Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Menemani Rindi


__ADS_3

"Waoooow, Riyan kau sungguh luar biasa. Tidak rugi aku mengirim pesawat untuk menjemput dirimu semalam." Arjun mengangkat kedua jempolnya. "Ternyata pemikiranmu lebih dewasa daripada yang aku duga."


Riyan beberapa bulan ini memang berada diluar Jawa untuk mengatasi masalah penggelapan dana yang terjadi di kantor anak cabang BG. Tapi semalam, baru saja dia pulang dari kantor, sudah dikejutkan oleh kedatangan orang suruhan Vino untuk menyelesaikan masalah Vino. Lebay memang, bahkan Riyan tidak habis fikir akan jalan pikiran Vino yang sampai menyuruh Riyan turun tangan langsung, padahal hanya masalah kecil, apalagi hanya masalah perempuan, cih. Riyan mengumpat dalam hati sebab masalah ini.


"Gini doang mah kecil, aku kira bakal dapet job yang memicu adrenalin gitu, eh tahunya cuma menakut-nakuti merpati jinak," sombong Riyan dengan Senyum yang mengembang di wajah tampan Riyan.


"Jangan sok kau, kau masih beruntung sebab tidak bernasib sama dengan si Indra," ketus Arjun.


"Hai, jangan salahkan si Indra lagi, sebab karna dialah kita dapat bukti akurat mengenai Sima," tegas Riyan. "Indra hanya ingin Bos Vino tahu, bagaimana liarnya rubah betina itu."


Riyan ingat, saat dia hendak pulang, sesuai perintah dari Vino, Riyan mengambil beberapa video syur Sima dengan beberapa pria. Tentang bagaimana dapatnya, tentu saja dari para hacker jenius yang dimiliki oleh BG.


"Ternyata ada baiknya juga si Indra punya kelainan mengoleksi video dewasa setiap wanita yang tidur bersama dirinya." Riyan terkekeh. "Bahkan di sana, dia lebih memilih tinggal di Batam daripada bersamaku!" terang Riyan.


"Apa yang menarik memangnya?" tanya Arjun yang polos.


"Indra bisa leluasa ganti selimut tiap malam!"


Arjun yang mendengar pun nampak manggut-manggut, entah paham atau tidak. Secara diakan jomblo akut.


"Sok tahu!" cibir Vino masih fokus sama ponselnya.


"Memang tahu!" Riyan tidak mau kalah. "Makannya berterima kasih lah kepada Indra, berkat kenakalannya juga Luh bisa putus sama si Rubah betina itu,"


"Ya, kau benar! Sepertinya si Bos harus berterima kasih kepada Indra kali ini." Arjun mengangguk setuju sambil memainkan bolpoin dengan jari-jarinya. Arjun melirik Vino yang tengah fokus pada ponsel daripada obrolan mereka.


"Dodo amat," Vino menggidikkan bahunya acuh.


"Eh, tapi kenapa jumpa persnya diundur tadi?" tanya Riyan kemudian, mengalihkan perhatian Arjun dari menatap Vino.


Riyan tadinya dia begitu antusias, setelah melihat wajah kekalahan Sima. Riyan berencana akan semakin menekan wanita tidak tahu diri itu lewat awak media, tapi malah acara jumpa pers diundur menjadi besok.


"Si Bos ingin menjadwal ulang rencananya, dia ingin membawa sang kekasih ikut serta, besok!" ungkap Arjun.


"Wah, gercep juga tuh Si Bos! Sekalian umumkan tanggal pernikahan Bos. Biar sport jantung tuh Mantan."


"Yup!" Arjun selalu angkat jempol.


"Jadi nggak sabar ketemu sama Nona Sana yang semakin bertambah cantik tiap harinya," ucap Riyan tanpa sadar, yang langsung dapat pelototan dari Vino. "Santai saja lah Bos, just kidding," mengangkat dua jarinya.


"Berani bicara begitu lagi, siap saja dengan segala konsekwensinya," ancam Vino.


"Santai Bos, nggak bakalan berani Gua," Riyan terkekeh Tapi kemudian, "Eh, gua boleh istirahat kan? Capek banget gua, dari semalem di perjalanan terus datang kesini. Selain itu, ada pekerjaan yang harus gua selesaikan." ucap Riyan.

__ADS_1


"Pulang sonoh!" usir Vino masih dengan mode dingin.


"Hai, Bos. Masalah sudah kelar. Tapi mukanya masih ditekuk gitu!" Arjun menepuk bahu Vino. Yang ditanya hanya mendesah pelan.


"Kemana saja sih, Dia aku hubungi dari dua jam yang lalu, tapi tetap saja tidak ada jawaban!"


"Maksudnya?" cengo Riyan dan Arjun. Bahkan Riyan tidak jadi membuka pintu.


"Sana!" ketus Vino.


"Punya yang lain mungkin!" canda Riyan yang kemudian langsung keluar ruangan.


" Brengsek, kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan membiarkannya." geram Vino.


✓✓✓


Di rumah sakit.


Sana dan Rindi duduk di taman rumah sakit. Rindi yang terbiasa suka keluyuran, tentu saja tidak tahan jika harus duduk diam saja di atas ranjang. Dan siang ini, bukannya istirahat, tapi Rindi gunakan untuk berjalan-jalan.


"Disini saja, Kak!" Rindi menghentikan gerakan Sana. Kini mereka bisa menikmati terik mentari di bawah pohon yang lumayan adem.


"Ternyata kau pintar memilih tempat, Dek. Di sini adem banget. Sana duduk di bangku yang berada dihadapan Rindi.


"Kumat!" cebik Sana.


"Biarin!" sewot Rindi.


"Rindi, kakak ingin bertanya sesuatu kepadamu?"


"Ya, tanyakanlah, Kak!"


"Rindi, selama tiga tahun ini, kita bersama dan hidup sebagai saudara. Kakak tidak pernah memperdulikan kau darimana atau anak siapa. Tapi, kakak kadang merasa kau memberi jarak pada hubungan ini. Sepertinya kau tidak menghargai aku sebagai kakakmu," keluh Sana, dan jangan tanyakan lagi bagaimana ekspresi sedih ala drama queen Sana.


"Apa maksudmu, Kak??"


"Kau pandai berpura-pura. Dan bahkan kau tidak bisa menyembunyikan kebenarannya. Rindi, aku tahu bahwa luka yang ada di dadamu itu, bukan luka akibat jatuh dari motor. Aku benar kan?"


Rindi sudah menduga jika Sana akan curiga kepadanya. Terlebih saat di ganti kasa tadi, lukanya terlihat bukan luka biasa.


"Kak! Rindi tertembak pada malam sebelum kakak perform," Sana mendellik setelah mendengar ucapan Rindi.


"Kenapa tidak lapor polisi? Bukankah itu tindakan kriminal? Apakah kau buronan mereka?" cerca Sana. "Atau, kau saksi kunci dari sebuah tindakan kriminal, sehingga mereka akan membunuhmu. Rindi, kita harus menyewa bodyguard untuk menjagamu. Mereka pasti akan tetap mengejarmu. Dan ketika itu terjadi, owh, tidak. Aku tidak mau hidup sendiri." Heboh Sana dengan tingkah lebatnya.

__ADS_1


"Kakak, Kak Sana, bukan begitu Kak, Kakak harus tenang oke!"


"Bagaimana bisa tenang, nyawamu dalam bahaya Rin, tapi kau ... lihatlah, bahkan tidak ada kecemasan sama sekali," omel Sana. "Dan satu lagi, aku sangat marah kali ini. Kau dalam bahaya tapi tidak memberitahukan kepadaku." Nafas Sana memburu, wajahnya pun berubah masam.


Rindi bukannya takut sebab Sana marah, tapi langsung merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum.


"Mau apa kau!" kesal Sana, Rindi masih dalam mode menggoda Sana.


"Pelukan!"


"Kau memang selalu membuatku khawatir!" Air mata Sana tumpah, mereka berdua kini berpelukan.


"Kak, sebenarnya aku ingin kembali malam itu, tapi di jalan aku bertemu Mike yang sedang dikeroyok oleh banyak orang. Dan saat itu, aku pun tidak kuasa untuk membiarkan mereka menghabisi Mike. Kita menang, Kak! Tapi kemudian pemimpin mereka curang, dia melepaskan peluru untuk Mike."


"Sebentar, peluru untuk Mike, tapi kau yang terluka. Begitukah?"


"Iya, karna aku mencoba untuk menolongnya, malah aku yang kena tembak."


"So sweet!"


Rindi menampol kepala Sana. "Hai, berani sekali kau memukul saudara tuamu, hemmh,"


"Kau pikir aku sedang bermain drama romantis saat adegan penyelamatan sang kekasih?"


"Mungkin saja seperti itu," cebik Sana dengan menaik turunkan alisnya. Tapi kemudian Sana terdiam dan ingat sesuatu.


"Ah, iya! Kenapa Mike bisa berurusan dengan para pembunuh itu?" tanya Sana.


"Bukan pembunuh, Kak! Tapi penjahat,"


"Sama saja, niatnya juga pasti membunuh atau melenyapkan!" kilah Sana.


"Iyain aja deh!" ketus Rindi. "Kurang tahu juga seh, masalahnya apa. Secara kan, Mike memang orang penting dan dari keluarga kaya dan pembisnis, mungkin saingannya kali?"


"Hai, cantik-cantik! Pada ngapain nih!"


tanpa mereka sadari, seorang pemuda langsung duduk di samping Sana dengan wajah yang nampak berseri-seri.


"Seneng banget kayaknya, lagi dapet hologram berhadiah ya!"


Bersambung.....


Hai hai, maaf ya, jarang up, sebab banyak urusan di dunia nyata.

__ADS_1


__ADS_2