Ditakdirkan Mencintaimu

Ditakdirkan Mencintaimu
Tidak tahu


__ADS_3

Vino akhirnya pulang tanpa bertemu dengan Sana ataupun dengan Vanka. Seharusnya dia merasa lega, sebab Riki tidak selingkuh seperti yang dia pikirkan selama ini. Tapi kenapa sekarang dia malah merasakan ada sesuatu yang hilang saat menyetujui permintaan Riki.


"Tidak! Itu pasti karna aku sangat mencurigai Riki kemarin. Dan sekarang harusnya aku merasa tenang, sebab kak Vanka dan Riki baik-baik saja." Gumam Vino yang tidak mengerti akan perasaan yang tiba-tiba gundah saat ini.


Mobil yang biasanya berjalan selama tiga puluh menit kini mendadak berubah singkat menjadi lima belas menit saja, mengantarkan Vino sampai pada apartemen miliknya. Karna lelah, Vino segera bersih-bersih lalu istirahat.


Sedangkan Sana nampak antusias menunjukkan semua kado yang dia beli bersama Vino. Vanka yang penasaran akan kado yang didapatnya segera membuka kado yang dia dapatkan dari sang adik.


"Sana, semua ini kamu yang memilih?" Vanka menatap penuh haru semua hadiah yang terjajar di lantai dan sofa. Sungguh luar biasa Vino menepati janjinya untuk membelikan kado untuk sang keponakan. Apalagi jumlah kadonya begitu banyak, membuat Vanka begitu senang.


"Iya, tapi aku juga dibantu sama Vino kok. Ternyata dia juga pandai memilih warna yang cocok buat dedek bayi. Lihatlah!" ujar Sana, melebarkan sebuah baju berwarna pink yang lucu. Padahal Vino hanya menunjuk tanpa suara saat ditanya baju mana yang dipilihkan untuk baby.


Kenapa sekarang aku jadi hobi memuji Vino, ya?"


"Cieee yang ketahuan pergi berdua sama Vino," ledek Vanka sambil menoel pipi Sana. Sontak saja wajah gadis itu nampak berubah bersemu merah.


"Apaan seh, Bimud jangan berpikir yang aneh-aneh ya!" tegur Sana. Tapi entah kenapa hatinya menghangat jika ada yang menyebut nama Vino. Ah andai dia bisa berharap lebih, tapi apa daya, Sana sangat sadar akan keadaan dirinya.


"Sana, kamu berhutang penjelasan kepadaku, akhir-akhir ini kau terlihat semakin dekat dengan Vino, apakah ada sesuatu yang terjadi diantara kalian?" selidik Vanka menghentikan aktivitasnya sejenak guna melihat perubahan wajah cantik Sana.


"Tidak ada Bimud, kami hanya kebetulan terikat kontrak saja," terang Sana yang tentu saja akurat kebenarannya. Sekilas Sana terbayang akan kehadiran Vino saat di rumah waktu dirinya baru saja dipecat.


"Tapi kenapa dia tidak menemuiku tadi, ya?"


Vanka mulai menaruh curiga kepada adiknya itu. Vanka berpikir jika ada sesuatu yang terjadi dengan adiknya. Tidak biasanya Vino pergi begitu saja tanpa pamitan apalagi setelah memberikan banyak barang seperti ini.


"Mungkin Vino sedang banyak pekerjaan." Sana juga heran dengan kepergian Vino tanpa pamit.

__ADS_1


"Vino sudah pamit kepadaku tadi, dia katanya ada pekerjaan penting yang harus dia selesaikan." Riki yang tanpa sengaja mendengar perbincangan mereka berdua kini menyela.


"Yah, terus aku pulangnya bagaimana?"


"Gampang itu, nanti om akan antarkan kamu." ucap Riki.


"Baiklah, pulang sekarang saja om, aku sudah capek, aku juga tidak ingin membuat Madam khawatir," terang Sana lagi. Riki tentu sudah tahu tentang pekerjaan Sana yang sekarang.


"Oke, ayo bersiap."


"Sudah ih, kita tinggal jalan." Sana pun berdiri dan pamit kepada Vanka. Sana juga menyempatkan menemui baby dan menciumi wajah bayi mungil itu.


"Cepet gede ya, Sayang. Kamu pasti bakalan tumbuh jadi gadis yang cantik." Sana mendaratkan ciuman terakhirnya.


🍂🍂🍂


"Apa kalian hanya mau makan gaji buta saja hahh? Mengurus hal kecil seperti ini saja kalian tidak becus!" Vino menggebrak meja. Sedangkan semua orang memilih menunduk saja sambil mengumpat dan juga bingung.


"Baiklah, kalian perbaiki semuanya. Rapat kita undur dua jam lagi," ucap Vino kemudian. Semua orang nampak bernafas lega walaupun dalam hati tetap mengumpat. Mereka hanya bisa berdoa di dalam hati agar Vino segera mendapat hidayah, biar cepat taubat dari marah-marahnya.


"Bos, aku lihat beberapa hari ini bos sering uring-uringan tidak jelas. Adakah sesuatu yang membuat Bos seperti ini?" Vino hanya menghela nafas berat sambil memijit pelipisnya. Dia sendiri tidak mengerti akan rasa dan juga apa yang dia inginkan.


"Arjun, pernahkah kau merasakan hatimu kosong?" Vino kembali berdecih dengan pertanyaan konyolnya. Sedangkan Arjun mencoba mengurai ucapan Vino yang membuat otaknya mendadak kusut.


"Sejak kapan Anda berubah menjadi sosok yang memiliki kata-kata sulit untuk diartikan?"


"Jawablah Arjun, aku butuh jawaban, bukan kritikan." Vino mendesah lagi, sehingga kerutan di dahi Arjun kian bertambah.

__ADS_1


"Ah, aku lupa, bahkan sampai saat ini dirimu masih jomblo." Gantian sekarang Arjun yang nampak kesal sebab senyum sinis dan ucapan bosnya itu. Padahal kan fakta.


"Berikan perintah kepadaku, aku akan mengatur segalanya untukmu, Bos!" ucap Arjun dengan tulus. Rasa setia dan tanggung jawab selalu menyertai pria yang usianya lebih tua daripada sang bos. Tapi rasa hormatnya melebihi seorang budak kepada rajanya.


Vino hanya menyandarkan kepala di kursi sambil memejamkan matanya.


"Aku sendiri tidak tahu apa yang aku mau," ucap Vino yang semakin membuat Arjun merasa bahwa bosnya memang benar-benar berubah.


"Arjun, apakah Riyan sudah Kembali?" tanya Vino kemudian. Membuat Arjun sedikit menemukan sebuah titik permasalahan.


"Mungkin dua hari lagi. Riyan masih harus menyelesaikan tugas yang terakhir," terang Arjun.


"Katakanlah Tuan, Saya siap menerima tugas." Arjun sudah sangat formal sekarang, membuat Vino yang enggan buka suara akhirnya berucap.


"Kapan sesi pemotretan kedua dengan nona Afsana Zaha Taima dijadwalkan?"Arjun tersenyum cerah mengalahkan matahari yang menyinari bumi.


"Hari ini setelah jam makan siang. Dan kemungkinan akan dilakukan juga sesi pembuatan video advertising setelah jam makan malam. Akan dilakukan outdoor dengan tema_."


"Kita berangkat sekarang saja," ucap Vino memotong pembicaraan Arjun yang belum berakhir.


"Tapi, Tuan, bagaimana dengan rapat yang tadi? bukankah an_."


"Batalkan saja," lagi-lagi Vino memotong ucapan Arjun. Dan lihatlah muka bos Vino yang sekarang berubah lebih cerah. Bahkan dengan sigap dia sudah berdiri, merapikan jasnya lalu keluar dari ruangan dengan senyum yang sulit diartikan.


"Apakah secepat itu moodnya berubah?" Arjun nampak heran dengan kelakuan Bosnya yang cepat berubah.


"Arjun!"

__ADS_1


"Saya datang Bos."


Bersambung....


__ADS_2