
"Saras, sampai sejauh mana Vino menyelesaikan tugasnya!" Maria memainkan pena yang dipegangnya, beberapa berkas telah dia tanda tangani dan diserahkan kepada Saras.
"Vino akan melakukan konfirmasi terkait hubungannya dengan Sima." Maria mendongakkan wajahnya, terlihat jelas beberapa kerutan yang kini bertambah, meski begitu wajahnya tetap terlihat cantik.
"Apa kita perlu turun tangan untuk membantunya Madam?" tanya Saras lagi.
"Sepertinya kita harus membiarkan anak itu memperjuangkan cintanya sendiri!" Madam tersenyum penuh arti. "Sebaiknya kau atur jadwal Sana lagi, agar lebih banyak bertemu dengan dokter Pras, semoga dengan ini, gadis itu bisa segera sembuh. Hanya ini yang bisa kita lakukan untuk saat ini," lanjut Maria.
"Apa Madam yakin?"
"Tentu, aku sangat yakin Vino sudah move on! Aku tidak mau wanita ular itu menghancurkan kehidupan Vino lagi, apalagi sampai masuk ke dalam lingkaran keluarga kita. Tapi kita juga harus sedia payung sebelum hujan, untuk segala kemungkinan yang akan terjadi."
Saras tersenyum senang, tapi sedetik kemudian, dia teringat sesuatu.
"Bagaimana jika gadis itu nekat, Madam?"
"Disanalah kita akan bertindak! Maka dari itu, tetap awasi dia dan jangan sampai lengah. Ingat! Cukup awasi saja, aku mau tahu, sampai sejauh mana Vino tetap siaga menjaga cintanya."
✓✓✓
Kini di ruang rawat Rindi.
"Mbak, apa kau benar-benar serius menjalin hubungan dengan mas Vino?" kini Rindi duduk dengan bersandar, sedangkan Sana mengupas buah-buahan segar untuk Rindi, sesekali menyuapi Rindi dengan sayang. Dan Faza sudah pergi ke bengkel, setelah memberitahukan kepada Rindi apa yang tengah terjadi.
Beberapa saat Sana terdiam, "Entahlah!" Sana terlihat lesu, dan hatinya gelisah. Vino dari sejak pagi tidak bisa dihubungi, hanya ucapan selamat pagi yang dia dapatkan, dan setelah itu, tidak ada telpon atau pesan lagi dari Vino.
"Kok gitu seh! Mbak, jika ada sesuatu, ceritakan lah, jangan dipendam dalam hati sendiri. Siapa tahu aku bisa bantu, atau setidaknya aku bisa menjadi pendengar yang baik." bujuk Rindi.
Sana menghembuskan nafasnya pelan, "Mbak tidak bisa memungkiri, jika sebenarnya memang memiliki perasaan terhadap Vino," Sana menghentikan aktivitasnya mengupas buah, Sana tersenyum kecut.
"Mbak memang menyukai pria itu. Tapi mbak takut, apa dia akan menerima kekurangan mbak, dan apakah dia tidak akan salah paham seperti yang pernah mbak alami?"
Rindi mengelus pundak Sana, "Kalau jatuh cinta harus yakin dong!" bukannya menghibur malah menggoda.
"Siapa yang jatuh cinta, baru pedekate keles," elak Sana.
__ADS_1
"Mbak ini bagaimana seh, terus, malam itu acara paan? Settingan doang. Buat apa coba! Pansos?" Rindi memukul lengan Sana. Sana yang merasakan sedikit sakit mengusap pundaknya. Sana cemberut sebab ucapan adiknya.
"Ya, karna itu juga, aku masih bingung, Vino itu beneran suka sama aku, atau memang terbuai oleh peran yang kita mainkan!"
"Mbak, jangan membodohi dirimu sendiri, aku bisa melihat dengan jelas sorot mata Mas Vino penuh dengan cinta, wajahnya menunjukkan kejujuran saat mengungkapkan isi hatinya untuk Mbak."
"Tapi ... !"
"Mbak, bagaimana dengan perasaan Mbak? Itulah yang paling penting sekarang. Kalau Mbak merasa bahagia dan jantung Mbak berdebar saat menyebut atau mendengar namanya, maka berarti mbak juga mencintai mas Vino."
"Ya, itu semua benar! Tapi, bagaimana dengan pandangan orang lain tentang hubungan ini, Rindi. Kasta kita berbeda, Vino bagaikan pangeran yang dikelilingi oleh harta yang melimpah. Tapi aku, hanya Upik Abu_" Rindi menepuk pundak Sana, sebelum Sana meneruskan kata-katanya.
"Mbak, mbak seperti hidup di zaman batu saja. Kita ini hidup di zaman milenial yang penuh dengan keegoisan. Begitupun dengan perasaan. Mbak harus harus egois dan mengutamakan perasaan Mbak."
"Perasaan, mbak tidak bisa terlalu berharap Rindi." lirih Sana dengan senyum yang mengembang. Jika bicara tentang hati, tentu Sana sangat bahagia setelah mendapatkan ungkapan cinta dari Vino, meski hubungan itu baru saja dimulai. Mendapat perhatian kecil melalui via chat saja dia begitu bahagia, apalagi saat bertemu langsung. Ah, Sana jadi merindukan Vino, dan ingin menanyakan kabar lalu saling mengungkapkan kerinduan.
"Hai, kenapa malah bengong? Dan kenapa kakak seperti orang yang patah semangat, dimana mbakku yang dulu, yang selalu semangat memperjuangkan apa yang diimpikannya?"
"Rindi, kau pasti ingat bagaimana Dion_"
"Sudahlah mbak, jangan diingat lagi Si Mantan nyebelin ituh, apalagi si Raya yang sok alim yang berhati busuk ituh. Dengan liciknya dia memfitnahmu." Rindi.
"Maaf ya, Mbak selalu melibatkan dirimu dalam segala hal."
"Hai, kita ini saudara, sudah pasti kita saling mendukung dan membantu satu sama lainnya."
"Eh, tapi kamu dari tadi panggil saya Mbak terus ya, bukankah kemarin sudah berubah jadi "Kakak" ya,"
"Kan sama saja artinya Mbak."
"Iya, tapi semenjak di rumah Madam, kau lebih sering memanggilku Kakak daripada Mbak,"
"Mengikuti gaya saja, Mbak! Nanti kalau di desa aku panggil mbak lagi.
"Dari tadi juga sudah dipanggil Mbak kok, ngapain nunggu sampai ke desa lagi."
__ADS_1
"Ya, kebawa sama cara panggil orang sini, Kak!"
"Tuhkan, panggil Kakak," Sana dan Rindi tertawa.
✓✓✓
"Bagaimana Nona Sima. Apakah perlu semua orang tahu tentang masa-masa bahagiamu itu daripada meminta maaf dan konfirmasi terkait hubungan Anda dan Tuan Vino?"
Sima mengeram kesal di dalam hati. Pasalnya, belum apa-apa, tujuannya harus berhenti di tengah jalan. Tapi apa boleh buat, pria di hadapannya kini membuatnya tidak berkutik.
"Bagiamana Nona? Anda masih ingin bermain-main dengan Tuan Vino!" Pria itu menatap tajam ke arah Sima yang sepuluh menit yang lalu tetap bergeming di tempat.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Sima yang tidak mengenal lawan bicaranya.
"Apa itu penting? Kau tidak perlu tahu siapa saya, tapi yang perlu anda ketahui adalah, saya kesini untuk bernegosiasi. Dan saya sudah menyampaikannya, tinggal menunggu keputusan dari Anda."
"Tuan Vino mengadakan pers lima belas menit lagi, terkait kasus pencemaran nama baik yang Anda buat."
Gila, aku hanya mengumumkan kepada semua media bahwa kita pernah bertunangan, dan itu dianggap sebagai pencemaran nama baik?"
"Jangan banyak berfikir Nona, sebab waktu kita semakin menipis!" desak pria itu lagi.
"Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau perintahkan," ketus Sima.
"Tanda tangani ini Nona," pria itu menyodorkan berkas yang sejak tadi berada di hadapannya.
"Sudah!"
"Terima kasih, Nona! Dan sebaiknya Anda pergi bersamaku untuk menghemat waktu." tawar pria itu.
*Tidak perlu, aku punya mobil sendiri!" ketus Sima.
"Permisi!"
Setelah kepergian pria itu, Sima menyapu berkas yang berada di atas meja.
__ADS_1
"Sial! Dasar tidak berguna, aku sudah membayar mahal mereka, tapi kerja seperti ini saja tidak becus."
Bersambung.....