Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Ke kantor


__ADS_3

"Faza dimana Luh, buruan kemari waktu kamu sampai jam tujuh malam nanti. Jika kamu gagal dalam menjalankan misi ini, bersiaplah untuk menyaksikan pertandingan sepak bola di bengkel kamu itu," ucap Vino. Yang artinya bengkel Faza akan di ratakan dengan tanah.


"Ngeselin banget seh punya Abang satu inih. Nyuruh pakai ngancam segala. Aku harus cari akal supaya bisa membawa Cecan keluar dari rumah tanpa sepengetahuan Madam Eyang."


Faza dengan sedikit mengendap endap menyusuri beberapa lorong menuju kamar di mana Sana berada.


"Mau ngapain, Luh kemari?" Saras yang melihat gelagat mencurigakan menegur Faza.


"Mauuu, minta di ajarin ini sama Cecan eh kak Sana. Kan biasanya kak Saras nggak mau Faza mintai bantuan," Faza menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan nyengir kuda dan juga kedipan mata genitnya. Untung sudah antisipasi bawa buku segala, jadi bisa buat alasan ketemu sama Sana.


"Owh, tapi kenapa jalan kamu beda gitu, ya. Aku seperti me_"


"Jangan suudzon sama orang itu tidak baik. Bisa menimbulkan fitnah nanti," potong Faza sepertinya Saras mulai curiga. Nampak jelas dari sorot matanya yang tajam.


"Oke, kamu lolos kali ini," Saras mengambil handphone miliknya yang bergetar. Tertera nama Madam di sana.


"Lama lamain gih telponannya biar gua bisa bawa kabur Cecan," gumam Faza yang hanya dia saja mendengarnya.


Dia mencium buku di tangannya berulang kali "Kamu memang biangnya pintar," tertawa senang. Dia berpikir sejenak kemudian langsung mengetuk pintu kamar Sana setelah mendapat ide brilian.


"Ya, sebentar," terdengar suara dari dalam. Faza segera pasang muka memelas.


"Kak, Cecan hadehhhh. Kak Sana, anterin saya ya. Sebentar saja, yuk, ini antara hidup dan mati saya juga masa depan saya, Kak!" heboh Faza langsung menyambar tangan Sana. Sana yang masih kebingungan hanya menurut saja kemana Faza membawanya.


"Faza, tapi aku_"


"Kak, please kamu adalah makhluk Tuhan yang tercipta dengan banyak kebaikan. Kakak harus bantuin saya atau semuanya akan berakhir dan masa depanku yang hancur, Kak," Faza semakin memelas Sana jadi tidak tega melihatnya.


"Sana, Faza. Kalian mau kemana?," tanya Saras.


Kenapa anjing manis itu selalu menggangguku seh. batin Faza.


"Ah, Kak Saras," menggandeng kedua bahu Saras dan membawanya sedikit menjauh dari Sana.


"Kakak, Faza yang ganteng ini lagi banyak tugas ujian sekolah, jadi harus belajar giat Kak, dan kaka tahu, kalau kak Sana ternyata pintar dalam pelajaran yang Faza tidak mengerti. Jadi, sekarang Faza pinjem dulu kak Sananya buat kita pergi beli buku. Yah please," memohon, Saras yang akan menoleh ke arah Sana aja di putar lagi kepalanya sama si Faza.

__ADS_1


"Tapi, Madam nanti malam_"


"Untuk nanti malam mah gampang, Kak. Yang penting adalah sekarang," serobot Faza. Saras hanya menghela nafas panjang. Percuma berdebat dengan Faza.


"Tapi jangan sampai jam 6 Sana sudah harus berada di sini," seru Saras memperingati. Faza hanya mengacungkan jempolnya dan kembali menggandeng bahu Sana.


"Kalau kayak gini kita pantasnya jadi sepasang kekasih," celetuk Faza yang membuat Sana jadi geram. Dia injak kaki Faza. Meski tertutup sepatu, tapi sakitnya masih terasa.


"Auwwhh,"


"Makannya tangan di kondisikan main pegang pegang saja. Dan ingat gua nggak doyan sama berondong manja songong kayak Kamu itu," tunjuk Sana sebelum masuk ke dalam kendaraannya Faza.


Bodoh amat yang penting sekarang gua selamat sebab sudah bawa target keluar sarang harimau. Soal Eyang di pikirkan nanti sajalah. batin Faza.


"Hai, kita mau kemana? bukankah kau bilang kita akan membeli buku, tapi kenapa kita malah ke kantor," Sana menatap bangunan raksasa yang berada di hadapannya.


"Kita mampir ke sini dahulu, yuk sudah di tungguin," kali ini Sana tidak menolak rangkulan dari Faza. Lawong Sana asyik memperhatikan kantor yang di kunjunginya itu.


"Kantor siapa ini? gede banget, tempatnya juga bersih dan rapi. Aku juga sempat bercita cita pengen jadi pegawai kantoran. Tapi ayah tidak memperbolehkan."


"Mbak, mau nanya! apakah Mas Vino ada di ruangannya?" seru Faza yang masih merangkul Sana. Sana yang sadar mengibaskan tangan Faza hingga terlepas.


"Enak benget, Luh ya. Cari cari kesempatan."


"Kamu saja yang tidak pernah dengar kata pepatah. Jangan pernah lewatkan kesempatan yang ada sekecil apapun itu," ucap Faza sambil terkekeh.


"Terserah padamu lah, percuma ngomong sama kamu."


"Ya iyalah terserah aku, kalau kata orang banyak itu namanya voting suara, berarti rapat," balas Faza.


"Hai, pegawai bagaimana? apakah Mas Vino ada di ruangan?" membuyarkan tatapan penuh kekaguman wanita muda itu.


"A_ada pak, silahkan anda memang sudah di tungguin dari tadi,"


"Kenapa nggak bilang? malah asyik pantengin wajah ganteng saya lagi," sungut Faza lalu menarik tangan Sana.

__ADS_1


"Memang ganteng, dulu dia begitu imut. Dan sekarang begitu tampan dan aduhai." salah satu karyawan menyenggol teman yang lain.


"Aiya, andai aku yang di gandeng seperti gadis itu," karyawan lain memegang pipinya yang terasa panas.


"Gendut mana mau Tuan Faza sama kamu?" cibir kawannya.


"Ah, aku bakal dandan cantik setiap hari siapa tahu Bos muda lebih sering berkunjung setelah hari ini." Si centil mengoleskan lipstik sambil berkaca.


"Dasar centil,"


"Biarin."


"Hai, apa kamu tidak lihat, Bos Muda datang bawa cewek. Cantik juga ceweknya kira kira siapanya Bos, ya," tanya karyawan yang tadi di tanya Faza.


"Kerja kerja. Sebentar lagi waktu pulang."


Semua kembali ke tempat masing-masing.


~


~


"Mas, ini pesanan kamu sudah datang. Sekarang berikan jatahku," ucap Faza yang nyelonong masuk tanpa permisi di ikuti oleh Sana.


"Hai, ketuk pintu dulu kalau mau masuk ruangan," Vino melempar kertas yang di kepalnya. Di dalam ruangan ada Vino yang duduk di sampingnya ada salah satu karyawan perempuan. Mana karyawan itu pakai baju kurang bahan lagi. Hampir semua aset depannya keluar dari sarang. Karyawan itu juga memegang tangan Vino di atas meja.


"Eits, nggak kena. Santai Bos sok sibuk banget nih. Padahal lagi berdua sama cewek," gurau Faza yang langsung dapat pelototan dari Vino. Karyawan itu pun izin keluar setelah urusannya selesai. Kedatangan Faza cukup membuatnya sedikit kesal.


"Jangan sok tahu kamu. Tapi ada bagusnya, Luh masuk kemari setidaknya tuh cewek nggak berbuat lebih," ucap Vino setelah karyawan perempuan itu pergi dari ruangan Vino.


"Di mana gadisnya," Vino baru sadar jika Faza masuk seorang diri.


"Lho tadi di sini?" cengo Faza. "Kok mendadak hilang, Bos," Faza nyengir.


"Jangan becanda, Luh,"

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2