
^^^Hatiku, ya hanya hatiku. Aku membutakan hati demi menutup segala pintu cinta yang ada. Kekurangan yang telah menjadi teman baikku selama bertahun-tahun lamanya. Menjadi duri dalam setiap kebahagiaan yang aku inginkan.^^^
...~Sana~...
Malam minggu kelabu untuk dua jomlo yang kini tengah asyik berjalan berdua di sebuah mall.
"Kak Saras, kenapa pilih yang itu, bukan yang satunya lagi?" pasalnya Sana tidak suka sama yang namanya brokoli hijau.
"Kita kan mau buat capcay, ya wajib ada brokolinya." terang Saras sambil terus memilih bahan masakan yang dia inginkan.
"Jangan yang ijo dong, yang putih saja lebih bersih," Sana mengambil brokoli hijau dan menukarnya dengan yang putih.
"Terserah deh!" Akhirnya Saras ikut saja apa mau Sana.
"Sana, boleh aku sedikit kepo tentang adikmu?"
"Ya, gapapa!"
"Rindi itu, adik kamu, ya? Tapi kenapa kalian tidak ada kemiripan sama sekali?" tanya Saras yang sudah tidak tahan akan otaknya selalu berpikir tentang Rindi dan Sana.
Banyak perbedaan dari keduanya, termasuk bentuk wajah mulai dari mata, hidung, bibir dan rambut juga postur tubuh. Sana terlihat lebih mungil seperti wanita Indo pada umumnya. Dengan rambut hitam legam dan kulit kuning langsat yang lembut sehingga terlihat lebih segar. Tapi Rindi memiliki postur lebih tinggi dengan rambut blonde sedikit pirang. Kulitnya putih kemerahan seperti orang barat.
Saras bisa dengan leluasa memperhatikan perbedaan mereka berdua. Setelah Rindi tinggal bersama mereka beberapa hari ini.
"Sebenarnya, Rindi memang bukan saudara kandungku!" ucap Sana sambil tersenyum. Saras sudah menduga hal itu sebelumnya.
"Tapi kalian begitu kompak seperti kakak adik kandung!"
"Iya, kami merasa cocok walau kami bukan saudara kandung. Bahkan kami bisa sangat dekat dalam waktu yang singkat. Aku begitu menyanyangi Rindi, entah karena aku tidak punya saudara, atau karna dia yang mudah bergaul."
"Ya, tidak peduli siapapun dia, orang lain kadang lebih dekat dengan kita daripada saudara sendiri." Sana hanya mengangguk.
"Tapi, bagaimana bisa Rindi menjadi bagian dari keluargamu? Apakah orang tuamu mengadopsinya? Maaf aku jadi kepo! Tapi kehadiran Rindi di tengah-tengah kita, membuat Madam semakin bersemangat beraktivitas. Bahkan Madam tidak pernah olahraga sebelumnya. Dan kau lihat tadi pagi Rindi dan Madam pergi ke taman bersama." Saras terkekeh menceritakan kejadian luar biasa.
"Bukan! Kami menemukan Rindi tergeletak di jalan dengan luka hampir di seluruh tubuhnya. Entah apa yang terjadi dengannya, dia tidak ingat apapun. Saat itu kepalanya berdarah. Kami membawanya ke rumah sakit. Setelah Rindi sembuh, kami membawa Rindi pulang kerumah."
"Apakah Rindi tahu siapa keluarganya?" Sana hanya menggeleng.
"Apa kalian tidak pernah menanyakan hal itu kepadanya?"
__ADS_1
"Kami pernah bertanya, tapi Rindi enggan menjawab. Aku begitu menyayangi dirinya, sehingga terlepas dari itu semua, kami merasa tidak perlu tahu identitas aslinya." Saras pun mengerti, lalu meneruskan berbelanja.
"Sana, kita perlu susu!"
"Oke, aku akan mengambilnya." Sana pergi ke tempat dimana rak susu itu berada.
"Tinggi sekali," gumam Sana sambil melompat sekuat tenaga meraih kotak susu yang dia inginkan. Tapi beberapa kali dia mencoba tetap saja gagal. Rak itu terlalu tinggi untuk tubuh mungilnya.
"Baiklah, kita coba sekali lagi."
Baru saja Sana mengulurkan tangannya, sebuah tangan besar berada di atas kepalanya. Sana mendongak, mendapati wajah seorang pria tampan yang tersenyum manis kepadanya.
"Ini!" "Tampan" itulah kata yang otomatis muncul di otak Sana.
"Terima kasih atas bantuannya."
"Sama-sama, apakah ada yang bisa aku lakukan untukmu selain mengambil susu?"
"Tidak! Aku hanya membutuhkan ini," mengangkat sedikit kotak susu itu. "Terima kasih atas bantuannya." Sana tersenyum sedikit canggung. Dia tidak sebaik Rindi untuk mengenal orang baru.
"Apakah begitu caranya berterima kasih?" ucap pria itu tersenyum ramah. Seketika gugup, tangannya tiba-tiba berkeringat.
"Namaku Mike Moh Anderson. Kau bisa menyebutku dengan nama Mike." Sana cukup terkejut dengan tindakan Mike yang menarik tangan Sana dan menjabatnya erat.
"Ah iya!"
"Hai, jangan gugup seperti itu, kau sudah tahu namaku, sekarang giliran kamu. Siapa namamu?" Mike sedikit membungkuk sebab Sana jauh lebih pendek darinya.
"Sana, namaku Sana." ucap Sana dengan tangan masih di genggaman Mike. Sana menatap tajam tangan mereka yang bertaut. Membuat Mike segera melepas genggamannya.
"Maaf, aku sampai lupa melepas tanganmu."
"Tidak apa-apa, senang berkenalan dengan anda, tapi saya tidak bisa berlama-lama di sini, saya harus segera kembali. Takut kakak saya mencari. Permisi!" Sana berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Mike.
"Semoga kita dipertemukan kembali suatu hari nanti," ucap Mike menatap punggung Sana. Dia tersenyum sendiri kemudian melanjutkan tujuannya.
~
~
__ADS_1
Di sebuah restoran dengan fasilitas VVIP empat pemuda nampak berkumpul. Diantara mereka ada yang duduk dengan tenang di sofa, ada yang berdiri dengan melipat tangan di dada sambil memperhatikan setiap detail ruangan.
Ruangan yang memiliki konsep outdoor. Tapi ada satu perbedaan, yaitu, meski disebut outdoor atau luar ruangan, namun sesungguhnya itu hanya konsepnya. Ruangan itu tetap berada dalam bangunan. Tampilannya menyerupai suasana di Venesia, Italia.
"Kau pandai sekali membuat ruangan seindah ini," puji Random saat mendaratkan bokongnya pada sebuah kursi.
"Dari mana kau mendapatkan ide cemerlang seperti ini?" tanya satu orang lagi yang berambut cokelat. Dialah Renald satu-satunya orang yang sudah menikah diantara mereka.
"Setiap bangunan di Venesia ada warna yang berbeda bagiku, dari sanalah aku mulai mendapat ide. Pengalaman berkunjung ke Venesia membuat aku ingin mewujudkan sebuah konsep ruangan mirip seperti yang aku lihat itu. "Saya membayangkan kalau makan di jalanan Venesia seru, ya. Makanya ruangan ini dibuat terasa outdoor," kata Kevin.
"Dimana yang lain?"
Baru saja selesai berhenti bicara, pintu terbuka otomatis, muncullah Vino diiringi oleh Arjun.
"Hanya segini yang hadir?" Vino berdecak kesal.
"Mike sebentar lagi hadir. Dia masih dalam perjalanan.
"Masih hidup tuh orang!" sungut Vino. Dia duduk di kursi yang ditarik oleh Arjun.
"Dia baru saja mendarat tadi pagi, dan kabarnya dia akan memegang kendali perusahaan papanya."
"Mau jadi anak yang sholeh rupanya." gumam Random.
"Yang lain kenapa tidak hadir?" Vino menyela.
"Si Raja minyak tidak bisa hadir sebab paman sedang koma. Sedangkan yang lainnya kau tahu sendiri. Mereka berada di negara Paman Sam.
Jadi sebenarnya, mereka adalah para penerus Bravo Grup. Setiap empat bulan sekali, mereka akan mengadakan pertemuan guna membahas seputar keluarga saja. Mereka akan melupakan bisnis untuk sejenak.
"Kau tidak menanyakan kabar Indra?" Kevin langsung mendapat tampolan dari Random juga pelototan tajam dari Arjun. Vino hanya berdecih sebal. Diantara semua penerus Bravo, Indra lah yang secara tidak langsung, sering membuat masalah dengan Vino.
"Kenapa dengan kalian?" jawab Vino santai. Mereka semua melongo dan saling sikut.
Bersambung...
Apa kira-kira yang mereka pikirkan ya?
^^^Jangan lupa dukungannya, bantu like, share, rate, vote dan komen juga hadiah nya.^^^
__ADS_1