino berubah? Entahlah. Sana hanya berharap, semua akan baik-baik saja.
To be continued