
"Jadi inget sama gadis di taman waktu itu, Jun. Bidadari surga yang selalu menghantui hatiku."
"Gadis," Arjun nampak berpikir sampai menaikkan sebelah alisnya.
"Iya."
Tapi, malam itu tidak ada seorangpun di sana? bagaimana bisa ada seorang gadis? mungkin saja dia berhalusinasi. Waktu itukan si Bos lagi mabuk. Dasar orang mabuk, adaaa saja yang dilihatnya. batin Arjun. Tersenyum sendiri memikirkan keadaan bosnya ketika mabuk.
"Hai, Arjun! ingatkan?" tanya Vino memastikan, sebenarnya Vino masih lupa-lupa ingat sama kejadian itu. Dia masih setengah sadar tentu saja tidak terlalu jelas melihat wajah gadis yang ditemuinya di taman. Yang pasti suaranya masih terngiang jelas di telinga.
"Maaf, Bos sebenarnya, saya tidak melihat siapapun di taman itu, hanya anda yang berada di sana waktu itu" jujur Arjun.
"Jujur, banget, Luh ya! tentu saja tidak ingat. Kamu datangnya kan terlambat. Jadi gadis itu sudah pergi. Tapi suara khasnya, sama persis dengan yang terdengar ini," Vino seperti menemukan sebuah harta karun berharga. Akhirnya dia bisa menemukan kembali gadis bersuara merdu yang tanpa sengaja dia lihat malam itu.
Kalau sudah tahu kenapa nanya?dasar Bos edan. Sabar, Jun. batin Arjun
Vino ingat betul, hatinya yang berdesir sebab lantunan ayat-ayat Allah kini kejadian itu seperti terulang kembali. Vino pun mengingat doanya kala itu.
"Engkau pandai menjadikan aku sebagai bonekamu, sekejap kau agungkan aku, menyuruh setiap orang memujiku, menciptakan tahta yang membuatku terlena, lalu Engkau bantai aku dengan kalimat-Mu. Jika memang Engkau mengabulkan setiap do'aku? Sanggupkah Engkau mengirim hamba yang Engkau tunjukkan kepadaku malam ini sebagai pendamping hidupku."
Vino tersenyum sendiri mengenang kalimat doa yang dia ciptakan sendiri. Dan entah kenapa? dia begitu optimis. Dia yakin bahwa doanya pasti dikabulkan oleh Allah SWT.
"Bos, apakah Bos baik-baik saja?" menjentikkan jari-jarinya di depan wajah sang Bos. Sebab Vino hanya tersenyum sendiri tanpa membalas ucapan Arjun. Arjun sampai bergidik ngeri melihat kelakuan bosnya yang konyol.
"Ah, iya! aku baik-baik saja." Vino yang tersadar kini melanjutkan lagi langkahnya. Tapi setelah sampai di pintu, ternyata semua orang sudah memenuhi rumah Vanka. Sehingga mereka berdua akhirnya duduk di bagian paling ujung di dekat pintu. Bahkan Vino yang jarang gabung dengan rakyat biasa itu sok sombong duduk di tengah pintu utama yang terasa lebih longgar.
"Bos, jangan duduk pas di depan pintu, kata orang tua kalau ada lamaran nanti yang melamar bakal balik lagi," sergah Arjun saat Vino hampir saja duduk pas di tengah pintu. Dasar Vino keras kepala belum juga mau bergeser. Beberapa orang sampai menoleh sebab ucapan Arjun.
"Geser sini lho, Nak. Jangan di tengah pintu, pamali nanti mau dapat perawan, malah keliru janda anak lima," seorang pria paruh baya yang berjanggut putih di sebelah Arjun menimpali. Dengan setengah mendorong tubuh Arjun, Vino segera ngacir dari tengah pintu. Arjun terkekeh tanpa suara karenanya.
"Mana orang baca Alquran Jun?" Vino celingukan mencari siapa yang membaca. Jauh di sana seorang gadis berhijab putih tulang menundukkan kepalanya. Sehingga Vino dan Arjun tidak bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu.
"Aku tadi sempat melihat wajahnya, Nak. Cantiknya, andaikan Jaka Tarub masih hidup. Dialah mungkin yang di sebut Nawang Wulan," kelakar pria paruh itu.
__ADS_1
"Memang cantik banget, ya, Kek," selidik Arjun.
"Dari suaranya saja kita bisa menilai karakter Dia, seorang yang sering membaca dan mengamalkan Al-Qur'an, Kalian dengarkan, bacaannya begitu indah, biasanya gadis yang seperti itu adalah gadis yang sholehah," Vino dan Arjun manggut-manggut saja. Kemudian keheningan menyelimuti mereka kembali. Bacaan ayat suci Al-Qur'an masih dilanjut.
Tak berapa lama mereka duduk, datanglah Faza dengan memakai baju koko dan sarung juga tidak ketinggalan kopiah berwarna putih. Mirip sekali dengan tampilan Syekhermania. Tapi sayangnya keringat di dahi Faza nampak menetes hingga membasahi pelipis. Faza juga masih berusaha menetralkan pernafasannya. Vino dan Arjun saling menatap sorot mata mereka menunjukkan rasa penasaran yang tinggi.
"Hai, darimana saja Kamu?" tanya Vino sedikit berbisik. Eh si Faza malah asyik menikmati lantunan ayat suci Al-Qur'an.
"Mas, kalau nanti mau nikah, pilih yang punya suara bagus kayak tadi, ya, biar rumah kita adem. Apalagi setan yang dalam diri Mas Vino, biar dia minggat." celetuk Faza yang langsung mendapat hadiah tampolan di kepala.
"Kalau bicara jangan suka asal," geram Vino.
"Aku itu anak yang Sholeh, yang memiliki sifat jujur. Jadi, apa yang aku katakan itu murni dari hati. Mas kan sering mabuk-mabukan, itu karna perbuatan setan. Makannya Mas harus punya istri yang Sholehah biar taubat." Faza masih kekeh melawan sang kakak.
"Adik macam Dia harusnya diapain Jun?" Vino mencoba tidak membuat keributan dengan menanyakan kebijakan kepada Arjun.
"Ya, didengarkan dan dilakukan apa nasehatnya lah, Bos. Kasihan ustad magang kayak dia. Nanti kalau pensiun bakal lebih parah dari kebiasaan Bos," Vino dan Faza menatap tajam ke arah Arjun. Arjun hanya angkat dua jari sambil memberi kode mengunci mulutnya sendiri.
"Bukan nggak bener, tapi kurang bener," Faza membenahi.
"Sama saja itu namanya. Berani banget, ya, Kalian ngatain gua," menampol Faza dan Arjun bergantian.
Keduanya hening sejenak, tapi mata Vino seperti-nya mulai aktif menelisik santri magang di sampingnya yang lebih mirip seperti anak yang baru saja selesai disunat.
"Hai, santri magang, dapat baju darimana, Luh?" selidik Vino kemudian. Faza hanya cengengesan menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Dilarang kepo," Faza menaikturunkan alisnya. Vino lalu berdecih.
"Eh, kemana hilangnya gadis tadi," Faza nampak melongok ke kanan dan kiri mencari sosok gadis yang membaca ayat suci Al-Qur'an tadi.
"Iya, kok nggak ada," timpal Arjun. Vino hanya diam menimbang-nimbang apa yang tadi dilihatnya. Gadis itu bangkit dari duduknya, setelah membaca Alquran. Dan Vino juga melihat wajahnya meski hanya sekilas. Dadanya mendadak bergemuruh.
"Kak, mau ikut tidak?" tiba-tiba tepukan Faza di bahu Vino membuyarkan lamunan Vino.
__ADS_1
"Ikut kemana?" ucap Vino yang belum tahu kemana arah pembahasan-nya.
"Aku sama Arjun mau ke dalam, tapi kita harus melalui pintu belakang, sebab pintu samping juga penuh dengan banyak orang," Faza menjelaskan. Vino berpikir sejenak, ada benarnya juga dia ke dalam nanti, setidaknya Vino bisa memastikan apakah yang dilihatnya benar atau salah.
"Baiklah, ayo!" ucapnya kemudian.
Saat mereka hendak berdiri dari tempat duduknya, pria paruh baya yang memiliki jenggot itu berkata "Jangan suka pindah tempat nanti malaikatnya bingung kalau bagi pahala. Secara kalian tadinya berada di sini, eh malah pindah," mereka bertiga saling menatap satu sama lain.
"Apakah ada yang kayak begitu?" tanya Vino.
"Nggak percaya Kalian?"
"Ada pelajaran kayak gitu dari mana, Pak," cengo Faza.
"Memangnya kalau belajar agama, kitabmu mereknya apa? pelajaran sepele saja tidak tahu."
**Bersambung....
Pengalaman waktu kecil. kalau mau pindah tempat duduk pasti dibilangin gitu sama Almarhum Ibu Hartini. Guru ngaji yang juga suka membacakan kami cerita.
🐠🐠
...Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak....
...Like...
...Share...
...Komen...
...Vote...
...Rate5**...
__ADS_1