Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Gantungan


__ADS_3

"Maaf, Mbak," ucap Sana dengan tulus. Sana segera memunguti kertas yang berserakan akibat tendangan tadi.


"Mbak, Kamu bilang Mbak? emang saya penjual jamu," sengit perempuan seksi di hadapan Sana.


"Maaf, Bu! saya tidak sengaja. Ini berkasnya, sekali lagi saya minta maaf," Sana segera merapikan kertas itu dan memberikannya kepada wanita itu. Mata Sana sekilas melirik pintu masuk, Saras dan Maria sudah hilang dibalik pintu itu.


"Hai, mau kemana, Kamu? itu ambil," wanita itu menarik rambut Sana dan menyuruh Sana mengambil kertas yang masih tertinggal.


"Mbak, saya kan sudah minta maaf, dan saya juga sudah mengambilkan semua kertas-kertas itu tadi, kenapa tinggal satu saja nggak mau ambil sendiri?" ucap Sana masih menahan rasa sakit yang diakibatkan tarikan pada rambutnya.


"Kamu membantah perintah saya?" wanita itu malah semakin menguatkan tarikannya.


"Iya, Mbak! saya mau tapi lepaskan dulu" Sana masih memegang rambutnya, rasa sakit di kepala membuatnya mengalah. Padahal kesalahan itu, bukanlah sepenuhnya salah Sana.


"Apa yang akan kau, lakukan. Ayo berdiri," Sana hampir saja meraih kertas itu, namun sebuah sepatu mengkilat nangkring di atas kertas. Sana mendongak, menatap nanar uluran tangan yang berada di atas kepalanya.


Vino baru saja sampai, saat Sana menabrak seorang wanita di depan gedung kantor. Saat baru saja turun, Vino mendapat notifikasi dari Vinka. Secepat kilat Vino membalasnya dan mengatakan 'Iya'. Baru saja Vino mengayunkan kakinya, terdengar suara yang begitu dikenalnya. Vino melihat seseorang menarik ujung rambut Sana.


"Vino."


"Pak Vino,"


Gawat ada Bos muda lagi. Bagaimana ini.batin wanita itu.


Sudah dua tahun kerja di kantor Mareno, tentu saja wanita itu mengenal siapa pria yang berada di hadapannya saat ini.


"Ayo berdiri," Vino menggerakkan tangannya.


"Tapi, kert_" belum selesai Sana berucap, Vino sudah menarik tangan Sana dengan kuat. Sehingga sang empunya pun berdiri. Bahkan Vino juga menarik pinggang Sana mengikis jarak diantara mereka berdua.


"Ambil!" Vino menunjuk dengan dagu kepada kertas yang tadi diinjaknya. Wajah Vino terlihat garang ucapannya juga datar.


"Ba_ baik pak," dengan sedikit gugup akibat rasa takut wanita itu mengambil kertas yang tadi diinjak oleh Vino.


"Siapa namamu?" masih dengan tampang datarnya Vino bertanya. Sana bahkan terheran kenapa ada acara kenalan segala.


"Saya, Mita, Tuan," ucap Mita dengan terbata.


"Arjun, urus dia. Dia sudah membuat Gadisku terluka." Arjun menatap wajah Sana, mencari sesuatu bukti jika wanita yang bernama Mita itu melukai Sana.

__ADS_1


"Arjun, kau pasti tahu apa yang harus Kau lakukan," tegas Vino lalu beranjak pergi dari sana sambil tetap melingkarkan tangannya di pinggang Sana.


"Maaf, Tuan maaf saya tidak sengaja tadi," Mita yang baru menyadari akan kekeliruannya segera mungkin meminta maaf. Tapi sayang, Vino sudah pergi. Sekarang dia harus menanggung konsekuensi dari perbuatannya.


"Kau, ikut denganku," ucap Arjun dengan nada datarnya. Wajahnya pun sama dinginnya dengan Vino. Arjun melihat sekilas apa yang Mita lakukan terhadap Sana. Namun dia kalah cepat dengan pergerakan Vino. Sebab dia harus memarkirkan mobilnya.


"Hai, kucing rumahan, kenapa Kau tidak melawan tadi?" entah kenapa hati Vino mendadak sakit melihat Sana diperlakukan kurang baik oleh orang lain. Nada bicaranya juga terkesan menahan amarah.


"Aku memang bersalah, aku menabraknya tadi," ucap Sana sambil menunduk. Sana menyembunyikan wajahnya yang berubah merah sebab menahan tangis. Tubuhnya sedikit bergetar. Vino yang sadar akan situasi, segera menarik Sana masuk ke dalam lift.


"Sudah, jangan menangis," dia memeluk Sana erat.


"Aku hanya membuat kesalahan kecil. Tapi kenapa dia harus berlebihan menanggapinya," entah kenapa Sana malah menangis mendapat perlakuan istimewa dari Vino.


"Sudah, jangan menangis," Vino melonggarkan pelukannya dan mengusap air mata Sana.


"Maaf, aku membasahi jas Kamu," Sana mengusap kasar wajahnya. Lalu, dia ingin mengambil tissue di dalam tas punggungnya tapi belum juga dia temukan lift sudah terbuka.


"Ayo keluar,"


"Sebentar, aku ingin mengusap baju Kamu. Basah air mata dan ingus," ucap Sana tanpa malu.


"Vino sebentar."


Sana tergesa-gesa memasukkan tissue ke dalam tasnya. Dan belum merapatkan resleting tasnya dengan sempurna. Dari arah berlawanan datanglah seorang pegawai seperti terburu-buru dia menabrak Sana. Hingga membuat Sana terpelanting dan tasnya jatuh berserakan.


"Maaf, Nona!" pegawai itu tak peduli lagi akan kondisi Sana. Dia buru-buru masuk ke dalam lift.


"Kamu tidak apa-apa Sana," Vino berjongkok meraih pundak Sana.


"Nggak apa-apa," walau matanya nampak berkaca-kaca. Tabrakan tadi sebenarnya cukup kencang. Dengkul Sana terasa ngilu sebab jatuh akibat tabrakan itu.


Sana segera merapikan kembali barang-barangnya yang tercecer. Vino menemukan sebuah benda yang seperti pernah dilihatnya.


"Ini apa?" Vino menimang benda persegi di tangannya. Ketika hendak membuka resleting itu, Sana menjawab.


"Apa Kau tidak bisa baca? itu Al-Qur'an," ujar Sana singkat.


"Bagus bentuknya," Menyodorkan barang itu kepada Sana. Alquran yang memiliki resleting di bagian tepinya, sehingga menyerupai sebuah dompet. Dan gantungan kunci pada ujungnya, itu adalah gantungan yang sama yang dia lihat malam itu.

__ADS_1


"Ini pemberian terakhir dari ayah. Aku selalu membawa kemanapun aku pergi." Mendekap benda itu sejenak dan menciumnya sebelum Sana masukkan ke dalam tas punggungnya.


"Kenapa? maksudku, untuk apa kau selalu membawanya, dan apa ini," menunjuk sebuah kain biru laut.


"Itu, mukena dan hijab di dalamnya," Vino heran akan isi tas Sana itu. Biasanya para wanita tasnya akan penuh dengan make up dan peralatan rias lainnya. Tapi gadis ini malah isinya peralatan alat sholat.


"Kenapa Kau membawa itu semua? untuk apa?" tanya Vino heran.


"Jangan kepo," ucap Sana. Pantang bagi Sana untuk mengaku, bahwa agar dia bisa sholat tepat waktu. Terlalu keliatan sholehah.


"Baiklah, ayo berdiri biar aku bantu," Vino sebenarnya masih mengingat-ingat tentang gantungan yang mirip sekali dengan gantungan pemilik suara merdu itu.


Apa aku harus memeriksa cctv milik kak Vinka, ya? tapi bagaimana caranya? Jika benar itu suara Sana, apakah karena itu juga alasan RI menyukai Sana? batin Vino.


"Sudah, Aku bisa jalan sendiri Vino," ucapan Sana membuyarkan lamunan Vino.


"Ah, iya," Melepaskan tangan Sana.


"Terima kasih, ya!" Vino mengangguk.


"Apakah ada yang sakit?" Vino memastikan


"Hai, Kau terlihat khawatir sekali. Aku baik-baik saja, Tuan. Jangan terlalu khawatir begitu, nanti orang melihat kita akan mengira jika kita sepasang kekasih," ucap Sana sambil tergelak.


Sana berjalan terlebih dahulu meninggalkan Vino yang masih termangu di tempat.


"Hai, beraninya kau meninggalkan Aku," Vino berjalan cepat mengejar.


Lima menit kemudian mereka sampai di ruangan Mareno.


"Nah, betulkan dugaanku!" semua mata tertuju kepada Vino dan Sana.


"Kenapa Kalian menatapku seperti itu?"


**Bersambung....


jangan lupa tinggalkan jejak, ya...


Maaf karna hp diminta sama anak jadi tadi malam nggak jadi up**

__ADS_1


__ADS_2